THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 301


__ADS_3

RISING ANGER


(Kemarahan yang Meningkat)


***********************************


Selamat membaca.....


*************************


Bogor, Jawa Barat, Indonesia


 


“Kakak kamu menelpon nih!”


Mommy Ara mengangkat ponselnya dan menunjukkan layar yang terpampang tulisan ‘My Handsome Hubby’.


Momma mengangguk dan matanya kembali fokus ke arah depan. Lalu melirik kaca spion tengah.


‘Mobil dibelakang, seperti sedang mengikuti’ Batin Momma.


“Halo! Babe!..”


Andrew mengangkat tangannya agar Omar menjeda dulu ucapannya karena sepertinya Daddy R berhasil menghubungi Mommy Ara.


“Kalian tidak apa – apa?!”


“Iya Hon, aku dan Little F baik – baik saja”


“Syukurlah..... Kalian dimana sekarang?!”


“Aku kurang tahu ini daerah mana, kami tadi mengikuti mobil yang membawa Via, hendak kami hentikan tapi ternyata mereka memindahkan Via ke mobil lain lalu mobil yang pertama memisahkan diri. Tapi aku sudah mengcapture gambar dua mobil itu dan sudah mengunci sinyal GPS kedua mobil. Rasanya bisa kalian ambil dari sana datanya”


“Okay! Good job Ibu Peri!”


“Kak, mobil dibelakang kayak ngikutin kita deh?” Momma menyela hubungan telepon Mommy Ara dan Daddy R.


Mommy Ara mengangguk lalu melirik ke belakang. “Hon, apa kamu ada kirim orang menyusul kami?. Kalau iya mereka pakai mobil apa dan nomor polisinya berapa?”


“Sebentar”


“..........”


“Omar! Orang yang kau kirim untuk menyusul istri dan adikku, menggunakan mobil apa?!”


“..........”


“Terios Hitam Babe”


“Nomor polisi?” Tanya Mommy Ara lagi.


“Sebentar”


“..........”


“Katakan pada istriku nomor polisi mobil yang orangmu pakai”


Mommy Ara disambungkan oleh Daddy R pada Omar yang menyebutkan nomor polisi mobil yang dipakai orang kirimannya untuk menyusul dan memastikan keamanan kedua Nyonya yang sedang mengejar penjahat yang membawa Via.


Mommy Ara sambil memperhatikan mobil dibelakang dan mencocokkan nomor polisi yang disebutkan Omar.


“Benar itu mobil dengan nomor polisi yang tadi Omar sebutkan?”


“Iya benar Hon”


“Kak, bilang mereka jangan susul kita dulu. Suruh tetap di jarak mereka sekarang, tetap dibelakang kita. Takutnya yang di mobil kedua, mereka juga bersenjata seperti mereka yang di mobil pertama”


Mommy Ara mengangguk pada Momma dan mengatakan hal yang barusan Momma katakan padanya ke Daddy R.


“Okay, akan aku suruh mereka menjaga jarak” Ucap Daddy R lagi.


“Okay ....”


“Suruh Ara loud speaker gue mau bicara dengan Little F!”


“Babe, loud speaker. Andrew ingin bicara dengan Little F”


“Andrew mau bicara dengan kamu nih. Aku loud speaker ya”


“Iya suamiku ....”


“Fania Andrew Smith!!! Sudah kubilang tadi pagi jangan melakukan hal yang mengancam keselamatanmu!!”


“Hehe iya maap....”


“Haish!!! Demi Tuhan Heart, apa kamu ingin suami kamu ini mati cepat?! Kenapa hobi sekali membuat aku ketar – ketir hah?!”


“Ya bukan gitu D, aku kan spontan ingin nyelametin Via. Menantu kita itu loh!” Sahut Momma.


“Kamu kan bisa langsung menghubungi aku, Heart..”


“Iya iya maaf ga kepikiran”


“Ya sudah. Tolong berhati – hatilah Heart”


“Iya suamiku, pasti aku hati – hati. Lupa istrinya sehebat apa?” Celoteh Momma dimana kemudian terdengar suara helaan nafas frustasi Poppa.


“Bisa mengira mereka mau ke arah mana?”


“Belum kebaca ini, D. Aku kayak kenal ini jalanan. Tapi belum yakin banget. Soalnya ini mereka lewat perkampungan gitu”


“Hubungi aku dan R langsung setelah kamu yakin ke arah mana mereka kira – kira”


“Iya pasti ....”


Hubungan telepon dengan para suami di Jakarta dihentikan untuk sementara. Dan Momma kembali fokus pada mobil yang masih berjarak dengan mobil kedua yang membawa Via, sambil juga memperhatikan jalanan disekelilingnya.

__ADS_1


Sampai beberapa menit mobil yang dikendarai Momma mengikuti mobil yang membawa Kevia, menyusuri jalan perkampungan yang tidak seberapa besar. Sambil masih menjaga jarak agar sekiranya mobil yang sedang Momma dan Mommy Ara ikuti tidak curiga.


“AH! GUE TAU INI MAU KEMANA!!....”


“Ya Tuhan, Sweety....” Mommy Ara mengelus dadanya saking kaget karena si Momma tiba – tiba teriak.


“Hehe maaf Ibu Peri”


“Tadi kamu bilang apa, kamu sudah tahu mereka mau kemana melewati jalan perkampungan begini?” Ucap Mommy Ara seraya bertanya pada Momma.


“Iya kalo ga salah nih ya, udah lama juga soalnya, tapi tadi gue baca nama daerah sini di depan. Ini tuh jalan tikus yang bisa tembus ke Jakarta”


“Oh ya?”


“Iya, gue pernah beberapa kali Touring sama anak – anak FC pake motor, beberapa kali ke Bogor. Kalo ga salah kita lewat sini buat motong jalan, nanti tembus Cibubur. Coba deh”


Mommy Ara manggut – manggut.


“Bener ini yakin gue, mereka mau ke Jakarta tapi ga mau lewat jalanan biasa, karena antisipasi ada pemeriksaan lan-tas di jalan tol”


Momma nyerocos sambil celingukan melihat kanan dan kirinya lalu fokus lagi ke depan.


“Belok kanan nih udah sedikit lagi Cibubur, tembus pasar modern. Coba deh. Kalo ga salah, tapi yakin sih iya gue”


Mommy Ara sedang memperhatikan dan benar ternyata yang diucapkan Momma, ada pasar tidak lama setelah mereka berbelok.


‘Benar kata anak – anak FC ya ternyata. Si Sweety nih kalau dilepas di hutan pasti tetap bisa hidup dan pasti ga lama juga ada di hutan’


Mommy Ara membatin.


‘Jalanan terpencil dia tahu. Sampai ke patokan pun dia tahu. Ckckck ....’


“Kayaknya Kak Ara bisa telpon Kak Reno atau si Donald Bebek deh sekarang, udah bisa dihadang itu mobil kayaknya”


Momma mengusulkan.


“Kalau mereka ke arah Jakarta, gue rasa cukup persiapan buat cegat mereka. Kalau ternyata masih daerah sini, ya kita bisa bertindak duluan. Toh kita punya back up kan tuh dibelakang”


Mommy Ara mengangguk paham dan mencoba menghubungi Daddy R.


“Sekalian tanya, ada berapa orang yang sedang ngawal kita nih. Kalau mereka ada empat orang gue rasa cukup buat bantuan kita kalau seandainya mereka yang bawa Via ga ke Jakarta, melainkan punya Base Camp disini”


**


Di tempat lain


 


“Drea ga pakai smart watch nya!!”


Varen sudah berkali – kali mengusap kasar wajahnya yang sudah nampak geram, namun panik juga sangat ketara disana.


Raut wajah si Abang kini kurang lebih sama dengan Nathan saat mengetahui kalau Via diculik. Varen sudah mengecek titik keberadaan ponsel Andrea yang kini sudah berada di sebuah kantor polisi.


Varen meminta Ammar untuk mengemudikan mobil menuju ke sebuah Rumah Sakit Swasta di Jakarta, untuk melihat Niki  sekaligus meminta penjelasan akurat mengenai bagaimana Niki bisa ditemukan hingga dibawa ke Rumah Sakit dengan telinganya sendiri dari orang yang menolong Niki.


Varen menghubungi seseorang untuk memastikan lagi tempat Niki di temukan dan mencari petunjuk soal Andrea disana. Ia sudah mendapat info kalau Niki ditemukan masih di sekitaran kawasan Kampus Andrea yang memang sepi di beberapa titik itu.


“Oke!”


Nathan langsung melakukan apa yang Abang minta barusan.


“Mar, cari tahu dimana wanita keparat itu berada sekarang!”


“Baik Tuan” Sahut Ammar dengan cepat menanggapi ucapan Varen yang merupakan perintah yang harus segera dilaksanakan.


‘Jika memang KAU! Dilara! Jika ini ulahmu yang membawa Little Starku, akan kubuat kau sangat sangat menderita!!’


“Tuan, apa Tuan tidak menghubungi Tuan Reno dan Andrew perihal Nona Andrea?. Mereka sudah kordinasi dengan Tuan Vladimir bukan, mengenai hubungan germo besar di Rusia itu dengan Dilara?. Mungkin ada petunjuk Tuan”


“Kau benar” Sahut Varen atas ucapan Ammar. Ia sampai lupa pada para Daddynya yang juga ikut andil menyelidiki Dilara, karena terlalu geram dan cemas soal Andrea yang juga diculik seperti halnya Kevia.


Varen langsung menghubungi nomor Poppa.


***


Di mobil Poppa


 


“Oh iya, lo tahu bagaimana dua orang yang katanya menyalip mobil Okky sampai tertangkap?”


“Little F yang membuat mobil mereka terguling”


“Hahaha! Kemampuannya tidak hilang ternyata”


Daddy R terkekeh sembari manggut – manggut.


“Apa mereka sudah sampai ke ‘taman bermain’ kita?” Tanya Poppa dengan maksud yang Daddy R paham.


“Mungkin”


“Hmm ....”


“Gue call Ibu Peri lagi”


“Oh ya benar”


“Ya. Sebaiknya lo hubungi Omar juga. Tentang status mobil pertama yang membawa Via. Sekaligus tanyakan padanya siapa tahu dari perangkat yang terhubung di mobil Okky, sudah terprediksi kemana mobil yang membawa Via sekarang mengarah”


Daddy R pun kembali meraih ponselnya untuk menghubungi Mommy Ara. Poppa mengangguk mengiyakan dan hendak menghubungi Omar.


Namun ponsel Daddy R keburu berdering sebelum ia sempat menekan nomor kontak Mommy Ara. Poppa menjeda untuk menghubungi Omar.


“Kebetulan”


“Mungkin mereka sudah tahu kemana mobil itu mengarah”

__ADS_1


Daddy R langsung menekan tombol penerima panggilan, juga mengloud speaker suara panggilan.


“Ya Ibu Peri apa kalian baik – baik saja?” Sapa Daddy R sembari memastikan.


“Iya kami baik – baik saja. Kami sudah tahu kearah mana mobil yang membawa Via itu menuju”


“Kemana?!” Tanya Daddy R dengan cepat.


“Mereka mengarah ke Jakarta. Titiknya kamu bisa lihat dari ponsel aku ya. Mungkin kalian bisa menghadang mereka di depan nanti”


“Okay! Kalian tetap pada jarak kalian, lima menit lagi aku hubungi” Ucap Daddy R yang kemudian langsung mematikan ponselnya, lalu mengecek titik GPS ponsel Mommy Ara.


“Lo hubungi Khay, R! Kita susul itu dua Smith’s Angels!”


Daddy R mengangguk dan hendak menghubungi orang yang tadi Poppa maksud.


Poppa kembali ingin menghubungi Omar, namun terjeda kembali karena ada panggilan masuk pada ponsel Poppa yang tertempel pada sanggahan ponsel dalam mobil.


‘Abang’ yang memanggil di ponsel Poppa yang langsung di tekan tombol penerima oleh Daddy R dan secara otomatis juga ponsel Poppa yang ter - sanggah di sanggahan khusus itu menjadi ter - loud speaker, karena Poppa tidak mengenakan earphone portable saat ini.


**


“Kenapa, Bang?”


“Dad!”


Daddy R dan Poppa spontan saling tatap karena mendengar suara Varen yang terdengar gelisah.


“Germo sialan di Rusia itu dengan perempuan keparat bernama Dilara itu ada hubungannya tidak?! Dan berikan padaku semua hal tentang Dilara yang kalian ketahui!”


“Wo, Wo, chill out Bang .. ada apa, hah?! Mengapa kau begitu panik?!” Sahut Poppa seraya bertanya.


“Little Star hilang!”


“APA KAU BILANG????!!”


Daddy R dan Poppa terkejut bukan main.


“Niki ditemukan babak belur tak jauh dari kampus Little Star dengan luka tusuk juga di perutnya! Tapi menurut orang yang membawa Niki ke Rumah Sakit, ia hanya sendirian! Ponsel Little Star tertinggal di mobil Niki!”


Rahang Daddy R dan Poppa sama – sama mengeras dan mengepalkan kuat tangan mereka. “*BAS*RD!!!!!. ( BA**NGAN!!!! )” Poppa memukul kencang kemudi mobil dengan sangat geram.


“Kau dimana sekarang?!”


“Aku sedang menuju Rumah Sakit untuk melihat Niki dan bertemu dengan orang yang menolongnya untuk mencari petunjuk soal Little Star! Aku juga sudah mengirim orang ke tempat kejadian dan menyuruh Sony untuk mengambil mobil Niki di Polsek setempat!”


“Baiklah begini, kau pergi dulu ke Rumah sakit! Aku dan Daddymu akan mencari keberadaan Little Star!”


“Informasikan padaku secepatnya Pop! Aku tak bisa menunggu lama!”


“Tunggulah! Akan ku hubungi kau kembali secepatnya!” Seru Poppa.


“Baik! Aku tunggu kabarmu darimu Pop!” Sahut Varen.


Varen memutuskan panggilan.


Rahang Daddy R mengetat sudah, wajah tampannya sudah tertutup dengan kegeraman yang teramat sangat, sementara dada Poppa nampak sudah naik turun dengan cepat berikut rahangnya yang juga mengetat dan wajahnya sudah memerah, menandakan amarahnya yang sudah naik kini.


“R! CALL OMAR!”


Daddy R dengan cepat menghubungi Omar melalui ponsel Poppa yang langsung tersambung tanpa menunggu lama.


“Ya Tuan?” Sapa Omar dengan nada hormat.


“Kau amankan dua nama yang terlibat dengan wanita keparat bernama Dilara itu sekarang!!”


Suara Poppa sudah menunjukkan kemarahan.


“Berikut keluarganya!”


“Keluarganya Tuan?” Tanya Omar dengan nada suaranya yang nampak ragu.


“APA KAU TULI?!”


Suara Poppa jangan ditanya lagi betapa kencang dan mengerikannya saat ini.


“Ba-baik Tuan....” Sahut Omar sedikit tergagap. Jika Tuannya yang satu ini sudah berbicara seperti itu, pertanda sesuatu yang sangat buruk telah terjadi bahkan bisa jadi juga akan ada darah yang mengotori tangan sang Tuan.


“Amankan dua orang yang kumaksud berikut keluarganya tanpa terkecuali!”


Poppa sangat menekankan ucapannya.


“KAU MENGERTI???!!”


“Saya mengerti Tuan”


“Satu lagi Omar ..” Ucap Poppa sangat datar dan dingin.


“Ya Tuan?”


“Bawa anak gadis dari perempuan yang bernama Dilara itu padaku”


**


To be continue .....


Awas, napas jangan ampe ketahan.


Wkwkwk


Sekilas Inpoh : 


Karya Baru Emak itu  Judulnya


"LIFE OF A MAN"


Silahkan cek profil Emaknya Queen yang kurang solehah kalo mau tau. Sape tau cocok Ye khaann??. Wkwkwk.

__ADS_1


- Mampir jika berkenan -


Loph Loph en Tenkyuh somad!


__ADS_2