
◽APALAH – APALAH◽
Selamat membaca.....**************************
“Jadi itu tuh si Esmeraldah sama Hose Armandoh itungannya keluarga sini juga, ya Sel?.”
Tanya Mama Bela pada Michelle yang kini berada didekatnya sambil menyuapi Mika yang usianya kira – kira sudah dua tahunan.
“Esmeralda? Ho .... ? Siapa?.”
Michelle sedikit bingung.
“Hoa Hoe!.” Celetuk Prita sembari terkekeh dengan John disampingnya.
“Itu Lucca dan Fabiana....”
“Ooh....”
Michelle pun ber oh – ria.
“Iya Mam, Dad sudah menganggap Lucca seperti putranya sendiri. Sudah diresmikan sebagai anak angkat Dad juga seperti halnya Kak John dan Kak Jeff.” Ucap Michelle. “Begitu sih yang aku tahu. Ya kan Kak John?.”
“Yep!. Hanya belum diumumkan secara resmi seperti John dan Jeff, Ma. Nanti mungkin sekalian saat kita menggelar pesta.”
“Tuan Anthony bisaan aje nyari anak angkat yang ganteng – ganteng kayak die!.”
Tiga orang yang bersama Mama Bela itupun terkekeh bersamaan.
Mama Bela masih memperhatikan Lucca yang sedang berbicara berdua dengan Reno di pinggir kolam renang.
“Tapi agak – agak horor ye mukanye biar kata cakepnya kelewatan kayak kamu John, si Jep, Reno, Endru ama si Dewa. Kaku beut kek sapu ijuk yang belom dipake.”
Tiga orang yang berada di dekat Mama Bela terkekeh lagi.
“Sian banget orang cakep – cakep gitu disamain ama sapu ijuk yang baru turun dari mobil kang perabot ceban tiga!.”
“Ya cakep mah cakep Prit, cuman pelit amat senyum. Kaga kayak die – die pade nih!....”
Mama Bela menunjuk John dan dimaksudkan pada Pangeran – pangeran Smith yang lain.
“Udeh gitu kalo ngeliatin orang tajem bener. Berasa kite punya utang yang kaga dibayar – bayar ama die. Beda ama bininya.... ramah banget mana cakep banget kek Esmeralda, cakepan itu bininye malahan si .... siape tadi namanye?.” Mama Bela menoleh pada Prita.
"Nama istrinya?."
"Bukan itu nama cowoknya maksud Mamah."
“Lucca.” Sahut Prita
Mama Bela pun manggut – manggut.
“Namanya unik ye, kayak lagu....” Celetuk Mama Bela.
Prita, John dan Michelle pun menoleh lagi pada Mama Bela.
“Lagu apaan?....” Tanya Prita.
“Lucca!!! Lucca Lucca Lucca, Lucca Lagi Sairnya! ....”
****
Sementara itu dipinggir kolam renang
“She’s a cheerful person (Dia orang yang ceria).”
“Who? (Siapa?).” Tanya Reno pada Lucca yang sedang bersamanya.
Lucca menunjuk dengan gerakan kepalanya ke tempat dimana Michelle, Mama Bela, John dan Prita berada.
Empat orang itu nampak sedang bersenda gurau, saat Lucca dan Reno kompak menoleh kearah mereka.
“Fania and Prita’s Mom (Ibunya Fania dan Prita).”
“She is (Iya memang).” Sahut Reno. “Even I can say that, they were bring a lot of change in this family. Positive and good. Fania and her family spread a lot of cheerfulness here (Bahkan bisa gue bilang kalau, mereka membawa banyak perubahan dalam keluarga ini. Positif dan baik. Fania dan keluarganya menyebarkan banyak keceriaan disini).”
“Ya, I can see that (Ya, gue bisa lihat itu).”
Reno dan Lucca sama – sama tersenyum dan mereka menoleh lagi ke tempat dimana empat orang yang mereka
__ADS_1
perhatikan barusan berada.
“No wonder, now all of you have a wide mouth.. (Tak heran, mulut kalian semua begitu lebar sekarang).” Canda Lucca dan Reno pun kemudian terkekeh, karena saat mereka menoleh si Syahrini KW lagi goyang – goyang ga jelas dan tiga orang yang bersamanya itu tertawa lebar sampai terdengar cekakakan.
Bahkan Mikaela yang sedang dipangku Michelle nampak juga ikut cekikikan.
***
“Are you sick, Fabiana? (Apa kamu sakit, Fabiana?).”
“Just a little bit tired, Aunt Anye (Hanya sedikit lelah, Bibi Anye).” Sahut Fabiana dengan tersenyum pada Mama Anye.
“Do you want to take some medicine? (Apa kamu mau minum obat?).”
“No Aunt Anye, I will be fine (Tidak Bibi Anye, aku akan baik – baik saja).”
“Okay then. Let me know if you need anything. Don’t be bashful with me or everyone here .... (Baiklah kalau begitu. Beritahu aku kalau kamu butuh sesuatu. Jangan sungkan padaku atau siapapun di rumah ini ....).”
“I won’t Aunt.... (Aku tidak akan sungkan Bibi).. Thank you.”
“You are very welcome (Sama – sama).” Sahut Mama Anye. “I’m going to prepare snack then (Aku akan
menyiapkan cemilan kalau begitu).”
“Let me help (Biar aku ikut membantu).”
“No need Dear, just sit here because you look very tired in my sight .... (Tidak perlu Sayang, duduk saja disini karena kamu terlihat begitu lelah dalam pandanganku ) ....”
“My Mom was right (Ibuku benar).”
Ara datang mendekati Fabiana setelah Mama Anye berlalu.
“Your face showing like you haven’t sleep all night (Wajahmu menunjukkan seperti kamu tidak tidur semalaman.”
“Hh .... almost.... (hampir) ....”
“Are you not feeling comfortable staying here, Fab? (Apa kamu tidak merasa nyaman memangnya tinggal disini, Fab?).”
“Oh please, Ara .... I really – really happy to be here. But like I was told you before, I barely not sleep last night just because Lucca kept asking about a magical hocus pocus that I totally don’t understand!. But he didn’t believe that, then he ‘punished’ me because he thought that I was not being honest to him.”
“(Oh bukan begitu, Ara.... Aku benar – benar bahagia berada disini. Tapi seperti yang aku bilang padamu sebelumnya, aku nyaris tidak tidur semalam hanya karena Lucca terus saja bertanya tentang rumus ajaib yang aku sendiri benar – benar tak paham!. Tapi ia tidak mempercayainya, dan dia ‘menghukumku’ karena dia pikir kalau aku tidak jujur padanya).”
“Huuuummmm ....”
“Do you know about that hocus – pocus, Ara?.... (Apa kamu tahu tentang hocus – pocus itu, Ara?).”
“Ah that ..... (Ah itu ....).” Ara tersenyum pada Fabiana kemudian kepala Ara nampak celingak – celinguk. “Sweety!.”
***
“Hey you guys my charming brothers! .... (Hei kalian kakak – kakak lelakiku yang mempesona).”
Michelle menyapa para pria yang sudah duduk bersama lagi sambil bermain kartu.
“And also you my handsome husband! (Dan juga kamu suamiku yang tampan).” Ucap Michelle pada Dewa. “Dad
want to talk with all of us! .... (Dad mau bicara dengan kita semua!).” Sambungnya sambil mengkode para pria itu untuk segera masuk kedalam Mansion dan para pria itu pun langsung mengangguk dan berdiri dari tempatnya.
****
“Poor you Fabiana.... (Kasihan kamu Fabiana) ....” Ucap Mom prihatin setelah mendengar cerita soal ‘hukuman’ yang wanita itu dapat akibat Lucca yang penasaran dengan sebuah rumus ajaib milik para wanita.
Fabiana pun memandangi Mom dengan wajah memelas, kemudian memandangi para wanita lain yang bersamanya saat ini.
Sementara Dad sedang mengobrol dengan Papa Herman sembari menunggu Michelle memanggil para pria muda yang sedang berkumpul di belakang. Ada sesuatu yang ingin Dad sampaikan pada seluruh anggota keluarganya.
*Kembali lagi pada para wanita*
Prihatin memang, para wanita yang sedang berada disekeliling Fabiana saat ini, namun tak pelak mereka pun
terkekeh juga melihat tampang Fabiana yang memelas itu.
“What a maaagicaaaaallll hocus – pocus!.... No wonder Lucca dying in his curiously. And I bet that your men are telling that to Lucca with more and more explanation (Benar – benar rumus aaaajaiiiibbbb!... Tidak heran Lucca amat sangat penasaran. Dan aku bertaruh kalau para pria kalian pasti bercerita dengan sangat berlebihan tentang itu pada Lucca ).”
Para wanita yang mengerti terkekeh lagi kecuali Mama Bela yang kaga paham Bahasa Inggris yang kepanjangan.
“Cerita nye kenapa sih die?.”
__ADS_1
“Kecapean digempur lakinye semaleman! .... gegara lakinye pikir ... bla bla bla bla bla ....”
Prita menceritakan semua keluh kesah Fabiana pada Mama Bela.
“Ohhh... begono ....” Mama Bela manggut – manggut setelah mendengar penjelasan Prita. “Ya udeh dibagi nape sih ilmu nye itu sama si Esmeralda, sianan pan. Biar entar malem die bisa kasih pelajaran itu si Lucca Lucca Lucca lupa lagi lagunya ampe kelojotan. Sekalian tuh bagi ilmu goyangan turun temurun.” Cerocos Mama Bela dan yang paham cerocosannya itupun terkekeh mendengarnya.
“What is it, Aunt Bela? .... (Kenapa, Bibi Bela?).”
Mama Bela yang sedang bisik – bisik dengan Prita (menurut dia bisik – bisik) tapi suara bisikan Mama Bela bukanlah bisikan bagi sebagian orang, (karena yaaahh .. tau sendiri dong ye kan si Syahelah punya bacod) pun langsung menoleh karena mendengar Fabiana menyebut namanya barusan. Dan kini Fabiana sedang tersenyum padanya.
Mama Bela balik tersenyum pada Fabiana.
“Die ngomong ama Mamah ye?.”
“Lagian ngeledekin suaminya barusan ..”
"Emang die paham?."
“Kaga.”
Prita yang baru saja meledek mamanya itu terkekeh sendiri.
Sementara Mama Bela berdecak kecil.
“I heard you said my husband name, what is it?. Is he pertained you? (Aku mendengar kamu menyebut nama
suamiku, kenapa?. Apa dia menyinggungmu?).”
“Ape kata nye tuh?.”
“Fabiana bilang, dia dengar Mama Bela menyebut nama suaminya Lucca. Dia tanya kenapa?. Apa Lucca sudah
menyinggung Mama?.”
“Oh, No! No! No! No! No!. Bukan begono.”
Mama Bela mengibas – ngibaskan tangannya dengan cepat.
“Jelasin nape sih Jol tuh sama dia, yang Mamah bilang tadi!.”
Fania dan para wanita yang lain pun terkekeh lagi melihat Mama Bela yang kesulitan berkomunikasi dengan
Fabiana yang tak paham sama sekali Bahasa Indonesia, apalagi Bahasa Indonesianya Mama Bela, yang bahkan orang Indonesia asli sendiri pun susah paham ama omongannya Mama Bela.
“Kasih tau ame die itu rumusnya kalian pada yang bisa bikin suami pade menggelepar kek ikan mujaer kaga dapet aer! .... ama kasih dah tuh jurus goyangan turun – temurun!.” Celoteh Mama Bela sambil menoleh pada Fania.
“Udeh dikasih tau itu rumus maut!.... Lah jurus goyangan turun temurun yang mane itu?! .....”
“Dih... itu goyangan yang bikin si Endru ngebet nikahin kamu abis liat kamu nyanyi waktu mau kesini dulu! ...” Celetuk Mama Bela dan Fania terkekeh geli.
“What are you guys, talking about? (Kalian sedang membicarakan apa?).”
Fabiana penasaran, karena melihat Fania dan Mamanya tampak asik kasak – kusuk sambil melirik padanya.
“My Mom concerned about what was happened to you, due the hocus – pocus ..... she wants us to share with you. And, she wants to let you know about the ‘heirloom hocus pocus’..... (Ibuku prihatin dengan apa yang menimpa kamu sehubungan tentang rumus tadi .... dia mau kami berbagi dengan kamu. Dan, dia juga mau memberitahu kamu tentang ‘rumus warisan’...).”
“Really? Tell me! .. (Benarkah? Kasih tahu aku! ..).”
“Kenape ini die??? ..” Mama Bela kebingungan pada Fabiana yang kini sudah berpindah duduk ke sisinya lalu menyambar kedua tangan Mama Bela dengan mata Fabiana yang nampak berbinar.
“Die minta dikasih tau itu rumus goyangan warisan.” Sahut Prita.
“Ooooh.” Mama Bela ber – oh ria. Dia kemudian tersenyum pada Fabiana yang sedang penuh harap padanya.
“What is it? .. I really want to give my husband a lesson! .. (Kasih tahu ya? .. Aku benar – benar ingin membalas suamiku!)..”
“Hayo loh Ma, kasih tau itu. Udah penasaran banget itu si Fabiana ..” Celetuk Jihan. “Sama itu goyangan turun temurun.”
Mama Bela manggut – manggut sembari mulai berpikir. ‘Goyang patah – patah apaan ye Bahasa Inggris nye?.’
Mama Bela membatin sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Ah iya!.” Mama Bela nampaknya sudah tahu apa yang ingin dia katakan. “Namanya .. Shake Broken Broken!.”
(Fabiana : ??????)
***
__ADS_1
To be continue ....