THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 215


__ADS_3

💓💓  HATI KE HATI  💓💓


********************


Selamat membaca ...


************************


“Abang...”


Momma datang ke kamar Varen, membuka pintunya, menciptakan sedikit celah disana, sambil kepala Momma sedikit menyembul ke dalam kamar.


“Masuk saja, Mom!.” Varen kebetulan baru keluar dari kamar mandi, saat ia melihat kepala Momma menyembul


dan pintu kamarnya memang belum tak langsung ia kunci saat ia masuk tadi. Rencananya, ingin mampir lagi kekamar Andrea, setelah bebersih diri. Varen mempersilahkan Momma masuk, yang kemudian membuka pintu kamarnya lebih lebar.


“Abang sudah mau tidur?.” Tanya Momma sambil mendekati Varen yang juga sedang berjalan mendekatinya. Varen menggeleng. “Bisa bicara sebentar?.”


“Tentu Mom.”


“Momma tidak akan lama. Hanya ingin mengobrol sebentar.” Ucap Momma yang kemudian duduk disofa. Varen


mengangguk dan ikut duduk disamping Momma.


“Santai saja Mom, seperti aku ini siapa saja.” Varen meletakkan kepalanya dipaha Momma. Hal yang sering ia lakukan sejak ia kecil, bahkan sejak Andrea belum ada didunia.


“Sudah memberi kecupan selamat malam sama si Juleha?.” Tanya Momma meledek Varen yang kemudian


terkekeh kecil.


Varen mengangguk.


“Dia udah beneran tidur apa lagi ngolah endorsement kalo engga lagi bikin video unfaedah?.”


“Sudah pulas, saat aku datang kekamarnya tadi. Tapi bangun sebentar, lalu aku menyuruhnya untuk melanjutkan tidur.” Sahut Varen. “Momma mau membahas soal yang tadi dibawah?.” Tanya Varen to the point.


“Sedikit.”


Momma mengusap pelan rambut Varen.


“Ingin membujukku, untuk merubah keputusan ya?.”


“Momma justru ingin berterima kasih sama kamu. Tentang perasaaan kamu pada Andrea. Sungguh Andrea


beruntung dicintai seperti itu oleh kamu, sebagaimana Momma merasa beruntung dicintai Poppa, dengan keposesifannya berikut kekurangan dan kelebihan yang Poppa punya.”


Varen menatap Momma dengan tersenyum. “Aku yang beruntung, karena Andrea ada dalam hidup aku.”


“Bucin terlalu akut ya kamu?. Stadium akhir.”


“Penyakit keturunan dari para Daddies bukannya?.”


Varen dan Momma kemudian sama – sama terkekeh kecil.


“Abang, boleh Momma tanya satu hal?.”


“Silahkan Mom. Banyak pun tak apa.”


“Kenapa tiba – tiba Abang ingin menikahi Andrea dengan segera?.”


“Seperti yang sudah ku bilang tadi, aku tidak ingin ada secuil resiko kehilangan Andrea dari hidupku Mom.”


“Selain itu?.”


“Aku cinta Drea.”


“Itu sih semua orang juga udah tau!. Kurang kreatif!” Mereka berdua terkekeh lagi.


Momma masih mengusap – usap kepala Varen.


“Abang .. kami semua tahu dan mengerti betapa kamu mencintai Andrea. Andrea pun sama, dia mencintai kamu.


Kalian saling mencintai dan tidak ada yang dapat menyangkal hal itu.”


Varen masih mendengarkan.


“Tapi Abang, menikah itu bukan hanya soal cinta. Banyak yang harus dipikirkan, dipertimbangkan.” Ucap Momma lagi.


“Aku tahu itu.”


Varen menyahut.


“Dan aku sudah memikirkan serta mempertimbangkannya baik – baik. Ganjalan kalian, selain karena Andrea masih belia, juga karena sikapnya yang kadang masih kekanakkan bukan?.”

__ADS_1


“Iya ... Andrea bahkan kadang masih belum becus mengurusinya sendiri. Bagaimana nanti dia mengurusi


kamu saat kamu sudah menjadi suaminya?”


“Maka aku yang akan mengurusinya dan mengurusi diriku. Dengan senang hati akan kulakukan itu. Tak sulit, aku sudah terbiasa mengurusi Andrea. Tujuh belas tahun, kalau Momma lupa. Dia bahkan lebih sering bersamaku, kan?”


“Iya tahu, tapi coba deh lihat Drea sekarang. Manja, bahkan tempat tidurnya saja suka ia biarkan begitu saja saat bangun. Belom lagi selebor.”


“Aku suka manjanya Drea. Dan kalau soal merapihkan kamar. Kita punya banyak pelayan. Kalau perlu nanti aku


pekerjakan beberapa asisten pribadi untuk melayani keperluan Andrea. Aku punya cukup uang untuk menghidupi anak Momma dengan baik, memberikannya hidup berkecukupan seperti sekarang.”


‘Batu emang, Kak Reno sama Ibu peri ini anaknya atu.’


Momma menghela nafas pelan.


Varen mengangkat kepalanya dari paha Momma. “Mom, semua hal sampai yang terkecil tentang aku menikahi


Andrea seperti rencanaku itu sudah aku pikirkan.” Ucap Varen. “Aku hanya ingin Andrea, itu saja.”


Varen menggenggam tangan Momma.


“Aku ingin menikahi Andrea dengan segera, semata – mata karena aku ingin meminimalisir setiap kemungkinan


jika ada perubahan dalam hati. Bukan hatiku, tapi hati Drea. Dan aku tak mau mengambil resiko soal itu.”


Sungguh – sungguh Varen berkata.


“Jika aku tak segera mengikatnya secara sah, maka serangga – serangga diluar sana, akan merasa masih punya kesempatan untuk mendekati Andrea.”


“Apa kamu akan membiarkannya?. Engga kan?.”


“Tidak memang.”


“Lalu?.”


Varen menghela nafasnya.


“Tapi segala kemungkinan bisa terjadi juga bukan?. Jika suatu hari aku lengah ternyata, dan Andrea tiba – tiba datang padaku, lalu bilang, ‘Abang, Drea jatuh cinta, tapi bukan lagi pada Abang. Karena kita belum menikah, kita putus saja.’. Aku bahkan tak sanggup membayangkannya Momma”


“Aku bisa gila dan menggila, Mom. Karena aku tak mungkin menahan kebahagiaan Andrea. Dari dulu Momma tahu, aku lemah pada setiap permintaannya. Terlebih jika dia sudah merajuk. Maka itu Momma, aku ingin mengikatnya, agar tak ada kesempatan bagi Andrea melihat laki – laki lain selain aku.”


‘Ya Allah Abang, sampai begitu ya pikirannya?.’


“Iya memang ...”


“Bedanya dengan aku dan Andrea, hanya dimasalah usia kan?. Karena Andrea masih terlalu belia”


Varen menggenggam tangan Momma.


“Dengar Mom, aku ingin segera menikahi Andrea, maaf – bukan karena aku ingin menikmati tubuhnya.”


Varen menatap lekat manik mata Momma.


“Meski ya, aku tak menampik betapa menggodanya tubuh anak Momma itu sekarang.”


Varen menarik sudut bibirnya.


“Maaf Momma, aku hanya mencoba jujur pada Momma.”


“Tak apa Abang, Momma tidak marah. Kita bicara sebagai dua orang dewasa sekarang. Momma paham, kamu, seperti laki – laki lainnya diusia sekarang pasti punya yang namanya hasrat. Sudah tahu, mungkin paham tentang hal – hal yang berbau keintiman.”


“Iya Momma.”


"Pasti udah pernah nonton itu film XYZ kan?."


Varen terkikik, dimana Momma sedang menunjuk padanya seolah menuduhnya sembari terkekeh.


"Laki - laki Mooom"


Varen menyahut sambil menarik dua sudut bibirnya, Momma mengacak kepalanya.


Momma seperti tiap anggota di keluarga mereka, bukanlah orang yang kolot - kolot amat. Tahu bagaimana pergaulan kawula muda yang macam - macam bentuknya. Bukan tak melarang, lebih memilih memberikan penjelasan dengan edukasi.


Sisanya, biar anak - anak mereka yang kemudian menilai dan menjalankan. Jika salah diperingati dan dinasehati. Hanya satu, agar anak - anak mereka tak mengulangi setiap kesalahan yang pernah orang tua lakukan.


***


“Aku hanya ingin merasa tenang, dengan Andrea segera menjadi istriku, aku rasa kedepannya Andrea akan lebih berhati – hati untuk menjaga hatinya hanya untukku. Bukan aku ingin membatasi pergaulannya. Demi Tuhan, aku tidak pernah ingin mengekang Andrea dengan pernikahan.”


Momma  membiarkan, mendengarkan Varen mengeluarkan segala yang ada dihatinya.


“Andrea aku bebaskan untuk kuliah, melakukan hal yang dia suka meski sudah menikah denganku nanti. Tidak mungkin aku membiarkannya jadi Ibu Rumah Tangga. Aku juga tidak ingin Drea tersiksa karena merasa terkekang.”

__ADS_1


“Ya sudah kalau begitu.” Momma membelai kembali kepala Varen. “Momma paham.” Ucap Momma dengan tersenyum.


“Kalau ditanya apa aku pernah punya pikiran liar?. Aku sungguh pembohong besar jika aku bilang tidak. Dan anak Momma penyebabnya. Momma boleh menamparku jika Momma rasa aku ini keterlaluan.”


Pada Momma Varen merasa nyaman untuk bercerita tentang segala hal, dari dulu hingga sekarang.


“Dari umur lima belas tahun, Andrea sudah tumbuh bak seorang wanita. Maaf, tubuhnya. Apa aku pernah tergoda?


Sering. Tapi sekuat tenaga aku menahannya, aku mencintai Andrea bukan karena nafsu semata. Sekarang Momma lihat saja anak Momma itu, semakin membuatku takut tak bisa menahan diri juga.”


Varen dan Momma terkekeh kecil.


“Aku ingin melakukannya dengan cara yang benar Momma, jika memang bisa. Aku manusia biasa, yang bisa saja khilaf suatu hari nanti, dan aku tak mau kalau itu sampai terjadi hingga Andrea berbalik membenciku.”


Varen tertunduk.


“Aku yang ingin menikahi Andrea dengan segera, ingin menghilangkan kemungkinan itu.” Sambung Varen. “Tapi


Momma boleh pegang kata – kataku, jika setelah menikah Andrea memang tak siap melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, maka aku tidak akan memaksakan meminta hakku sebagai suami padanya, maaf – soal ranjang.”


Momma terkesima dengan ucapan Varen barusan.


“Aku akan menunggu sampai Andrea siap sepenuhnya.”


Sekali lagi Varen berkata dan Momma melihat kesungguhan di teduhnya dua mata Varen yang sedang menatapnya


sekarang, sembari tersenyum.


“Jika Momma dan Poppa ingin menjadikan itu sebagai syarat untukku menikahi Andrea saat ia lulus nanti, aku siap.”


“Maksud Abang?.”


“Menahan diri, untuk tidak ‘menyentuh’ Andrea, soal batas waktu, kalian yang putuskan. Buatlah surat perjanjian hitam diatas putih untuk itu. Aku takkan berpikir untuk menandatanganinya.”


Varen tersenyum tulus.


“Agar kalian yakin dengan caraku mencintai Andrea. Bagai kata yang tak sempat diucapkan kayu pada api yang menjadikannya abu. Seperti itu, Momma .. aku mencintai putrimu”


“Abang ..” Sudah, Momma tak bisa lagi berkata – kata. Ucapan Varen begitu menggetarkan hatinya. Hingga tangan Momma sekali lagi terulur dari kepala hingga wajah Varen.


Yang orangnya sedang teduh menatap Momma dengan tersenyum.


“Momma dan Poppa percayakan Andrea sepenuhnya pada kamu.”


Yang tak Varen tahu, ada sepasang telinga lain yang sedang bersandar ditembok luar kamarnya. Yang sedang tersenyum puas sepertinya. Gurat bahagia pun nampak diwajahnya.


Poppa, yang sedang bersandar disana, yang sedari tadi sudah mencuri dengar pembicaraan Momma dan Varen sejak awal.


Bukan ingin menghalangi keinginan Varen yang disampaikan anak itu sejak dibawah tadi.  Sebagai Poppa disatu sisi yang lain dia sangat mempercayai Varen, namun sebagai Poppa disisi Andrea, dia hanya seorang ayah, yang ingin meyakini dirinya sendiri tentang seseorang yang amat bersikeras meminta putrinya dengan cepat.


Sudah, Poppa tak lagi akan membantah keputusan Varen setelah apa yang semua sudah didengarnya tadi. Jika


si bocah tengik itu tetap kekeh ingin menikahi Andrea saat putrinya lulus SMA nanti, maka restunya sudah ia berikan.


Tak akan ada yang mencintai Andrea seperti Varen yang mencintainya. Sebagaimana tak ada yang bisa menyaingi


cintanya Poppa pada Momma.


***


“Oh iya, tadi Abang sempat bicara pada Drea soal rencana Abang itu, saat ia terbangun waktu Abang ke kamarnya?”


Momma sudah berdiri dari duduknya, hendak keluar dari kamar Varen.


Varen menggeleng.


“Biar besok saja, langsung ditanyakan pada Andrea langsung dihadapan semua. Aku memang sudah membuat


keputusanku untuk menikahi Andrea saat ia lulus nanti, tapi tetap semua aku kembalikan kepada keputusan Andrea. Kalau ia tak menerima, maka aku pasrah. Akupun tidak akan memaksanya”


“Lalu kenapa kamu seolah ngotot sekali dibawah?.”


“Iseng saja. Rasanya menyenangkan melihat wajah Dad dan Pop tadi.” Varen terkekeh tanpa akhlak. Membuat Momma juga ikut terkekeh.


“Dasar” Celetuk Momma.


‘Bocah tengik!.’


Hati yang orangnya masih berada diluar kamar Varen pun merutuk.


***


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2