
# KETULUSAN #
Selamat membaca ..
**********************
Jakarta, Indonesia
“Drea..” Mama Jihan datang dengan sepiring dimsum yang baru dibuatnya, menghampiri Andrea yang sedang duduk di ayunan pada teras halaman belakang Kediaman Utama sambil memangku laptopnya seperti sedang serius membaca sesuatu.
“Iya Mam?.”
“Cobain nih.” Mama Jihan menunjukkan dimsum buatannya yang nampak seperti baru matang itu.
“Wow Dimsum!.” Andrea nampak sumringah, lalu menutup laptopnya dan meletakkannya dimeja. “Mama Bear yang
buat ini?. Apa beli yang frozen?.”
“Buat dong. Mama Bear gitu loh.....” Sahut Jihan yang kemudian duduk di bangku santai samping ayunan dan Andrea berpindah duduk ke sampingnya. “Bentar yah, nanti Mina bawakan piring kecil dan sumpitnya. Dan tak berapa lama seorang asisten rumah tangga datang dengan membawa nampan berisikan dua piring kecil dan dua pasang sumpit berikut minuman segar.
“Kamu ada tugas sekolah?.”
“Ada, tapi sudah selesai aku kerjakan. Ini Cuma cek email dari salah satu Brand yang pernah jadi sponsor endorsement aku waktu di London dan mereka meminta aku jadi duta resmi produk mereka sekarang. Bukan lagi endorsement yang seperti biasa.” Sahut Andrea.
Jihan yang kini nampak sumringah.
“Waaa.... hebat dong itu sih. Keren deh anaknya Momma Kajolita, persis seperti ibunya...” Ucap Mama Jihan.
“Ah biasa aja....” Sahut Andrea sambil mengangkat kerah kaos dan Mama Jihan yang hanya sedang berdua dengan Andrea di teras halaman belakang saat ini pun terkekeh.
Mereka yang menetap selain di Kediaman Utama yang berada di Jakarta sudah berada di tempatnya masing – masing. Dan orang – orang yang menempati rumah utama termasuk Mama Jihan berikut Daddy Jeff dan dua anak mereka juga Nenek Yuna, kini sudah menetap disana. Rumah pribadi mereka disewakan, dan akan diberikan pada Nathan jika ia menikah kelak.
Saat ini sebagian besar mereka yang menetap di Kediaman Utama yang berada di Jakarta sedang ada kesibukan di luar rumah bahkan di luar negeri. Dan para krucil yang tinggal di Kediaman Utama sedang bermain bersama pengasuh mereka.
“Lagipula belum tahu nanti dibolehkan atau tidak oleh Poppa...”
Andrea memasukkan satu Dimsum utuh kedalam mulutnya yang tipis tapi bisa otomatis melebar elastis saat makan.
“Bukannya Poppa sudah santai sama kamu sekarang? .... Sudah tidak terlalu ketat kan?.”
Andrea mengangguk, sembari mengunyah Dimsum udang yang sudah berada dimulutnya.
“Ya tetap saja, kalau yang berhubungan dengan sorotan publik yang terlalu – lalu bisa jadi tidak boleh sama Poppa. Keluarga ini kan tidak suka publisitas yang berlebihan. Bahkan kita terkenal di London pun, pihak media sana mana ada yang pernah mengangkat kehidupan pribadi keluarga kita, meski banyak orang yang penasaran.”
Mama Jihan pun manggut – manggut.
“Kalau Gappa dan all of my daddies (semua ayahku) tidak menekan media disana atau media manapun yang mau
mengusik keluarga ini, bisa jadi keluarga kita sepopuler keluarga kerajaan ..... dengan Paparazi yang selalu mengintai keluarga ini.”
“Iya juga sih.”
“Daddy Jeff kapan mau kembali dari Italy?.”
“Lusa sepertinya.”
Andrea manggut – manggut sambil mencomot lagi satu Dimsum yang kemudia ia lahap bulat – bulat seperti yang pertama.
“Drea...”
“Iya Mama Bear...”
“Apa ada yang sedang mengganggu pikiran Drea?. Mama perhatikan Drea sering melamun sejak pulang dari Massachusetts.”
“Engga ada apa – apa kok Mom ..” Sahut Andrea.
“Yah kalau ada yang sedang mengganggu pikiran Drea, kamu bisa berbagi dengan Mama. Siapa tahu bebannya sedikit hilang, yah meski Mama ini bukan Momma ...”
Andrea tersenyum.
“Mama Bear nih, buat aku Mama Bear, Momma dan semua Mommies di keluarga kita itu sama berartinya buat aku. Jadi keberadaan Mama Bear dan Mami disini juga aku rasa cukup.”
Gantian Mama Jihan yang tersenyum.
“Makasih ya ..”
“Sama – sama Mama Bear... aku yang makasih justru, karena Mama Bear selalu sabar dan menyayangi aku
dengan tulus sejak kecil. Bahkan Momma saja kalah sabarnya sama Mama Bear. Kadang malah lebih seperti ibu tiri si Momma tuh kalau lagi mengomel.”
Jihan dan Andrea pun terkekeh dan menghabiskan sore mereka berdua, hingga orang – orang yang sibuk diluar kembali ke Kediaman.
***
Hari menjelang senja
__ADS_1
“Assalamu’alaikum adik Abang yang sudah besar ..” Varen dan Andrea terhubung dalam panggilan video.
Andrea pun terkekeh kecil. “Wa’alaikumsalam Abang ...”
“Sedang apa?.”
“Baru aja masuk kamar, habis mengobrol dengan Mama Bear tadi berdua. Sepi disini soalnya.” Sahut Andrea.
“Huuumm..”
“Abang ga kerja?.” Tanya Andrea.
“Kerja, ini mau siap – siap. Tapi sempatkan untuk menghubungi kamu dulu, kan sudah dua hari kita hanya berkomunikasi via pesan.” Ucap Varen.
“Habis Bapak Direktur sibuk sih!.”
“Nyindir nih ye.” Celetuk Varen sembari terkekeh kecil, Andrea pun sama. “Eh iya tapi Abang juga ga bisa hubungi lama – lama. Ada meeting pagi ini soalnya.”
“Tuh kan Bapak Direktur super sibuk.”
Varen tersenyum di layar ponsel.
“Maaf ya...”
Andrea mengangguk dengan tersenyum juga.
“Ga apa – apa kok Bang, Drea paham.”
“Nanti kalau selesai meetingnya cepat, Abang hubungi Drea lagi ya?. Kalau memang tidak sempat, besok Abang hubungi kan sabtu tuh, nah bisa ngobrol sama kamu lama – lama.”
“Jangan dipaksakan Bang. Kita masih bisa komunikasi via chat kan?. Lagian Abang ga bosen apa ngobrol sama Drea lagi, Drea lagi?.”
Varen mengangkat satu alisnya.
“Coba ulang tadi Drea tanya apa?.”
“Iya, memang Abang ga bosen apa ngobrol sama Drea lagi, Drea lagi?.”
Varen terkekeh. “Nanti kalau Abang ga kasih kabar satu hari, kamu ngambek?. Nanti bilang ‘ga kenal tuh sama yang namanya Abang!’ Hayo?...”
“Engga Bang, Drea ga akan seperti itu lagi. Drea janji, ga akan mengekang kebebasan Abang lagi dengan keegoisan Drea...”
***
“Jangan sampai dia menahan kebahagiaannya sendiri, karena dia takut kamu terluka kalau dia jauh dari kamu. Tapi kan kamu sekarang sudah besar ya?. Ga mungkin kan ya kamu seegois saat kamu kecil pada Alvarend?.”
“Itu bukan keegoisan sih menurut aku. Itu bentuk rasa sayang aku pada Abang Varen.”
---
“Kalau kamu memang menyayangi Alvarend seperti yang kamu bilang, seharusnya kamu memberikan dia kebebasan. Kakak kamu itu berhak bahagia, berhak menjalani hidupnya dengan normal tanpa bayang – bayang tanggung jawabnya terhadap kamu.”
---
“Jika memang benar kamu sangat menyayanginya, berikan dia kesempatan untuk meraih kebahagiaannya sendiri. Apa kamu ga kasihan pada Alvarend yang harus selalu kepikiran untuk menelpon kamu setiap waktu?.”
---
“Kamu hampir tujuh belas tahun jika aku tidak salah, sebentar lagi mungkin akan lulus sekolah dan kuliah. Jadi kurasa sudah saatnya kamu berpikir dan bersikap dewasa, Andrea. Dan setahu aku, kalian yang berdarah campuran pikiran kalian biasanya sudah jauh lebih dewasa daripada umur kalian.”
---
“Keposesifan kamu itu, adalah bentuk keegoisan dan kenaifan kamu terhadap Alvarend. Dan menurutku, sikap kamu itu keterlaluan dengan tidak membiarkannya memiliki ruang untuk kehidupannya terlepas dari kamu. Alvarend punya masa depan Andrea, jangan sampai manja kamu yang berlebihan itu jadi penghalang baginya.”
---
“Dan lagi rasanya diumur kamu sekarang, sudah tak pantas selalu menggelayuti Alvarend sebagaimana halnya sikap kamu pada dia selama ini. Bisa saja Alvarend sudah memiliki seseorang yang ia suka, tapi karena kamu, dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri.”
***
“Nanti kalau Abang ga kasih kabar satu hari, kamu ngambek?. Nanti bilang ‘ga kenal tuh sama yang namanya Abang!’ Hayo?...”
“Engga Bang, Drea ga akan seperti itu lagi. Drea janji, ga akan mengekang kebebasan Abang lagi dengan keegoisan Drea...”
Varen memfokuskan pandangannya pada Andrea dilayar ponsel. Andrea tersenyum.
“Maksud Drea?.”
“Maafin Drea ya Bang?.”
“Untuk?.”
“Keegoisan Drea, yang membelenggu langkah Abang.”
“Abang ga merasa seperti itu Drea. Kok Drea berpikir seperti itu?.”
“Memang seperti itu Bang, dan Drea sudah benar – benar sadar diri akan keegoisan Drea sama Abang, hidup Abang, bahkan pergaulan Abang. Dan Drea merasa bersalah untuk itu. Maafin Drea ya Bang?.”
“Kamu tidak perlu minta maaf, Drea. Semua itu atas keinginan Abang sendiri, bukan kamu yang memaksa ..” Ucap Varen serius.
__ADS_1
“Makasih ya Bang.” Andrea menunjukkan senyumnya. “Makasih sudah sabar sama Drea selama hampir tujuh belas
tahun ini.”
“Drea, Abang ga suka kamu seperti ini ah. Apa – apaan sih, pakai bicara seperti itu?.”
Andrea menunjukkan senyumnya lagi.
“Abang, mulai sekarang, Drea bebaskan Abang, Drea ga mau lagi mengekang kebebasan pribadi Abang. Drea sayang Abang, seperti halnya Abang yang selalu ingin lihat Drea bahagia, Drea juga mau Abang bahagia.”
“Drea ...”
“Abang jangan lagi memikirkan Drea akan merajuk kalau Abang ga sempat menghubungi Drea, ya?. Drea ga akan merajuk lagi soal itu. Janji. Abang jangan lagi terlalu fokus pada Drea, Abang sudah seharusnya memikirkan kehidupan pribadi Abang juga, iya kan?.”
“Drea kenapa sih, hem?.”
“Ya ga apa – apa, seperti yang Drea bilang tadi. Sudah cukup Bang, hampir tujuh belas tahun Drea nyusahin Abang. Iya kan?. Bohong kalau Abang ga mengeluh dibelakang Drea, pasti pernah mengeluh kan sama sikap Drea selama ini?. Hayo ngaku?..”
Andrea menunjukkan sikap cerianya pada Varen sambil juga mengangkat telunjuknya.
“Sok tahu..”
“🎵Pergilah Abang, kejarlah keinginanmu..🎵 ..” Andrea menyenandungkan sepotong kalimat dari sebuah lagu, kemudian ia cengengesan. “Yah walaupun suara Drea ga sebagus Momma, tapi lumayan kan ya?.”
Varen hanya tersenyum saja sambil memandangi Andrea yang menunjukkan sikap cerianya pada Varen di layar
ponsel.
“Semua yang Drea katakan sama Abang tadi, itu tuulus dari dasar hati Drea. Jadi Abang jangan terlalu terpaku sama Drea lagi ya?. Satu, Drea sudah besar. Dua, Drea kan jago berkelahi, bisalah jaga diri. Hehehe...”
Varen kembali hanya menunjukkan senyumnya.
“Ya udah gih sana kerja. Jadi lama kan tuh ngobrolnya. Nanti terlambat meeting loh!. Drea matikan dulu ya?.”
“Ya sudah.”
“Tapi Abang tetap harus datang bawa kado lo ulang tahun Drea nanti.”
“Iya. Abang ga akan lupa.”
“Ya udah ya?. “
“Iya..”
“Bye, Assalamu’alaikum.”
“Wa...”
Klik!
‘Sayang Abang...’
***
“Lo sakit Drea?.” Arya sedang pergi menemani Andrea sabtu ini.
“Engga Kak.”
“Tumben banyak diem nya?. Mau kemana lagi setelah dari sini?.”
“Pulang aja deh, udah agak malam juga.”
“Okay, Nona Manis.” Sahut Arya sembari membukakan pintu mobilnya untuk Andrea. “Silahkan Nona Miracle Andrea..”
“Dasar.” Celetuk Andrea sembari tersenyum pada Arya yang agak – agak lebay saat ini yang juga cengengesan.
“Drea..”
“Hum? ..”
“Lo beneran lagi ga ada masalah?.” Tanya Arya setelah mereka sudah berada didalam mobil milik Arya yang ia kemudikan sendiri. “Akhir – akhir ini lo kayaknya suka murung gue perhatiin.” Ucap Arya memandang pada Andrea, namun belum menyalakan mesin mobilnya.
“Gue ga apa – apa Kak Arya.”
“Cerita sama gue kalau lo ada masalah. Mungkin gue bisa kasih solusi.”
“Iya Kak Arya, makasih.”
“Lagipula .. “
“Apa?.” Tanya Andrea.
“Lagipula gue ingin jadi seseorang sebagai tempat lo bersandar. Gue.. sayang sama lo Andrea.. bahkan gue rasa, gue jatuh cinta sama lo.” Arya yang belum memakai sabuk pengamannya itu memiringkan duduknya menghadap Andrea dan mencondongkan wajahnya sedikit lebih dekat pada Andrea.
“Kak ..”
“Ijinkan gue Drea, untuk selalu berada disisi lo mulai dari sekarang. Lebih dari sekedar teman..”
***
__ADS_1
To be continue ...