THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 314


__ADS_3

FORCE


( Paksa )


Selamat membaca....


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Disebuah rumah terbilang cukup mewah dalam satu komplek elit di daerah Jakarta .....


“Kalian hendak berlibur atau pindah?”


Suara bariton yang dalam milik seorang pria sudah berada didalam ruang tamu rumah tersebut.


“Siapa kalian?!” Seorang pria berbadan tegap maju dengan kehadapan pria bersuara bariton yang dalam tersebut. Pria berbadan tegap itu menelisik pria bersuara bariton itu karena wajahnya nampak asing.


Pria bersuara bariton itu menelisik balik pria berbadan tegap didepannya namun tingginya hanya sebatas bahunya saja.


“Ck! Aku tidak berbicara dengan kecoa!”


“Apa lo bilang?! Jangan kurang ajar! Ada perlu apa?!!”


Pria berbadan tegap itu bertanya dengan garang, dan satu lagi pria dengan bentuk tubuh yang sama dengan pria tegap itu juga datang mendekat.


“BUDI!!! KUR!!! NUGRO!!!” Pria berbadan tegap yang menghadang itu memanggil tiga nama dengan kencang.


“Kau memanggil siapa? ....” Tanya pria bersuara bariton dalam itu dengan nada suara yang terdengar mengolok sembari menyeringai tipis.


Pria berbadan tegap itu melotot garang.


“Ada apa ini Riz?!”


Seorang pria berusia kurang lebih lima puluh tahunan bersama seorang gadis muda nampak baru turun dari lantai


atas rumah tersebut.


Pria berusia lima puluh tahunan itu bertanya pada pria berbadan tegap yang dipastikan adalah salah seorang Bodyguard.


“Ini Tuan entah pengacau dari mana ....”


Bodyguard rumah tersebut menjawab dengan sopan pada Tuannya.


“BUDI!!! KUR!!! NUGRO!!!” Bodyguard kemudian itu berteriak lagi setelah menjawab Tuannya.


“Ah, aku tahu. Kau pasti sedang memanggil tiga kecoa yang berada di depan!”


“Kau siapa?! Aku tidak pernah melihatmu! Apa maumu?!”


“Kau tidak perlu tahu siapa aku! Bukan level mu untuk mengenalku, kau tahu?!”


“JAGA MULUT LO!”


“Deeevvvv!!.....”


Pria bersuara bariton dalam itu memanggil seseorang yang kiranya berada di luar ruang tamu.


“Ya Tuan Andrew!”


“Bawa tiga kecoa tadi kesini”


Well, pria bersuara bariton dalam Itu adalah Poppa. Dan kini sedang menyeringai pada si pria berbadan tegap yang kini sudah kembali berdiri pongah dihadapannya setelah memberikan perintah pada salah seorang anak buahnya.


Kini Poppa sudah berada di rumah Dilara bersama beberapa orangnya.


“Mereka yang kau panggil tadi?”


“A .....pa – apaan...”


Poppa kembali menyeringai seolah mengejek bersamaan dengan keterkejutan empat orang dihadapannya kini.


“Lemparkan tiga kecoa itu padanya” Ucap Poppa pada para anak buahnya yang menyeret tiga orang Bodyguard


lain di rumah Dilara.


Bodyguard yang tadi berdiri tegak memundurkan langkahnya melihat tiga temannya yang dilempar kedekat kakinya tidak sadarkan diri.


“K – kau siapa sebenar – nya??”


Bodyguard itu bertanya seraya melindungi dua majikannya.


Sang Tuan yang melihatnya juga seketika nampak mulai takut dan gadis muda yang menggandeng erat tangannya


nampak terlihat lebih ketakutan, terlihat dengan bagaimana dia mencengkram lengan pria berumur lima tahunan itu.


“Papa.... Tella takut...” Lirih gadis muda itu yang sepertinya juga hampir menangis sembari berlindung dibelakang ayahnya.


“A – apa maumu?! Apa kau tahu siapa aku?!” Teriak pria berumur lima tahunan itu.


“Kau pikir aku perduli siapa dirimu, selain kau adalah suami dari .....” Poppa menggantungkan kalimatnya. “Siapa nama pe**cur itu Dev?”


“Jessy Tabita alias Dilara Tuan”


“Ah itu! Kau dengar? Dia istrimu bukan?. Pe**cur dengan nama yang anak buahku sebutkan tadi adalah istrimu


bukan? Aku bahkan jijik sekali menyebut namanya”


“HEY! JAGA BICARAMU!” Teriak suami Dilara sambil menunjuk pada Poppa.


“Jangan coba – coba!”


Pemimpin anak buah Poppa bersuara dengan mengacungkan pistolnya pada Bodyguard yang tadi menghadang


Poppa saat matanya menangkap pergerakan mencurigakan.


“Angkat tangan kalian!” Seru Dev dengan lantang dan tegas.


Bodyguard itu dan dua temannya langsung mengangkat tangan kala ada garis merah yang tertuju di tengah dahi mereka, dengan enam orang yang mengacungkan senjata api laser.


“K – kau mau ap-a sebenar – nya??.....”


“Aku hanya ingin bertanya” Sahut Poppa sambil menyalakan rokoknya.


“Tanya lalu pergi dari sini!”


“Cih!” Poppa duduk dengan santainya di salah satu sofa dalam ruang tamu di rumah Dilara. “Kau tahu bisnis ‘sampingan’ istrimu bukan?”


“A – ku tidak paham maksudmu ...”


“Ck! Jangan membuang


waktuku.” Decak Poppa. “Kemana istrimu membawa dua paket specialnya?”


“A – ku sudah bilang, aku tidak paham maksudmu”


“Tuan tidak perlu menjawabnya, Tuan!”


“Dev....”


“Ya Tuan Andrew”


“Tolong enyahkan kecoa yang barusan bersuara itu. Aku terganggu dengan suara dan dirinya”


“Lumpuhkan atau habisi Tuan?”


“Habisi ...”


Tak lama bodyguard yang menghadang Andrew tadi seketika roboh dengan satu tembakan sunyi yang sampai


langsung ke jantungnya.


Gadis muda yang merangkul papanya langsung memekik ketakutan saat bodyguardnya ambruk seketika.


“Satunya juga. Hama ... perlu dibasmi”


“Ja ...”


Klik!


Satu tembakan sunyi sampai lagi ke Bodyguard yang kedua, tepat mengenai kepalanya.


Suami Dilara dan putrinya semakin ketakutan.


“Jawab pertanyaanku tadi, atau kuambil Putrimu dan ku jual sebagaimana kau dan istrimu menjual para gadis muda yang polos dan tak berdosa”


“Pa – pa ...”


“Ckckck ... anakmu lumayan cantik ... apa kalian sudah pernah menjualnya?”


“HENTIKAN!”


Poppa menyeringai.


“Apa kau tahu bisnis ‘sampingan’ orang tuamu anak manis?” Olok Poppa.


Gadis itu tak menjawab. Ia terdengar terisak sembari menunduk.


“Bawa gadis itu!”


“Baik Tuan Andrew”


“PAPAA !!!....” Gadis itu langsung memekik kencang kala dua anak buah Poppa memisahkannya dari sang ayah


dengan paksa.


“STELLA! LEPASKAN DIA!!!!!...”


“Anak manis ... apa kau masih perawan?”


Poppa menundukkan sedikit wajahnya di depan anak gadis Dilara yang ketakutan dan menangis.

__ADS_1


“HEY! .....” Suami Dilara yang sudah dipegangi itu berteriak pada Poppa, namun diabaikan olehnya.


“LIHAT AKU JIKA AKU BERBICARA PADAMU!!!!”


Poppa berteriak di hadapan anak gadis Dilara yang sangat shock mendengar suara Poppa.


“Ampun .... Tuan.....”


Anak gadis Dilara melirih miris sembari mendongakkan kepalanya menatap takut pada Poppa.


“Anakmu ini masih segel atau tidak, hem?”


“Tolong, lepaskan putriku!”


“Hmmmm .... kurasa anak buahku bisa mengeceknya”


Poppa menyeringai.


“JA – JANGAANN!! ....”


“Am-pun ..... Tu-an ....”


"Kau tahu?. Ayah dan Ibumu sudah menculik dua putriku. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada mereka, kau! yang akan menanggungnya!"


Poppa kemudian beralih pada suami Dilara.


"Jika kedua putriku sampai terluka dan mendapat perlakuan buruk, aku bersumpah! Akan ku jadikan putrimu jadi 'santapan' para pria rendahan ditempat yang paling rendah!! Kau dan istri terkutukmu itu akan kuberikan kursi VIP untuk melihat bagaimana nanti putrimu ini dinodai dengan brutal!!"


Tatapan Poppa begitu mengerikan.


"Am-puunn Tuaan.... ja-ngaann ..


“A-akan kukatakan! A-kan ku beritahu di-.....”


“Tuan Andrew”


Salah seorang anak buah Poppa datang menghampirinya lalu berbisik ditelinga Poppa.


“Bawa gadis ini!”


“Tidakk!! Jangaann!! ... Papaa .....”


“JANGAAN! STELLAA!!”


Anak buah Poppa yang dipanggil Dev itu membekap anak gadis Dilara yang dihadapkan pada sang ayah yang sudah berlutut di tempatnya.


Poppa menyeringai licik.


“Aku mohon Tuan... lepaskan putriku .... akan kukatakan dimana dan kemana kami akan mengirim paket yang kau


tanyakan tadi ....”


“Ironis ... kau meminta belas kasih untuk putrimu sekarang”


Poppa berbicara dengan sinis.


“DIMANA BELAS KASIHANMU PADA ANAK – ANAK GADIS TAK BERDOSA YANG KAU DAN ISTRIMU JUAL UNTUK KALIAN JADIKAN PEMUAS NAFSU HAH???!!!!”


Poppa berbicara dengan emosi sekarang.


“Akan kukatakan! Akan kukatakan!”


“Cih! Waktumu sudah habis! Bawa gadis ini!”


“Baik Tuan”


“STELLAAA!!!!!”


“Serahkan dia pada Sean!”


Poppa menunjuk pada suami Dilara yang melirih dengan sudah menangis kala putrinya dan Dilara sudah dibawa


paksa dan dibuat tak sadarkan diri dengan biusan pada selembar sapu tangan.


“Bilang pada Sean, aku mau pria itu membusuk di penjara!” Ucap Poppa pada dua anak buahnya yang berdiri


menjaga suami Dilara yang sudah nampak frustasi itu.


“Baik Tuan”


Poppa pun berjalan keluar dengan santainya dari ruang tamu Dilara.


“Gus!”


“Ya Tuan!”


“Urus CCTV rumah ini dan sapu kecoa – kecoa itu” Titah Poppa pada salah satu anak buahnya selain Dev.


“Baik Tuan Andrew”


“By the way, apa tidak ada pelayan di rumah ini? Hanya ada lima kecoa itu?”


Poppa pun manggut – manggut. “Ya sudah. Tunggu sampai Sean datang. Jika pria itu macam – macam. Habisi saja. Jangan sampai merepotkan ku”


“Baik Tuan”


“Kau yang urus semua disini, Bagus!. Jika masih tidak paham, kau lubangi saja kepalamu dengan peluru”


“Baik Tuan”


***


Di tempat yang lain ...


“Ada apa?!”


“Apa Drea bersama kamu Via?!”


Via menjawab pertanyaan salah satu Daddy dengan anggukan, lalu Nathan kembali mengatakan apa yang Via


katakan padanya dan Abang sebelum Daddy Dewa dan Papi John datang mendekatinya dan Via.


“Little Star ...”


Daddy Dewa dan Papi John sama – sama menggumam lirih.


‘Jangan kamu Sayang’


****


‘Bukan! Pasti bukan Little Star!’ Varen yang sudah menaiki speed boat bersama dua anak buahnya itu sedang


menghibur dirinya sendiri.


Meski tak bisa dipungkiri ia begitu takut untuk mendekati jasad yang terombang – ambing pelan dalam perairan.


“Pria Tuan!”


Varen menghela panjang nafasnya meski dirasa kakinya begitu lemas kini.


****


“Le-paskan dia! .... Gi-ta!...”


“......”


Sepasang mata mengerjap lemah, sembari mencoba mengumpulkan kesadarannya.


Ada suara si pemilik mata itu dengar, seperti sebuah perdebatan. “Kamu mau apa dengannya Gita?!”


‘Tara....’


“Memberi dia pelajaran!”


“Kamu jangan macam – macam sama dia Gita! Kamu ingat dia itu siapa!”


‘Lemas sekali badan gue ..’


“Ck! Makanya gue tau dia itu siapa! Gue sangat ingin menghancurkan dia! Sok banget kecakepan, sombong! Mentang – mentang kaya terus punya suami super ganteng! Enak banget hidupnya!”


“Lalu apa urusannya sama kamu?!”


“Dia punya urusan sama gue! Dia pernah mempermalukan gue habis – habisan dan mukulin gue?!”


“Tapi itu semua karena mulut kamu sendiri yang memang kurang ajar seperti kelakuan kamu ini!”


PLAK!


“PE**N! DIEM LO!”


“Cukup aku yang kamu jerumuskan sampai begini Git!...”


“Salah siapa lo lebih mendapatkan fasilitas dari Papa gue yang hanya mengakui gue sebagai ponakannya, padahal Papa kita adalah yang sama!”


“......”


“Hidup lo dan adik lo sudah cukup senang selama ini. Sementara gue?!”


“Tapi kamu tidak dibedakan dengan aku dan Nida. Bahkan nenek dan Mama juga menyayangi kamu dengan sangat


Git!”


“Ck! Halah!”


“Kamu dendam sama Papa, dan kamu sudah balas kan lewat aku?! Andrea ga ada hubungannya dengan itu! Dia


bahkan ga ada hubungannya dengan keluarga kita, selain suaminya yang adalah cucu Kakek Peter!”


“Memang ga ada! Tapi gue dendam sama dia! Akan gue hancurkan cewek belagu ini! Liat aja, apa suaminya yang sempurna itu masih mau nerima dia kalau dia sudah kotor. Hahaha!!!! ..”

__ADS_1


‘Gita.. memang perempuan sialan!’


“JANGAN MACEM – MACEM GITA! KAMU AKAN MENDAPAT MASALAH BESAR JIKA KAMU BERANI MACEM – MACEM SAMA ANDREA! KELUARGANYA GA AKAN MELEPASKAN KAMU BEGITU AJA!”


“Masa bodo!!”


“Sshh..” Andrea sudah merasakan kesadarannya pulih sekarang. Ia mendesis dlam gumaman, merasakan lemas disekujur tubuhnya dan pening di kepalanya.


“Waahh udah bangun lo?!”


“Andrea ..”


“Gi-taa perempuan sialan ..”


“Bang**t! Elo yang sialan!”


Gita yang sudah mendekati Andrea yang terbaring diatas sebuah ranjang itu mengumpat sembari mendorong


kepala Andrea dengan kasar.


Ada dua orang pria yang bersamanya, berdiri sedikit jauh gadis itu. Namun Andrea tidak terlalu memperhatikan wajah mereka.


“Gita!” Pekik Tara sembari mendorong tubuh Gita.


“Minggir lo!”


“Aww!”


Gita menarik kasar rambut Tara lalu menjauhkannya dari Andrea dengan menghempaskan tubuh Tara dengan kasar.


Andrea menggeram.


“Gitaa..”


Andrea hendak bangun dari posisinya.


‘Eh, tapi.. badan gue lemas banget ini..’


“Kenapa?. Lo mau pukulin gue kayak waktu itu?”


Gita bersuara.


“Coba aja kalo bisa!”


Andrea tidak terlalu memperhatikan ucapan Gita. Ia sedang bertanya – tanya sendiri dalam hati kenapa badannya begitu lemas. Bahkan mencoba sekuat tenaga untuk bangun aja sulit. ‘Pasti gara – gara apa yang tadi Gita suntikkan ke gue waktu diatas’


“Rasain! Lo ga berdaya kan sekarang?!”


“Ma-u lo apa? ...”


Gita tertawa mengerikan.


“Gue mau buat lo ga ada harganya!”


“Gita!” Tara kembali menghampiri Gita dan berdiri menghalanginya dari Andrea.


“Ih minggir ga lo!” Gita menghempaskan lagi tubuh Tara dengan kencang. "Siapa tahu suami lo, Alvarend itu akan berpaling ke gue. Penasaran gue, sama kehebatannya di ranjang. Pasti bisa bikin gue puas dan pastinya gue bisa memuaskan dia dong!"


Gita kemudian terbahak.


“Ja-ngan berani – berani lo ja-lang!..”


"GITA!"


“Heh! Salah satu dari kalian! Bawa si Tara keluar dari sini!”


Gita berbicara pada dua pria yang berada di ruangan tempat mereka berada sekarang yang merupakan sebuah kamar.


“Abis itu balik lagi buat nikmatin tubuh ini cewe!”


Menyuruh salah satunya agar membawa Tara keluar dari kamar tersebut.


“Lo bilang apa? Lo katain gue ja**ng? ..”


PLAKK!


“Lo yang akan jadi ja**ng sebentar lagi!”


Gita tertawa. Dan suara tawanya terdengar mengerikan, mengolok Andrea.


“Dua cowok itu akan gue kasih kesempatan buat nikmatin tubuh lo secara gratis!”


“Ku-rang ajar!.. ja-ngan berani – berani..”


“GITAA!!..”


Tara memekik kencang saat salah seorang pria dari dua, mulai menyeretnya.


“KAMU JANGAN LUPA UCAPAN IBU! DIA GA BOLEH DIAPA – APAIN!!..”


Tara berteriak frustasi hingga suaranya hanya tinggal samar – samar terdengar kian menjauh.


“Cih!” Decih Gita lalu kembali menyeringai licik pada Andrea. “Barang yang mau dijual kan harus dites dulu ..”


“Men-jauh dari gue perempuan sialan!..” Andrea memekik dengan mengumpat. Namun tubuhnya tetap sulit ia


gerakkan. Dirasa Andrea, badannya seolah tak bertulang.


PLAKK!


“LO YANG SIALAN!”


Gita melayangkan sekali lagi tamparannya di pipi Andrea.


“Pe-rempuan gi-la!..”


Andrea mengumpat dan melayangkan tatapan sinisnya namun Gita malah tertawa senang.


“Lo yang akan jadi gila takutnya setelah dua gue suruh dia dan temannya tadi menikmati tubuh lo. Hahaha..”


Gita tertawa lagi lalu menunjukkan ponselnya.


“Gue penasaran .. reaksi Alvarend yang tampan itu setelah nanti gue video kan adegan panas istrinya bersama laki – laki lain..”


Andrea merutuki Gita dengan umpatan yang diabaikan oleh gadis itu yang menyeringai sembari menggoyangkan


ponsel disatu tangannya.


“Tobi!” Gita memanggil pria yang berada bersamanya di kamar. “Pegangin hape gue!” Ucap Gita sambil memberikan ponselnya pada pria tersebut.


SREKK!


“Gi-taa!! ..”


“Makan tuh Tob! Rezeki lo hari ini!”


Gita berkata pada pria bernama Tobi itu setelah merobek atasan Andrea.


“Tapi Mba Git, kan ga boleh sentuh dia sama Ibu?” Pria bernama Tobi itu nampak ragu.


“Ibu ga ada! Gue ga akan bilang! Cepet! Barang bagus tuh lo ga mau cobain? Gratis pula!”


Gita menyeringai sembari menatap tajam pada Andrea. Sementara Andrea sudah sekuat tenaga untuk bangkit,


namun tetap saja tidak bisa.


Andrea tidak mau pasrah, meski bagian atas tubuhnya sudah setengah terekspose dihadapan Gita dan satu pria asing. Tenggorokan Andrea rasanya tercekat dan matanya mulai berkaca – kaca, merutuki dirinya yang tidak ingin pasrah namun tidak juga bisa berbuat apa – apa.


“Beneran nih Mba Git?,”


Pria bernama Tobi itu tersenyum sumringah setelah Gita mengangguk.


“Udah cepetan! Gue ga sabar mau merekam aksi panas lo sama dia!”


Tobi nampak kesenengan dan bergegas mendekati Andrea. Yang meronta kuat dalam hati, namun hanya lirihan saja yang keluar dari mulutnya.


Andrea memejamkan matanya, kala pria bernama Tobi itu semakin dekat padanya, bahkan sudah mau menaiki


ranjang dan mengukung tubuh Andrea dengan wajah yang nampak seperti serigala yang kelaparan.


Andrea menitikkan air matanya.


‘Abaanngg..’


Namun tetap Andrea masih berusaha bangkit sekali lagi. Dan rasanya bisa. Andrea mulai merasakan tangannya. Lalu mengumpulkan lagi tenaganya mendorong kasar tubuh pria bernama Tobi itu dan membuat Gita seketika mendelik.


Ia langsung bergerak dengan cepat melihat Andrea yang berusaha bangkit meski masih  sempoyongan.


Sayangnya tubuh Andrea yang tak stabil itu dengan mudah dicengkram Gita meski Andrea berusaha berontak. “Ambil suntikan dilaci Tob!”


Perintah Gita dengan cepat pada Tobi yang langsung membuka sebuah laci didekat ranjang lalu dengan cepat


menusukkan jarum pada suntikan yang sudah ia raih ke leher Andrea.


“Cewek sialan! Lo pikir lo bisa kabur hah?!” Pekik Gita.


‘Abaanngg .. setelah ini Drea ga akan punya muka bertemu Abaanng.. hiks..’


Andrea melirih perih, ia benar – benar sudah berpikir hal yang paling buruk terjadi padanya sekarang. Jika itu terjadi, Andrea akan merasa benar – benar ternoda.


Rasanya tidak akan sanggup menanggungnya kelak.


Lalu perlahan, Andrea kembali hilang kesadaran.


‘Maafkan Drea Abaanng..’


****


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2