
MY BAD
( Salah Ku )
**************
Selamat membaca....
*************************
“Tidur dan beristirahatlah. Karena besok pagi kita ke rumah sakit. Selamat malam”
“Abang ......”
Isakan Andrea yang sempat tertahan akhirnya tumpah setelah Varen keluar dari kamar mereka.
****
Anak kamu anggap menghambat masa depanmu kan? Kebebasanmu? ....
Dengan kamu meminum pil kontrasepsi bukankah memang seperti itu maumu?!!!
Isakan panjang terdengar diatas ranjang dalam kamar Andrea dan Varen. Andrea terduduk kini diatas ranjang sambil terus terisak, menunduk dan menghapusi air matanya sendiri, setelah tadi sempat membeku sebentar ditempatnya saat Varen meninggalkannya sendiri dan menyuruhnya untuk mengunci pintu kamar mereka.
Sedih dan menyesal, itu sudah pasti yang Andrea rasakan saat ini. Kesal pun sedikit nemplok dihati Andrea karena sempat dibentak oleh si Abang tadi.
“Ga pakai membentak ga bisa?!..” Gumam Andrea sambil terisak dan menghapus lagi air matanya dengan sedikit
kasar.
Andrea bangkit dari ranjang dan menuju ke dalam kamar mandi dan membasuh wajahnya di wastafel.
“Hhhh ..”
Sebuah helaan yang sedikit berat lolos dari mulut Andrea setelah ia mencuci muka dan menatap pantulan dirinya di dalam cermin diatas wastafel. Wajah Andrea sedikit sembab.
“I think I need fresh air. ( Gue rasa gue butuh udara segar )”
Andrea bergumam lalu ia beranjak keluar dari wastafel dan masuk ke dalam walk in closet. Mengambil satu buah ikat rambut di dalam sebuah wadah rotan yang ada dimeja rias dan menguncir rambutnya lalu pergi ke lemari dan mencari sesuatu di sana.
Andrea memandangi lagi dirinya dalam pantulan cermin di meja rias, lalu menghela nafasnya lagi dan berjalan keluar dari sana setelah mengganti celana pendeknya dengan ripped jeans ketat dan kaos yang sudah ia padu dengan sebuah jaket bomber.
Andrea mengayunkan langkahnya lebar – lebar menuju tangga disalah satu sudut yang lain dilantai dua, yang mengarah ke dekat garasi dalam kediaman.
**
“Buka”
“Nyo .. Nyonya Muda ..”
“Buka pintunya Pak”
Andrea sudah berada di dekat gerbang kediaman, diatas sebuah motor CC besar milik salah satu Dad nya.
“Ta .. Tapi Nyonya, apa Tuan Muda Alvarend tahu kalau Nyonya mau pergi?”
“Buka, saya bilang!” Andrea meninggikan suaranya. “Jangan banyak tanya kenapa sih? Buka atau saya pecat nih!” Ancam Andrea pada dua penjaga di gerbang kediaman. “Ga pakai satu, kalian semua saya pecat sekalian. Mau?! Sekalian saya pecat semua yang bekerja dirumah ini gara – gara kalian. Mau?!”
Dua penjaga keamanan itu saling tatap sejenak lalu saling sama – sama mengangguk.
"Mau kalian berdua tanggung jawab kalau saya pecat yang lainnya juga?!"
"Eng - Engga Nyonya Muda...."
“Cepat buka itu gerbang makanya!”
“Ba.. baik Nyonya Muda ..”
Salah seorang penjaga keamanan pun masuk ke dalam pos mereka dan tak lama gerbang terbuka secara otomatis dan Andrea langsung memutar stang gas di sebelah kanannya hingga motor yang sedang ia tunggangi itu pun melaju keluar dari kediaman. Meninggalkan dua penjaga keamanan yang kini nampak serba salah.
**
“Gila!”
“Kenapa Dad?”
“Hah?”.
“Mampus!”
‘213km/hours’
“Astagaaa ..” Varen melirih. “Ini Dad Connect gpsnya ke motorku! Lead me ke rutenya Little Star!” Varen bergegas cepat naik lagi ke atas motornya setelah memberikan ponsel Daddy Dewa ke si empunya. ‘Demi Tuhan Little Star, 213km/hours .. sayang.. kalau kamu kenapa – napa gimana..?’
Hati Varen kini sudah tak karuan.
“Eh Bang gue ikut sama lo!” Nathan menawarkan diri sembari melesat cepat ke arah rak helm. Tiga Dads mengangguk setuju.
“Dad bisa menghubunginya?”
Varen bertanya pada Daddy Dewa sebelum memakai helmnya. “Aku belum memasang motor phone, hanya tracker
saja” Sahut Daddy Dewa sembari terus melirik ke ponselnya.
Varen mendengus frustasi lalu memakai helmnya.
“Bukankah ada controller untuk mematikan mesin motor Dad dari jarak jauh seperti motor – motor yang lain?” Tanya Varen dengan kedua tangannya yang sudah sedia di kedua stang motor.
“Kau mau dia kecelakaan?!”
“Dengan kecepatannya sekarang, jika aku mematikan mesinnya dari sini Little Star akan langsung terjungkal dan terhempas dari motor”
“Ya Tuhaaan!..”
Varen memekik frustasi kini.
__ADS_1
“THAN CEPAT!”
“Coming!! ..”
Nathan sudah mendudukkan dirinya di jok penumpang.
“Dad connect route ke ponsel aku aja! Jadi lo fokus aja sama jalanan, Bang. Gue yang lead elo!” Ujar Nathan cepat yang ucapannya mendapat anggukan dari Daddy Dewa sambil tangannya menari diatas layar ponsel, mengatur sesuatu.
“Sudah cepat sana!”
Papi menyuruh Varen agar cepat berangkat.
Varen pun mengangguk cepat dan secepat ia yang langsung melajukan motornya keluar dari garasi setelah Nathan memposisikan dirinya dengan baik di jok belakang.
“Akan gue pecat mereka setelah ini!” Varen berucap sambil melirik sinis pada dua penjaga di gerbang yang sudah
masing – masing berdiri disisi gerbang yang sudah terbuka lebar, karena mereka tahu dari tempat mereka kalau ada majikannya yang akan keluar lagi setelah Andrea setelah sebuah motor cc besar muncul dari garasi.
“Mereka ga salahlah!” Sahut Nathan cepat. “Si Drea ngancem bakalan pecat para pekerja satu rumah kalo mereka ga bukain pintu!” Tambah Nathan lagi dan Varen berdecak kemudian sambil melajukan motor dengan kecepatan tinggi.
****
Antara aku melakukan Vasektomi, atau kita pisah kamar. Pilihlah
Aku memilih keduanya
“Vasektomi .. memang Abang kucing anggora sampai harus melakukan Vasektomi?”
Andrea menggumam kesal sembari melajukan motor yang ia kendarai saat ini.
“Pisah kamar lagi. Apa – apaan.. mana ada suami istri pisah kamar?. Memang nikah kontrak?!”
Semakin kesal, semakin Andrea memutar stang gas yang membuat kecepatan motornya menambah tanpa ia sadari.
“Iya Drea tahu Drea salah! Drea tahu Drea ceroboh! Tapi ga gitu jugaa Abaangg!!.. Drea menyesal tahu gaaa??!!.. Drea sudah minta maaf kaaaannn??!!!! ...”
Andrea berteriak dari balik full face helmet yang ia kenakan. Sembari ia menambah kecepatan motornya yang bahkan tak ia lihat angkanya dilayar speedo meter motor Daddy Dewa yang ia pakai.
“IYA! DREA SALAH! DREA SALAH! DREA BODOH! DREA MINTA MAAAAFFF!!... PUAS KAMU ALVAREND??!! .. Hiks! ...”
Andrea terisak setelah berteriak.
“Aku kan benar – benar menyesal ...” Andrea menggumam kemudian sembari terisak.
Otakmu terlalu pendek untuk berpikir panjang kurasa.
“Ga sekalian menyumpahi umur gue pendek”
Andrea menggumam bersamaan dengan air matanya yang tadi sebatas menggenang, namun kini turun sebulir,
membuat Andrea spontan membuka kaca helm untuk menghapus air matanya yang masih menggenang agar tak sampai mengganggu penglihatannya.
“Ah! S**t!”
Andrea lupa sedang mengendarai motor, ia spontan ingin menghapus air matanya dengan tangan yang seharusnya tetap berada di stang motor selama motor itu melaju. Setidaknya kedua tangan harus tetap stabil dikedua stang selama motor masih dilajukan.
Ckiiiittttt....
Gusrakk!!!****
“Mau kemana lo Bang?!” Nathan berkata dengan kencang dari balik helm yang kacanya ia buka.
Varen membuka kaca helmnya juga. “Gatsu kan arahnya Drea, tadi Dad Dewa bilang?!” Seru Varen.
“Ganti! Puter balik! Dia ke arah Imam Bonjol, hampir sampai Metropole nih!”
“Hah?!”
“Sudah cepat!” Seru Nathan.
“Dia mau ke tempat siapa di Imam Bonjol? Memang punya teman dia disana?” Tanya Varen setelah berhasil
menemukan jalan untuk berputar balik.
“No idea kalau daerah Imam Bonjol. Kalau di daerah Matraman atau Pulomas ada teman akrabnya waktu SMA!”
“Mungkin Drea mau kesana?!”
“Mungkin juga!” Sahut Nathan masih setengah teriak, maklum naek motor jadi suara rada kebawa angin, ngomong
harus narik bacod dikit. “Tapi memang dasar nih ya si Drea?! Kalau mau ke arah sana ngapain juga dia segala muter – muter ke Gatsu?! Kebawa setan keder apa gimana sih?!”
Varen tak menyahut.
“Eh?!”
Nathan mengernyitkan dahinya saat menatap layar ponsel.
“Berhenti bentar Bang!” Nathan menepuk cepat dan bertubi pundak Varen.
“Buat apa berhenti?! Kita harus segera menyusul Drea!”
“Justru itu makanya berhenti dulu!” Seru Nathan lagi dengan tergesa dan Varen perlahan menurunkan kecepatan
motornya kemudian berhenti di pinggir jalan setelah melewati lampu merah sebuah jalan protokol.
“Kenapa sih?!”
“Gue mau hubungi Dad Dewa dulu!”
“Ya kenapa memangnya?!” Tanya Varen dengan nada suara yang gusar dan tak sabar pengen cepet - cepet nyusul Andrea, tapi si Nathan malah minta berhenti.
“Titik GPS motor Dad, hilang nih!”
“Apa?!”
****
__ADS_1
Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Smith
“Eh?”
“Kenapa Wa?!”
Papi bertanya pada Daddy Dewa yang nampak mengernyitkan dahinya sambil memandang layar ponselnya sendiri. Wajah Dad Dewa sedikit mulai nampak cemas juga.
Papi melongo ke layar ponsel Daddy Dewa, begitu juga Daddy Jeff. Tiga hot daddies itu masih berada di dalam
garasi sembari menunggu kabar dan cukup gelisah juga. Mereka tahu Andrea bisa dikatakan sudah jago mengendarai motor sport dan moge. Namun saat ini anak itu sedang mengendarai sebuah motor sport cc besar yang mereka tahu, kalau Andrea sedang kesal.
Suatu hal yang tak baik jika berkendara dengan keadaan kesal. Fokus pasti tak stabil.
Jangan sampai terjadi apa – apa pada Andrea karena mengendarai motor sport dengan kondisi hatinya yang sedang kesal dan melajukan motor dengan kecepatan tinggi. - Begitu yang ada didalam otak tiga daddies tersebut.
'Mudahan aja GPS gue yang sedang rusak sistemnya'
Daddy Dewa membatin.
“Ini...”
“Kenapa???! ....”
“GPS motor gue ga bergerak ..”
“Sudah berhenti mungkin si Little Star?”
“Engga! Ini ..”
Daddy Dewa menggantungkan ucapannya. Raut wajahnya mulai berubah cemas.
“Kalau Little Star sengaja berhenti ga mungkin dalam speed 163km/hours.. saat titik GPS berhenti..” Ucap Daddy Dewa dengan pelan dan seolah ragu. "Dan ini pun menghilang sudah. Seperti sengaja dimatikan, atau......."
“Maksud lo Little Star..????”
****
“Berhenti bentar Bang!”
“Buat apa berhenti?! Kita harus segera menyusul Drea!”
“Justru itu makanya berhenti dulu!”
“Kenapa sih?!”
“Gue mau hubungi Dad Dewa dulu!”
“Ya kenapa memangnya?!”
“Titik GPS motor Dad, hilang nih!”
“Apa?!”
“Iya hilang nih GPS motor Daddy Dewa”
“Ya berarti Drea sudah berhenti! Ayo cepat! Berhenti dimana itu?!”
“Ini titiknya ga ada! Terakhir di Senopati terus hilang! Nih lihat nih!”
Nathan menunjukkan apa yang ada di layar ponselnya pada Varen.
“Kalau berhenti minimal titiknya ada. Ini Raib! Makanya gue mau telpon Dad Dewa dulu!” Seru Nathan yang kemudian menarik lagi ponselnya untuk segera menghubungi Daddy Dewa. Membuat Varen jadi tambah tak karuan.
🎵🎵🎵
Ponsel Nathan berdering, dan nama Papa Bear yang terpampang di layar ponselnya.
“Loud speaker Than!” Seru Varen dan Nathan mengangguk seraya menekan tombol hijau kemudian menekan tombol speaker.
“Kalian dimana?!” Suara Papa Bear terdengar cemas dan buru – buru.
“Ini aku sama Abang sedang berhenti dulu dekat Kuningan. Titik GPS motor Daddy Dewa hilang soalnya!”
“Masih ingat terakhir titiknya ada dimana sebelum hilang?!”
“Masih. Suropati”
“Kalian kesana. Kami on the way”
“Kenapa titiknya bisa hilang Dad?! Apa Drea sengaja?! Apa dia mengalihkan arah?”
“Bisa jadi. Tapi..”
“Tapi apa Dad?!” Varen kian gusar kini.
“Kemungkinan lain.... bisa disebabkan karena benturan keras yang membuat mesin GPS di motor Dad Dewa mati..”
Nafas Varen seolah menjadi sesak.
“CEPAT THAN!”
“I – iya!”
‘Please God.. jangan sampai Little Star terluka.... jangan sampai Andreaku kenapa – kenapa....’
Varen tak mau menyiakan waktu dan langsung kembali menyalakan mesin motornya dan langsung melajukan motor dengan sangat cepat, lebih cepat dari sebelumnya hingga membuat Nathan terpaksa melingkarkan erat kedua tangannya di perut si Abang.
Sambil merapalkan doa dalam hati untuk Andrea, semoga itu anak ga kenapa – napa. Terlebih untuk dirinya juga saat ini, yang serasa sedang dibonceng Freddy Foray saat balapan di Sirkuit Qatar. Karena Abang melajukan motornya dengan kecepatan yang hampir penuh.
‘Maafkan aku Little Star..’
Ckiittt .....
Varen mengerem mendadak karena ada kucing yang selonong boi dijalanan yang ia sedang lalui, hingga motor yang dikendarainya sedikit jumping. Yang dibonceng pun jantungnya juga langsung jumping.
“FOKUS BANG!! GUE MASIH MAU HIDUP LAMA! LAMA BANGET MALAH!”
__ADS_1
****
To be continue ..