THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 317


__ADS_3

INTERMEZZO


(Selingan)


Biar ga tegang ..


Sambil nunggu emak pulang kondangan


Wkwkwk ..


**********


Selamat membaca .....


***********************


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith


“Prita .....”


Mommy Ara menegur Mami Prita yang kebetulan baru saja keluar dari kamar pribadi Momma dan Poppa, saat


dirinya hendak pergi ke kamar Andrea dan Varen serta Nathan dan Via bersama Mama Jihan.


“Eh Kak Ara, Kak Jihan .....” Sahut Mami Prita. “Ada apa Kak?. Kok kayaknya buru – buru?. Drea sama Via udah ketemu?” Cerocos Mami Prita dengan pertanyaan pada Mommy Ara dan Mama Jihan. Dua orang yang ditanya Mami Prita pun spontan mengangguk sembari tersenyum. Membuat Mami Prita memekik senang.


“Bener Kak Ara?!”


“Iya, mereka sudah ditemukan Prita”


“Oh Ya Allah!, Alhamdulillah...”


“Fania sudah bangun?”


“Belum Kak”


Mom Ichel yang sepertinya mendengar pekikan Mami Prita meski tidak berkepanjangan itu pun seketika langsung menyusul keluar kamar pribadi Momma dan Poppa.


“Ada apa?!” Tanya Mom Ichel.


“Drea dan Via sudah ditemukan .....”


“Benarkah?!”


Mata Mom Ichel berbinar.


“Iya Chel”


“Oh Ya Tuhaan..... syukurlah .....”


“Kak Ara dan Kak Jihan mau melihat Kak Fania?”


“Engga, kami mau mengambil baju ganti untuk Drea, Via sama Abang juga. Ini John Wa, tadi Dewa bilang hanya untuk Drea sama Via aja, tapi John minta dibawakan juga untuk Abang”


“Loh mereka kenapa ga langsung kesini?”


“Apa mereka harus membuat laporan di Kantor Polisi terlebih dahulu?”


“Bukan. Mereka sedang berada di Rumah Sakit”


“Rumah Sakit?!”


“Iya” Mommy Ara dan Mama Jihan menyahut bersamaan.


“Apa-apa, sesuatu yang buruk terjadi sama Drea dan Via, atau Abang?”


“Via oke. Hanya akan melakukan pemeriksaan pada tubuhnya. Abang juga Oke”


“Drea?”


“Drea dalam kondisi tidak sadar saat ditemukan Abang”


“Apa Drea terluka?”


“Ada kemungkinan efek obat bius kalau kata Dewa. Tapi ya tunggu hasil pemeriksaan Dokter nanti untuk lebih


jelasnya”


“Ya udah, aku mau siapin baju ganti mereka dulu ya?”


“Ambilkan untuk Via aja Ji. Untuk Drea dan Abang biar aku”


“Iya udah Kak”


“Kak Ara dan Kak Jihan nanti yang mau antar baju ganti mereka?”


“Mungkin aku minta Adis atau salah seorang pengawal untuk mengantar. Kami mau menunggu R, Andrew dan Jeff


kembali dulu”


“Kalo gitu biar Prita aja sini yang bawain deh Kak. Sekalian bawain makanan juga kali ya?. Pasti mereka belum pada makan” Ucap Mami Prita.


Mommy Ara mengangguk. “Iya udah. Aku juga sudah meminta Adis untuk menyiapkan makanan untuk mereka kok”


Sahut Mommy Ara dan Mami Prita serta Mom Ichel pun sama – sama mengangguk.


**


Mami Prita sudah berganti pakaian untuk segera berangkat menuju Rumah Sakit membawakan pakaian untuk Abang, Drea dan Via berikut makanan untuk mereka yang berada disana. Mika akan ikut bersama Mami Prita, karena ia juga mengkhawatirkan dua kakak perempuannya yang sempat diculik itu.


Sementara itu Mom Ichel kembali menemani Momma di kamar Momma dan Poppa.


Pada akhirnya Papi John menghubungi sang istri melalui ponsel untuk membawakannya baju ganti tambahan


untuk dirinya, Daddy Dewa dan Nathan, karena rasanya pakaian mereka sudah tidak nyaman untuk dikenakan.


Setelah sebelumnya Papi John menghubungi Mommy Ara untuk membawakan baju ganti untuk si Abang, karena


pakaian putra pertama mereka itu basah akibat sempat berenang di perairan Marina saat hendak menyelamatkan Drea.


“Kami berangkat sekarang kalau gitu ya Kak”


Mami Prita dan Mika kemudian berpamitan pada Mommy Ara dan Mama Jihan untuk segera pergi ke Rumah Sakit.


Mommy Ara dan Mama Jihan pun pergi ke kamar Momma dan Poppa setelah Mami Prita dan Mika berlalu dari hadapan mereka.


***

__ADS_1


Sementara itu di kamar Momma dan Poppa


Suara lenguhan pelan dari atas ranjang terdengar setelah beberapa menit berlalu sejak kepergian Mami Prita dan Mika ke Rumah Sakit. Membuat tiga orang yang berada di dalam kamar spontan menoleh.


“Kak ..” Panggil Mom Ichel yang sudah duduk disisi ranjang. “Kak Fania ..”


“Fania ..”


“Sweety..”


Momma membuka matanya perlahan sembari mengernyit dan meringis pelan karena merasakan kepalanya sedikit pusing.


Momma berdehem kecil sembari mencoba bangkit dan Mommy Ara dengan sigap mengambilkan air minum untuknya.


“Minum dulu Sweety..” Mommy Ara menyodorkan segelas air yang langsung diterima oleh Momma dan diminumnya


sampai habis.


Aus Jol?.


****


Momma menepuk – nepuk pelan kedua pipinya setelah memberikan gelas yang tadi ia pegang pada Mom Ichel.


“Udah enakan Fan?”


Momma mengangguk lalu menghela nafasnya.


“Udah Ji” Sahut Momma.


“Makan dulu ya kamu, Sweety?”


Momma menggeleng.


“Mana itu si Donald Bebek?!” Momma menggeram pelan dan tiga orang yang bersamanya cekikikan.


"Andrew belum kembali"


“Hape gue mane Hape?”


Mommy Ara yang masih cekikikan itu mengambilkan ponsel Momma yang masih berada dalam tasnya.


“Bisa – bisanya dia bius gue itu si botak, laki kaga ada akhlak. Masa bininya sendiri die bius? Kalo bius gue pake cinta sih bagus, ini bius gue dah kek mo perkosa gue aje dia!”


Momma mengomel dalam gumamannya yang tetap bisa didengar ketiga orang yang bersamanya dan masih


cekikikan. “Kalau soal perkosa kamu sih, si Donald Bebek ga usah pakai biusan kali, Sweety ...”


Mommy Ara memberikan ponsel Momma pada si empunya. “Makasih Kak..” Ucap Momma. Kemudian Momma langsung menekan panggilan cepat dimana nomor kontak Poppa lah yang bertengger di urutan paling pertama dalam ponsel Momma.


**


Momma menggeram pelan lagi kala Poppa sepertinya tidak menjawab panggilannya.


“Tau takut?!!!”


Momma menggerutu sendiri, sembari menatap ponselnya dan tiga orang yang bersamanya masih terus cekikikan


menonton gerak gerik Momma yang nampak sebal bin kesal pada Poppa.


“Saya, Nyonya Fania ....”


“Lagi sama Bos kamu yang botak itu ga?!”


“Iya, Nyonya ....”


“Kasih aku ngomong sama dia! Cepet ga pake lama!”


“Iy – iya Nyonya Fania, sebentar”


Terdengar suara Omar yang samar – samar sedang berbicara dari seberang telepon.


Momma terdengar berdecak.


“Omar! Mana Bos Kamu?!” Momma kembali berbicara saking tak sabar ingin mengomel pada sang suami.


“Iy-ya Nyonya Fania, ini Tuan Andrew ..”


“....”


“Omar!”


“Iy-ya Nyonya ...”


“Lama banget!”


“Ehem!”


Suara deheman Poppa terdengar jelas ditelinga Momma.


“DONALD BEBEEEEEEKKKK!!!! .... BERRANIIII KAMU BIUS AKU HAAAHHH??!!!...”


Klik!


Belum selesai Momma berbicara, namun panggilan terputus.


“Wah! Berani – beraninya ini kakak lo matiin telpon ga pakai permisi, Chel!. Ngajak ribut beneran ini si Botak!. Gue gerus palanya entar liat aja!”


‘Habislah Kak Andrew....’ Mom Ichel membatin, namun ia cekikikan melihat Momma yang nampak makin kesal


sambil menggerutu sampai kemudian memonyong-monyongkan bibirnya.


Momma belum selesai nampaknya, ia kembali menghubungi nomor Omar.


Kembali berdecak, karena Omar tak segera menerima panggilannya.


“Omar!”


Momma langsung menyambar omongan saat sudah kembali tersambung, sebelum Omar terdengar bersuara.


“Iya, Nyonya....”


“Mana Bos kamu?! Berani – beraninya mutusin panggilan aku, hah?!”


“Mohon maaf Nyonya ....”


“Mana dia cepet!!”

__ADS_1


“Itu .. anu .. Tuan Andrew.. katanya.. masuk ICU..”


“Hah?! Apa?!”


“Iyya Nyonya..... seperti itu ..”


“Oh .. masuk ICU?!”


“Iyya Nyonya....”


“Rumah Sakit mana?!”


“Tempat Tuan Alan dan Nyonya Clarissa, Nyonya Fania ....”


“Bilang sama Alan dan Clarissa suruh langsung masukin itu Bos kamu ruang operasi! Tunggu saya dateng! Siapin piso operasi, kalo perlu piso daging! Biar saya yang operasi itu Bos kamu!”


****


Di Rumah Sakit tempat Andrea di rawat


“Lebih baik anda menerimanya Tuan Andrew, jika Nyonya Fania menghubungi lagi” Usul Omar.


“Benar itu yang si Omar bilang. Mending lo terima telponnya si Kajol, kalau dia menghubungi lagi”


Daddy Jeff yang masih cekikikan bersama Daddy R itu mengamini usulan Omar.


“Ck! Lo ga dengar tadi begitu melengkingnya suaranya Fania?!. Gue belom menempelkan ponsel ke telinga saja, suaranya tembus satu lantai Rumah Sakit!. Hish!.... Nanti sajalah di Kediaman gue habis – habisan merayu dia”


Poppa tetap enggan.


“Kalau sekarang telinga gue bisa auto pekak pasti. Haish! ... sudah terbayang dia ga akan juga terima alasan apapun untuk penjelasan gue meski untuk kebaikannya”


Poppa mengusap kasar kepalanya yang licin saat menunggu lift terbuka. Gemes sendiri, salah tingkah sendiri.


“Tuan, Nyonya Fania menelpon lagi...”


“Lo yang terima R!”


“No! No! Nanti gue yang kena semprot. Dia kan tahunya lo sama – sama gue, sebelum kita bertemu dan lo membius dia. Nanti dia pikir gue ikut – ikutan. Padahal ide membius kan murni dari otak licin lo itu!”


Daddy R turut enggan. Sudah dengar tadi lengkingan suara Momma yang tembus keluar dari ponsel Omar dan


Daddy R juga ogah kalau sampai mendengar lengkingan suara Momma yang nampak jelas kalau sedang kesal bukan main, karena suara Momma yang bisa mencapai titik lengkingan teratas tangga nada, bisa menembus dari telinga satu ke telinga satunya.


“Gue bilang ga perlu, lo sendiri tetap kekeh”


Poppa mendengus dan berdecak.


“Katakan seperti apa yang kukatakan tadi Omar”


“Anda yakin Tuan?”


“Iyaa!!...”


“Sudah mati panggilannya Tuan”


“Matikan saja ponselmu kalau begitu”


“Ba-... Nyonya Fania, Tuan” Ponsel Omar berdering lagi sebelum ia selesai menyahut dan melakukan keinginan sang Tuan.


“Sudah terima saja! Katakan seperti apa yang kukatakan! Siapa tahu dia iba mendengar suaminya masuk ICU!” Cerocos Poppa.


“Loud speaker Mar!” Celetuk Daddy R saat mereka berempat sudah masuk ke dalam lift dan tidak ada orang lain


yang bersama mereka didalamnya.


“Omar!”


“Iya, Nyonya....”


“Mana Bos kamu?! Berani – beraninya mutusin panggilan aku, hah?!”


Poppa meringis pelan, mendengar cerocosan Momma dari sebrang telpon, sementara Daddy R dan Daddy Jeff


menahan diri mereka untuk tidak terkekeh.


“Mohon maaf Nyonya ....”


“Mana dia cepet!!”


“Itu .. anu .. Tuan Andrew.. katanya.. masuk ICU..”


“Hah?! Apa?!”


Poppa menarik sudut bibirnya, karena suara Momma terdengar seperti menjadi khawatir sekarang.


“Iyya Nyonya..... seperti itu ..”


“Oh .. masuk ICU?!”


“Iyya Nyonya....”


“Rumah Sakit mana?!”


“Tempat Tuan Alan dan Nyonya Clarissa, Nyonya Fania ....”


“Bilang sama Alan dan Clarissa suruh langsung masukin itu Bos kamu ruang operasi! Tunggu saya dateng! Siapin piso operasi, kalo perlu piso daging! Biar saya yang operasi itu Bos kamu!”


Gluk!!


“Biar sekalian saya belah itu palanya! Sengklek kali otaknya istrinya sendiri dia bius!”


Klik!


Panggilan dari Momma pun terputus.


‘Habislah Tuan Andrew...’


“Hahahahaha!!!!”


Daddy R dan Daddy Jeff tidak bisa menahan lagi untuk tergelak.


‘Tega sekali kamu Heart..’


****


To be continue ..

__ADS_1


__ADS_2