
B L U E
(Pilu)
Selamat membaca..
“Jadi lo sama Drea ajak gue kesini?”
“Ya jemput si Rendy. Dia yang tahu Kevia ada dimana sekarang”
“Ya ampun Abaaannnggg ..... kenapa ga bilang sih mau jemput Kak Rendy disini?. Nih jantung sama kaki gue
sudah lemas tau ga?”
Sementara Nathan memegang dadanya, si Abang hanya memasang wajah masa bodoh saja. “Terus, mau protes?”
Ucap Varen yang sebenarnya dalam hati meledek si Tan – Tan. Hatinya cekikik geli, tapi si Abang jago kalo pasang muka sok cool nahan ketawa.
Pasalnya Varen sudah bisa menebak apa yang akan dipikirkan Nathan kalau dia yang katanya mau dipertemukan
dengan Kevia malah diajak ke area pemakaman.
“Ya engga...”
Nathan yang tak berani protes, dalam hati pun ia pasrah saja.
Daripada nanti kalau dia berani protes, terus Abang berubah pikiran?. Kan si Abang gitu jeleknya, kalau ga senang hati ya suka – sukanya dia. Bisa berubah pikiran dalam waktu sepersekian detik kalau moodnya berubah. Jadi lebih baik Nathan cari aman.
“Terus sekarang jadi kan ke tempat Kevia...?” Tanya Nathan sedikit tergugu.
“Masih punya muka lo ketemu dia emang?!” Jawaban Rendy bikin nyelekit hati si Tan – Tan. Wajah Nathan berubah sendu, ia memilin getir bibirnya lalu sunggingan yang menggambarkan hati Nathan menjadi sedikit pilu pun nampak terlihat kini.
Membuat Rendy yang tadinya sedikit geram dan kesal pada Nathan jadi tak enak sekaligus iba juga. Nathan nampak terluka. Terlihat jelas rasa bersalahnya pada Kevia dalam pandangan Rendy saat ini.
Rendy kemudian menghela nafasnya, lalu merangkul bahu Nathan. “Jo, Jo .. kesalahan lo fatal tau ga?” Ucap Rendy.
“Iya, Kak..... gue tau ....”
Nathan tertunduk lesu.
“Ya udah. Yang penting lo udah sadar sama kesalahan lo dan mau memperbaiki diri lo”
“Iya Kak...” Nathan tersenyum tipis.
“Ya udah ayo”
“Ga menunggu Aunt sama Uncle dulu Kak?” Tanya Andrea pada Rendy.
“Ga usah. Gue ga bilang kalian mau datang juga, jemput gue kesini” Jawab Rendy.
Andrea dan Varen manggut – manggut.
“Ayo! Ga usah pasang muka madesu gitu lo!” Rendy merangkul bahu Nathan dan berjalan duluan di depan Andrea dan Varen yang kemudian menyunggingkan senyum mereka. Nathan pun mengangguk dan tersenyum juga pada Rendy. Dan keempat orang tersebut pun berjalan keluar dari area pemakaman.
****
Andrea, Varen, Nathan dan Rendy sudah melaju dalam mobil yang dikemudikan Rendy sekarang, karena pria itu
sendiri yang mengajukan diri untuk menyetir. Ogah ribet jadi navigator, jadinya mobil yang tadi dikemudikan Nathan ia ambil alih kemudinya untuk pergi ke tempat Kevia.
“Kak Rendy ga dinas hari ini?”
“Aku cuti hari ini. Kebetulan juga ada teman satu profesi yang aku percaya buat standby di Rumah Sakit seharian ini” Sahut Rendy pada Andrea yang duduk dikursi penumpang belakang bersama Varen.
“Makasih ya Kak”
“Sama – sama Drea .....” Sahut Rendy dengan lembutnya pada Andrea, kemudian melirik sinis pada Nathan yang duduk di kursi penumpang disampingnya. “Lo, ga mau bilang makasih sama gue?!” Ga ada lembut – lembutnya sama si Tan – Tan.
Nathan yang sadar Rendy berbicara yang bermakna sindiran padanya itupun langsung menoleh pada si dokter
jantung sahabat Abangnya. “Iya Kak Rendy, yang baik hati dan tidak sombong, terima kasih yang sebesar – besarnya...” Ucap Nathan menampakkan senyumnya yang terpaksa pada Rendy, Andrea dan Varen cekikikan saja melihatnya. Ponsel Rendy kemudian terdengar berdering.
“Halo” Sapa Rendy pada orang yang menelponnya, setelah ia menepikan mobil di bahu jalan yang sekiranya aman.
“Iya Vi?”
Yang duduk disamping Rendy langsung menoleh spontan mendengar kalimat kedua Rendy pada orang yang
menghubunginya.
‘Vi .. Via.....?’
Batin Nathan menduga. Hatinya berdebar kini, ingin sekali merebut ponsel Rendy, memastikan sendiri benarkah dugaannya, kalau yang sedang berbicara dengan Rendy di telpon adalah Via – nya?.
“Bentar ya Vi, aku minggirin mobil dulu” Ucap Rendy yang kemudian tanpa Nathan duga, seolah Rendy tahu isi
hatinya yang ingin mendengar suara Kevia, menekan tombol speaker di ponselnya. “Iya gimana Vi?” Sambung Rendy setelah menekan tombol speaker tersebut.
“Pemakamannya kerabat AA sudah selesai?”
Dan keluarlah suara dari sebrang ponsel Rendy.
Suara dari seseorang yang Nathan rindukan setengah mati selama kurang lebih empat tahun ini. Kevia.... Suaranya tak terdengar lagi seperti saat dia masih kelas dua SMA, saat Kevia masih bersama dengan Nathan.
‘Via.... aku kangen..’
“Iya udah” Sahut Rendy pada pertanyaan Kevia sebelumnya.
“AA lagi nyetir?” Tanya Kevia lagi dari sebrang sana. Nathan cemburu rasanya, panggilan Kevia pada Rendy terdengar mesra. Namun Nathan diam saja, khusyu mendengarkan suara Kevia
“Iya. Mau susulin kamu kan?”
“Huuumm ..”
“Kenapa Vi?”
“AA sama siapa?” Kevia bertanya.
“Sama Andrea dan suaminya”
__ADS_1
“Bertiga aja?”
Rendy tak langsung menjawab melirik Nathan disampingnya yang wajahnya nampak penuh harap.
“Ada Jonathan juga ..”
“Oh”
Oh – nya Kevia terdengar datar saja. Ada cekat yang mengikat dihati Nathan mendengar datarnya tanggapan
Kevia tentang dirinya.
“A,”
“Ya?”
“Eum .... Sampaikan maaf aku pada Andrea dan suaminya. Maaf, tapi kayaknya aku batal menemui mereka” Ucap Kevia dari sebrang sana, lalu ada hati yang kecewa. Bukan hatinya Andrea dan Varen tapi.
Tapi hati Nathan. ‘Karena ada aku, kah Vi?’
“Boleh tahu kenapa?” Tanya Rendy.
“Ga apa sih. Setelah aku pikir – pikir, ya aku ketemu mereka buat apa?”
“Mereka kan ingin bicara sama kamu?”
“Eum, ya justru itu, soal hal yang ingin mereka bicarakan itu. Aku pikir rasanya tak perlu deh ‘A. Itu semua kan sudah masa lalu, tak perlu dibahas lagi”
“Ya terserah kamu sih itu” Sahut Rendy kemudian.
“Mereka marah ga ya ‘A?. Aku ga enak juga sih pada Andrea dan suaminya, ya?. Tapi mudah – mudahan mereka
bisa mengerti”
Rendy menoleh pada Andrea dan Varen, dan Varen kemudian menganggukkan kepalanya.
“Ga sih, mereka ga akan marah. Mereka pasti ngerti”
“Ya udah kalo gitu. Titip salam aja ya 'A, untuk Andrea dan suaminya. Sekali lagi bilang pada mereka kalau aku minta maaf. Maklum labil, hehehe”
Kevia terkekeh kecil. Nathan tersenyum miris. Ingat kata labil, ingat kondisi kejiwaan Kevia dulu hingga merembet mengingat kesalahannya lagi pada Kevia.
“Iya udah iya” Sahut Rendy.
“Ya udah ‘A, gitu aja ya?. AA hati – hati nyetirnya..”
“Eh bentar Vi,”
“Iya ‘A?”
“Via ga mau bicara pada Jonathan?” Rendy melirik Nathan.
Ada harap yang begitu besar dalam hati Nathan.
Namun kemudian,
“Rasanya ga perlu 'A. Ga ada yang perlu aku omongin sama dia. Lagian dia kan bukan siapa – siapa aku lagi juga”
**
‘Via..’
Lepas dua hari dari penolakan seorang Kevia secara tak langsung padanya. Nathan merasakan dunianya jadi abu – abu. Sesal, sakit jadi satu. Rindu, namun yang dirindukan tak sudi bertemu, berbicara tanpa harus bertemu pun Via tak mau.
‘Sebentar aja Vi, sebentar... aja aku mau ketemu. Mau minta maaf Vi, mau minta maaf dengan benar’
Hati Nathan berbisik sendiri. Pada Kevia ia berharap, namun harap itu tak bisa secara langsung ia katakan. Kevia menolak bicara padanya hari itu, saat Rendy menanyakan hal tersebut pada Kevia.
"Lagian dia kan bukan siapa – siapa aku lagi juga”
Kalimat itu yang kini sering terngiang di telinga Nathan, membuatnya merasakan ada sakit yang membelit.
Hampa, itu yang Nathan rasa. Tapi mau bagaimana?. Nathan tak kuasa memaksa. Takut, jika Kevia makin
membencinya.
Jadi, selama dua hari ini, Nathan menjalani aktifitasnya seperti biasa. Daddy dan Mama mau Nathan lebih serius lagi dengan kuliah S-2 nya, jadi dengan patuh Nathan melaksanakannya. Ia sudah janji pada dirinya sendiri, akan menuruti semua perkataan kedua orang tua kandungnya dan juga para Dads dan Moms nya yang lain, para kakek dan nenek, juga Abang.
“Than ....” Itu Mama Jihan yang menyambangi Nathan yang sedang termenung di kamarnya.
“Ya Mam?”
Nathan langsung menghampiri sang Mama. “Turun, makan. Semua orang sudah berkumpul”
“Iya, Mam” Nathan langsung merangkul bahu sang Mama dan turun ke lantai bawah bersama.
“Kamu siap – siap”
“Untuk?”
“Dibawah ada yang sudah menunggu kamu”
“Siapa?” Tanya Nathan.
“Tuh!” Mama Jihan menunjuk ke satu arah.
‘Mati!’ Batin Nathan spontan berkata.
Nathan meringis pada beberapa orang yang ada diarah telunjuk Mama Jihan mengarah. Nathan was – was
jadinya.
“Pop, Dad”
Ah, dua naga sudah keluar dari sarangnya di London dan sekarang ada dihadapannya. Nathan dengan cepat
menduga, bahwa kedatangan mereka yang berdomisili di London minus Papa Lucca dan keluarganya ini, pasti terkait masalahnya dan Kevia.
Nathan salah tingkah, namun tetap menyalimi dengan takdzim dua naga yang belum berkata, hanya memandang
__ADS_1
padanya.
Tak memandang Nathan dengan amarah atau tatapan sinis sih, datar saja kedua orang itu memandangnya, tapi
kenapa Nathan merasa ngeri ya?. Nathan sedang menduga – duga, dua orang ini yang susah sekali Nathan tebak. Nathan menyalimi, Momma dan Mommy Ara, berikut Oma, Gamma dan Gappa.
Nathan mendapat pelukan hangat, dari mereka yang baru saja tiba dari London, kecuali dua naga yang masih berdiri sambil memandanginya. Datar memang, tapi seolah sedang mengabsen tiap inci tubuh Nathan.
‘Kalau Poppa dan Daddy R kalian nampak begitu tenang, terlalu tenang bahkan, itu sinyal waspada bagi siapa saja. Entah bagaimana hati mereka kalau mereka nampak seperti itu’
Nathan teringat ucapan itu, entah siapa yang berkata. Membuat Nathan akhirnya memperhatikan kedua naga
berwujud manusia yang belum selesai memandanginya. Waspada, Nathan mulai waspada. Naga kan gitu, diem, diem, tau – tau menyemburkan api.
“Kemari”
Daddy R menggerakkan telunjuknya pada Nathan, dimana semua orang terdiam memperhatikan dan Nathan
meneguk salivanya, berjalan mendekat pada Daddy R yang sedang berdiri berdekatan dengan Poppa yang memasukkan tangan ke saku celananya.
“Ya, Dad?”
Nathan takut – takut mendekat pada Daddy R dan Poppa. “Jadi seperti ini rupanya, huh?. Laki – laki pengecut di keluarga kita?”
Nathan pias, namun pasrah. Akhir – akhir ini kata ‘pengecut’ sudah akrab ditelinganya. Nathan tak menjawab, pada salah satu Dad yang tampannya jangan ditanya, tapi sadisnya juga. Yang Nathan dengar melalui cerita dari Dads mereka yang lain. Belum lagi mulut Daddy R yang pedas, mengalahkan cabai terpedas di dunia kalau sedang
menyindir seseorang.
“Kau ingin pujian dariku atas kelakuanmu?”
“Tidak, Dad..”
“Mungkin dia mau diberikan penghargaan?”
Itu Poppa yang bicara. Mulutnya kadang sebelas dua belas dengan Daddy R. Belum lagi enteng tangannya kalau sedang kesal.
“Penghargaan paling tinggi untuk seorang ba**ngan” Datar memang suara Poppa sambil terus memandangi Nathan\, tapi tajamnya ucapan cukup menikam perasaan. “Tapi kurasa.. ba**ngan saja tak cukup\, ya? Sebutan untukmu?”
Poppa mendekatkan wajahnya pada Nathan yang tertunduk.
“Ku tambahkan dengan Pecundang. Bagaimana? Cocok untukmu bukan?”
“Maaf .. Dad ... Pop..”
Nathan berkata pelan dalam tunduknya. Yang lain masih memperhatikan dalam diam, tak ada yang berani
menginterupsi jika dua naga sedang bicara jika aura mereka seperti saat ini.
Baik Daddy Jeff dan Mama Jihan pun diam saja, termasuk Gappa, si mantan penguasa dalam keluarga. Karena
kekuasaannya sudah beralih pada itu dua naga.
“Kami kau anggap siapa, hem?”
Poppa kini mensedekapkan kedua tangannya.
Nathan memberanikan diri untuk menatap Poppa yang kini berada dihadapannya, berikut tatapan tajamnya. Lalu menatap Daddy R Juga yang sama seperti Poppa, memandang tajam padanya.
“Orang tuaku, Dads ku ...” Jawab Nathan dengan tatapan sendu bercampur takut.
“Benar begitu?”
“Iya, Pop ..”
Nathan menjawab tanpa ragu, meski sedikit tergugu.
“R ..”
Poppa bergeser sedikit, hingga Daddy R kini tepat berada berhadapan dengan Nathan.
“Tampan ...”
Daddy R meletakkan satu tangannya di pipi dan garis rahang Nathan. Menepuknya pelan.
“Tapi Memalukan!”
Plakk!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Nathan yang tadi ditepuk Daddy R. Sangat keras, karena dari suara telapak tangan Daddy R yang didaratkan di pipi Nathan itu terdengar nyaring menyakitkan. Tak usah jadi Nathan untuk membayangkan rasanya tamparan Daddy R.
Suasana sudah hening tadi, kini makin hening, sedikit mencekam.
“Juga Menjijikkan!”
Plakk!
Ah, ya Tuhan satu tamparan lagi Daddy R darat kan di pipi Nathan yang sebelah lagi, tamparan yang cukup
bertenaga sepertinya, karena kemudian ada luka di bibir Nathan, seiring rasa yang seperti karat Nathan rasakan dimulutnya. Nathan tak menyela, pun tak menyergah.
Tamparan Daddy R ia terima dengan lapang dada. Yah, Nathan merasa itu pantas untuknya. Nathan memandangi
Daddy R dengan tegarnya, ia sungging kan senyum dibibirnya. “Thanks Dad ..”
Pada Daddy R yang nampak matanya mulai memerah. Sementara Poppa juga masih memandangi Nathan, namun raut wajah keduanya sudah berubah.
“Maaf.. hanya itu yang bisa aku katakan. Aku menyesal, sangat, namun aku sadar kalau penyesalanku tak bisa
merubah keadaan. Jadi .. Maaf.... sekali lagi aku minta maaf. Untuk perbuatanku pada gadis bernama Kevia yang membuat kalian malu itu aku minta maaf ... untuk memiliki pengecut, ba**ngan, pecundang bejat dalam keluarga ini aku minta maaf ....”
Bahu Nathan sudah bergetar. Ia menangis bukan karena takut akan hukuman atau amukan yang mungkin saja Daddy R dan Poppa berikan serta lakukan padanya. Nathan menangis karena penyesalan atas besarnya kekecewaan dalam keluarga yang ia torehkan. Karena Nathan sayang, tak hanya pada Daddy Jeff dan Mama Jihan, tapi pada seluruh orang tua dalam keluarganya.
“Hukuman apapun aku terima.. hujatan apapun aku tak masalah... Hanya tolong, jangan membenciku .. itu saja
.. karena aku butuh kalian.. seterusnya aku butuh kalian.. Dia yang ku sakiti sudah membenciku, itu cukup menyiksa batinku. Maka tolong, jangan tambah lagi dengan kebencian kalian padaku.... Demi Tuhan.. aku menyesal... untuk dosaku pada Kevia, untuk rasa malu yang kalian punya... hanya tolong, sekali lagi, jangan.... jangan membenciku....“
Oh, Nathan... membuat Daddy R membawanya dalam pelukan. Poppa mengusap kepala Nathan dengan sayang. Yang kemudian lirihan nya menjadi isakan dalam pelukan Daddy R.
“Maafkan aku Dad.... Pop ......”
__ADS_1
**
To be continue..