THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 111


__ADS_3

♣♣♣ WAK – WAW ♣♣♣


****


Selamat membaca...


*****


“Ish! Ini mah terbalik!.” Celetuk Mom saat ia menyambangi putri dan menantunya di dapur. “Ada juga istri yang masakin suaminya!.” Tambah Mom lagi.


“It’s okay, Mom.”


Dewa tersenyum pada ibu mertuanya itu yang barusan menyindir Michelle.


“Orang punya suami yang jago masak si!.” Ucap Michelle santai.


“Ya gimana kamu mau jago masak mengimbangi suami kamu itu, kalau kamu lebih sering menicure daripada mencoba resep!.”


Dewa hanya terkekeh melihat sang mertua yang sedang menceramahi istrinya.


“Alah seperti Mom ga sering menicure aja!.” Celetuk Michelle. “Koleksi Nail Polish Mom saja lebih banyak dari aku!.”


“Emak sama anak akur beut!.” Fania dan Ara datang juga ke dapur.


“Sedang buat apa, Wa?.”


“Ini Michelle minta dibuatin Currywurst ...” Sahut Dewa pada Ara.


“Ngidam kamu, Chel?.”


“Ngidam dari mana sih, Mom?. Ini aja aku lagi PMS.”


“Syukur deh kalau kamu ga sedang ngidam!.”


“Emang kenapa juga sih kalau si Michelle ngidam, Mom?. Kan cucu Mom nambah lagi tu. Katanya mau punya cucu


segudang anggur!.”


Celetukan si Kajol membuat mereka terkekeh. “Iya Mom, biar aja kalau Michelle dan Dewa sedang program lagi


adiknya Mika.”


“Haduh, kalian nih, kasihan sama Dewa kalau ini si anak manja hamil lagi sekarang – sekarang ini. Mengurus Mika aja satu, lebih banyak suaminya itu ketimbang dia. Belum nih liat coba, enak aja menyuruh suaminya buatkan makanan untuk dia. Ga terbalik, itu?.” Cerocos Mom.


Michelle mengerucutkan bibirnya, sementara Dewa, Fania dan Ara terkekeh sambil mencomot Currywurst yang sudah jadi dibuat oleh Dewa sesuai permintaan istrinya itu.


“Betul itu!.”


“Ck!.” Michelle berdecak pada sang kakak yang baru saja nongol di dapur bersama kakak ganteng yang senyam – senyum aja. “Ikut – ikutan aja!.” Gerutu Michelle pada Andrew.


“Memang benar yang Mom bilang!. Lo itu memang pintar dalam hal academic. Tapi selain itu, lo seringnya memoles diri dan shopping!.”


“Ih bukan salah aku. Memang Boo – Boo yang suka larang – larang aku masak. Dia bilang ada maid dan kita bahkan punya Chef pribadi.”


“Ngeles aje si Andrew adenya, kek bajaj!.” Celetuk Fania lalu terkekeh.


“Memang iya sih!. Iya kan Boo – Boo kamu bilang seperti itu?.”


Michelle menuntut dukungan suaminya.


“Iya ....”


“Tuh dengar.” Sahut Michelle pada Mom dan kakak – kakaknya.


Dewa pun cengar – cengir.


“Daripada rumah ini terbakar, lebih baik dia tetap ditempatnya ...” Celetuk Dewa yang mendapat sambutan kekehan dari mereka yang bersamanya, kecuali Michelle yang memandang sebal pada suaminya.


“Tau, heran. Masak telor ceplok aja dapur bisa hampir kebakaran sama kamu, Chel!. Mom waktu gadis belum bisa masak ga gitu – gitu amat!.”


“Masih bagus aku punya inisiatif untuk belajar memasak!.”


“Tuh kan, kalau dibilangin pasti menyahut!.” Tambah Mom lagi.


“Emang! Sebelas dua belas sama si Priwitan ...” Timpal Fania.


“Lagipula tuh! Boo – Boo sendiri yang bilang, aku itu ga apa – apa kalau aku ga pintar di dapur, yang penting aku pintar di ranjang!.”


Ucapan Michelle membuat Reno, Ara, Mom, Andrew dan Fania spontan langsung menoleh ke Dewa yang kemudian cengengesan sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


“Benar kan itu yang sering kamu bilang ke aku, Boo – Boo?.”


‘Haish! Si Ayank nihh ..’ Batin Dewa. “Ah itu..”


Lima orang tersebut pun geleng – geleng.


“Jadi kalian jangan terlalu menyalahkan aku kalau aku ga bisa memasak, salahkan itu tuh si Boo – Boo juga. Dia yang selalu membuat aku suka lama di kamar mandi kalau pagi aku sudah niat mau membantu membuat sarapan, eh tahu – tahu dia su...Hmmmphhhh....”

__ADS_1


Michelle tidak dapat menyelesaikan cerocosannya karena Dewa sudah membungkam mulut istrinya itu dengan satu tangannya.


‘Korban pelecehan halal kalau mandi pagi. Seperti aku dan Fania.’ Batin Ara.


***


“Cie ... Cie ... Pasangan lansia mau makan malam romantis nih ye....” Mama Anye menggoda sepasang pria dan wanita paruh baya yang malam ini sudah berdandan sangat rapih untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka di sebuah restoran ternama yang berada di Jakarta bersama seluruh keluarganya.


“Cie.. Cie... jones iri nih ye ...” Ara balik menggoda sang mama.


“Enak aja iri!. Nanti Mama dapat calon papah baru kamu cemberuuuttt ... Ngambeeeek ..”


Ara dan yang lain terkekeh mendengar sahutan Mama Anye barusan lalu mereka semua berangkat menuju restoran yang dimaksud. Papa Herman dan Mama Bela berangkat terpisah dengan mereka dan janji bertemu di restoran yang sudah ditentukan.


**


Sebuah restoran di daerah Jakarta


“Aku mewakili semua orang, mengucapkan selamat atas ulang tahun pernikahan Dad dan Mom hari ini. Kami berharap cinta dan kebersamaan kalian akan terus abadi hingga maut memisahkan.”


“Kamu menyumpahi Dad dan Mom supaya cepat is dead?.”


“Haish Mom nih!.” Gerutu Andrew.


“Ya doanya jangan yang ada maut – mautnya dong!.”


Keluarganya termasuk Dad dan Andrew terkekeh melihat Mom yang berkata ketus pada putranya yang tadi berbicara mewakili seluruh anggota keluarga itu.


“Ganti sajalah, Ndrew doanya. Biasa orang kalau sudah tua itu sensitif sama kematian ...”


“Hahaha.”


“Ya, ya, Andrew ganti doanya!.”


“Yang bagus!.”


“Iya.... Kami doakan semoga Dad dan Mom panjang umur, sehat selalu, semakin tampan dan cantik, semakin kaya, bahagia sejahtera sehat sentosa!.” Ucap Andrew dengan lantangnya. “Apa sudah cukup Nyonya Besar?.”


“Nah begitu dong! Itu baru doa yang benar!.”


Andrew memutar bola matanya malas disertai kekehan dari para anggota keluarga yang lain, dan kemudian Dad mengangkat gelasnya untuk melakukan toast. Dan mereka menikmati makan malam spesial untuk merayakan ulang tahun pernikahan Dad dan Mom itu, dengan obrolan dan candaan seperti biasa.


***


“Anthony?.”


“Yes?.” Sahut Dad sambil melihat wanita yang kini berdiri sambil tersenyum padanya tanpa menegur Mom yang duduk disamping Dad dan sebelumnya mereka berdua sedang berinteraksi mesra. Namun ia tersenyum pada keluarga yang lain


“Ah, it’s really you ... ( Ya ampun, ini benar kamu ... ).” Wanita yang kira – kira berusia sama seperti Mom dan sama elegan nya, meski Mom lebih cantik darinya itu nampak sumringah saat berbicara dengan Dad.


“And you are ...? ( Dan kamu adalah ...? ).” Dad bertanya sambil mencoba mengingat – ingat.


“Oh, you hurting me... ( Oh, kamu melukai ku.. ). I’m Rachel ( Aku Rachel ), Rachel Avera!.”


“Oh My God, Rachel?!. You are really Rachel? ( Oh Tuhan, Rachel?! Kamu benar – benar Rachel? ).” Dad serta merta berdiri dari duduknya dengan wajah yang nampak sumringah. Keluarganya hanya memperhatikan Dad yang sedang berinteraksi dengan wanita yang menegurnya tadi sembari juga memperhatikan wajah Mom yang berubah sinis.


“Now, you remember me? ( Sekarang kamu ingat padaku? ).”


“Of course I remember you, a beautiful woman, how can I forget? ( Tentu saja aku ingat, wanita cantik, bagaimana aku bisa lupa? ).” Ucap Dad yang juga cipika – cipiki dengan wanita itu.


‘Pria tua sedang cari perkara.’


Andrew membatin karena melihat wajah Momnya yang nampak tak senang disetiap detik Dad berbicara dengan wanita yang bernama Rachel itu.


“Siaga satu.” Bisik Fania pada John yang duduk disampingnya.


John kemudian terkekeh.


“Istri..... kenalkan istri ...”


Reno mencibir sambil senyam – senyum melirik Mom, dan Dad mendengar ucapan Reno itu kemudian ia langsung


memperkenalkan Mom dan wanita yang bernama Rachel itu. Serta memperkenalkannya kepada seluruh keluarga.


**


Pada akhirnya wanita bernama Rachel itu duduk bersama keluarga Adjieran Smith diacara makan malam keluarga


mereka yang sedang merayakan ulang tahun perkawinan Dad dan Mom, atas undangan Dad yang diiyakan langsung oleh Rachel yang kemudian duduk disamping Dad, karena Andrew bergeser dari tempat duduknya meski malas, tapi ia masih menjalankan etika seorang pria.


“You have to taking care of Anthony very well Erna, he’s still handsome and looks strong event in his age now ( Kamu harus menjaga Anthony dengan baik Erna, dia masih tampan dan gagah diusianya sekarang ).” Ucap wanita bernama Rachel itu dengan santainya.


Mom tersenyum miring. “Oh, don’t you worry Mrs. Rachel.. ( Oh anda tidak perlu khawatir Nyonya Rachel ....) wait, should I call you Mrs. or Miss?. Because I don’t see you have a mate tonight. ( Tunggu, aku harus memanggilmu Nyonya atau Nona? Karena aku tidak melihat kau memiliki pasangan malam ini ).” Cibir Mom.


“Darling, don’t talk like that ( Sayang, jangan berbicara seperti itu ).” Dad berbisik pelan ditelinga Mom.


“I divorced ( Aku sudah bercerai ).” Ucap Rachel tersenyum canggung.

__ADS_1


“Oh, I’m sorry to hear that. You are a divorced woman ( Oh, aku menyesal mendengarnya, ternyata kau sudah


bercerai? ).” Ucap Mom datar.


“It doesn’t matter, I.... ( Itu tidak masalah, Aku .... ).”


“Well, isn’t sounds very funny?, a divorced woman giving an advice to a S-T-I-L-L Married woman to  taking care of her husband while you can’t keep your husband to stay at your side and loving you? ( Wah, bukankah terdengar lucu ya? Seorang wanita bercerai memberikan nasehat kepada wanita yang M-A-S-I-H menikah untuk menjaga suaminya padahal kau sendiri tidak bisa menjaga suami untuk tetap berada disisimu dan untuk terus mencintaimu? ).”


Mom memotong kalimat Rachel dan mengeluarkan cibiran namun suaranya terdengar lembut, bahkan ia menyunggingkan senyum.


“Spicy ( Pedas )..” Celetuk Michelle setengah berbisik. Keluarganya yang meski merasa mulai canggung, namun mereka sendiri juga menahan bibir mereka untuk tidak tersenyum melihat kelakuan Mom dan mendengar kalimat pedas yang terlontar dari bibir Mom yang tipis namun tajam itu.


“Erna ..” Dad Anthony merasa tak enak pada Rachel, karena raut wajah wanita itu langsung berubah seperti tersinggung dengan kata – kata Mom yang kini sedang menenggak minuman dari gelas bergagang. Rachel tak bersuara.


“How Pity.... ( Miris sekali ) ...”


Cibir Mom lagi pada wanita bernama Rachel itu dengan datar dan nampak santai.


“You must to give yourself an introspection before you giving an advice to other woman?. Especially a married woman who has been very happy with her husband for years, a very long years. And as you can see, we also having a very big happy family, very! ( Sebaiknya kau introspeksi diri dulu sebelum kau memberikan nasehat pada wanita lain?. Terlebih pada wanita menikah yang hidup bahagia bersama suaminya bertahun – tahun lamanya, sampai dengan hari ini. Dan seperti yang kau lihat, kami memiliki keluarga besar yang bahagia, sangat! ).”


‘Wow, emak mertua gue, kalah cabe jablay ama mulutnya!.’


Si Kajol membatin dan cekikikan dalem ati.


“I see.” Rachel manggut – manggut sembari tersenyum pahit. Senyum terpaksa darinya. Sementara Mom menyunggingkan senyum miring.


“Andrew, mintakan bill!.”


Mom beralih bicara pada Andrew untuk memanggilkan pelayan dan putranya itu pun manggut – manggut.


“Dad, mau ikut pulang, atau masih mau bernostalgia dengan teman wanitamu itu, heemm? ...” Tanya Mom pada Dad dengan lembut dan tersenyum, cantik biasanya, tapi senyum Mom kali ini sedikit nampak menyeramkan untuk Dad.


“Ada yang mau ikut taruhan?. Seseorang akan mendapatkan penganiayaan sampai dirumah nanti.” Celetuk Reno


pelan, namun keluarganya masih bisa dengar.


“Gue rasa besok Uncle Keenan akan dipanggil untuk proses pemindahan harta.”


Celetukan Jeff membuat mereka terkekeh tertahan sambil menutup mulut mereka.


“Of course I’ll go home with you, my darling ( Tentu saja aku akan pulang bersamamu, sayangku ).”


Dad berkata sembari tersenyum pada Mom. “Dan kenapa Dad masih duduk manis?.” Ucap Mom yang sudah berdiri dengan memegang clutch bagnya dengan elegan.


“Ah ya .. okay ...” Dad langsung berdiri dengan canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dad kemudian pergi menyusul Mom yang sudah berjalan pergi setelah berpamitan dengan cepat pada Rachel.


****


Kediaman Utama Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia


“CICIIIIII...!!!.” Suara Mom yang menggelegar langsung terdengar saat wanita itu masuk ke dalam rumah.


Bi Cici nampak datang tergesa ke hadapan Mom bersama satu pelayan lainnya. “I-iya, iya, Nyonya Besar ...” Ucap Bi Cici yang sepertinya terkejut mendengar suara Mom yang menggelegar itu. Sementara Dad sedari turun mobil sepertinya sedang berusaha membaik – baikkan istrinya yang nampak acuh itu.


“Siapkan kamar tamu!.”


“My Dear Erna ( Sayangku Erna ), No need to be like this, please... ( Tidak perlu sampai begini, ya ... ).” Dad memelas. “She’s just my old friend ( Dia hanya teman lamaku ).”


“YOUR – EX! ( MANTAN – KAMU! ) Like I don’t know! ( Memang aku ga tahu! ).” Ucap Mom sinis. “Sudah tua masih genit pakai cium cium segala!. Memuji perempuan lain di depan Your own wife! ( Istri sendiri! ).”


“Okay, okay, my mistake. Forgive me, hem? ( Oke, oke, aku salah. Maafkan aku, hem? ).” Pinta Dad pada Mom yang nampak kesal itu, sampai lupa kalau ada keluarganya didekat mereka.


“Sudah cepat siapkan kamar tamu, Cici!.”


“Erna, my darling .. you don’t have to sleep in the guest room just because that thing ( Erna, sayangku .. kamu tidak harus sampai tidur dikamar tamu hanya karena hal itu ).”


“Siapa bilang aku mau tidur di kamar tamu?.”


“Then? ( Lalu? ). You told Cici to prepare guest room? ( Kamu menyuruh Cici untuk menyiapkan kamar tamu? ).”


“Dad yang akan tidur disana!.” Ucap Mom lalu berjalan cepat menuju kamarnya. Dad mengejarnya tapi kalah cepat dengan Mom yang sudah masuk kamar lalu menguncinya.


Setelahnya Dad memandang dengan tatapan memelas pada anak – anaknya. “Siapa suruh cari perkara sama Medusa!.” Celetuk Andrew.


“Sekali – sekali mencoba kamar tamu, Dad.” Celetuk Dewa juga.


“Kami turut berduka, Old Man ( Pak Tua ).” Ucap Reno cekikikan sambil menepuk – nepuk pundak Dad, diikuti para anak lelakinya yang lain.


“You guys, if you’re not helping me, I won’t share my legacy to all of you! ( Kalian semua, jika tidak membantuku, tidak akan aku bagi warisan! ).”


“Kami sudah kaya, Dad ...”


“Haish!!!.” Dad mendesah gusar. “Erna .. my darling, my sunshine... open up the door please ... ( Erna .. Sayangku, Matahariku ... tolong buka pintunya ... aku mohon ... ).”


****


To be continue ..

__ADS_1


__ADS_2