
FORCE
( Paksa )
Selamat membaca....
đđđđđđđ
Disebuah rumah terbilang cukup mewah dalam satu komplek elit di daerah Jakarta .....
âKalian hendak berlibur atau pindah?â
Suara bariton yang dalam milik seorang pria sudah berada didalam ruang tamu rumah tersebut.
âSiapa kalian?!â Seorang pria berbadan tegap maju dengan kehadapan pria bersuara bariton yang dalam tersebut. Pria berbadan tegap itu menelisik pria bersuara bariton itu karena wajahnya nampak asing.
Pria bersuara bariton itu menelisik balik pria berbadan tegap didepannya namun tingginya hanya sebatas bahunya saja.
âCk! Aku tidak berbicara dengan kecoa!â
âApa lo bilang?! Jangan kurang ajar! Ada perlu apa?!!â
Pria berbadan tegap itu bertanya dengan garang, dan satu lagi pria dengan bentuk tubuh yang sama dengan pria tegap itu juga datang mendekat.
âBUDI!!! KUR!!! NUGRO!!!â Pria berbadan tegap yang menghadang itu memanggil tiga nama dengan kencang.
âKau memanggil siapa? ....â Tanya pria bersuara bariton dalam itu dengan nada suara yang terdengar mengolok sembari menyeringai tipis.
Pria berbadan tegap itu melotot garang.
âAda apa ini Riz?!â
Seorang pria berusia kurang lebih lima puluh tahunan bersama seorang gadis muda nampak baru turun dari lantai
atas rumah tersebut.
Pria berusia lima puluh tahunan itu bertanya pada pria berbadan tegap yang dipastikan adalah salah seorang Bodyguard.
âIni Tuan entah pengacau dari mana ....â
Bodyguard rumah tersebut menjawab dengan sopan pada Tuannya.
âBUDI!!! KUR!!! NUGRO!!!â Bodyguard kemudian itu berteriak lagi setelah menjawab Tuannya.
âAh, aku tahu. Kau pasti sedang memanggil tiga kecoa yang berada di depan!â
âKau siapa?! Aku tidak pernah melihatmu! Apa maumu?!â
âKau tidak perlu tahu siapa aku! Bukan level mu untuk mengenalku, kau tahu?!â
âJAGA MULUT LO!â
âDeeevvvv!!.....â
Pria bersuara bariton dalam itu memanggil seseorang yang kiranya berada di luar ruang tamu.
âYa Tuan Andrew!â
âBawa tiga kecoa tadi kesiniâ
Well, pria bersuara bariton dalam Itu adalah Poppa. Dan kini sedang menyeringai pada si pria berbadan tegap yang kini sudah kembali berdiri pongah dihadapannya setelah memberikan perintah pada salah seorang anak buahnya.
Kini Poppa sudah berada di rumah Dilara bersama beberapa orangnya.
âMereka yang kau panggil tadi?â
âA .....pa â apaan...â
Poppa kembali menyeringai seolah mengejek bersamaan dengan keterkejutan empat orang dihadapannya kini.
âLemparkan tiga kecoa itu padanyaâ Ucap Poppa pada para anak buahnya yang menyeret tiga orang Bodyguard
lain di rumah Dilara.
Bodyguard yang tadi berdiri tegak memundurkan langkahnya melihat tiga temannya yang dilempar kedekat kakinya tidak sadarkan diri.
âK â kau siapa sebenar â nya??â
Bodyguard itu bertanya seraya melindungi dua majikannya.
Sang Tuan yang melihatnya juga seketika nampak mulai takut dan gadis muda yang menggandeng erat tangannya
nampak terlihat lebih ketakutan, terlihat dengan bagaimana dia mencengkram lengan pria berumur lima tahunan itu.
âPapa.... Tella takut...â Lirih gadis muda itu yang sepertinya juga hampir menangis sembari berlindung dibelakang ayahnya.
âA â apa maumu?! Apa kau tahu siapa aku?!â Teriak pria berumur lima tahunan itu.
âKau pikir aku perduli siapa dirimu, selain kau adalah suami dari .....â Poppa menggantungkan kalimatnya. âSiapa nama pe**cur itu Dev?â
âJessy Tabita alias Dilara Tuanâ
âAh itu! Kau dengar? Dia istrimu bukan?. Pe**cur dengan nama yang anak buahku sebutkan tadi adalah istrimu
bukan? Aku bahkan jijik sekali menyebut namanyaâ
âHEY! JAGA BICARAMU!â Teriak suami Dilara sambil menunjuk pada Poppa.
âJangan coba â coba!â
Pemimpin anak buah Poppa bersuara dengan mengacungkan pistolnya pada Bodyguard yang tadi menghadang
Poppa saat matanya menangkap pergerakan mencurigakan.
âAngkat tangan kalian!â Seru Dev dengan lantang dan tegas.
Bodyguard itu dan dua temannya langsung mengangkat tangan kala ada garis merah yang tertuju di tengah dahi mereka, dengan enam orang yang mengacungkan senjata api laser.
âK â kau mau ap-a sebenar â nya??.....â
âAku hanya ingin bertanyaâ Sahut Poppa sambil menyalakan rokoknya.
âTanya lalu pergi dari sini!â
âCih!â Poppa duduk dengan santainya di salah satu sofa dalam ruang tamu di rumah Dilara. âKau tahu bisnis âsampinganâ istrimu bukan?â
âA â ku tidak paham maksudmu ...â
âCk! Jangan membuang
waktuku.â Decak Poppa. âKemana istrimu membawa dua paket specialnya?â
âA â ku sudah bilang, aku tidak paham maksudmuâ
âTuan tidak perlu menjawabnya, Tuan!â
âDev....â
âYa Tuan Andrewâ
âTolong enyahkan kecoa yang barusan bersuara itu. Aku terganggu dengan suara dan dirinyaâ
âLumpuhkan atau habisi Tuan?â
âHabisi ...â
Tak lama bodyguard yang menghadang Andrew tadi seketika roboh dengan satu tembakan sunyi yang sampai
langsung ke jantungnya.
Gadis muda yang merangkul papanya langsung memekik ketakutan saat bodyguardnya ambruk seketika.
âSatunya juga. Hama ... perlu dibasmiâ
âJa ...â
Klik!
Satu tembakan sunyi sampai lagi ke Bodyguard yang kedua, tepat mengenai kepalanya.
Suami Dilara dan putrinya semakin ketakutan.
âJawab pertanyaanku tadi, atau kuambil Putrimu dan ku jual sebagaimana kau dan istrimu menjual para gadis muda yang polos dan tak berdosaâ
âPa â pa ...â
âCkckck ... anakmu lumayan cantik ... apa kalian sudah pernah menjualnya?â
âHENTIKAN!â
Poppa menyeringai.
âApa kau tahu bisnis âsampinganâ orang tuamu anak manis?â Olok Poppa.
Gadis itu tak menjawab. Ia terdengar terisak sembari menunduk.
âBawa gadis itu!â
âBaik Tuan Andrewâ
âPAPAA !!!....â Gadis itu langsung memekik kencang kala dua anak buah Poppa memisahkannya dari sang ayah
dengan paksa.
âSTELLA! LEPASKANÂ DIA!!!!!...â
âAnak manis ... apa kau masih perawan?â
Poppa menundukkan sedikit wajahnya di depan anak gadis Dilara yang ketakutan dan menangis.
__ADS_1
âHEY! .....â Suami Dilara yang sudah dipegangi itu berteriak pada Poppa, namun diabaikan olehnya.
âLIHAT AKU JIKA AKUÂ BERBICARA PADAMU!!!!â
Poppa berteriak di hadapan anak gadis Dilara yang sangat shock mendengar suara Poppa.
âAmpun .... Tuan.....â
Anak gadis Dilara melirih miris sembari mendongakkan kepalanya menatap takut pada Poppa.
âAnakmu ini masih segel atau tidak, hem?â
âTolong, lepaskan putriku!â
âHmmmm .... kurasa anak buahku bisa mengeceknyaâ
Poppa menyeringai.
âJA â JANGAANN!! ....â
âAm-pun ..... Tu-an ....â
"Kau tahu?. Ayah dan Ibumu sudah menculik dua putriku. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada mereka, kau! yang akan menanggungnya!"
Poppa kemudian beralih pada suami Dilara.
"Jika kedua putriku sampai terluka dan mendapat perlakuan buruk, aku bersumpah! Akan ku jadikan putrimu jadi 'santapan' para pria rendahan ditempat yang paling rendah!! Kau dan istri terkutukmu itu akan kuberikan kursi VIP untuk melihat bagaimana nanti putrimu ini dinodai dengan brutal!!"
Tatapan Poppa begitu mengerikan.
"Am-puunn Tuaan.... ja-ngaann ..
âA-akan kukatakan! A-kan ku beritahu di-.....â
âTuan Andrewâ
Salah seorang anak buah Poppa datang menghampirinya lalu berbisik ditelinga Poppa.
âBawa gadis ini!â
âTidakk!! Jangaann!! ... Papaa .....â
âJANGAAN! STELLAA!!â
Anak buah Poppa yang dipanggil Dev itu membekap anak gadis Dilara yang dihadapkan pada sang ayah yang sudah berlutut di tempatnya.
Poppa menyeringai licik.
âAku mohon Tuan... lepaskan putriku .... akan kukatakan dimana dan kemana kami akan mengirim paket yang kau
tanyakan tadi ....â
âIronis ... kau meminta belas kasih untuk putrimu sekarangâ
Poppa berbicara dengan sinis.
âDIMANA BELAS KASIHANMU PADAÂ ANAK â ANAK GADIS TAK BERDOSA YANG KAU DAN ISTRIMU JUAL UNTUK KALIAN JADIKANÂ PEMUAS NAFSU HAH???!!!!â
Poppa berbicara dengan emosi sekarang.
âAkan kukatakan! Akan kukatakan!â
âCih! Waktumu sudah habis! Bawa gadis ini!â
âBaik Tuanâ
âSTELLAAA!!!!!â
âSerahkan dia pada Sean!â
Poppa menunjuk pada suami Dilara yang melirih dengan sudah menangis kala putrinya dan Dilara sudah dibawa
paksa dan dibuat tak sadarkan diri dengan biusan pada selembar sapu tangan.
âBilang pada Sean, aku mau pria itu membusuk di penjara!â Ucap Poppa pada dua anak buahnya yang berdiri
menjaga suami Dilara yang sudah nampak frustasi itu.
âBaik Tuanâ
Poppa pun berjalan keluar dengan santainya dari ruang tamu Dilara.
âGus!â
âYa Tuan!â
âUrus CCTV rumah ini dan sapu kecoa â kecoa ituâ Titah Poppa pada salah satu anak buahnya selain Dev.
âBaik Tuan Andrewâ
âBy the way, apa tidak ada pelayan di rumah ini? Hanya ada lima kecoa itu?â
Poppa pun manggut â manggut. âYa sudah. Tunggu sampai Sean datang. Jika pria itu macam â macam. Habisi saja. Jangan sampai merepotkan kuâ
âBaik Tuanâ
âKau yang urus semua disini, Bagus!. Jika masih tidak paham, kau lubangi saja kepalamu dengan peluruâ
âBaik Tuanâ
***
Di tempat yang lain ...
âAda apa?!â
âApa Drea bersama kamu Via?!â
Via menjawab pertanyaan salah satu Daddy dengan anggukan, lalu Nathan kembali mengatakan apa yang Via
katakan padanya dan Abang sebelum Daddy Dewa dan Papi John datang mendekatinya dan Via.
âLittle Star ...â
Daddy Dewa dan Papi John sama â sama menggumam lirih.
âJangan kamu Sayangâ
****
âBukan! Pasti bukan Little Star!â Varen yang sudah menaiki speed boat bersama dua anak buahnya itu sedang
menghibur dirinya sendiri.
Meski tak bisa dipungkiri ia begitu takut untuk mendekati jasad yang terombang â ambing pelan dalam perairan.
âPria Tuan!â
Varen menghela panjang nafasnya meski dirasa kakinya begitu lemas kini.
****
âLe-paskan dia! .... Gi-ta!...â
â......â
Sepasang mata mengerjap lemah, sembari mencoba mengumpulkan kesadarannya.
Ada suara si pemilik mata itu dengar, seperti sebuah perdebatan. âKamu mau apa dengannya Gita?!â
âTara....â
âMemberi dia pelajaran!â
âKamu jangan macam â macam sama dia Gita! Kamu ingat dia itu siapa!â
âLemas sekali badan gue ..â
âCk! Makanya gue tau dia itu siapa! Gue sangat ingin menghancurkan dia! Sok banget kecakepan, sombong! Mentang â mentang kaya terus punya suami super ganteng! Enak banget hidupnya!â
âLalu apa urusannya sama kamu?!â
âDia punya urusan sama gue! Dia pernah mempermalukan gue habis â habisan dan mukulin gue?!â
âTapi itu semua karena mulut kamu sendiri yang memang kurang ajar seperti kelakuan kamu ini!â
PLAK!
âPE**N! DIEM LO!â
âCukup aku yang kamu jerumuskan sampai begini Git!...â
âSalah siapa lo lebih mendapatkan fasilitas dari Papa gue yang hanya mengakui gue sebagai ponakannya, padahal Papa kita adalah yang sama!â
â......â
âHidup lo dan adik lo sudah cukup senang selama ini. Sementara gue?!â
âTapi kamu tidak dibedakan dengan aku dan Nida. Bahkan nenek dan Mama juga menyayangi kamu dengan sangat
Git!â
âCk! Halah!â
âKamu dendam sama Papa, dan kamu sudah balas kan lewat aku?! Andrea ga ada hubungannya dengan itu! Dia
bahkan ga ada hubungannya dengan keluarga kita, selain suaminya yang adalah cucu Kakek Peter!â
âMemang ga ada! Tapi gue dendam sama dia! Akan gue hancurkan cewek belagu ini! Liat aja, apa suaminya yang sempurna itu masih mau nerima dia kalau dia sudah kotor. Hahaha!!!! ..â
__ADS_1
âGita.. memang perempuan sialan!â
âJANGAN MACEM â MACEM GITA! KAMU AKAN MENDAPAT MASALAH BESAR JIKA KAMU BERANI MACEM â MACEM SAMA ANDREA! KELUARGANYA GA AKAN MELEPASKAN KAMU BEGITU AJA!â
âMasa bodo!!â
âSshh..â Andrea sudah merasakan kesadarannya pulih sekarang. Ia mendesis dlam gumaman, merasakan lemas disekujur tubuhnya dan pening di kepalanya.
âWaahh udah bangun lo?!â
âAndrea ..â
âGi-taa perempuan sialan ..â
âBang**t! Elo yang sialan!â
Gita yang sudah mendekati Andrea yang terbaring diatas sebuah ranjang itu mengumpat sembari mendorong
kepala Andrea dengan kasar.
Ada dua orang pria yang bersamanya, berdiri sedikit jauh gadis itu. Namun Andrea tidak terlalu memperhatikan wajah mereka.
âGita!â Pekik Tara sembari mendorong tubuh Gita.
âMinggir lo!â
âAww!â
Gita menarik kasar rambut Tara lalu menjauhkannya dari Andrea dengan menghempaskan tubuh Tara dengan kasar.
Andrea menggeram.
âGitaa..â
Andrea hendak bangun dari posisinya.
âEh, tapi.. badan gue lemas banget ini..â
âKenapa?. Lo mau pukulin gue kayak waktu itu?â
Gita bersuara.
âCoba aja kalo bisa!â
Andrea tidak terlalu memperhatikan ucapan Gita. Ia sedang bertanya â tanya sendiri dalam hati kenapa badannya begitu lemas. Bahkan mencoba sekuat tenaga untuk bangun aja sulit. âPasti gara â gara apa yang tadi Gita suntikkan ke gue waktu diatasâ
âRasain! Lo ga berdaya kan sekarang?!â
âMa-u lo apa? ...â
Gita tertawa mengerikan.
âGue mau buat lo ga ada harganya!â
âGita!â Tara kembali menghampiri Gita dan berdiri menghalanginya dari Andrea.
âIh minggir ga lo!â Gita menghempaskan lagi tubuh Tara dengan kencang. "Siapa tahu suami lo, Alvarend itu akan berpaling ke gue. Penasaran gue, sama kehebatannya di ranjang. Pasti bisa bikin gue puas dan pastinya gue bisa memuaskan dia dong!"
Gita kemudian terbahak.
âJa-ngan berani â berani lo ja-lang!..â
"GITA!"
âHeh! Salah satu dari kalian! Bawa si Tara keluar dari sini!â
Gita berbicara pada dua pria yang berada di ruangan tempat mereka berada sekarang yang merupakan sebuah kamar.
âAbis itu balik lagi buat nikmatin tubuh ini cewe!â
Menyuruh salah satunya agar membawa Tara keluar dari kamar tersebut.
âLo bilang apa? Lo katain gue ja**ng? ..â
PLAKK!
âLo yang akan jadi ja**ng sebentar lagi!â
Gita tertawa. Dan suara tawanya terdengar mengerikan, mengolok Andrea.
âDua cowok itu akan gue kasih kesempatan buat nikmatin tubuh lo secara gratis!â
âKu-rang ajar!.. ja-ngan berani â berani..â
âGITAA!!..â
Tara memekik kencang saat salah seorang pria dari dua, mulai menyeretnya.
âKAMU JANGAN LUPA UCAPANÂ IBU! DIA GA BOLEH DIAPA â APAIN!!..â
Tara berteriak frustasi hingga suaranya hanya tinggal samar â samar terdengar kian menjauh.
âCih!â Decih Gita lalu kembali menyeringai licik pada Andrea. âBarang yang mau dijual kan harus dites dulu ..â
âMen-jauh dari gue perempuan sialan!..â Andrea memekik dengan mengumpat. Namun tubuhnya tetap sulit ia
gerakkan. Dirasa Andrea, badannya seolah tak bertulang.
PLAKK!
âLO YANG SIALAN!â
Gita melayangkan sekali lagi tamparannya di pipi Andrea.
âPe-rempuan gi-la!..â
Andrea mengumpat dan melayangkan tatapan sinisnya namun Gita malah tertawa senang.
âLo yang akan jadi gila takutnya setelah dua gue suruh dia dan temannya tadi menikmati tubuh lo. Hahaha..â
Gita tertawa lagi lalu menunjukkan ponselnya.
âGue penasaran .. reaksi Alvarend yang tampan itu setelah nanti gue video kan adegan panas istrinya bersama laki â laki lain..â
Andrea merutuki Gita dengan umpatan yang diabaikan oleh gadis itu yang menyeringai sembari menggoyangkan
ponsel disatu tangannya.
âTobi!â Gita memanggil pria yang berada bersamanya di kamar. âPegangin hape gue!â Ucap Gita sambil memberikan ponselnya pada pria tersebut.
SREKK!
âGi-taa!! ..â
âMakan tuh Tob! Rezeki lo hari ini!â
Gita berkata pada pria bernama Tobi itu setelah merobek atasan Andrea.
âTapi Mba Git, kan ga boleh sentuh dia sama Ibu?â Pria bernama Tobi itu nampak ragu.
âIbu ga ada! Gue ga akan bilang! Cepet! Barang bagus tuh lo ga mau cobain? Gratis pula!â
Gita menyeringai sembari menatap tajam pada Andrea. Sementara Andrea sudah sekuat tenaga untuk bangkit,
namun tetap saja tidak bisa.
Andrea tidak mau pasrah, meski bagian atas tubuhnya sudah setengah terekspose dihadapan Gita dan satu pria asing. Tenggorokan Andrea rasanya tercekat dan matanya mulai berkaca â kaca, merutuki dirinya yang tidak ingin pasrah namun tidak juga bisa berbuat apa â apa.
âBeneran nih Mba Git?,â
Pria bernama Tobi itu tersenyum sumringah setelah Gita mengangguk.
âUdah cepetan! Gue ga sabar mau merekam aksi panas lo sama dia!â
Tobi nampak kesenengan dan bergegas mendekati Andrea. Yang meronta kuat dalam hati, namun hanya lirihan saja yang keluar dari mulutnya.
Andrea memejamkan matanya, kala pria bernama Tobi itu semakin dekat padanya, bahkan sudah mau menaiki
ranjang dan mengukung tubuh Andrea dengan wajah yang nampak seperti serigala yang kelaparan.
Andrea menitikkan air matanya.
âAbaanngg..â
Namun tetap Andrea masih berusaha bangkit sekali lagi. Dan rasanya bisa. Andrea mulai merasakan tangannya. Lalu mengumpulkan lagi tenaganya mendorong kasar tubuh pria bernama Tobi itu dan membuat Gita seketika mendelik.
Ia langsung bergerak dengan cepat melihat Andrea yang berusaha bangkit meski masih  sempoyongan.
Sayangnya tubuh Andrea yang tak stabil itu dengan mudah dicengkram Gita meski Andrea berusaha berontak. âAmbil suntikan dilaci Tob!â
Perintah Gita dengan cepat pada Tobi yang langsung membuka sebuah laci didekat ranjang lalu dengan cepat
menusukkan jarum pada suntikan yang sudah ia raih ke leher Andrea.
âCewek sialan! Lo pikir lo bisa kabur hah?!â Pekik Gita.
âAbaanngg .. setelah ini Drea ga akan punya muka bertemu Abaanng.. hiks..â
Andrea melirih perih, ia benar â benar sudah berpikir hal yang paling buruk terjadi padanya sekarang. Jika itu terjadi, Andrea akan merasa benar â benar ternoda.
Rasanya tidak akan sanggup menanggungnya kelak.
Lalu perlahan, Andrea kembali hilang kesadaran.
âMaafkan Drea Abaanng..â
****
To be continue ....
__ADS_1