
STRAIN -Ketegangan
Selamat membaca..
“Halo Little Star” Varen menghubungi Andrea saat ia dan Nathan masih dalam perjalanan menuju panti setelah menghubungi salah satu pengawal pribadi yang bersama Momma dan Mommy Ara.
“......”
“Sudah selesai kuliahnya?”
“......”
“Aku mungkin akan pulang malam. Drea langsung kembali ke Kediaman ya?”
“......”
“Engga sih, aku mau ke Panti ada informasi dari Dara”
“......”
“Sama Tan – Tan”
“......”
“Sa-yang Drea”
****
Sementara itu dilain tempat
CKIITT!!! ..
Okky, pengawal pribadi yang menyetir di mobil yang ditumpangi Momma dan Mommy Ara tiba – tiba mengerem dengan mendadak.
“OKKY!!!”
‘Eh?’
Momma menyadari sesuatu dari balik kaca mobil depan.
“VIA!!”
Momma berseru kencang melihat apa yang terjadi didepannya dari balik kaca mobil. Mommy Ara pun spontan melongokkan kepalanya dengan wajah yang kaget.
Momma dan Mommy Ara langsung bergegas hendak keluar dari mobil dengan segera. “Tunggu didalam mobil Nyonya!”
Teguh keburu bersuara dan keluar dari mobil bersama Okky untuk menahan Kevia yang dibawa paksa keluar dari mobil setelah mobil yang ditumpangi Kevia bersama Mama Jihan nampak dihimpit hingga terpaksa berhenti lalu empat orang keluar dari dalam mobil yang langsung menodongkan pistol mereka disetiap sisi mobil hingga membuat tiga orang yang bersama Kevia tak berkutik.
Jalanan yang tak seberapa jauh dari Panti milik Marsha itu memang tergolong sepi karena Panti tersebut memang di dirikan agak jauh dari perkotaan demi untuk ketenangan para penghuni Panti.
Namun saat Teguh dan Okky yang sudah bergerak cepat itu, mobil yang tadi menyalip langsung mundur dan mencoba menabrak kedua pengawal pribadi tersebut yang dengan cepat menghindar, namun tetap mereka tersungkur karena sempat tersenggol mobil yang tadi menyalip yang kemudian bergerak melaju tergesa.
“PINDAH DEPAN KAK ARA! ATAU KAK ARA MAU NEMENIN JIHAN?!”
“AKU IKUT KAMU!”
“NYONYA!”
Momma yang bergegas dengan cepat ke bangku kemudi itu berseru kencang pada Mommy Ara yang sigap pindah
seperti dirinya. Sementara Teguh dan Okky berseru kencang melihat salah satu Nyonya mereka sudah mengambil alih mobil yang tadi dikendarai Okky dan langsung bergerak, karena Okky meninggalkan mobil masih menyala.
Dan Nyonya yang satunya sudah juga duduk di kursi penumpang depan.
“Nyonya! Biar kami yang mengejarnya!” Teguh sudah menghampiri tergesa disamping mobil yang Momma buka kacanya. Wajah pengawal pribadi itu tegang sama seperti Okky.
Momma berbicara dengan cepat sambil menggerakkan tuas rem tangan yang kemudian ia turunkan.
“Kalian pastikan Nyonya Jihan pulang dengan selamat dan urus mobil yang menyalip tadi jika aku bisa menggulingkan nya!”
“Ta – Tapi Nyo – nya ...”
“Sudah awas!!”
“.........”
“NYONYA!!!...” Teguh dan Okky spontan berteriak saat Momma sudah dengan cepat melajukan mobil yang tadi dikendarai Okky.
‘Tadi Nyonya Fania bilang menggulingkan mobil yang tadi menyalip ...??’
Teguh dan Okky kurang lebih membatin dengan pertanyaan yang sama dalam hati mereka.
“Gimana ni Guh?!”
Okky bertanya sambil berlari menghampiri mobil yang tadi ditumpangi Mama Jihan dan Kevia sebelum Kevia diambil paksa oleh beberapa orang bersama Teguh.
“Gue juga bingung! Kita ikuti aja yang Nyonya Fania bilang tadi! Bantu amankan Nyonya Jihan dulu”
Okky mengangguk dan langsung menanyakan kondisi Mama Jihan sambil mengatakan apa yang Momma bilang pada Mama Jihan yang sudah menangis panik dan ketakutan soal Kevia. Tubuh Mama Jihan bahkan sampai gemetar hebat.
“Nyonya Jihan, Meissa dan....”
Ckiiitttt ..
Brugggg ..
Teguh tidak sampai meneruskan kata – katanya karena suara seperti deritan ban dan benturan terdengar dari kejauhan.
Teguh dan ketiga rekannya langsung berlari sedikit ke depan untuk lebih melihat sumber dari suara yang mereka dengar itu dengan jantung yang dug – dug an takut kalau itu mobil yang dikendarai oleh salah satu Nyonya mereka.
“Guh itu kan..” Okky rasanya tidak percaya saat melihat sumber suara dari mobil yang terbalik itu adalah suara dari mobil yang tadi menyalip mereka. Ternyata Nyonya dari salah satu Tuan yang sangat ditakuti itu membuktikan kata – katanya.
“SA! JAGA NYONYA JIHAN!”
Teriak Teguh lalu berlari ke arah mobil yang ia dan Okky kenali sebagai mobil yang tadi tiba – tiba menyalip mereka.
Teguh, Okky dan satu bodyguard yang bersama Meissa menyiapkan senjata mereka dan bersikap waspada untuk mendekati mobil yang sudah berguling dan berhenti dalam keadaan terbalik di sebuah ladang rerumputan.
***
“PINDAH DEPAN KAK ARA! ATAU KAK ARA MAU NEMENIN JIHAN?!”
“AKU IKUT KAMU!”
“NYONYA!”
***
“Nyonya! Biar kami yang mengejarnya!”
“Kalian pastikan Nyonya Jihan pulang dengan selamat dan urus mobil yang menyalip tadi jika aku bisa menggulingkan nya!”
“Ta – Tapi Nyo – nya ...”
“Sudah awas!!”
Momma menggerakkan tuas persneling dengan cepat dengan tangan kirinya dan kakinya sudah dengan cepat juga menginjak pedal gas untuk mengejar dua mobil didepannya.
“Kak Ara hubungi Jihan bilang dia suruh tenang dan balik bareng Meissa!”
“Okay!”
“Gue beresin ini mobil depan dulu” Momma memperdalam injakan di pedal gas. “Pegangan Kak Ara!”
DUAK!
Momma menabrakkan bodi depan mobil yang ia kendarai ke bagian belakang mobil yang ada didepannya itu, yang
ia ketahui sebagai mobil yang sepertinya memang sengaja menyalip didepan mobil yang ditumpanginya tadi.
Toh memang iya, karena saat Teguh dan Okky keluar dari mobil mereka, mobil yang menyalip itu kemudian tancap gas dan hendak menabrak Teguh dan Okky.
DUAK!
Momma sekali lagi menghantamkan body mobil depan yang ia kendarai ke body belakang mobil didepannya.
Momma mengganti gigi persneling dengan cepat dan memutar setir ke arah kanan lalu dengan sangat cepat Momma sudah memposisikan mobilnya disamping mobil yang menyalip tadi yang dirasa adalah bagian dari empat orang yang bersenjata tadi.
__ADS_1
“Kamu mau apa Sweety?!”
“Menghentikan satu ini supaya Teguh sama Okky bisa mengurus dan mencari informasi dari mereka!”
DUAK!
Momma menghimpit mobil tersebut.
Tidak terlihat ada siapa di dalam mobil yang sedang dipepet oleh mobil yang dikendarai Momma itu karena kaca mobil sedikit gelap.
Namun sepertinya mereka yang ada didalam mobil itu dan entah ada berapa orang didalamnya tidak bersenjata, karena mata Momma dan Mommy Ara yang mengawasi jendela mobil tidak melihat mereka menurunkan kaca mobil yang tetap tertutup rapat itu.
Momma terus menghimpit mobil yang masih bertahan di disisi kanannya, namun sepertinya pengemudinya sudah
panik dan Momma sangat bisa merasakannya.
Momma sempat memperhatikan jalanan sekitar saat mereka mengarah ke Panti milik Marsha.
Tangan kiri Momma sudah lagi bergerak cepat di tuas persneling dan kakinya sudah bermain di pedal gas dan kopling. Memutar kemudinya kearah kiri.
Lagi, tangan dan kaki Momma seperti sudah paham fungsinya masing – masing meski mata si pemilik terus pada
mobil yang tadi ia himpit.
“Pegangan Kak Ara!”
Mommy Ara sigap pada setiap ucapan Momma dan ia pun langsung berpegangan pada pegangan yang ada diatas kiri sisinya.
DUAKKKK!!!
Momma membanting stirnya ke kanan dan menabrakkan dengan keras mobil disisi kanannya saat sudah mencapai
sebuah ladang rerumputan. Dan tepat perkiraan Momma, pengemudi mobil tersebut hanya tahu soal mengendarai mobil saja.
“Makan Tuh!!” Gumam Momma.
Momma lalu kembali lagi menginjak pedal gas dan kopling sambil tangannya bermain lagi di tuas persneling setelah ia melirik mobil yang ia hantam dari kiri itu kemudian oleng dan terbalik ke lahan rerumputan.
“Kemana mobil yang bawa Via?!”
“Itu Sweety!!” Mommy Ara menunjuk ke satu arah yang membelah.
Momma mengangguk dan langsung memutar setir mobil menuju arah yang ditunjuk Mommy Ara.
****
R Corporation, Jakarta, Indonesia
“Gue dan John sudah bicara dengan Rico dan Sean. Kalau Sean bilang dia sedang menangani case soal Human Trafficking dari beberapa tahun lalu, dari sejak Arya masih hidup sampai ia kemudian meninggal saat menangani hal itu”
Poppa sudah bersama Daddy R dan Papi di R Corp. Daddy Jeff dan Daddy Dewa juga ada bersama ketiganya.
“Sean pikir mereka sudah menangkap Bos Besar mereka di sini, karena masalah Human Trafficking disini sempat redam setelah kematian Arya. Tapi ternyata dua tahun terakhir muncul lagi, dan kali ini mereka lebih bersih dalam menjalankan bisnisnya”
“Lo kasih tahu Rico dan Sean soal perempuan itu?”
“Sudah”
“Lalu dia bilang apa?”
“Rico dan Sean akan menyelidikinya. Tapi Rico bilang ini perempuan, selama ini citranya bagus di publik politik negeri ini dan dimata masyarakat sini” Sahut Papi.
“Yang terlalu terlihat bersih biasanya kotor aslinya, bukan?”
“Heemm. Dia terlalu bersih, membuatku gatal ingin mengulitinya”
“Hahahaha!!!” Empat Daddy yang masih hot diusia mereka yang sangat matang itu pun terbahak setelah mendengar Poppa berucap.
“Lalu kau sudah mengkonfirmasi pada Anoushka tentang hubungan wanita itu dengannya, R?”
“Aku meminta Vla yang mengurus germo satu itu” Jawab Daddy R. “Vla akan segera menghubungiku setelah ia mendapatkan semua informasi dari Anoushka tentang perempuan bernama Jessy itu”
Poppa dan tiga Dads lainnya manggut – manggut.
“Ya sudah sambil menunggu info dari Vla dan orang – orang kita maupun orang – orangnya Abang, kita ngopi dulu lah ...” Celetuk Daddy Dewa.
“Kalian sajalah. Gue janji mau susul Little F kalau urusan gue sudah selesai”
“Iya sih, memang. Tapi gue sudah janji sama dia”
“Ck! Halah! Memang lo aja yang ingin deketan melulu sama si Naomy”
“Istri tercinta gue”
“Yang bilang istri orang siapa?!”
“Lagian yang punya istri tercinta bukan lo doang, Drew!”
“Tau, udah tua bucin ga ilang – ilang!”
“Macam lo dan kalian semua tidak!”
“Hahaha ...” Empat orang Dads selain Poppa itu kembali terbahak dan si Poppa terkekeh.
“Ya sudah gue hubungi Little F dulu”
Suara deringan ponsel Daddy Jeff terdengar.
“Ha- ...”
“JEEE-FF! ...” Namun belum sempat Daddy Jeff melanjutkan sapaannya suara Mama Jihan sudah terdengar berteriak kencang dan terdengar juga seperti menangis.
Poppa, Daddy R, Papi dan Daddy Dewa mendengar suara teriakan Mama Jihan dan wajah mereka pun kompak panik.
“Ji!!! ada apa???!!!!”
Daddy Jeff segera bangkit dan langsung menyalakan loud speaker karena Daddy R sudah mengkodenya barusan.
“Ka – kami disergap Jeeeeffff ... dan mereka menculik Via! ...”
“APA?!”
“Me-mereka menodong kami dengan senjata ...”
“APA KALIAN TERLUKA?!” Poppa langsung mengambil ponsel Daddy Jeff dan bertanya dengan panik. FANIA! BAGAIMANA DIA?!”
“Eng-engga aku terluka .... kami ga terluka ... mereka hanya membawa Via ... tapi ...”
“Tapi apa Ji?!”
“Fania dan Kak Ara mengejar mereka yang menculik Via dengan mobilnya Okky...”
“APA?!”
“Dua orang komplotan mereka sudah berhasil diamankan Teguh, Okky dan Hasan ...”
“Gue cek titik GPS ponsel Fania!”
Poppa memberikan kembali ponsel Daddy Jeff pada siempunya lalu dengan cepat meraih ponselnya sendiri untuk mencari tahu posisi Momma.
“Tenang Ji ... kamu dimana ...”
Daddy Jeff me non aktifkan speaker dan berbicara dengan Mama Jihan secara pribadi sementara Poppa dan tiga
lainnya sudah sibuk dengan ponselnya masing – masing.
“Mereka masih disekitar Bogor!” Ucap Poppa sambil menatap ponselnya lalu bergerak melesat dari ruangan Daddy R.
Daddy Jeff sudah lebih dulu keluar dari ruangan Daddy R dengan cepat. “CK!”
Daddy R berdecak dengan wajahnya yang sudah cemas.
“Ara tidak mengangkat telponnya!”
“Gue sudah menghubungi Teguh dan dia confirm ada dua orang yang berhasil dia, Okky dan Hasan amankan. Sekarang sedang menunggu orang yang ditempatkan Abang untuk mengawasi Panti menyusul mereka”
“Jangan bawa pada polisi! Lo berdua urus dua orang itu!”
Poppa menurunkan titah pada Papi dan Daddy Dewa.
__ADS_1
“Okay!”
“Lo terus hubungi Ara, R! Little F ga mungkin bisa gue hubungi sekarang!” Poppa tahu kalau Momma pasti yang menguasai kemudi.
“BERANI SEKALI!!”
Daddy R memukul dinding samping lift dengan rasa sangat geram pada orang yang sudah berani mengusik keluarga mereka.
***
Kampus Andrea...
“Ah!”
“Ada apa Nona?”
“Binder Note aku ada yang ketinggalan”
“.........”
“Ini pegangkan tas aku. Kamu tunggu sebentar disini aku mau kembali ke kelas dulu”
“Biar saya saja yang ambilkan. Nona masuk saja ke mobil”
“Tolong ya, Niki”
“Tugas saya Nona”
‘Eh itu kan?’
“Jadi kamu kuliah disini?”
‘Dia...’ Andrea terkejut dengan orang yang sedang berbicara padanya itu namun Andrea tidak menunjukkan
keterkejutannya secara langsung.
“Kebetulan sekali ya?”
“Terus?!”
“Apa kamu masih mengingatku?!”
“Orang ga penting! Buat apa aku ingat – ingat!”
“Haha!!! Kamu lucu ...”
‘Gila!’
“Aku ...”
“Nona!”
‘Haahh untunglah Niki cepat kembali...’
Niki sudah berada di dekat Andrea sembari menatap tajam pria yang sedang bersama Nona Muda Utamanya itu.
“Apa dia mengganggumu, Nona?” Tanya Niki pada Andrea.
“Sudah! Abaikan saja! Ga penting! Ayo kita pulang!”
Andrea langsung masuk ke dalam mobil lalu diikuti oleh Niki yang sempat melirik sinis pada pria yang menyunggingkan senyum miring di wajahnya.
Lalu Niki segera menyalakan mesin mobil untuk keluar dari area parkir Kampus Andrea.
***
“Halo Little Star”
“Halo Bebeb Abang”
“Sudah selesai kuliahnya?”
“Sudah. Ini sudah di jalan pulang sama Niki”
“Aku mungkin akan pulang malam. Drea langsung kembali ke Kediaman ya?”
“Iya Abang. Abang sedang banyak kerjaan ya?”
“Engga sih, aku mau ke Panti ada informasi dari Dara”
“Mudah – mudahan bisa segera mendapatkan bukti kejahatan mereka ya. By the way Abang sama siapa”
“Sama Tan – Tan”
“Ya udah, hati – hati ya Abang. Saayyyaanggg Abaaaangg”
“Sa-yang Drea”
Andrea kemudian mematikan ponselnya setelah menerima panggilan dari Varen.
“Anda tidak mengatakan pada Tuan Alvarend tentang pertemuan dengan laki – laki tangan kanannya wanita itu
Nona?”
“Nanti saja di rumah Niki. Nanti suami aku malah khawatir. Dia kan mau ke Panti karena katanya Dara sudah ada informasi yang lebih detail kalau aku ga salah sih”
“Baik Nona”
***
DUK!
“Niki!”
“Pegangan Nona!”
Andrea memekik dan Niki berseru saat mobil mereka dipepet sebuah mobil yang tak mereka kenal di jalanan sepi, belum seberapa jauh dari Kampus Andrea.
“Sial!”
“Niki .....”
Niki terpaksa membanting setir karena mobil yang dikendarainya sudah dihadang didepan. Niki memikirkan keselamatan Nona Mudanya jika ia meneruskan untuk maju dan menghantam mobil tersebut.
“Bagaimana ini Niki ...?”
Andrea melirih kala Niki yang mencoba menjauh dan memundurkan mobilnya itu tak bisa melanjutkan karena dibelakang pun mereka sudah dihadang.
Baru saja Niki hendak mengambil senjatanya.
Praannggg!
Kaca mobil disisi kiri Andrea dipecahkan oleh sesuatu dan satu senjata sudah terarah padanya.
“JANGAN MACAM – MACAM! BUKA KUNCI OTOMATISNYA!”
Pria yang menodongkan senjata ke arah Andrea itu berkata, dan terpaksa Niki mengikuti kemauannya. Jangan sampai sesuatu yang buruk menimpa Nona Muda yang menjadi tanggung jawabnya.
Niki diseret keluar setelah kunci otomatis mobil ia buka. Andrea pun diseret keluar juga dari sisi kanannya.
Lehernya kini dicengkram dengan lengan salah satu orang yang memaksanya masuk ke mobil yang menjegal mobil yang ditumpangi Andrea dan Niki tadi.
“Nik – kiiii .....”
Andrea melirih dengan tangannya yang terulur pada Niki yang sedang dipukuli habis – habisan oleh orang yang mencegat mereka itu.
“IKUT!”
“TO-LL...”
Andrea hendak berteriak namun tak sampai.
“Akh!”
Tengkuknya keburu dipukul lebih dulu hingga Andrea tak sadarkan diri.
***
__ADS_1
To be continue .......