THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 146


__ADS_3

☺☺☺ BADAI ITU TELAH BERLALU ☺☺☺


Selamat membaca......


*************************


Save House........


”Mom..”


“R.....” Tangis Mom pecah lagi saat melihat kehadiran Reno dikamarnya.


Mom langsung menangkup wajah putra angkat yang baginya sudah menjadi putra pertama untuknya dengan haru, kala Reno sudah mendekat pada Mom dan memeluk wanita yang sudah seperti ibu kandungnya sendiri. Tak pernah membedakan kasih sayang antara Reno dan Andrew, bahkan dari sejak sebelum Reno ikut pindah ke London bersama almarhumah Bundanya.


“GAPPA!.” Varen nampak bahagia melihat kembali kakeknya. Wajah bocah jenius itu juga nampak sembab seperti sang Mommy dan Daddynya. Namun rona bahagia pun sudah terlihat kian jelas diwajah tampannya.


Varen memeluk erat Dad Anthony dan kakeknya itu serta merta menciumi cucu pertamanya itu setelah tadi


menciumi Andrea meski gadis kecil itu menolak turun dari gendongan sang Poppa, atau Mommanya yang bergantian menggendong dan memangku nya.


“POPPA! MOMMA!.”


Wajah Varen kian sumringah dan semakin bahagia kala melihat Fania dan Andrew yang berada didekat ranjang sang nenek yang sedang dibiarkan duduk disana karena wanita paruh baya itu nampak sedikit lemah.


“My Prince ..”


“Heeiii... Big guy ...”


Fania dan Andrew memeluk erat Varen yang langsung merengkuh mereka berdua dengan tangan mungilnya.


Varen begitu bahagia dan bersemangat memeluk Fania dan Andrew hingga lupa kalau ada Andrea diantara dia dan Poppa dan juga Mommanya. Varen sedikit tersedu pada dua orang yang dia anggap sebagai Dad dan Mom nya yang kedua setelah Reno dan Ara.


“I miss Poppa and Momma so much.. (Aku sangat merindukan Poppa dan Momma..)..”


“We miss you too, our Prince .. (Kami juga merindukanmu, Pangeran ..).” Fania yang membawa Varen dalam


dekapannya karena Andrew sedang memangku Andrea. “Jangan nangis dong sayaang.... Kami sudah pulang kan? Seperti janji Momma pada Varen, Momma pasti akan kembali kesini..” Ucap Fania dan Varen mengangguk.


Andrew membelai kepala Varen sembari tersenyum dan menghapus air mata bocah itu.


Andrea mengikuti sang Poppa yang sedang menghapusi air mata sang Abang. “Don’t cry Abang (Jangan menangis


Abang).” Ucap Andrea dengan suara imutnya dan Varen tersenyum pada gadis kecil itu.


Mom memeluk Reno erat yang sudah datang bergabung bersama Ara dan Varen, sementara Valera sedang dijaga


oleh Lita. Reno pun memeluk erat wanita paruh baya yang wajahnya kian sembab itu. Setelah tadi dia menangisi Fania, Andrew dan Dad yang akhirnya kembali lagi.


Ara pun langsung mendekati Dad, Fania serta Andrew dengan air matanya yang sudah jatuh kepipinya karena bisa melihat dua orang itu lagi. Pelukan haru sudah pasti menyelimuti suasana dikamar Dad dan Mom saat ini.


Jeff bersama Jihan dan Nathan, beserta John dan Prita sudah ikut bergabung bersama yang lainnya di kamar Dad dan Mom. Diikuti oleh Michelle, Dewa yang juga membawa Mika bersama mereka yang terbangun saat Michelle dan Dewa langsung menghampiri putri kecil mereka itu tepat saat datang.


“Jeff .. John..”


“Mom...”


Seperti halnya pada Andrew dan Reno tadi, Mom juga menciumi dua putra angkatnya itu dengan haru yang kemudian memeluknya bersama – sama. Michelle dan Dewa juga menghampiri Mom dan melakukan apa yang


sebelumnya juga dilakukan oleh putra dan putri yang lain.


“Mom...”


“Oh, Michelle.. Dewa ...”


“Sudah ya Mom, jangan bersedih lagi, kita semua sekarang sudah berkumpul kembali.” Ucap Michelle yang kini memeluk erat sang ibu. “Keluarga kita sudah bersama – sama lagi sekarang.” Mom yang memeluk putrinya itu pun mengangguk sembari tersenyum dengan disela isakannya.


“Kakaakk!!!!.” Prita berhambur pada Fania dengan air matanya yang turun lagi setelah berhenti sesaat setelah puas menangis kala melihat John ada kembali bersamanya. “Kak Andreww....” Prita juga memeluk kakak iparnya itu.


“Udeh jangan nangis. Muka lo tambah tembem itu.” Goda Fania meski air matanya juga sudah turun sebulir sambil memeluk Prita dan menghapusi air mata adiknya itu.


“Fania .. Andrew..”


“Jihan ..” Jihan juga memeluk Fania dan Andrew dengan matanya yang juga sudah basah dengan air mata, berikut wajah sembab nya. Nathan juga ikut berhambur pada Fania dan Andrew yang langsung juga memeluknya. Sementara Andrea ternyata mau ikut dengan Reno saat si kakak ganteng itu sudah merentangkan tangannya untuk menggendong Andrea.


Mama Anye juga tak mampu menahan air matanya melihat sang menantu beserta lainnya yang sebelumnya


dikabarkan meninggal dalam sebuah teror dan dua wanita yang sudah ia anggap bak putri – putrinya sendiri itu sudah kembali lagi ke tengah – tengah mereka saat ini, berikut juga sang besan.


Suasana haru biru sebiru langit diangkasa (sah elah) menyelimuti Save House malam ini. Varen, Nathan dan

__ADS_1


Andrea sudah bergantian memeluk para Daddy mereka dan Fania berikut Michelle yang sudah kembali ke tengah – tengah mereka.


Ben, Theresa serta tiga pengasuh anak – anak pun ikut merasa haru dan tentunya gembira melihat para Tuan dan Nyonya muda mereka yang sempat hilang dan pergi tanpa terdengar lagi kabar sudah kembali tanpa ada yang kurang satupun, hanya beberapa luka ringan yang ada ditubuh mereka, dan Andrew yang punya luka tembakan  dibahunya.


Meski masih berada di Save House, tapi bisa berkumpul bersama lagi seperti saat ini rasanya pun sudah cukup bagi mereka.


**


“Naomy dan Michelle benar, kalian sepertinya terlihat kurusan.”


“Bagaimana kami semua bisa makan dengan benar, Wa.... untuk menelan sesuatu saja rasanya sulit.” Sahut Mom pada Dewa setelah suasana haru yang dihiasi tangisan, namun tangis haru dan bahagia kini sudah berhenti.


“Maafkan kami.”


“Tak apa, yang terpenting sekarang kalian semua sudah kembali dan setelah ini kita akan makan dengan lahap lagi ....” Sahut Ara.


“Harus!. All of you are included (Kalian juga termasuk) Ben, Theresa, Lita, Hera, Amber..” Timpal John. Lima orang asisten rumah tangga yang amat setia di keluarganya itupun mengangguk dengan tersenyum bersamaan.


“Ngomong – ngomong, Kak Vla mana?.”


Prita menyadari kalau waktu pergi ke Italia, Fania dan Michelle ditemani oleh Vla. Namun sekarang ia baru sadar kalau pria Rusia itu tak menyertai kedatangan kembali para anggota keluarganya yang sempat ‘hilang’.


“Vla kembali ke Sola. Nanti dia akan menemui kita semua setelah menemui Bryan dan Paman Li terlebih dahulu.”


Jeff yang menyahut.


Prita pun manggut – manggut, kemudian bersandar manja dibahu John lagi.


“Ah iya, kalian masuk dari pintu yang sama tempat Fania dan Michelle keluar?. Tapi kenapa kami tidak mendengar apapun?.”


Jihan melontarkan pertanyaan. Sedikit merasa heran karena memang ia sendiri tak mendengar apapun sebelum Jeff ada dihadapannya.


Ketujuh orang itupun kompak menggeleng.


****


Beberapa waktu sebelumnya............


“Loh, ini kan rute menuju Mansion?.”


“Exactly ( Tepat sekali ).”


Michelle mengenali jalanan yang sedang mereka lewati saat ini.


Dewa hanya tersenyum. Sementara Michelle menunggu jawaban yang lebih dari sekedar senyuman.


“Bukannya kita semua berencana untuk memberikan surprise untuk mereka?.” Tanya Michelle lagi.


“Memang.” Sahut Dewa. Masih tersenyum dan membawa Michelle kembali dalam dekapan.


“Lalu?.”


“Tenanglah. Nanti kamu juga akan tahu.”


****


“Loh, kita kan mau jemput Mom dan yang lainnya dulu di Save House sebelum ke Mansion, bukannya?. Mau kasih mereka surprise kan?.”


“Memang.”


“Terus ini, bukannya jalan arah ke Mansion?.”


“It is Fania (Iya Fania).”


“Mom dan yang lain sudah dibawa kembali ke Mansion kalau begitu ya?.”


“Istri jagoanku ini kenapa cerewet sekali?.” Goda Andrew. Fania mengerucutkan bibirnya.


“Michelle tuh yang jagoan.” Sahut Fania. “Dia bisa nembak sambil tiduran coba! .....”


Andrew, Reno dan Dad terkekeh.


“Both of you, are Baddd - asss!.. (Kalian berdua pokoknya kereeen) ....”


“Sa ae Al Pacino.”


Celoteh Fania pada Dad yang barusan memuji sekaligus menggoda aksinya dan Michelle, yang ceritanya ia dengar dari Andrew dan yang lainnya disaat mereka sedang membereskan Joven dan anak buahnya di Italia.


“Eh iya balik lagi ke soal mereka yang di Save House. Udah pada dibawa ke Mansion emangnya mereka? Bukannya kata Vla di Mansion tuh kayaknya ga ada orang soalnya gelap gulita waktu dia dan Bryan diem – diem mengawasi dari jauh.” Cecar Fania pada tiga pria yang duduk bersamanya di mobil yang sama.

__ADS_1


“Sudah ikut aja dan lihat sendiri nanti.” Sahut kakak ganteng sambil geleng – geleng pada si adik kesayangan yang kalo udah nyerocos itu lupa titik koma.


***


“Ya ampuuun kangen banget sama ini Mansion kita....”


“Iyaaaa....” Michelle dan Fania nampak berkaca – kaca saat sudah melewati gerbang Mansion tempat mereka seringnya tinggal selama ini.


Namun penjaga gerbang bukanlah penjaga gerbang yang selama ini bekerja dengan mereka, melainkan orang baru yang belum pernah Fania dan Michelle lihat sebelumnya. Itupun mereka lebih seperti mirip anggota militer bukan penjaga gerbang.


Meskipun tak terlalu dekat karena jarang berkomunikasi dengan intens, tapi Fania dan Michelle berikut anggota keluarga lainnya selalu bersikap baik dan ramah serta menghargai setiap orang yang bekerja di keluarga mereka.


Fania dan Michelle saling tatap, sekaligus tak sabar untuk bertemu putri kecil mereka dan semua yang berada di Save House.


Dua wanita itu merasa sedikit aneh karena Mansion yang meskipun sudah kini terang benderang seperti sedia kala itu, nampak sangat sepi. Bahkan yang menyambut mereka juga bukan Ben atau Theresa atau para maid yang biasanya menyambut mereka dipintu masuk.


“Mana mereka?.”


“Iya, sepi banget ini. Bahkan para maid aja ga ada yang biasanya nyambut kita, si Intan, Kevin segala ga ada mereka. Mom sama yang lain udah dijemput belum sih?. Terus kita mau kemana sih ini sebenarnya?....” Cerocos Fania saat mereka sudah berada didalam Mansion dan tak ada tanda – tanda kehidupan didalamnya.


“Intan dan yang lainnya sedang dijemput, sekaligus ditanyakan kesediaan mereka untuk bekerja disini lagi jika memang mereka masih berkenan. Jika tidak gaji mereka akan dibayarkan dengan selayaknya.” Sahut Andrew.


Fania serta Michelle manggut – manggut. “Berarti Mom de el el, belum dijemput di Save House?.”


“Ini kita mau jemput mereka, Little F ....”


“Nah terus kenapa kita malah kesini dulu?. Kasihan tau, lagian nanti mereka keburu keluar dari sana.” Cerocos si Kajol lagi. Reno, berikut Andrew dan Dewa hanya geleng – geleng saja mendengar cerocosannya si Kajol, sementara Dad hanya senyum – senyum dan Michelle hanya diam. Ia sama bingungnya dengan Fania sebenarnya juga.


“Aku pikir kita akan mengganti kendaraan untuk menjemput mereka yang di Save House.”


“Tidak perlu jika dari sini.”


“Maksudnya?....” Fania dan Michelle gagal paham. Mereka mengeluarkan pertanyaan yang sama berbarengan kemudian saling tatap.


“You’ll see (Lihat saja sendiri).” Ucap Andrew. Fania dan Michelle lagi – lagi saling tatap karena Andrew, Reno, Dad dan Dewa serta dua J yang kemudian menyusul dibelakang mereka berjalan ke arah paling belakang Mansion yang mereka tahu itu adalah sebuah gudang penyimpanan.


***


“Kita.... mau apa kesini? ....” Tanya Michelle yang benar – benar kebingungan sama seperti Fania. Setelah mereka sampai ditempat yang seperti gudang itu. Tempat yang ia sendiri bahkan tidak pernah dekati apalagi masuki sejak Michelle tinggal disana.


Dewa dan para pangeran yang lain tersenyum penuh arti.


Ruangan yang mereka datangi dan masuki itu cukup besar dan temaram, sedikit menyeramkan bagi Fania dan Michelle, karena terletak di area paling belakang Mansion.


‘Serasa mau ikut uji nyali ini gue....’


“Kenapa?.”


“Merinding!.”


“Hantu juga takut sama lo Jol.” Celetuk Jeff. Fania melirik sebal pada sibule gila.


Namun sejenak kemudian Fania dan Michelle membuka mulut mereka, saat sebuah dinding terbuka dan nampak


seperti sebuah lift.


“Sudah saatnya kalian tahu.”


“Yuk masuk ....” Ajak Andrew yang langsung menggandeng tangan Fania.


“I-ni....”


“Akses masuk ke Save House.” Sahut Reno sebelum Fania dan Michelle menyelesaikan kalimat mereka dengan wajah yang bercampur antara heran dan bingung.


“APPPAA??????....”


Dua wanita itu sama – sama berseru kencang.


 “Ja – jadi.... se - selama i - ni....” Fania dan Michelle sama – sama terbata.


“Selama ini kalian tetap berada di Mansion, hanya berbeda lapisan bumi!.”


John cengengesan pada dua wanita yang terbengong – bengong itu dan kotak yang cukup menampung mereka


semua itu bergerak kebawah.


‘Oh Tuhan, gue rasa mereka beneran agen mission impossible, MI7, James  Bond featuring Mafia di film God Father .... Jangan – jangan resepsionis dibawah Alien kek di film Men in Black ape Vampir sekalian kek di film Twilight....’


Rasanya si Kajol sedikit migrain.

__ADS_1


***


To be continue..


__ADS_2