THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
BONUS CHAPTER


__ADS_3

Jempol dikondisikan dulu (ehem) sebelum sekerol kebawah ye


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


Selamat membaca....


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia..


Dimana suatu kehebohan sedang terjadi ...


“Eh, itu temen kamu, Sha? ..”


“Nih Papi, Mami, semua denger ya, ini Daisey, anak baru di sekolah, temen sekelasnya Aro. Dan, dia, sudah dinodai oleh Aro dan teman –temannya!”


Dhuaar!! ....


Blurfff!!..


“Uhuk! Uhuk!”


Papi John sampai menepuk – nepuk dada kirinya.


“Apa katamu, Isha???!!!!”


“Ap – apa???..”


Mami Prita lemas seketika.


“Kamu jangan sembarangan bicara Isha!!!”


“Siapa yang sembarangan sih Pi?! ...”


Isha menyahut.


“Papi lihat ga nih?!”


Isha menarik Daisey yang nampak kikuk dan memposisikan si anak baru di kelas Aro itu sedikit berada di depannya.


“Memang Papi ga bisa lihat nih keadaan Daisey? Mami, Papa Bear, Daddy Boo – Boo, Kak Tan – Tan, Kak Via?....”


Cerocos Isha. “Berantakan begini si Daisey, coba?!”


Semua mata dari mereka yang tadi sedang bersantai ria itu pun spontan langsung memperhatikan Daisey yang memang nampak kacau balau itu.


“Ini nih, akibat perbuatan itu anak Papi sama Mami dan teman – temannya yang ga punya akhlak itu, yang udah


menodai Daisey!”


“AROOOO!!! ....”


Papi John dan Mami Prita spontan langsung sama – sama memekik horor.


“Ck!”


“SINI KAMU!”


Papi John pun rasanya gemas sekali pada Putra kandungnya ini.


‘Oh Tuhaan .. apa yang salah dariku dan Prita dalam mendidik anak lelaki kandung kami ini, Tuhaann ..’


Papi John membatin frustasi.


‘Demi apapun! Aku sungguh berharap, yang buruk dariku dan John bahkan Dewa dalam hal buruk yang


bersangkutan dengan wanita hanya cukup di Nathan saja!’


Daddy Jeff juga membatin frustasi.


‘Oh Tuhaann sebiadab itukah Aro hingga sampai sanggup menodai gadis ini?! .. Bahkan sampai menodai gadis tak


berdosa ini dengan teman-temannya??!!’


Daddy Dewa juga sama frustasinya dengan Papi John dan Daddy Jeff.


Pasalnya, meskipun Aro bukan anak kandungnya, tapi kan dalam lingkup keluarga The Adjieran Smith, semua anak


terlepas dari Mika dan Ares yang merupakan anak kandung Daddy Dewa dan Mom Ichel, adalah juga anaknya.


Dan tentunya Daddy Dewa, begitupun semua Daddy lainnya selain Papi John memiliki tanggung jawab yang sama dalam mendidik semua anak dalam keluarga mereka itu.


“ARO! DENGAR GA?!” Hardik Papi John lagi.


“Iyaa Piihhhh dengaaaarr..”


“SINI!!!!!”


“Iya Piiiiihh..” Sahut Aro. “Ck! Gara-gara lo nih!”


Aro menoyor kepala Isha yang langsung mencebik pada kakaknya itu.


“Ye! Emang kamu punya kelakuan ga ada akhlak! Otak rencana itu anak-anak ga ada akhlak kan kamu!” Sahut Isha.


“Lemes lo!”


“ARO!”


Papi John yang sudah cukup sangat gemas pada anak lelaki kandungnya yang nampak woles aja, kembali berucap dengan kencang pada Aro.


“Pih, maaf ..” Sela Via. “Apa ga sebaiknya kita bicara di dalem aja?..”


Dan semua orang yang sedang berada dalam ketegangan itu mengangguk serempak menjawab usulan Via.


**


“Sekarang jelaskan!” Seru Papi John pada Aro setelah mereka semua yang tadi ada di teras belakang melipir ke


ruang keluarga.


“Apa yang mau dijelasin sih Pih??...”


“Apa?! Kamu tanya apa yang perlu kamu jelaskan?!”


Papi John melotot tajam pada Aro yang sedang duduk dihadapannya, sementara Papi John berdiri horor.


“Jelaskan tentang apa yang tadi Isha bilang soal kamu yang sudah menodai gadis ini!” Seru Papi John seraya


menunjuk pada Daisey.


“Ck!” Aro malah berdecak berikut wajahnya yang nampak malas-malasan.


Membuat Papi John rasanya gemas sekali pada anak lelaki kandungnya ini.


“Aro!”


Papi John menghardik lagi.


“Iya Papih...... gimana aku mau ngomong kalau Papi cecar aku teruuss......”


“Bicara cepat!” Seru Papi John.


Aro menghela nafasnya dengan cepat.


“Isha itu terlalu melebih-lebihkan ......” Ucap Aro.


“Melebih-lebihkan gimana sih?......” Sela Isha.


“Diam Isha!” Sambar Papi John. Dan Isha pun langsung menutup mulutnya. “Teruskan bicaramu!” Kembali Papi John bicara pada Aro.


“Ya Isha melebih-lebihkan Pih ...... Aku hanya mengerjai nya saja dengan beberapa temanku. Dan ya......”


Aro menggantungkan kalimatnya.


“Dan ya apa?!”


“Dan ya ...... aku memang melihat dalamannya dan ......”


“AVARO DARWIN SMITH!!!”


Papi John sudah mengangkat tangannya,


“JOHN!”


“PIH!”


“OM!”


Suara pekikan kencang pun kompak terdengar, dimana Nathan langsung bergerak untuk menghalangi Papi John yang nampak hendak menempeleng Avaro.


“Ada apa ini??!! ......” Mama Jihan dan Mom Ichel yang sayup-sayup mendengar keributan dilantai bawah itu


segera turun dan nampak sangat terkejut melihat Papi John yang nampak sedang murka itu.


Daddy Jeff langsung mengkode dua wanita yang baru datang itu untuk tidak berbicara atau bertanya lagi dulu. Mama Jihan dan Mom Ichel pun mengangguk paham.


“Sabar Pih......”


Nathan mendorong pelan tubuh Papi John yang memijat pelipisnya dengan dada yang kembang kempis.


“Katakan...... apa kau sempat menyentuh gadis ini??!!......”


Aro mengangguk pelan. “Hanya sedikit saja......”


“AROO!!!!”


“Ya Tuhan Arooo!!......”


Papi John kembali berteriak kencang dan Mami Prita memekik lirih sembari menutup mulutnya dengan matanya


yang sudah basah.


“Ya itu ga sengaja juga, Pih! Mih! ......”


“Tidak sengaja bagaimana???!!......”


“Ya tidak sengaja! Saat aku dan teman-temanku mengerjai nya dan menyiramnya dengan se-......”


“STOP AROOOO!!......” Mami Prita yang sudah menangis itu memekik kencang sekali dan memotong kalimat Aro karena rasanya kata terakhir yang akan disebutkan Aro adalah sebuah kata yang mengerikan untuk didengar.


“Demi Tuhan Aroo!! ...... Dimana Otakmu??????!!......”


“Om, Tante......” Daisey berdiri dari duduknya, menatap pada Papi John.


“Sudah nak ...... kami janji, kamu akan mendapatkan keadilan......” Mami Prita merengkuh bahu Daisey dan mengajak gadis itu duduk kembali.


“Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu Aro!”


“Iya, aku tanggung jawab ...... aku juga sudah minta maaf padanya, Isha saja tuh yang berlebihan!”


“Wajar dia berlebihan! Isha itu adikmu! Dia mengingatkanmu jika kau salah dan mengadukan kelakuan bejat mu pada kami itu sudah paling benar!”


“Be-jat?......” Ucap Varo sembari memandangi sang Papi.


“Ya bejat lah!” Sahut Papi John. “Apa namanya kalau bukan bejat jika kamu sudah menodai anak gadis orang, hah?!”


“Wah! Papih berlebihan......”


“Apa katamu?! Papimu ini berlebihan?!......”


“Ya berlebihan lah kalau Papi bilang aku bejat hanya karena aku menodai......”


“AROO!!!......”


Papi langsung menyambar dengan berteriak kencang.


“Sudah! Kau! Benar-benar membuatku dan Mamimu ini gila dengan kelakuanmu ini ...... kau antar gadis ini pulang ke rumahnya, dan aku serta Mamimu ini akan ikut bersamamu. Kau! Harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu, karena tadi Isha bilang kau otak yang membuat gadis itu ternoda! ......”

__ADS_1


“Ya memang aku ......”


“Sudah diam kau!” Potong Papi John pada Aro. “Isha, kamu ajak Gadis ini ke kamarmu untuk membersihkan diri dan pinjamkan bajumu padanya......”


“Iya, Pi ......”


“Dan kau ......”


Papi John menunjuk pada Aro.


“Kau ganti bajumu, berpakaianlah dengan rapih, karena hari ini juga aku dan Mamimu, akan melamar gadis itu......”


“A-apa???......” Daisey yang sudah berjalan bersama Isha itu langsung berbalik dan memandang sampai menganga


menatap Papi John.


Daisey tidak jadi pergi ke kamar Isha dan berjalan untuk mendekati Papi John dan Aro.


“O-om......” Daisey hendak berbicara pada Papi John.


“Tunggu, tunggu, Papi bilang apa barusan?......”


Namun Aro keburu menyambar dan menyela ucapan sang Papi.


“Kubilang, hari ini juga aku dan Mamimu, akan melamar gadis itu sebagai bentuk tanggung jawab atas kelakuan


bejat mu padanya, terlepas kau melakukannya beramai-ramai dengan teman-temanmu......”


“HAH?!”


Gantian Aro yang memekik super kencang sampai dia melonjak dari duduknya.


“YANG BENER AJA PIH???!! ......” Teriak Aro dengan wajahnya yang sudah berubah horor.


“ITU SUDAH YANG PALING BENAR!” Papi John tak kalah horor juga teriakan dan wajahnya.


“Wah!”


Aro menggeleng-gelengkan cepat kepalanya dan mengusap kasar wajahnya sendiri.


“Bener-bener ga masuk akal ini sih......” Gumam Aro.


“Kau yang tak berakal! ......”


“John ......” Sela Daddy Dewa.


“Aro, dengarkan Papimu......” Ucap Daddy Jeff.


“Mau dengerin gimana sih Dad?! Masa aku harus melamar dia, hanya karena aku menodai tubuhnya dengan se ember minyak goreng ?!”


Disaat yang sama Papi John menoleh cepat pada Aro, berikut juga yang lainnya.


“Apa katamu??......”


***


Waktu sebelum kehebohan di Kediaman Utama ....


Criiiiingggg!!!....


Bel tanda bahwa proses belajar mengajar di hari ini sudah berbunyi. Suara riuh langsung saja terdengar dari setiap kelas. Begitu juga di kelas Varo, dimana guru mapel terakhir sudah undur diri, dan para murid di kelas Varo termasuk Varo sendiri mulai merapihkan peralatan sekolah mereka yang tercecer di atas meja.


“RO!”


“Oy!”


“Jadi?! ....”


*“**Of course lah!**( Ya iya lah! )”*


“RO!”


“Jadi ga?!”


“Harus!”


“SIIIIPP!!!”


***


Sementara itu di kelas lain..


“Sha!”


Kelasnya Isha, dimana Isha seperti para murid yang lain langsung membereskan peralatan sekolah mereka saat guru mapel terakhir telah meninggalkan kelas.


“Nyaut!” Sahut Isha.


“Maen nyok!” Ajak teman Isha yang memanggilnya itu.


“Ga bisa! Udah ada janji sama Aro!” Sahut Isha lagi.


“Elah, perginya ama Aro mulu lo! Mentang-mentang kembar!”


“Ho oh dah kek ketek ama bulunya! ...”


“Ngahahahahaha!!!!!....”


Isha dan temannya yang lain pun spontan tergelak geli.


“Aku juga janjian sama kakak cewe aku ga cuma sama si Aro..” Ucap Isha. “Lagian, kalo pergi ama si Aro kan duit gue utuh!”


“Amit deh! Duit lo aje ga berseri Sha!”


“AMIIN YA ALLAAAHH!!”


“Lebay lo ah!”


Isha cekikikan.


“Eh iya Sha!”


“Di kelasnya Aro ada anak baru ye?”


“Iyes .. Daisey namanya!”


“Berarti Trados akan terjadi hari ini dong?”


“Tra-dos??....”


“Elah! Sok lupa lo ah!”


“Tau, itu kan si Aro yang nyiptain! dan of course The Famiouz akan dengan senang hati melaksanakannya!”


Isha terdiam, otaknya sedang berkinerja.


“Nah, kan ada anak baru tuh di kelasnya si Aro, pasti kena Trados kan dia?! Kakak kembar lo itu kan raja tega!


Semua anak baru ga pandang cewe apa cowo pasti kena MOS buatan dia itu, kan?!....”


Dimana Isha pun sontak membulatkan matanya.


“Oh My God!.....” Isha pun segera melesat dari tempatnya.


***


“Semua udah siap Bos!”


“May!”


“Nyaut! Siap on duty!”


“Good .....”


***


“Ka-kalian mau apa?.....”


“Lo bawa baju ganti ga anak baru?”


“Baju ganti?.....”


“Ya baju selain seragam yang lo pake ini”


“Engga..”


“Gimana Bos?”


“Ka-mu.....”


“Nama gue Aro! Entah lo udah tau apa belum!”


“Te-rus ini maksudnya apa? Kalian mau membully gue?!”


“Oh, jangan salah paham..... kita orang bukan genk pem-bully.....”


“Terus ngapain kalian bawa gue kesini, dan megangin gue kayak gini???!”


“Hanya salam perkenalan untuk setiap anak baru.....”


“Maksud? .....”


“Kalian anak baru kan ga ngerasain MOS, so ini gantinya”


“Gue ga ngerti!”


“Nanti juga lo paham”


“......”


“Sorry not sorry, sebagai anak baru lo harus kenalan sama yang namanya Trados..”


“Tra..”


“Terlepas lo bawa baju ganti atau engga”


“......”


“Jadi nih Bos?”


“Do it”


“AROOOO!! ..”


“Wah! Alisha Soeper Berisik Dateng noh ade lo, Ro!”


“Do it!”


“Okayy!!!”


Byuuurrr ...


“Apa-apaan si-kalian????..”


“YA AMPUN AROOO!!!!!.....”


“Sakit Ishaa!!!!....”


“Ya kamu kelewatan banget Aro! Masa kamu siram Daisey pake minyak goreng gini?!”


“Trados Isha! Trados! Dia kan anak baru!”


“Aku aduin ke Papi sama Mami loh ya! Udah aku bilang tradisi unfaedah ala kamu dan geng ga ada akhlak lo ini jangan dilakuin lagi!”


“Bomat!”

__ADS_1


“Hish!”


“......”


“Ya ampun Daisey, are you okay??? ...”


“......”


“LO SEMUA BUBAR!!!”


“Biasa aja Isha!”


“Biasa! Biasa!”


“Nah tuh dia aja ga protes!”


“Ya dia shock lah!”


“Gimana Ro?”


“Bubarlah!”


“Eh?!”


“......”


*‘Biru donker.. Tanktop?... Oh sht!’


(Suara dalam hati Aro saat matanya memandang ke bagian seragam gadis dihadapannya yang mulia menerawang)


‘Haish ini cewe, dahlah ga bawa baju ganti, ga pake kaos daleman pula!’


“......”


“ARO!”


“Hah?! Eh? Apa??”


“Liatin apa kamu???!!”


“Itu, daleman ..”


“Ish Aro ga sopan banget matanya! Colok nih!”


“Yaa salah dia ga pake kaos daleman”


“Buka hoodie kamu!”


“Ih ogah!”


“Buka ga?!”


“Engga!”


“Heh! Aku suruh kalian bubar ya?! Kalo engga aku celupin ke minyak gorengnya abang-abang didepan satu-satu nih!”


“Gimana Bos? Terigu telor masih ada nih!..”


“Pas! Sini aku udek sama kalian semua sekalian abis itu aku ceburin ke minyak goreng!”


“Hey! Awaaaass!! ..”


“Kyaa!!...”


Bruk!


***


Kembali ke laptop .. TKP kehebohan maksudnya ....


“Jadi ..”


“Ya jadi gitu, dia Cuma kena noda minyak goreng seember, ga jadi kena ceplokan telor sama terigu karena si Isha


keburu dateng”


“Jadi maksud kamu menodainya itu??..”


“Ya itu noda siraman minyak goreng” Sahut Aro.


“Lalu soal da-laman dan kau menyentuhnya?..” Tanya Papi John dengan raut wajah yang sukar dilukiskan dengan


kata-kata.


“Ya aku tidak sengaja saja melihatnya karena bajunya udah keburu kena rembesan minyak goreng. Dianya juga


malah bengong habis disiram! Ya mau ga mau aku ngeliat lah dalemannya dia! Orang dia berdiri didepan aku!”


Dimana semua orang yang berada di ruang tengah mulai membelalakkan matanya, mulai memahami makna penodaan yang sedang heboh dibahas hingga menimbulkan perdebatan yang memakai urat.


“Kalo soal aku menyentuhnya, yaa... memang tangan aku kena ke dadanya dia... itu juga ga sengaja waktu aku


nolong dia pas kepeleset waktu dia mau lari” Aro menyambung cerocosannya. “Kalau aku ga langsung megangin dia, bisa-bisa dia jatuh, kepalanya menghantam lantai? Bocor? Koma? Atau lewat malahan?... Nah, yang ada aku digeret ke kantor polisi!”


Dan Papi John terdengar menghela nafasnya dengan panjaangg. Helaan nafas lega campur frustasi juga. Sama seperti tujuh orang dewasa yang bersamanya saat ini.


Bahkan Mami Prita jadi lemas, walau hatinya lega.


“Jadi.. bukan menodai .. dalam arti..”


“Kan aku sudah bilang, Isha itu yang terlalu melebih-lebihkan”


Aro menyambar cepat.


“Kelewat heboh! Gaje!”


“Dih! Jadi nyalahin aku?! Kamu udah bikin si Daisey semraut begini, tuh! Lepek dari ujung rambut sampe ujung


kaki!”


“Ya tapi gara-gara elo ini, jadi pada su’udzon sama gue!” Ketus Aro.


“Dih! Orang aku ngomong yang sebenarnya! ...”


“Gila kali gue mau dikawinin gegara nyiram cewe pake minyak goreng se ember doang?!...”


Aro menggerutu pada Isha.


“Segala lo pake bawa kesini juga!”


“Ya lagian kamu, udah dibilang jangan lagi ngelakuin itu Trados. Masih aja dilakuin!. Udah mana si Daisey ini


kan rumahnya jauh! Ga ada yang jemput juga!”


“Ga ada urusan sama gue!”


“Sudah diam kalian berdua!”


Papi John berseru. Iapun memijat pelipisnya.


“Kau!” Tunjuk Papi John pada Aro. “Bisa tidak jangan sering membuat masalah dengan kejahilan mu itu, hah?!”


“Ya ilah Pih, gitu doang”


Aro menyahut santai.


“Begitu doang! Begitu doang! Gara-gara kau dan adikmu itu, aku hampir kena serangan jantung!” Seru si Papi yang masih nampak kesal.


“Ya udah aku bilang, si Isha aja yang lebay..”


“Hish!”


“Sudah sana pergi ke kamarmu!”


“Mau makan dulu, aku lapar.....”


Aro melangkahkan kakinya menuju ruang makan.


“Ih Aro! Kepala aku difitrahin nih!” Protes Isha karena Aro menoyor kepalanya lagi.


“Bodo!”


“Dasar kakak ga ada akhlak!”


“Isha.....”


Papi John memanggil lembut namun wajahnya nampak lesu menyebut nama putri kandungnya.


“Iya Pih?” Sahut Isha dengan cepat setelah ia berargumen pada Aro.


“Apa kamu ingin cepat-cepat menjadi anak yatim, Nak?..”


“Ih amit-amit deh Pih, Coy! Coy! ...” Sahut Isha lagi.


“Lalu mengapa kamu menciptakan kehebohan yang membuat jantung Papimu ini merosot tajam, Hah?!”


Ah, Papi John geram dan frustasi disaat yang bersamaan.


“Yah, aku lagi yang disalahin”


“Memang kamu penyebabnya kan?! Yang membuat kami semua salah paham pada kakakmu itu?!”


“Yeeee Papi aja tuh kali yang keburu negative thinking!”


“Bagaimana Papimu itu tidak negative thinking, kalau tahu-tahu kamu datang dan berteriak-teriak mengatakan


jika kakakmu itu sudah menodai seorang anak gadis!”


“Nah, salah aku dimana? Bener kan omongan aku kalo Daisey memang ternoda?! Memang iya ternoda kan? Liat aja kondisinya nih.. Papinya aja kali yang heboh nanggepinnya. Papi langsung aja nyamber ini itu, Papi lah yang salah, cepat menyimpulkan!....”


“Demi Thanos dan cincin-cincinnya Tuhaan..” Gumam si Papi yang rasanya sudah habis kata dan frustasi menanggapi satu putri kandungnya itu.


“Ada papi nanya, ternoda dengan apa, gitu?”


Isha berkilah.


“Engga kan? ..”


Isha menjawab dengan santai, dimana Papi John menarik dalam-dalam nafasnya dan menghembuskannya dengan


kasar, sembari memijat pelipisnya.


Dimana yang lainnya sudah mulai geleng-geleng seraya terkekeh geli.


“Ya udah, aku ke kamar dulu ya? Bantuin Daisey bebersih sama ganti baju. Terus nanti aku anter Daisey pulang juga ya? ..”


Papi John mengibaskan tangannya pada Isha. Udah males ngomong ama si biang kerok satu itu di siang menuju sore hari ini.


“Sugaar..” Panggil Papi John pada Mami Prita.


“Iya Pih? .......” Sahut Mami Prita yang segera menghampiri si Papi yang menghempaskan tubuhnya diatas sofa


dengan lunglai.


“Kamu masih ingat tidak?..”


“Ingat apa, Pih? ..”


“Waktu membuat dua anak itu, apa aku berdoa terlebih dahulu?..”


***


🍹 BONUS CHAPTER 6 🍹


Ditunggu Bon - chap yang ke 7 ye

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak


Tararenkyu


__ADS_2