THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 180


__ADS_3

đŸ”± AMBYAR MAK PYAR đŸ”±


*******************************


Selamat membaca....


Jakarta, Indonesia


Empat Daddies sedang berada didalam sebuah ruangan olahraga selain ruang gym. Masih di Kediaman Utama Keluarga mereka yang berada di Jakarta.


Bangunan yang cukup luas dan nampak mewah meski tak semegah Mansion yang berada di London yang bisa menampung berbagai macam fasilitas, baik olahraga maupun yang  lainnya. Namun setidaknya Kediaman Utama yang berada di Jakarta, nampak mentereng dibandingkan dengan tempat tinggal disekeliling komplek tempat Kediaman mewah milik Keluarga Adjieran Smith itu berdiri.


Bak!


Buk!


Empat Hot Daddies yang hampir memasuki usia sangat matang bagi seorang pria itu sedang berlatih di ruangan yang merupakan Sasana seperti untuk latihan bela diri.


Bisa dibilang kalau Sasana tempat para Hot Daddies itu berada sekarang adalah tempat latihan para pria yang masih nampak gagah itu melatih pukulan mereka selain juga mungkin untuk berolahraga, karena beberapa samsak dari yang kecil maupun yang besar tergantung. Berikut beberapa alat bantu latihan lainnya selain tinju.


Nathan juga kadang latihan bersama Daddy Jeff di Sasana tersebut. Ruangan yang cukup luas, dengan satu ring berukuran sedang. Dan Daddy Jeff terlihat sedang berada didalam ring bersama Daddy Dewa, saling memanjangkan tangan atau menghindari pukulan. Bukan sedang berkelahi betulan, hanya sedang iseng latihan.


Karena terlihat kalau Daddy Jeff dan Daddy Dewa memakai alat pelindung di mulut, kepala dan sarung tinju di kedua tangan mereka.


“Hei guys ...” Papi John menyapa dua orang yang baru saja masuk ke dalam Sasana. Daddy Jeff dan Daddy Dewa langsung menghentikan latihan mereka saat melihat Andrea dan Nathan yang baru saja datang.


“Mau latihan, Boy?.”


Daddy Dewa bertanya pada Nathan.


Nathan  pun menggeleng.


“Engga ah .. aku sudah mandi. Malas keringetan lagi ..”


“And what about you? ( Dan bagaimana dengan kamu? ).” Ucap Daddy Jeff pada Andrea sambil menggoyangkan kepala gadis remaja itu.


“Boleh...”


“Hati – hati.. patah tangan lo tahu rasa.” Ejek Nathan yang tidak tahu kalau Andrea suka berlatih bersama Sang Poppa di London, meski hanya sekedar latihan ringan untuk melancarkan pukulan sebagai bentuk jaga – jaga jika berada dalam bahaya untuk membela diri.


“I’m not mushy like you!.. ( Gue ga lembek seperti lo! .. ).”


“Watch the way yo talk, baby girl! .. ( Jangan sembarangan lo gadis kecil! ) .. Gue sabuk hitam karate kalo lo lupa. Dari Shotokan sampai Wado – Ryu juga udah gue lahap!.”


“Sok!.”


“Kamu mau latihan Sweety?.”


“Mau Poppa!.”


“John, ambilkan Sparring Gloves yang biasa digunakan Fania.”


“Okay!.” John menyahut dan mengambil sarung tangan tinju berukuran agak kecil yang biasa digunakan untuk para wanita yang kadang ikut berlatih juga. “Here ( Ini ).”


John memberikan Sparring Gloves yang sudah dia ambil dari sebuah loker dan memberikannya pada Andrea.


“Ayo masuk, mari kita lihat sampai mana kekuatanmu! ..”


“Oke Poppa!.”


“Haish kurcaci, mau melawan raksasa!..” Goda Nathan dan Jeff, Dewa serta John pun terkekeh, termasuk juga Andrew. Sementara Andrea mencebik padanya.


***


“Give me Jab! ( Lakukan Jab! ).”


Andrew dan Andrea sudah berada di dalam ring.


Swosh!


Andrea melayangkan tinju dengan dua tangannya bergantian.


“Luruskan agar tak lemah.”


Andrew memberikan instruksi sambil dua telapaknya menerima pukulan – pukulan Andrea.


Swosh!


“More Power! ( Tambah tenaga! ).”


Bak!


Buk!


Andrea menambah tenaga, dalam pukulannya. Gadis itu nampak serius dan bergerak lincah mengayunkan Jab pada telapak tangan Poppa.


“Are you going let anyone else gripe you? ( Apa kamu akan membiarkan orang lain menindas mu? ).” Ucap Poppa sambil masih terus membiarkan Andrea melayangkan Jab nya.


“I won’t! ( Tidak akan! ).” Sahut Andrea sembari mengayunkan tangannya.


“Pukulan silang!.” Poppa menginstruksikan pada Andrea. Dan gadis itu yang nampak paham langsung menggerakkan tangannya dengan kuat sedikit keatas. “Pastikan bahumu terasa bertenaga!.”


Andrea pun mengangguk dan mengulangi lagi pukulan silang dengan tangannya bergantian.


“That’s great! ( Itu hebat! ).” Ucap Andrew pada Andrea, yang merasakan kekuatan pada pukulan Putrinya.


Para Daddies pun senyam senyum melihatnya. Nathan yang tadinya malas pun kini sudah anteng berdiri disisi luar ring memperhatikan Andrea dan Poppanya sedang berlatih, karena Andrea memang nampak serius berlatih.


“Show me your feet power and knee! ( Tunjukkan padaku kekuatan kaki dan lutut mu! ).” Andrew memberi instruksi lagi pada Andrea, dan seperti sudah sangat terlatih, Andrea dengan mudah memahami apa yang di instruksikan sang Poppa padanya.


Dak!


“Yeah!.” Para Daddies yang lain nampak antusias melihat semangat Andrea dalam berlatih bersama Poppanya.


“Another Jab! ( Lakukan Jab lagi! ).”


Bak!


Buk!


“Combination! ( Gerakan kombinasi! ).”


Bak!


Buk!


Swosh


Dak!


Andrea melayangkan Jab, Pukulan Silang dan Tendangan pada Poppanya.


“There’s no rules on fighting .... (Tak ada aturan dalam bertarung ).” Ucap Poppa sambil bergerak mengimbangi Andrea.

__ADS_1


“Khususnya pertarungan jalanan.” Ucap Andrea yang sudah terlihat cukup ngos – ngosan, tapi dia belum nampak ingin berhenti.


“Banyak orang tak bertarung secara adil my Dear. Jadi kamu harus tangguh!”


“I know ( Aku tahu ).”


Hosh


Andrea mengatur nafas namun tak menghentikan gerakan tangannya.


“Orang akan mencari kelemahanmu.”


Andrew menyeringai dan menundukkan sedikit tubuhnya lalu meraih kedua kaki Andrea. Seketika Andrea pun limbung namun Andrew dengan cepat memegangnya agar punggung Andrea tidak menghantam lantai ring dengan keras.


“Bagaimana cara memenangkan pertarungan yang tak adil?.”


Andrew hendak berdiri karena akan menyudahi latihan nya bersama Andrea yang kini sudah telentang karena


dirubuhkan Andrew, meski tidak keras.


“You must fighting harder! ( Kau selalu bertarung lebih keras! ).”


Suara Andrea terdengar, berikut dengan cepat dia melingkarkan sikunya di leher Andrew dengan kuat.


Andrea memang Andrea seorang gadis yang tangguh. Dan sifat tak mau kalah seperti Sang Poppa membuatnya menjadi pantang menyerah.


Andrew menyeringai dalam kuncian Andrea yang kuat itu. Poppa merasakan kekuatan di kuncian sang anak padanya sekarang.


“Right! More Strength! ( Benar begitu! Tambah kekuatan! ).” Teriak para Daddies dengan sangat antusias.


Sementara Tan – Tan melongo saja. Tak sangka Andrea yang bawel, iseng dan dulunya cengeng itu ternyata cukup lihai dalam bertarung dengan pukulan, tendangan dan kuncian. ‘*Banyak*juga tenaganya dia!....’ Batin Nathan terperangah.


Duk! Duk!


Andrew memukul lantai ring, artinya dia menyerah.


“That’s my girl! ( Ini baru putriku! ).” Ucap Andrew setelah Andrea melepaskan kuncian atas pitingan nya di leher sang Poppa yang kemudian berdiri sambil memegang lehernya lalu ia tersenyum.


"Tak ada aturan bukan?." Ucap Andrea santai.


“What a girl! ( Cewe hebat! ).”


Para Daddies yang berada di pinggir ring memuji ketangguhan Andrea yang ngos – ngosan berikut peluh di dahinya yang bercucuran.


“Sepertinya kamu tidak membutuhkan bodyguard, hem?.”


“Just like I said .... ( Aku kan sudah bilang.... ).”


Andrea melirik sang Poppa yang senyam – senyum saja sembari melemparkan sarung tinju yang sudah dilepasnya. Sementara Daddy Jeff dan Dewa sedang membantu melepaskan sarung tinju yang Andrea pakai.


“Ga percuma memang punya Poppa Thanos!.”


Daddy John meledek Andrea sambil mengacak – acak rambut gadis itu. Dan membuat semua orang yang bersamanya terkekeh.


‘Asal dia jangan se - temperamental Poppanya saat marah pada orang lain!.’


Lalu mereka semua meninggalkan Sasana itu bersama – sama.


***


Saat ini


Beberapa bulan telah dijalani Andrea sebagai anak SMA.


bergaul dengan Andrea, bisa menilai kalau sosok Andrea tidak seaneh penampilannya seperti kutu buku dan pendiam itu.


“Wuih!.”


Suara Nathan yang nampak seperti menemukan sesuatu yang menarik membuat orang – orang yang sedang mengobrol santai di ruang keluarga menoleh padanya.


“Abang udah punya pacar sekarang!.”


Nathan yang baru turun dari kamarnya setelah mengambil ponsel langsung mendekati Andrea.


“Ga usah iseng Tan – Taaaann....” Celetuk Mami Prita yang memang seringnya tinggal di Kediaman Utama Keluarga yang berada di Jakarta bersama dengan John dan si kembar serta Daddy Jeff dan keluarga kecilnya termasuk Nenek Yuna.


Andrea yang sedang menonton TV pun melirik malas pada Tan – Tan.


“Tau lo!. Ga usah memprovokasi gue!.”


“Dih siapa juga yang memprovokasi lo ... memang kenyataannya begitu!. Nih liat nih!.”


Andrea langsung merampas ponsel Nathan dan melihat foto yang ditunjukkan Nathan di medsos Varen.


‘Apa – Apaan????!!!! ....’ Andrea membatin kesal. Berikut raut wajahnya yang juga nampak kesal.


“Bisa aja si Abang cari cewe!.”


“Sialan! ...”


Andrea mengumpat pelan dan langsung bangkit dan setengah berlari menuju kamarnya.


“CK! Apa – apaan sih kamu Nathan?.”


Mama Jihan melotot pada Nathan.


“Yah aku bicara kenyataan. Nih!. Baru ini Abang posting foto ada cewenya.” Nathan menunjukkan foto yang ia tunjukkan tadi pada Andrea.


“Belum tentu ini ceweknya Abanglah!. Orang foto rame – rame gini! .... Kamu nih iseng aja sama Drea, Than.”


“Habis kolom komennya dimatikan. Siapa tahu Abang antisipasi biar itu si Cute Girl blasteran ga ngoceh – ngoceh di lamannya si Abang.


“Kamu aja memang yang iseng buat si Drea marah! Kolom komen si Abang memang sudah dimatikan sejak banyak cewe - cewe yang godain dia kan?.... Itu pasti dia nyecer si Abang sekarang tuh gara - gara kamu....” Timpal Mami Prita.


**


“Ck!.”


Andrea sedang mondar – mandir sambil menempelkan ponsel ditelinganya. Tepat saat Nathan menunjukkan foto dipostingan terbaru Varen dalam laman medsosnya, Andrea langsung galau plus kesal setengah mati, tambah lagi si Abang ga mengangkat panggilannya, dan kolom komentar medsosnya dimatikan.


“Ciee .. galau nih ye.. Ciaannnn...” Suara iseng tiba – tiba terdengar di kamar Andrea berikut sosok yang wajahnya nampak menyebalkan bagi Andrea saat ini.


Andrea hanya melirik sinis, masih sibuk mencoba menelpon Varen.


“Yaahh Abang udah punya pacar ..... Andrea bukan kesayangan Abang Varen lagi deehhhh ..” Ledek Nathan penuh totalitas. “Mana cakep banget lagi cewenya.. Pinter banget si Abang cari cewe. Pake kaos aja cakep banget itu cewe.”


“Diam ga lo Tan – Tan?!.” Sembur Andrea.


“Abang sudah menemukan tambatan hati ... Udah bukan Abangnya Andrea seorang lagi.. Tak ada lagi kasih sayang Abang buat Andrea seorang....” Tapi Tan – Tan malah baca puisi.


“Tan – Taan diaamm! ..”


“Hahhhhh! ... dunia terasa gelap bagi Andrea sekarang ..”

__ADS_1


Tan – Tan masa bodoh dengan semburan dan pekikan Andrea yang nampak makin kesal dengan ejekannya itu.


“S’perti Mati Lampu Ya Sayang..”


Dan Nassar pun datang.


“S’perti Mati Lampuuuu....”


“Pergi ga Lo!!!!.”


***


21.00 WIB waktu Jakarta


Wajah yang seharusnya cantik itu nampak merungut, bahkan melewatkan makan malamnya karena si Abang susah dihubungi, pun pesan Andrea diaplikasi chat maupun DM di sosmed tak ada yang dibalas sejak sore hari.


“Pantes sekarang dua hari sekali baru hubungi gue! ....”


Andrea menggumam sendiri dikamarnya. Gumaman yang terdengar kesal.


Andrea meraih lagi ponselnya, mencoba melakukan panggilan video ke nomor Varen.


***


“Hello!.” Suara sapaan berikut wajah seseorang, terdengar dan muncul di layar ponsel Andrea. Namun bukan suara dan wajah si Abang melainkan wajah seorang cewe bule yang cantik jelita, cewe yang sama yang ada difoto dalam postingan Varen beberapa jam lalu.


Andrea memasang wajah tak suka pada gadis yang tersenyum padanya itu, sembari memperhatikan arah belakang si cewe yang Andrea tahu benar kalau itu adalah ruang tamu Apartemen si Abang.


“Who are you?! ( Siapa lo?! ).” Tanya Andrea ketus.


“Hi, I’m Frida! ( Hai, Aku Frida! ).”


“I don’t care your name! ( Gue ga perduli sama nama lo! ). Why you answering Varen phone, hah?! ( Kenapa lo menjawab teleponnya Varen, hah?! ).”


“So sorry, Varen was left his cell phone here and he said that answer if there’s any calls, since we’ve been waiting for an important call from the Investor who might call to Varen’s phone. So sorry, if I offend you ...."


"( Maaf, Varen menitipkan ponselnya disini dan dia bilang untuk menjawab jika ada panggilan masuk, karena kami sedang menunggu panggilan telpon dari Investor yang akan menghubungi ponselnya Varen. Maaf jika aku menyinggungmu ) ....”


“Where the hell is he?! ( Dimana dia sialan?! ).”


Andrea menyahut dengan tak sopan. Dan ada wajah yang nampak menongol untuk meliriknya, salah satu teman si Abang sepertinya yang wajahnya juga ada di foto ramai – ramai yang diposting Varen. Dan nampaknya laki – laki yang seusia Varen itu sedang bertanya pada Frida tentang Andrea, dan terlihat Frida berucap.


“His sister, I guess.... ( Adiknya, kurasa ) ....”


“Where the hell Varen is?! ( Dimana Varen?! ). Are you deaf, damned girl?! You should never off hand Varen’s phone! ( Apa lo tuli, cewek sialan?! Lo seharusnya jangan sembarangan mengangkat telponnya Varen! ).” Andrea yang merasa diabaikan oleh Frida itu meninggikan suaranya. Dan Frida beserta temannya yang lain nampak sangat kaget dengan sikap dan ucapan Andrea.


“Varen .... “


“Andrea???!!!!....”


Frida tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Abang sudah tiba dan meraih ponselnya.


“Kamu kenapa kasar begitu sih?! ....”


Varen nampak sedikit kesal pada Andrea, tak enak pada teman – temannya, karena selepas ia keluar dari kamarnya untuk mengambil sesuatu dia mendengar suara Andrea yang berteriak kasar. Lalu Varen permisi untuk menerima panggilan video Andrea dan pergi kembali ke kamarnya


“Dia itu sudah kurang ajar main terima ponsel Abang! ....”


“Drea! Jaga bicara dan sikap kamu! Dia itu teman Abang!. Kenapa kamu kasar begitu?. Abang ga pernah mengajarkan Andrea untuk tak sopan pada orang lain seperti itu. Dan Abang tak suka!. Dia itu teman satu tim Abang, dan memang Abang yang menitipkan pesan padanya untuk menerima panggilan .... kamu apa – apaan sih!.” Varen mencerocos pada Andrea dan memang nampak sedikit kesal pada Andrea yang memang rada judes itu kalau ia merasa tak suka.


Andrea tak menyahut. Menatap si Abang lamat – lamat dengan wajahnya yang nampak makin kesal.


“Kamu bisa bicara dan bertanya dengan sopan padanya!. Jangan kasar begitu ..." Ucap Varen. "Drea!.”


Panggilan terputus, karena Andrea mematikan panggilan videonya di ponsel Varen tanpa basa – basi lagi.


***


Esok hari


Raut wajah kesal dan merungut itu tetap bertahan di wajah Andrea saat ia mau berangkat ke sekolah. Andrea tak bicara saat sarapan, dan hanya ber-hum ria saja saat ditanya. Ia pun mengabaikan ledekan Nathan pagi itu.


Gadis itu tak menegur siapapun, bahkan keluar dari mobil yang dikendarai supir dengan kesal dan menutup pintunya keras.


****


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia


Nathan sedang bersiap untuk berangkat ke kampus.


đŸŽ”One, Two, Three, FourđŸŽ”


Dering ponsel Nathan terdengar dan ia langsung mengeluarkan ponsel dari sakunya dengan tas punggung yang sudah ia sampirkan namun kemudian ia letakkan diatas meja untuk merogoh sakunya.


“Nomor Sekolah? ....” Gumam Nathan.


“Kenapa Than?.”


“Bentar Mam.” Sahut Nathan pada Mama Jihan.


Jihan mengendikkan bahunya lalu melangkah menuju dapur.


“Iya Halo!.”


“.....”


“Ya, Selamat pagi ....”


“.....”


“Iya ini saya Jonathan, ini....?.”


“.....”


“Oh, Pak Rizal?. Ada apa ya Pak?.” Tanya Nathan pada orang yang menelponnya, yang Nathan ketahui adalah Kepala Sekolah di Sekolah SMA nya dulu, dan kini Andrea bersekolah disana. “Tumben menghubungi saya?. Apa mau mengajukan proposal lagi?.”


“.....”


“Jadi, ada keperluan apa Bapak menghubungi saya?.”


“.....”


“HAH?! APA BAPAK BILANG BARUSAN?!.”


***


“Kenapa, Than?. Telpon dari siapa?.”


Mama Jihan yang mendengar suara Nathan yang seperti berteriak itu buru – buru keluar dari dapur.


“Pak Rizal bilang si Drea berkelahi!.”


***

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2