
# TERCELA #
Selamat membaca ...
*************************
“Kenapa tidak memaksa Nathan untuk bertanggung jawab? Jika kamu datang mendatangi kami, setidaknya kamu
tidak perlu sulit seperti selama ini”
“Aku tidak mau memaksa seseorang yang tidak siap menjadi ayah. Itu saja”
“Maaf ya, Kevia. Jika aku bertanya seperti itu. Maaf, bukan aku bermaksud untuk membuka luka lama kamu”
“Ga apa – apa”
“....”
“Andrea ya? Tadi nama kamu?”
“Iya ....”
“Ga apa – apa Andrea. Jangan khawatir. Aku ga tersinggung atau marah. Jika aku ada di posisi kamu, mungkin aku akan melakukan hal yang sama dengan kamu, jika aku memiliki kakak yang permasalahannya seperti Jo”
“Maaf ya Kevia.... atas nama Nathan aku minta maaf. Juga atas nama keluarga kami. Maaf, atas apa yang sudah
Nathan lakukan pada kamu”
“Ga apa kok. Tidak perlu minta maaf. Sudah aku lupakan soal itu”
“Kamu baik, Kevia”
“Kita baru bertemu loh, Andrea. Tau darimana aku baik?”
“Feeling aku....”
“Oh iya, tadi kamu bilang Kak Rendy sahabatnya suami kamu?”
“Iya”
“Kamu sudah menikah?. Sepertinya usia kamu sedikit dibawah aku?”
“Iya. Aku masih tujuh belas tahun. Baru lulus”
“Wow”
“....”
“Sorry, kamu menikah di usia ini, M B A?”
“....”
“Maaf ya, aku sedikit sulit berbasa – basi”
“Ga masalah kok, Kevia. Aku ga aneh dengan pertanyaan seperti itu”
“....”
“Aku bukan menikah karena M B A. Hanya murni memang menikah muda. Abang .... suami aku maksudnya, beserta keluargaku menyarankan aku dan suamiku menikah secepatnya dan aku mengiyakan”
“Hebat ya kamu? Diusia semuda ini sudah berani berkomitmen”
“Yah ga begitu juga sih, hanya memang tak ada lagi yang aku tunggu. Suamiku ga melarang aku untuk tetap kuliah dan mengejar cita – cita setelah menikah. Dia memperbolehkan aku melakukan apa saja yang kusuka. Dia juga mapan sudah, ya .... orang tuaku bilang mau nunggu apalagi. Hidup kami pun berkecukupan. Ya sudah, usulan menikah pun aku iyakan”
“Beruntung kamu”
“Aku mencintai suami aku, jadi tak terlalu ragu. Dia bisa meyakinkan aku kalau dia akan menjadi suami yang bertanggung jawab”
“Sangat beruntung malah”
“Biasa saja....”
“Suami kamu pastinya sangat mencintai kamu, sampai – sampai ga sabar tunggu kamu gede untuk dinikahi”
“Haha bisa saja kamu Kevia”
“....”
“Uumm Kevia. Maaf aku mau tanya lagi”
“Silahkan, tanya saja”
“Ngomong – ngomong kamu sendirian?”
“Iya, aku sendirian”
“Kamu kerja atau gimana?”
“Hmm anggap saja begitu. Kenapa memang?”
“Uummmm.... anak kamu, anak kamu dan Nathan, laki – laki atau perempuan?”
“....”
“Dia, kira – kira usia tiga tahunan ya sekarang? Kalau dia tidak sedang bersama kamu, dia dengan siapa? Kalau boleh, jika kamu mengijinkan, aku ingin bertemu. Dengan keponakan aku, jika kamu mengijinkannya aku panggil dia begitu”
“Tentu saja, aku pasti akan mengijinkan kamu menyebutnya begitu. Benar kira – kira umurnya tiga tahunan sekarang”
“Terima kasih....”
“Jika dia masih ada”
“???”
“Jadi aku tidak tahu dia laki – laki atau perempuan. Masih kecil sekali waktu itu. Masih dua minggu, terakhir, waktu itu. Sebelum....”
“Kamu... menggugurkan nya?...”
“.....”
“Karena Nathan lepas tanggung jawab, jadi kamu menggugurkan nya?”
“Engga, tadinya sempat berniat seperti itu, tapi aku urungkan”
__ADS_1
“Lalu?”
“Aku, ingin melahirkannya. Tak perduli nantinya seperti apa, meski Jo mau lepas tangan pun tak apa. Aku sudah berniat begitu. Tadinya ..”
“Tapi?”
“Tapi hari itu, janin di perutku yang masih berupa gumpalan darah itu keluar begitu saja”
“.....”
“Tak lama, setelah Jo memberikan aku obat yang dia bilang adalah Vitamin, tapi ternyata obat aborsi”
****
“Apa? Apa yang belum diceritakan semua?”
“Ngomong Nathan!. Apa lagi yang belum kamu ceritakan?. Jangan bilang ada Kevia – Kevia lain yang menjadi
korban kamu?! Jangan bilang ada lebih dari satu anak gadis yang sudah kamu rusak dan bukan hanya gadis itu yang punya anak dari kamu?! Ngomong! Nathan!”
“Kevia satu – satunya”
“Lalu? ....”
“Kevia memang hamil karena perbuatan kami .... anak aku....”
“Bicara langsung pada intinya, jangan berbelit – belit”
“Kevia hamil. Pernah.... tapi anak kami tidak pernah lahir”
“Jangan bilang....”
“Karena aku memaksa Kevia untuk menggugurkan, dan ya anak kami tidak pernah lahir ke dunia. Aku penyebabnya .... Aku memberi Kevia obat aborsi, tanpa ia sadari”
“NATHAANN!!....”
“JI!”
“MA!”
“JIHAN!”
“KAK!”
“SEBEJAT ITU KAMU JONATHAANNN??!!....”
“Iya, Ma .... Sebejat itu, memang, anak Mama....”
Jantung Daddy Jeff dan Mama Jihan seakan merosot tajam kebawah kaki mereka, setelah mendengar pengakuan
Nathan yang kedua. Fakta kalau Nathan sudah merusak seorang gadis hingga gadis itu hamil, lalu sang putra menolak bertanggung jawab saja sudah menghantam dada mereka dengan kerasnya.
Sesak, sakit sekali bahkan. Bak sebilah pisau tajam yang dengan sengaja ditusukkan ke jantung mereka hingga luka itu terasa begitu dalamnya.
Kini, fakta kedua menambah sakit dan perihnya luka di hati mereka. Kenyataan bahwa Nathan sukses membuat
‘hilang’ anaknya dengan sengaja, rasanya luka yang tadi ditusuk dalam – dalam itu kian dikoyak dengan kasarnya.
PLAK!
Satu tamparan kembali lagi sampai dipipi Nathan. Bukan dari sang Mama, kini sang Daddy yang menamparnya.
kebanggaannya dan Mama Jihan. Kini jangankan kebanggaan, Daddy Jeff begitu murka dan malu disaat yang bersamaan.
Kecewa Daddy Jeff terlalu besar, hingga kian menyempitkan rongganya untuk bernafas. Tak sangka, Nathan
sang Putra tercinta sanggup melakukan hal yang begitu rendah, dari sekedar bermain cinta bermandikan ***** dan gairah, menghasilkan janin, lalu Nathan ‘membunuhnya’ secara sadar.
Ya, sebejat itu putranya.
**
Nathan hanya membeku ditempatnya, setelah sang Daddy menamparnya. Menatapnya dengan mata yang berkaca – kaca, memandangi sang Putra, lalu mengusap kasar wajahnya.
“Dulu perilakuku begitu tercela. Bergonta – ganti wanita, hanya untuk kesenangan semata. Tak perduli akan dosa yang mungkin tak terhitung banyaknya, tak terukur besarnya. Tapi saat aku mengetahui fakta tentang kehadiranmu, Demi Tuhan betapa bahagianya aku, bahkan aku sempat geram pada Mamamu yang menyembunyikan mu dariku”
Daddy Jeff berkata dengan suaranya yang terdengar parau.
“Jika saat kau masih didalam kandungan dan mamamu datang padaku untuk sebuah pertanggung jawaban, aku bahkan mungkin tak akan berpikir panjang untuk menikahinya dengan segera. Tapi kau .... hanya melakukan satu dosa, yang kau tutupi dengan dosa yang lainnya. Aku sudah merasa diriku ini buruk, tapi kau .. bukan hanya sekedar buruk ... tak kusangka, putraku begitu rendahnya”
Sementara Mama Jihan kian luruh dalam tangisnya, menunduk dan memegangi dadanya. Sisanya hanya bungkam.
Demi Tuhan Varen dan yang lainnya sangat syok dengan semua fakta yang terkuak tentang Nathan dan aib yang
ia sembunyikan. Kecuali Andrea, dia sudah syok lebih dulu saat mendengar cerita dari mulut Kevia.
Andrea bungkam kini, sama seperti Varen dan yang lainnya. Semua yang ingin ia Nathan ungkapkan ke semua
orang di keluarganya, sudah kakak tak sedarahnya itu buka semua.
Ada lega dihati Andrea, entah kenapa. Rasanya tak rela dengan perbuatan Nathan pada Kevia. Bukan juga tega membuat Nathan jadi terpojok seperti ini, karena bagaimanapun Andrea menyayanginya, menyayangi Nathan, si Tan – Tan yang sering menjahili nya, tapi juga perhatian padanya.
Mereka semua terdiam, dengan hati yang masih berdegup kencang, namun degupnya seakan mengerikan. “Aku mau ke kamar” Itu Mama Jihan, yang berkata sembari berdiri dengan lesu dan memalingkan wajahnya.
“Mam....” Nathan hendak menghampirinya.
Namun Mama Jihan segera mengangkat satu tangannya. Membuat Nathan langsung terpaku ditempatnya.
“Maafkan aku Mam ..”
“Jeff ... temani aku”
Mama Jihan mengabaikan Nathan yang memohon padanya.
Daddy Jeff segera menghampiri sang istri yang terlihat begitu syok dan frustasi saat ini. Merengkuhnya dengan lembut, karena sang istri seakan tak bertenaga.
“Dad....” Panggilan lirih dengan air mata yang turun di pipi Nathan pada sang ayah yang raut wajahnya bercampur antara kecewa dan sedih seperti istrinya.
Kaki Daddy Jeff juga seakan lemas rasanya, tapi ia seorang pria. Yang sanggup menahan lukanya, meski luka
itu ditorehkan oleh sang putra tercinta. Daddy Jeff tak melengos kala Nathan melirih memanggilnya.
Nathan diabaikan, oleh kedua orang tuanya yang ia tahu sedang menelan perih kekecewaan yang begitu mendalam padanya. Sakitpun Nathan rasa.
Selain merasa sebagai seorang pengecut dan ba**ngan, atau laki – laki bejat seperti yang tadi Mama Jihan bilang, Nathan pun merasa gagal. Sebagai seorang anak yang seharusnya menjadi kebanggaan. “Maafkan – aku ...”
__ADS_1
Bahu Nathan bergetar kencang ditempatnya berdiri sekarang. Kedua orang tuanya tetap tak memperdulikan, terus
saja berjalan menjauhinya menuju ke kamar mereka.
“Nathan ....”
Itu nenek Yuna, yang menghampiri cucu kandung pertamanya. Membelai wajah sang cucu yang luruh dalam tangisnya, namun bergeming dari tempatnya.
Nathan menjatuhkan wajah di pundak sang nenek yang kemudian memeluknya dengan iba meski syok juga
melandanya.
****
“Mam, Dad...” Nathan menyambangi orang tuanya di kamar mereka. Perlahan masuk karena pintu kamar Daddy Jeff dan Mama Jihan tak dikunci.
Yang pemiliknya sedang duduk berdua diatas ranjang, ditatap sendu oleh Nathan. Mama Jihan kembali sedang
luruh dalam tangisnya, bersandar pada Daddy Jeff yang erat mendekapnya.
Mata Daddy yang biasanya tajam memandang kini pun nampak terbias oleh kilatan air yang menggenang disana.
Nathan berlutut dihadapan mereka. Tepat didepan dua pasang kaki yang menjuntai diatas lantai.
“Maafkan aku .. ampuni aku ....”
Nathan melirih dalam tangisnya. Menundukkan kepala dengan kedua tangan yang tertempel dipahanya. Sebesar
– besarnya kemarahan dan kecewanya Daddy Jeff dan Mama Jihan sebagai orang tua, namun tetap saja, saat melihat putra mereka bersikap seperti itu sekarang, rasa tak tega itu ada.
Ingin mengacuhkan, namun Nathan juga nampak hancur, terlihat jelas betapa ia diselimuti berjuta penyesalan. Sikapnya original, bukan buatan. Tangisannya tak terdengar seperti sandiwara.
Isakan Nathan terasa menyayat hati dua orang tua yang kini sedang menatap sang putra. Hingga kemudian Mama Jihan berkata.
“Semua itu jangan kamu katakan dan pinta pada kami, Nathan....”
Nathan perlahan mengangkat kepalanya.
“Ampunan kamu minta pada Tuhan.... Maaf kamu minta pada Kevia ....”
Nathan mengangguk lemah. “Iya ....” Ucapnya dengan parau pada suara.
Dua orang tua yang ada dihadapan Nathan terdengar menghela dengan panjang dan berat nafas mereka. Kembali
menatap putranya.
“Ada berapa adik perempuan yang kau punya disini?. Selain Andrea, ada Mika, Alisha dan Aina. Bahkan Val dan Adrieanna. Jika salah satu dari mereka diperlakukan sama seperti apa yang sudah kau lakukan pada putrinya Mustafa, apa yang akan kau lakukan, hem?”
Daddy Jeff bersuara seraya bertanya.
Nathan tak mampu menjawab pertanyaan menohok dari Daddynya.
Daddy Jeff mendengus kemudian.
“Jika kelak kau menikah, memiliki putri yang kemudian disakiti seperti kau menyakiti putrinya Mustafa, bagaimana perasaanmu?”
Lagi – lagi pertanyaan menohok dari Daddy Jeff yang tak bisa dijawab Nathan.
“Keburukanku, mengapa harus kau ikuti, my Boy?. Sampai detik ini pun masih menyisakan penyesalan, terlebih saat Aina lahir. Karena aku pernah menggampangkan wanita. Bukan suatu kebanggaan untuk kau jadikan contoh nyata!....”
Daddy Jeff mendengus lagi, menjeda ucapannya.
“Lalu kau berpikir, dengan kau meniru kelakuan burukku pada wanita, dengan mudahnya kau akan bilang,
ayahku pun begitu. Iya? Seperti itu? Hingga kau sanggup melakukan apa yang sudah kau lakukan pada gadis itu?!”
Nathan pun menggeleng cepat.
“Engga Dad, ga seperti itu. Aku tak pernah berpikir sampai kesitu. Yang aku lakukan pada Kevia, memang murni kesalahanku”
“Kamu tahu, meski tanpa suami Mama memiliki kamu, betapa bahagianya Mama kala itu. Tapi sekarang.. Demi
Tuhan Nathan .. tebuslah kesalahanmu entah dengan cara bagaimana .. jangan buat Mama merasa menyesal melahirkanmu ..”
Nathan tercekat seketika. Teremat kuat hatinya. “Maaf, .... Ma ....” Hanya itu yang bisa Nathan katakan. Hanya satu kata itu, Maaf. Yang rasanya tak akan pernah cukup untuk menebus kesalahannya.
“Seberapa besar penyesalanmu?”
Daddy Jeff sekali lagi bertanya.
“Jika memang ada kesempatan dan maaf yang harus ku tebus dengan nyawaku, maka akan kuberikan dengan
sukarela”
****
Dari Nathan untuk Daddy dan Mama:
Maaf, jika aku begitu mengecewakan. Terlalu mengecewakan, dan benar aku begitu bejat dan rendahan. Tapi
aku menyesal, bukan aku tak pernah memikirkan, meski seakan terlihat mengabaikan.
Sebelum kalian, kekecewaan itu sudah aku rasakan lebih dulu. Akupun malu pada diriku, yang se-pengecut dan
se-bejat itu. Jika bisa kuputar waktu, Demi Tuhan semua akan ku perbaiki dari awal.
Tahu, itu tak mungkin memang. Waktu yang berlalu tak mungkin dapat diulang lagi.
Tapi tolong, bantu aku saat ini. Aku ingin memperbaiki diri. Tangan kalian yang merangkulku selama ini, aku mohon .... jangan dilepaskan....
Jika kalian memintaku mengiris nadi, maka akan aku lakukan tanpa berpikir lagi.
****
To be continue ...
Sampe sini, mohon maap kalo masih ada typo dsb ye ...
Makasih masih setia. Mohon maap kalo ga sempet bales komen – komen kalian. Tapi tetep emak baca.
*Makasih untuk setiap dukungan hingga episode ini. Lencana Sertifikasi emak pun udah naik ke level Platinum. Alhamdulillah, berkat dukungan kalian semua. Padahal ga tau juga tuh penilaiannya seperti apa bisa naik itu**batch**emak sebagai Author dari Gold ke Platinum.*
Yang jelas emak bahagia, haha ...
Sekali lagi, makasih dukungannya pada karya ini dan karya – karya remahan gorengan emak lainnya.
__ADS_1
Loph Loph
Noted: Episode selanjutnya mungkin plotnya maju mundur keseleo.