THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 70


__ADS_3

** Mohon maap iye\, review episode sebelumnya lama. Entah kenapa Author juga binun.😱 ***


Tapi semoga episode ini bisa mengobati sedikit kecewa kalean para readernya Author yang blaem - blaem**


*******


🍁 AUTO LEMESSHHH..... 🍁


****


Selamat membaca ....****


Acara bebas yang ditunggu – tunggu para kaum adam nan haus goyangan biduan pun tiba.


Wajah – wajah sumringah sudah terlihat di wajah para bapak – bapak, akang – akang, termasuk para Tuan Muda dan biangnya Tuan – Tuan juga.


Suitan dan tepukan pun terdengar ramai saat dua orang biduan muncul diatas panggung musik itu. Tak hanya dari para pria, tapi juga dari para wanita terutama ibu – ibu yang doyan joged, termasuk mama Bela.


“Rupiah keluarin rupiah!.” Kakak ganteng yang cekikikan berseru.


“Idih si Varen bapaknya lemes beut sekarang.” Timpal Fania dan ia terkekeh bersama Reno dan Ara serta mereka yang ada didekat Reno dan Fania.


“Tenang, Dad sudah siapkan satu koper buat nyawer biduan!.” John ikut berseru cekikikan. “Right, Dad? ( Benar kan, Dad? ).” Tambahnya lagi dan Dad hanya geleng – geleng saja, sekaligus mendelik pada para putranya yang sudah mulai mem - bully dirinya sejak suara di mikrofon pada panggung dangdut itu terdengar.


“Hahaha .....” Para putra yang akhlaknya sedang ditaro dalam kantong celana pun tergelak geli pada Dad mereka.


***


“Assalamu’alaikum semua ...”


‘Uwow.’


Batin para kaum Adam berdecak kagum pada dua biduan yang nampak aduhai dengan balutan gaun seksi mereka. Mencetak jelas segala aset yang ada ditubuh para biduan bohay itu.


“Untung dress kita ga kalah seksi ama itu biduan pada.” Celetuk Fania pada para wanita dikeluarganya. Yang menggunakan dress elegan yang press bodi, kecuali Ara yang sedang hamil.


“Yoi!.”


Prita menimpali ucapan kakaknya.


“Mata tolong dikondisikan....”


Ara sengaja nyeletuk karena fokus para pasangan sedang dalam mode otomatis menatap ke panggung. ‘Ck.’


Para wanita cekikikan melihat para pria yang otomatis kembali menoleh pada pasangannya masing – masing akibat celetukan Ara. Dan para pria itu menoleh dengan tersenyum padahal hati mereka berdecak.


“Raja sawer sama juragan empang tumben masih kalem aje. Biasanya biduan masih cek sound udah berdiri ini anak kembar.” Celetuk Fania menggoda dua J.


“Santai, Jol. Nyanyi juga belum itu mereka.”


John menyahut sambil cengengesan.


“Mana berani mereka Kak Fania, ada satpamnya sekarang.” Timpal Michelle.


“Ga apa – apa, sekali – sekali. Hiburan. Iya kan, boys?.” Ucap Mama Anye pada para pangeran.


“Sudah ga usah malu – malu lo berdua. Sok jaga image depan si Jihan sama Prita.”


“Biar kamu lihat kelakuan calon suami kamu tuh Ji, asal sudah lihat biduan.” Celetuk Andrew yang disambung Reno.


“Gimana dulu kalau Jeff suka bilang setelah di goyangin biduan, Sweety?.”


“Segeeeerrrr!!!.” Fania menimpali ucapan Ara.


Gelak tawa mereka pun pecah sembari mem - bully Jeff.


“Kompor!.”


“Takut nih ye?.” Celetuk Mom.


đŸŽ¶đŸŽ¶đŸŽ¶đŸŽ¶đŸŽ¶đŸŽ¶đŸŽ¶


“Gitu aja segala takut, Cuma menemani itu biduan goyang kok.” Ucap Jeff sok woles.


“Prove it! (Buktikan!).” Celetuk Dad.


“Nah iya tuh buktikan tuh musik ama biduan udeh mulai.”


Mom menunjuk ke arah panggung.


“Biasanya udah siapin saweran Kak John?.”


Prita meledek John.


“Nanti cemburu.” Sahut John.


Prita mencebik. “Dih ngapain amat cemburu sama biduan?.”


“Bener nih?..” Goda John. “Aku udah siapkan saweran nih kalo boleh goyang sama biduan ..” John senyam – senyum.


“Gi dah!.”


“Iya tau pada muna banget, kalau mau goyang sama mereka goyang aja si. Pake malu – malu.” Celetuk Jihan.


“Ember.” Timpal Prita.


“Ah, Dek Prita bisa aja. Nanti minder sama goyangan mereka.” Goda John lagi pada Prita sambil menoel dagu Prita. Sementara keluarga yang lain cekikikan.


“Idih masih seksian juga Prita daripada itu biduan. Ga ngaruh si, kalo Kak John mau joged sono.” Ucap Prita. “Udah sana.”


“Bener nih ya, nanti habis ini aku maju nih.”


“Silahkan Om John....”


“Gimana Jeff, berangkat kita?.” Celetuk John pada kembaran beda orang tuanya itu.


“Berangkatlah!.”


Dua J cekikikan.


Sementara satu lagu pembuka telah selesai dimainkan oleh dua biduan dan pengiringnya. Suara melodi gendang terdengar lagu untuk lagu selanjutnya.


“Ada yang mau ikut joged ga nih sama kita disini?.”


“Tuh udah dipanggil. Pas tuh biduannya dua.”


Mom mendorong pelan dua putranya itu.


“Bener nih boleh?.”


“Marah ga nih?.” Tanya dua J cengengesan pada Prita dan Jihan.

__ADS_1


“Silahkan aja. ya ga Kak Jihan?.” Ucap Prita sambil menoleh pada Jihan.


“Iya bener. Silahkan aja. Ngapain juga marah. Kerajinan.” Sahut Jihan.


“Oke kalau begitu.” Ucap si bule gila semangat.


“Jeff! John! Udeh sini cepetan! Joged kita. Sian ini biduan nunggu saweran!.” Teriak papa Herman dari depan panggung yang jempolnya udah didepan dada sambil badannya maju mundur. Melambaikan satu tangannya memanggil dua J.


“Udah bungkus itu lumayan pegang pinggul!.” Celetuk Dewa dari belakang mereka.


“Boo – Boo mau juga ikut goyang sama itu biduan?.” Sindir Michelle saat dua J sudah berjalan kearah panggung. Sementara akang Dewa cengengesan, sisanya cekikikan.


“Enggalah Yang. Aku Cuma ngefans sama pinggul kamu, suer!.” Sahut Dewa.


“Nah kamu mau kemana ini?.”


“Sebentar doang aku mau ambil foto itu dua J yang lagi joged sama biduan.”


Dewa menampakkan senyum lebar.


“Bentar ya, Yang.”


“Bisa aja lo, Wa!.” Ucap Andrew yang kemudian tergelak bersama Reno. Sementara para pasangan hanya geleng – geleng sambil senyum – senyum.


“Ga ikut tuh kalian ambil foto sama Kak Dewa?. Sa ae alesan nya.” Celetuk Fania pada Andrew dan Reno. “Ajak Dad sekalian.”


“Sudah sih sana kalau mau melihat dari dekat.” Celetuk Ara.


“Ah nanti ngambek.” Timpal Andrew pada Fania dan Ara.


“Sudah  jangan pada muna, sana kalau mau lihat biduan lebih dekat. Ikut joged itu sekalian. Nih ajak Dad juga.” Celetuk Mom sambil melirik pada Dad.


“No Darl, I’m here with you ( Tidak Sayang, aku disini bersamamu ).” Sahut Dad sambil merengkuh bahu Mom.


“Halah like I don’t know (Seperti aku ga tahu) kalau Dad juga ingin lihat goyang biduan.” Sahut Mom.


“Oo kamu ketauan ....”


Fania menggoda sambil menatap Dad yang disambut dengan gelakan mereka.


“Udah ayo ah. Kita joged. Biarin aje si Kajol. Kaga bakal marah die sama kamu Ndru. Timbang joged doang.” Mama Bela menarik tangan Andrew dan Reno. “Ga ape – ape ya Ra?. Sekali - sekali.” Ucap mama Bela.


“Kita dipaksa mama nih ya, Heart.” Seru Andrew cengengesan yang pasrah dengan gembira bersama Reno yang


tangannya digeret mama Bela.


“Dasar!.” Ucap Fania dan Ara berbarengan sambil tertawa bersama yang lainnya. Sementara para bocah sedang


bermain di halaman belakang dengan para pengasuh dan pengawal mereka.


***


Sementara itu diatas panggung...


Dua orang pria yang lupa daratan, eh lupa pasangan saking keasikan menikmati goyang biduan. Kini nambah digoyang dari atas panggung turun kebawah bersama para tamu.


đŸŽ”Abangku sayang gak pulang-pulang / Katanya kerja mencari uang / Abang dimana? dengan siapa?  Aku curiga tiada kabarnya / Abang, abang cepat abang pulangđŸŽ”


“Wah Donald Bebek cari gara – gara, Jol!.” Celetuk Reno yang sudah kembali ke sisi Ara, sambil menunjuk Andrew


yang kebagian dapet goyang biduan plus geteran duo semangka.


‘Wow.’ Batin Dad.


“Wah Dewa mabuk kelakuan!.” Celetuk Michelle melihat sang Boo – Boo juga ikut – ikutan nyawer plus dapet goyang dan geter nya biduan.


“Jatah shopping kamu diberikan ke biduan tuh Chel!.” Kakak ganteng cekakakan. Diikuti cekakakan oleh keluarganya yang lain.


“Wah cari gara – gara itu laki pada emang!.” Celetuk Fania juga sambil tertawa lebar.


đŸŽ”Abangku sayang gak pulang-pulang / Katanya kerja mencari uang / Abang dimana? dengan siapa?  Aku curiga tiada kabarnya / Abang, abang cepat abang pulangđŸŽ”


Para biduan bernyanyi dengan gerakan pinggul yang menggoda imin.


‘Asik juga dapet goyangan biduan dari dekat.’ Batin Dewa kesenengan, nampak dari bibirnya yang tak putus tertarik keatas. Girang!. ‘Pantes si John sama si Jeff doyan sama goyang biduan.’


“Gimana Wa? Asik kan dapet goyangan biduan?.” Celetuk John sambil cekakakan dan masih nyebar duitnya yang


belom abis. Susah kalo raja sawer mah.


“Ruarr biasa!.” Seru si Dewa mabok sambil memperhatikan goyang dribble milik biduan didepannya.


**


“Segar benaarr yang merasakan goyang biduan!.”


Reno dan rombongan keluarganya yang tadi menonton tiga pangeran yang puas di goyangin biduan sudah mendekati dua J beserta Dewa yang wajahnya sumringah meski bulir keringat sudah bertebaran di wajah mereka. Perpaduan keringat gerah karena hawa panas udara plus keringet efek abis dapet goyangan dan geteran.


Tiga pria itu nyengir pada pasangan masing – masing yang sedang menggelengkan kepala mereka. “Janjinya ga marah.” Ucap John sambil cengengesan pada Prita.


“Peace, Yang.” Dewa mengangkat dua jarinya pada Michelle.


“Ga cemburu kan?.” Gantian Jeff berucap pada Jihan, cengengesan juga seperti halnya John dan Dewa.


**


đŸŽ¶đŸŽ¶đŸŽ¶Â  Satu jam saja ..Â đŸŽ¶đŸŽ¶đŸŽ¶


Fania sudah mengambil alih mikrofon dan gantian kini dia yang menjadi biduan.


đŸŽ¶Aku sayang, jantungku deg-degan / Waktu kamu peluk diriku / Aku sayang badanku gemetaran / Waktu kamu kecup keningkuđŸŽ¶


“Hajar Chel!.” Ucap Fania pada Michelle yang sudah berdiri didepan Dewa.


đŸŽ¶Satu jam saja, bercumbu denganmu / Satu jam saja, ku di manjakanmu / Satu jam saja, ku bercumbu rayu / Satu jam saja, berdua denganmuđŸŽ¶


Dewa membulatkan matanya melihat Michelle yang kemudian bergoyang menggetarkan seluruh tubuhnya sambil


sedikit meliukkan tubuhnya.


“Ay .... ayank ...” Dewa meneguk salivanya, melihat Michelle yang ternyata punya bakat bergoyang hot. Dewa bahkan baru tahu. ‘Amazing .. jadi pengen buru – buru pulang.’


“Aku memang ga bisa nyanyi. Tapi kalo hanya goyang dribble aje sih kecil!.” Ucap Michelle yang masih menggetarkan tubuhnya menggoda Dewa.


“Aku sayang badanku gemetaran ....”


‘Gemeter beneran ini sih gue.’ Batin Dewa.


‘Tahu rasa.’ Batin Michelle.


Sementara semua orang tergelak geli.

__ADS_1


**


“Gila Icheeel ga sangka bisa goyang juga, haha ....” Celetuk John setelah Fania selesai bernyanyi dan si Michelle selesai bergoyang.


“Entar malem minta di praktekin, Wa.” Celetuk papa Herman.


“Pasti Pa!.” Timpal Dewa.


“Oh No, no, no .” Michelle menggerakkan telunjuknya pada Dewa. “Sana praktek sama biduan!.”


“Yah, ayaank ....”


“Nyanyi sono Priwitan. Tadi pagi udeh konser pan lu Bunda Rita!.”


“Memang bisa kamu nyanyi dangdut Prita?.” Tanya John iseng.


“Lah adeknya Inul darah tinggi, masa ga bisa timbang nyanyi dangdut doang sih gampil.” Sahut si Priwitan.


“Bisa goyang juga?.”


“Jangan sok – sok an nantangin.” Timpal Prita lagi pada John.


“Tarrik sis!.” Celetuk Fania. “Jangan malu – maluin gue.”


“Okeh!.” Prita meminta mikrofon pada biduan.


“Penasaran gue. Mau tau si Kajol adiknya kayak apa goyangnya.”


“Jangan salah. Belom liat aje goyang vibratornya si Prita.” Celetuk si Kajol. Kemudia ia cekikikan bersama yang lainnya.


“Ah masaa.”


“Celana lo jagain aja.”


 “Nanti kamu belajar goyang juga, Ji.” Celetuk Jeff.


“Wah, ga sopan dia Ji.” Sahut Fania atas ucapan Jeff. “Kasih liat goyang karawang Ji.” Bisik Fania pada Jihan yang cekikikan.


“Akang gendang, mainkan!.” Suara Prita sudah terdengar di mikrofon.


Tak tak trungtung tak tak... ( kira – kira begitu dah yak bunyi itu gendang rampag😃)


“Haseeek, buktiin kalo lo ade gue Priwitan!.”


Si Prita pun menggeolkan pinggulnya


đŸŽ”Saya si putri, si putri sinden panggung / Datang kemari menurut panggilan anda / Panggung ke panggung, saya sering bergoyang / Suka dan duka terkadang saya rasakanđŸŽ”


 “Bungkusss!.”


John menelan salivanya. ‘Demi semua biduan dimuka bumi..’ Melongo melihat gadisnya bisa goyang yang tak kalah hot dengan sang kakak.


“Kasih liat goyang vibrator sekalian ama goyang nge - cor lu Prit!.”


Tak tak trungtung tak tak...


Yak tonggengan maut Prita yang baru dilihat oleh John sukses membuat dengkul si bule koplak gemeter. Geol kiri, geol kanan bikin si Om mulai meriang.


đŸŽ”Dari malam sampai pagi ku lakonkan / Apalagi ada mas Joko tersayang / Rasa capek jadi hilang, semuanya karena kang masđŸŽ”


Pinggul Prita bergoyang ke kiri dan ke kanan mengikuti hentakan gendang.


‘Pusing pusing itu si otong.’ Batin Prita.


“Ji!. Kasih liat goyang karawang...!.” Fania berseru pada Jihan sambil memberikan satu mikrofon.


“Engga ah!.” Jihan melambaikan pelan tangannya pada Fania sambil senyam senyum.


“Harga diri Ji.” Tambah Fania manasin Jihan sambil si Kajol memainkan alisnya.


“Coba aku mau lihat.” Celetuk Jeff.


“Akang gendang tolong kasih gendang jaipong.” Ucap Fania pada kang gendang rampag.


“Siap Teehhhh!.”


 “Geol Ji!.” Seru Fania lagi.


Jeff menunggu penasaran, sementara Jihan sudah berjalan mendekati Prita.


Tak tak trungtung tak tak... Trak tak tak...


Gendang jaipong sudah dimainkan


Yak mata sibule gila sontak membulat plus mulutnya terbuka. Pasalnya Jihan sudah mulai berlenggak lenggok mengikuti irama gendang jaipong.


Tak tak trungtung tak tak... Trak tak tak...


Hentakan gendang sampai kedada Jeff juga yang terasa ngebet sampai keseluruh tubuhnya melihat pinggul Jihan mengikuti hentakan gendang jaipong.


Seeeh, tuk tak tak ....


đŸŽ¶Pak Lurah, tamu kehormatan / Bang mandor, tamu istimewa / Penonton, saya suka anda / Mas Joko, tamu hati sayađŸŽ¶


Hoa hoe joss!.


Fania tertawa terbahak bahak bersama seluruh keluarganya menatap si bule gila yang nampak melongo tak percaya melihat Jihan.


“Nyai ronggeng ditantangin.”


đŸŽ¶Pak Lurah, salam hormat saya / Bang mandor, salam thank you saya / Penonton, salam cinta saya / Mas Joko, salam segalanyađŸŽ¶


Geol dikit Jossss..


Prita dan Jihan bergeol bersama


Hei! Hei! Tak tak trungtung tak tak...


Dua J tahan napas.


‘Ngebet sialaan!!....’


Ah John dan Jeff  bersandar di tiang. Dengkul rasa lemessh...


***


To be continue ...


Dukungan buat Author jangan lupa iye.


Loph Loph ♄♄

__ADS_1


__ADS_2