
♥ BELONG TO ME ♥ Milikku ♥ #1
****************
Selamat membaca.....
Jakarta, Indonesia
Gedung tempat Studio Dance Prita
“Thanks ya Kak.” Ucap Prita saat John mengantarnya ke studio namun hanya sampai lobi gedung saja, karena John ada urusan pekerjaan.
“You are very welcome, Prita. (Sama – sama, Prita).”
“Terus mobil gue gimana, Kak?.” Tanya Prita karena ia meninggalkan mobilnya di parkiran gedung Penthouse John.
“Nanti akan ada yang antar kesini sebentar lagi.” Jawab John.
“Oh ya udah ..”
John dan Prita sedikit canggung sebenarnya. Prita yang masih bertanya – tanya karena kecupan di keningnya semalam oleh John, dan John sendiri agak deg – deg – an juga, takut si Priwitan ga suka dengan apa yang John lakukan semalam.
Memberikan ucapan sebelum tidur plus satu kecupan di kening Prita.
Sepanjang perjalanan pun mereka mengobrol sekenanya, hingga sampai ke gedung tempat studio Prita biasa latihan.
“Dari sini langsung pulang ke Bekasi?.”
“Ke kafe dulu palingan bentar.” Sahut Prita.
John manggut – manggut.
“Ya sudah. Kamu hati – hati ya. Hari ini Kak John ga bisa menemani. Banyak pekerjaan dan janji dengan beberapa orang.”
“Iya si, santai.”
“Ya sudah kamu hati – hati.”
“Iya . Kak John juga.”
“Ya udah. Kak John tinggal ya?. Kabari kalau sudah sampai rumah.”
Prita mengangguk dengan tersenyum, dan John langsung melajukan mobilnya.
****
“Ca ilaaaahhh!!!.” Sebuah suara membuat Prita berdecak.
“Suara lo bisa ga dikecilin volumenya?.”
“Du ilaaah kayak suara lo sendiri aja kaga cempreng, cun!.”
Dua gadis itu kemudian terkekeh bersama sambil berjalan ke studio tempat mereka latihan.
“Jadi sebenernya pacar lo itu si Tristan apa Kak John sih?.”
“Dua – duanya bukan!.”
“Laaahhhh. Jadi?. TTM?. HTS – an? Apa partner in bed?. Selimut malam, pagi, siang, sore atau kapanpun abang memanggil?.”
Prita langsung mendaratkan toyoran ke kepala sahabatnya itu. “Sembarangan lo nyet!.”
Diana pun langsung tertawa terbahak – bahak.
“Ting – ting nih gue.” Ucap Prita. ‘Ampe ke bibir gue juga masih ting – ting ini.’
“Iya, iya percaya deh gue!.” Sahut Diana sembari masih terkekeh. ”Nah terus jadinya lo mau jadian sama yang mana ceritanya?. Si Tristan apa Kak John?.”
“Menurut lo?.” Ucap Prita seraya bertanya, sambil dia dan Diana berjalan ke lantai tempat studio latihan mereka berada.
“Tebak – tebak buah manggis ini gue gitu ceritanya?.” Sahut Diana.
Prita terkekeh.
“Apaan sih lo, Na?.”
Prita menjauhkan kepala Diana yang sedang mengendusi tubuhnya.
“Dari bau – baunya sih, benih – benih pohon toge eh benih – benih cinta lo sama Kak John masih ada.” Ucap Diana.
“Sok you know lo.” Sahut Prita lagi.
“Jangan muna!.” Celetuk Diana. Prita nyengir. “Meskipun lo cerita ke gue betapa kesel dan bencinya elo sama Kak John lo itu, tapi mata lo tetep aja berbinar – binar kalo cerita soal dia.”
“Keliatan banget emang?.”
“Keliatan banget emang ..... sok – sok an nanya lagi lo. Yakin gue itu perasaan lo sama si Kak John biarpun selama kurang lebih dua tahun ini lo ngejauhin dia, tetep aja itu cinta lo buat dia masih ada.” Ucap Diana.
“Sepertinya sih iya.”
“Bukan sepertinya. Tapi emang iya!.”
“Iya deh, suka hati lo lah, Nyet!.”
“Ngakuin ga lo?. Masih cinta kan lo sama Kak John?. Ga ngaku gue samber itu Kak John lo.” Ucap Diana sambil mengarahkan telunjuknya pada Prita.
“Enak aje lo samber samber!.” Sahut Prita. “John Smith, belong to me, oke????!.”
*****
“Cun, lo bawa mobil kan?.”
__ADS_1
Prita dan Diana sudah menyelesaikan latihannya.
“Eh iya, udah dianter belom itu mobil gue ya?.”
Prita celingukan kearah dinding kaca studio yang tembus keluarnya.
‘Itu kali ya, orangnya Kak John?.’ Prita melihat seorang pria berbadan tegap yang wajahnya sedikit asing.
“Ncun!.”
“Apaan?.”
“Lo bawa mobil ga?.” Tanya Diana lagi.
“Ini gue mau cek udah dianterin belum mobil gue, nyet. Ayo ah!.”
******
“Nona Prita ..”
“Ya?.” Pria yang tadi Prita lihat menghampirinya. Persis seperti dugaannya kalau pria itu adalah orangnya John.
“Ini kunci mobilnya, Nona.”
“Oh iya, makasih ya Pak.” Ucap Prita.
“Sama – sama, Nona.”
Pria itu menyahut sopan.
“Saya permisi kalau begitu, Nona Prita. Mobil Nona saya parkirkan tidak jauh dari lobi gedung.”
“Oh iya Pak. Sekali lagi makasih.”
“Sama – sama Nona. Saya permisi.” Ucap pria itu yang kemudian bergegas pergi dari hadapan Prita dan Diana.
***
“Tumben bawa mobil sendiri. Biasanya dua langganan lo itu gantian jemput?.”
Seorang gadis berbicara pada Prita sambil juga memandang sinis pada si Priwitan saat ia dan Diana sudah mencapai mobilnya.
“Kenapa?. Sirik lo?.”
“Sirik??!! Gue?. Sirik sama Lo?. Dih amit – amit deh!. Kalo gue mau si Tristan ataupun cowok bule lo itu, siapa tuh John?. Gampang aja gue ambil dari lo!.”
“Udah si Prit, ga usah dilayan itu simpenan om – om.”
“Sembarangan lo! Siapa yang lo bilang simpenan om – om?!.” Gadis sinis itu tampak tak terima dengan ucapan Diana barusan.
“Elo lah! Siapa lagi??!.” Celetuk Prita.
“Coba aja lo kalo bisa godain dia. Jago!. Milik gue ga akan semudah itu lo ambil.” Ucap Prita pede.
“Ga usah kepedean lo!. Sok kecakepan!.”
“Pede – lah gue. Jelas!. Cakepan juga gue daripada elo, upil kuda nil!.”
Ejek Prita yang kemudian cekakak bareng sahabatnya dan langsung masuk ke mobilnya, kemudian melajukan mobil miliknya menjauh dari upil kuda nil yang sedang menggeram keki akibat diejek si Priwitan.
***
Prita sudah mengendarai mobilnya untuk mencapai sebuah bangunan yang berada di daerah Jakarta Selatan, tak jauh dari studio dancenya.
“Kita ke Se - bud ini, cun?.” Tanya Diana yang menebak kemana Prita akan mengajaknya makan.
“Kenapa emang?.”
“Sekali – sekali traktir gue di resto bintang lima kek. Kakak lo kan kaya, duit jajan lo yakin gue sih bisa buat sewa apartemen.”
“Ck. Dasar sahabat kaga ada akhlak!.”
“Bodo!. Yang penting kenyang dan ga keluar duit.” Sahut Diana. “Ke Akira kek, kali aje gue nemu CEO buat jadi yayang kek Kak John lo itu.” Tambah Diana.
‘Kak John gue..... belum resmi jadi milik gue itu sibule koplak.’ Prita menarik satu sudut bibirnya.
“Ya Cun?. Ke Akira aja gimana?.”
“The Cafe aja, gimana?.” Sahut Prita. “Lebih asik tempatnya.”
Mata Diana berbinar.
“Widih, keren si ncun tempat nongki nya.”
Prita terkekeh mendengar ucapan Diana barusan.
“Gue juga karena pernah diajak kakak gue kesana.” Ucap Prita.
“Kakak lo tuh ya mending jadi food blogger or vlogger deh, perasaan gue ya, dia tau segala tempat makan sama tempat nongkrong bahkan sampe yang masuk ke gang – gang. Tapi enak.”
“Kak Fania sih emang gede di jalan dia!.”
“Tapi lakinya cuco meong, ciiinnn.” Ucap Diana dengan wajah memuja.
“Jangan coba – coba keganjenan sama Kak Andrew, kalo jasad lo ga mau masuk kedalem dus.”
“Wakakak.” Diana malah tergelak.
“Yuk ah.” Prita mengajak Diana turun setelah mereka sampai didepan lobi sebuah hotel. Untuk makan ditempat yang tadi Prita rekomendasikan.
“Gaya banget lu cun, pake parkir Vallet segala.”
__ADS_1
“Jangan kek orang susyah lo, Nyet.”
“Gue suka gaya loh!.” Ucap Diana dan dua sahabat itupun terkekeh. Kemudian berjalan menuju ke restoran yang dimaksud.
***
Prita dan Diana sudah sampai di dalam restoran pada sebuah hotel berbintang. Lumayan agak banyak pengunjung namun tidak terlalu ramai.
Prita mengikuti seorang waitress yang menyambut mereka dipintu masuk.
“Eh Cun ... itu Kan Kak John?.” Bisik Diana pada Prita.
“Mana?.”
“Tuh!.”
Wajah Prita seketika berubah masam, saat matanya mengikuti arah kepala Diana menunjuk ke satu meja yang dikelilingi oleh beberapa orang pria – pria eksekutif juga beberapa wanita dewasa yang cantik – cantik. Bukan pemandangan para pria dan wanita yang sepertinya terlibat obrolan asik itu tanpa perduli sekeliling mereka.
Tapi pemandangan yang sedikit meremat hati Prita adalah seorang wanita yang menopangkan dagunya diatas bahu seorang pria disampingnya. Pria yang Prita kenal, yang semalam mengecup keningnya.
“Silahkan.” Suara waitress itu membuat Prita langsung menoleh padanya.
“Mau out aja dari sini, Prita?.” Ucap Diana yang sadar perubahan raut wajah sahabatnya itu.
Prita menghela nafasnya yang seperti sedang menahan kesal.
“Sorry mba, kami ga jadi.”
Prita langsung berbalik dan menarik tangan Diana untuk buru – buru pergi meninggalkan restoran tersebut.
Diana yang sadar dengan Prita yang pastinya sedang kesal dan gusar itu berinisiatif untuk meminta kunci mobil pada Prita, agar dia saja yang menyetir.
“Sorry Na, kapan – kapan aja gue ajak lo makan disini. Kita ke apartemen lo aja deh. Pesen makanan via delivery aja.”
Diana mengangguk. “Santai si.” Ucap Diana. Ia pun langsung melajukan mobil Prita menuju apartemennya.
***
‘T’rus maksudnya semalem dia kecup kening gue apaan?.’ Prita sudah sampai di apartemen Diana. Matanya tertuju ke televisi tapi fokusnya tidak pada benda berlayar datar itu.
“Udah si, ga usah lo pikirin cun, siapa tau aja itu cewe yang kegatelan glendotin Kak John.” Ucap Diana melihat Prita yang sedang bengong itu.
Prita menghela nafasnya berat.
“Lo ga liat tadi itu sibule koplak fine – fine aja di glendotin kayak tadi?.”
Prita mencebik kesal
“Cih! Sama aja itu mereka berdua! Gatel!.”
“Iya udah, daripada lo marah – marah, mending kita makan.” Ucap Diana saat makanan pesanan mereka datang.
****
Kafe Fania, Jakarta
‘Inget telfon gue aja kaga lo Kak. Saking asik di gelendotin cewe.’ Batin Prita kesal karena hari sudah hampir senja tapi John memang sama sekali tidak menelpon atau mengirimkan pesan padanya.
Drrrrt ... Bunyi notifikasi pesan diponsel Prita terdengar.
‘Lagi dimana Prita?.’ Pesan dari John.
‘Kafe, dimana lagi.’
‘Oh. Ya sudah. Hati – hati kalo pulang nanti.’
Prita tak membalas lagi. Pesan dari John pun juga tak datang lagi.
‘Pasti lagi ena – ena ama itu cewe tadi.’ Prita melempar pelan ponselnya diatas meja.
Triiiing.......
Kini ponsel Prita berdering, namun nama si pemanggil bukanlah John.
“Halo Tris ..”
‘Hai Prita, lagi dimana?.’
“Di kafe, kenapa?.”
‘Free ga malam ini?.’
“Kenapa emang?.”
‘Aku mau minta kamu jadi partner aku ke acaranya teman aku di Leon nanti malam.’
“Hmm, oke deh. Jam berapa?.”
‘Aku jemput jam delapan?.’
“Ya boleh.”
‘Oke jam delapan aku jemput di kafe kakak kamu ya?.’
“Jemput ke apartemen Diana aja.”
‘Oke, Babe.’ Tristan pun memutuskan panggilannya.
***
To be continue ...
__ADS_1