THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 245


__ADS_3

TENTANG KELUARGA


 


Selamat membaca ..


Pulau Weh Resort


 


“Abang...”


Andrea menyentuh pundak Varen yang sedang duduk menonton acara di televisi di dalam kamar resort mereka. Varen pun langsung menoleh.


Varen tersenyum dan langsung membawa Andrea dalam dekapannya. “Kenapa, hem?” Tanya Varen sembari menghirup aroma tubuh Andrea lewat ceruk leher istri kecilnya itu.


“Apa Abang mau kita pulang besok?”


Andrea balik bertanya.


“Tidak” Sahut Varen. “Memang kenapa?” Tanyanya lagi. “Jadwal kita masih tiga hari lagi disini”


“Iya memang, tapi apa Abang ga mau buru – buru ketemu Daddy R?”


“Nanti saja. Toh dari sini kita kan juga langsung ke London”


“Huumm..” Andrea manggut – manggut.


“Sudahlah. Hal yang tadi jangan terlalu dipikirkan. Tidak penting juga”


“Ya...”


“Ada hal yang lebih penting dari itu”


“Apa?”


“Nunu nana nananina”


Tubuh Andrea dinaikkan keatas pangkuan Varen.


Juleha pun pasrah.


*


Mansion Utama Keluarga Adjieran Smith, London, Inggris*


 


“Widih... pengantin baru. Kirain lupa pulang!” Goda Momma saat Andrea dan Varen sudah sampai ke Mansion utama keluarga mereka yang berada di London. Momma langsung memeluk kedua anaknya yang langsung menyambanginya untuk cium tangan dan memeluknya itu. Andrea dan Varen pun terkekeh.


“Bukannya kalian seharusnya kembali ke Indo dulu, lalu datang kesini bersama yang lainnya dari sana?” Mommy Ara ikut menyambut Andrea dan Varen.


“Iya, toh acara resepsi kalian disini juga masih bulan depan. Bukannya juga, kalian terakhir dari Sabang? Kesini kan jadi lumayan itu perjalanan lamanya”


“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Dad” Ucap Varen yang membuat Momma dan Mommy peri bertanya – tanya dalam hati mereka. “Apa Dad dan Poppa masih di Perusahaan?” Tanya Varen.


“Iya, mereka sedang di Perusahaan” Sahut Mommy Ara.


“Huumm”


“Apa ada masalah, Abang?”


“Tidak sih. Hanya ada yang kurasa perlu untuk dibicarakan dengan Dad, dan mungkin kalian semua” Ucap Varen. "Selain ingin berbicara dengan Dad, aku juga ingin mendengar pendapat kalian tentang hal yang ingin ku bahas sedikit"


“Huumm. Ya sudah lebih baik kalian berdua istirahat saja dulu. Cape banget kan pasti?”


“Gappa, Gamma, Oma mana? Papa Lucca dan Mama Fabi tidak disini?” Tanya Andrea. “Terus dua krucil mana tuh, Val sama Rery?”


Andrea celingukan.


“Gappa ada bersama Papa Lucca di Save House. Sedang mengecek segala hal didalam sana. Ada Uncle Nino juga. Mungkin mau mengeluarkan bahan makanan yang ada disana dan menggantinya dengan yang baru sekaligus mengecek segala macamnya, mungkin ada yang perlu diperbaharui.”


“Huum ...” Andrea dan Varen manggut – manggut. “Ada Papa Lucca, lalu Mama Fabi dan Adrieanna kok tidak kelihatan?”


“Mama Fabi dan Adrieanna masih di Mansion mereka, tapi nanti akan datang untuk makan malam dan menginap disini”


“Kalau Gamma dan Oma sedang pergi ke Yayasan. Val dan Rery ikut bersama mereka. Sebelum sore juga mungkin sudah kembali”


“Huumm... Ya sudah”


“Kalian sebaiknya istirahat saja dulu. Sudah makan belum?” Tanya Momma.


“Sudah di pesawat”


“Hum, ya udah gih istirahat sana. Barang – barang Drea yang disini sudah dipindahkan ke kamar Abang semua. Kamar kamu yang disini, diminta si Tan – Tan untuk jadi kamarnya kalau dia datang kesini”


Andrea dan Varen mengangguk dan berpamitan kemudian untuk beristirahat.


**


Sore hari menjelang senja, Daddy R dan Poppa sudah kembali ke Mansion Utama setelah diberitahukan kalau Andrea dan Varen ada di London dan sudah berada di Mansion Utama saat ini.


Poppa dan Daddy R langsung menyelesaikan urusan pekerjaan mereka agar bisa cepat kembali ke Mansion.


“Belum bangun mereka?” Tanya Daddy R yang sudah membersihkan diri dan kini sedang berkumpul bersama yang


lainnya di ruang keluarga, termasuk Val dan Rery.


“Belum mungkin. Perjalanan dari Sabang ke sini kan lumayan”


Daddy R manggut – manggut.


“Tadi R bilang katanya Abang bilang pada kamu,  ada yang mau dia bicarakan dengan kita, Ra?”

__ADS_1


“Iya”


“Tentang apa?” Tanya Poppa lagi.


“Entah. Dia hanya bilang ada yang mau di bicarakan dengan R dan mungkin kita semua” Jawab Mommy Ara.


Andrew dan yang lainnya juga manggut – manggut saja.


***


Selepas makan malam


Andrea dan Varen sudah melipir bersama anggota keluarga mereka yang lain ke ruang santai yang berada di Mansion Utama ke ruang santai keluarga seperti biasa, setelah makan malam untuk sekedar mengobrol ringan meski terkadang di ruang makan pun mereka sudah juga mengobrol dan melempar candaan.


“Jadi, apa yang kau mau bicarakan denganku dan kami semua, Bang?” Tanya Daddy R sambil memegang cangkir


kopi ditangannya, lalu menyesap isinya setelah bertanya pada Varen. “Apa aku akan menjadi kakek?”


Semua orang langsung memandangi Varen yang spontan terkekeh. Andrea sedang mengambil ponselnya di kamar.


“Mohon maaf, tapi belum”


“Cek saja dulu”


“Ck! Nantilah kalau soal itu. Belum ada tanda – tanda juga” Sahut Varen.


“Memang kamu dan Drea mau langsung punya anak atau menunda dulu”


“Aku belum membicarakan itu dengan serius pada Little Star”


“Ingat kalau soal anak, jangan mengambil keputusan sepihak” Ucap Poppa yang punya pengalamannya sendiri soal itu.


Varen mengangguk. “Iya aku selalu mengingatnya Pop”


“Lalu apa jadi yang mau kau bicarakan, hem?”


“Kakek Peter”



“Benar kan, kamu Alvarend? ... Alvarend Alexander!”**


“......”


“Putranya Reno Alexander?”


“Kau salah orang”


“...”


“Ayahku Reno Aditama Smith”


“....”


(Varen mengangkat telunjuknya wanita yang menyebut nama Daddy R dengan nama keluarganya terdahulu).


“Abang...”


“Maafkan aku ... Aku ..”


“Kau dengarkan aku baik – baik! Jangan pernah menyebut sebuah nama yang kau sebutkan tadi dibelakang namaku, atau ku potong lidahmu” (Ancam Varen). “Sekarang pergilah dari sini!”


“Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyinggungmu. Yang aku tahu kamu adalah Alvarend A ..”


“Teruskan. Dan akan ku potong lidahmu saat ini juga”


“Abang ....”


“Maaf ..”


“Ayo kita masuk Little Star”


“Tunggu! Tolong, dengarkan aku sebentar. Aku mohon...”


“....”


“Tapi Abang...” (Andrea mengkode agar Varen sebaiknya mendengarkan wanita itu dulu. Andrea sendiri tahu juga soal cerita nama Alexander yang dibuang oleh Daddy R sejak lama sekali berikut hubungan yang diputuskan oleh salah satu Daddy nya itu dengan keluarga yang bernama Alexander).


“Kamu lapar bukan?”


"Iya, tapi..."


".........."


“Alexander tidak ada hubungannya denganku”


“Kakek Peter sedang sakit”


“.......”


“Kondisinya semakin hari semakin tidak baik. Dan dia selalu menangis ... bilang kalau dia menyesali perbuatannya pada Om Reno dan Ibunya”


“....”


“Kakek.. sangat ingin bertemu dengan ayahmu, Alvarend”


“....”


“Dan dia juga sangat ingin bertemu denganmu. Cucu yang tidak pernah diperbolehkan Om Reno untuk ia temui sampai sudah puluhan tahun”


“.....”


“Tolonglah, berbelas kasihanlah sekarang. Temui dia ... walau sebentar saja. Biar bagaimanapun .. dia kakekmu juga..”

__ADS_1


***


“Lalu, maksudmu mengatakan ini padaku?”


Daddy R berkata santai sambil memandangi putranya itu.


“Apa Dad tidak ingin menjenguknya?”


“....”


“Wanita itu bilang, dia sedang sakit keras. Mungkin waktunya tak lama lagi” Ucap Varen sambil juga memandangi Daddynya itu.


“Bukan urusanku” Daddy R kemudian berdiri dari duduknya. Hendak meninggalkan ruangan dimana mereka yang


berdomisili di London sedang berkumpul bersama.


“Sudah puluhan tahun Dad, dia ingin sekali bertemu denganmu katanya, untuk meminta maaf. Apa Dad masih belum memaafkannya?” Ucap Varen seraya bertanya yang membuat Daddy R menghentikan langkahnya lalu  berbalik menatap Varen.


“Kau mau tahu jawabanku?”


“Iya” Jawab Varen pada sang Daddy.


Daddy R mendekati putranya itu.


“Jika aku menggunakan harta Mommy mu untuk menghidupi simpanan dan anak – anak haramku, lalu mengambil alih semua harta Mommy mu untuk menyenangi keluarga haramku, dan meninggalkan Mommy mu dengan penyakitnya hingga ia mati karena penyakit tersebut dan mati dengan membawa luka dan rasa sakit yang tak terhingga dihatinya, sementara aku sedang bersenang – senang dengan keluarga haramku diatas penderitaannya, dengan hartanya, apa kau akan memaafkanku?”


Daddy R bicara panjang lebar seolah tanpa jeda.


“JAWAB!”


“Hon...”


“R...”


“Kak...”


“Apa jawabanmu?”


“Tidak”


“Maka kau tahu jawabanku”


***


Author’s POV on


Dua bulan berlalu


Perhelatan akbar resepsi pernikahan Andrea dan Varen telah dilangsungkan dengan megah mengalahkan acara yang mereka gelar di Jakarta.


Kini, Andrea dan Varen sudah kembali ke Jakarta dan menetap disana. Varen akan mengurusi R Corp, sementara


perusahaan pribadinya yang di Massachusetts akan ia pantau dari Jakarta dan tanggung jawab disana, ia berikan pada sahabat yang merupakan orang kepercayaannya juga.


Andrea ingin berkuliah di Jakarta saja. Karena ia lebih merasa nyaman tinggal di Kota tersebut. Varen pun mengikuti keinginan istri kecilnya tersebut tanpa protes.


Sementara Varen juga melanjutkan S3nya secara online, mengingat tak sulit bagi pria jenius itu untuk mengikuti mata perkuliahan karena otaknya yang kelewat cerdas.


Tak perlu memiliki gelar yang begitu tinggi sebenarnya, karena Varen sudah ditetapkan sebagai pewaris utama baik di Keluarga Aditama, tentunya. Juga di Keluarga Adjieran Smith. Namun Varen ingin mendobrak rekor dua ayah teratas di keluarganya soal pendidikan.


Dan mengingat Varen itu cerdas, tak akan sulit baginya untuk mengurus tambahan dua Perusahaan Utama ditangannya, selain bisnis pribadinya.


Nathan juga melanjutkan S2, sembari ia membantu Varen mengurus Perusahaan keluarga mereka, agar belajar soal kepemimpinan dan hal – hal yang berkaitan dengan itu. Toh, ia akan menjadi pewaris utama bisnis pribadi Daddynya sendiri, selain akan ditunjuk untuk bertanggung jawab disalah satu Perusahaan keluarga jika Nathan sudah benar – benar siap nanti.


Tanggung jawab yang diemban para cucu laki – laki di Keluarga Smith sejak mereka lahir, untuk meneruskan bisnis keluarga, meskipun dibebaskan juga untuk memilih jalan hidup mereka masing – masing. Varen dan Nathan menerima, selain juga mereka melakukan hal - hal yang mereka suka.


Entah Rery, Ares dan Varo akan sejalan dengan kedua kakak laki – laki mereka itu, atau akan memilih jalan yang lain jika mereka sudah dewasa nanti.


Dua bulan berlalu sejak pembicaraan yang sedikit menegangkan antara Varen dan Daddy R soal kakek kandung Varen, hingga saat ini Varen sudah tak membahasnya lagi dengan Daddy R. Soal Peter Alexander, sudah benar – benar dibuang oleh Daddynya itu. Ya, Daddy R sekeras itu pada ayah kandung yang sudah tidak ia anggap lagi.


Daddy R terlalu sakit hati pada Peter Alexander atas apa yang pria itu sudah lakukan pada ibu kandungnya dimasa lalu, hingga wanita itu tenggelam dalam kesedihan sekaligus menderita atas penyakit yang dideritanya.


Hingga akhirnya Bunda, panggilan yang Daddy R sematkan pada ibu kandungnya, meninggal dunia.


Yang Daddy R tahu, Bunda pergi dengan sedihnya, dengan luka yang begitu dalam dihatinya atas perbuatan ayah kandungnya yang sudah menipu sang Bunda mentah – mentah. Hingga Daddy R merampas kembali apa yang menjadi miliknya dan Bundanya dari pria bernama Peter Alexander itu dan keluarganya, yang disebut dengan keluarga haram oleh Daddy R.


“Apa jawabanmu?”


“Tidak”


“Maka kau tahu jawabanku”


“.....”


“Aku tidak pernah memungut lagi sampah yang sudah kubuang! Kau ingat itu baik – baik! Sebagai putra kandungku, seharusnya kau paham betul atas itu!”


Author’s POV off


*****


Keluarga, kata sederhana namun bermakna. 


Yang biasanya tersebut berdasar atas hubungan darah. Namun tak semua.


Darah, memang lebih kental daripada air


Namun kadang hubungan Darah dalam satu keluarga tak menjamin penghargaan yang sama dalam masing - masing pribadinya.


Dan Disitulah emosi dicoba.


*****


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2