THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 122


__ADS_3

 🎑 BROKEN ANGEL 🎑   Bidadari yang Terluka


*******


Selamat membaca....


“Jadi, Mom tahu kita ada di daerah mana?. Mom berarti tahu akses keluar masuk dari sini?!. Kita bisa mencari tahu kabar Andrew dan yang lainnya berarti kan, Mom?!.”


Mata Fania sudah berbinar dan wajahnya nampak bersemangat.


“Ayo Mom, tunjukkan bagaimana bisa keluar dari sini. Biar Fania yang mencari tahu keberadaan Andrew, Dad dan yang lainnya.”


Fania meraih tangan Mom.


“Tunjukkan Mom ....”


Hati Fania, Ara, Prita, Jihan, Michelle bahkan Mama Anye pun berbunga. Ada harapan besar untuk mencari tahu keadaan Dad dan para pangeran. Ada asa yang mulai lagi berkembang untuk dapat bertemu dengan para pria terkasih mereka.


Namun Mom bergeming ditempatnya, saat Fania sudah meraih tangannya, meminta Mom untuk menunjukkan akses keluar masuk dari tempat mereka berada sekarang.


Fania pun merasa heran berikut yang raut wajah yang lainnya kecuali Theresa dan Ben. “Kenapa, Mom?.”


“Maaf Fania, Mom tidak bisa menunjukkan akses keluar masuk dari tempat ini.” Ucap Mom dengan wajah yang menunjukkan penyesalan.


“Tapi kenapa, Mom?.” Sahut Fania masih heran. “Kalau Mom pernah kesini, berarti Mom tahu bagaimana keluar masuknya, kan?. Apa mereka sudah mewanti – wanti dulu agar merahasiakan nya?. Mom, ini kesempatan kita untuk bisa bertemu dengan Dad dan yang lainnya, atau sekedar mencari tahu.”


“Masalahnya, Mom pun tidak tahu akses keluar masuk tempat ini.”


“Hah?. Tapi  kan Mom pernah kesini?.”


“Memang. Tapi waktu itu pun Mom masuk dengan cara yang sama seperti tadi, tahu – tahu sudah berada didalam


salah satu kamar disini. Hanya saja sekarang nampak berbeda tempat ini.”


“Mom bilang kalau waktu itu, Mom disini bersama Kak  John kan?. Coba Mom ingat – ingat, mungkin Kak John pernah menunjukkan aksesnya tapi Mom lupa.”


“Tidak Prita, Mom benar – benar tidak tahu, dan saat itu pun John tidak mengatakan atau menunjukkan apapun. Hanya dia bilang pada Mom, kalau tempat ini dibangun Dad kala itu, untuk waktu yang genting.” Mom menjelaskan. “Kalian bisa tanya pada Ben dan Theresa.”


“We also don’t know, Ma’am. Even we have been twice here. We never know the entrance access to get in or out from here. Mister Anthony and Young Masters make this place as their top secret. Only few people know about this place. Like Mister Nino and Ezra."


“(Kami juga tidak tahu, Nyonya. Meskipun kami sudah berada disini dua kali. Kami tidak pernah tahu akses keluar masuk tempat ini. Tuan Anthony dan para Tuan Muda menjadikan tempat ini benar – benar rahasia. Hanya sedikit orang yang tahu. Seperti Tuan Nino dan Ezra).”


“Ya .. Tuhaaaannnn ..”


“Mom tidak pernah tahu kalau Dad membangun tempat ini, hingga sampai saat John membawa Mom kesini.”


Fania mendesah pelan. Harapannya terbang lagi mendengar penjelasan Mom, Ben dan Theresa.


“Waktu itu .. berapa hari kira - kira saat Dad datang menjemput Mom, setelah insiden yang Mom bilang itu?.” Tanya Jihan.


“Dua hari kalau tidak salah.” Sambar Michelle. “Seingat aku waktu Uncle Utha bawa aku dari Bandung ke sebuah pulau, dua hari kemudian Kak Andrew menghubungi Uncle Utha kalau Dad sudah diselamatkan.”


“Dua hari .....”

__ADS_1


Fania bergumam.


“Berarti setidaknya kita punya harapan dua hari ini..”


“Semoga saja dalam dua hari ini, mereka datang..” Ucap Ara penuh harap. ‘Semoga bukan harapan kosong kami.’ Ara membatin.


**


Dua hari bukan waktu yang lama sebenarnya. Namun dalam situasi dan kondisi yang dialami para wanita Adjieran Smith ini, dua hari terasa begitu lama. Tapi mereka tetap menyabarkan dan membesarkan hati untuk menunggu selama dua hari. Melakukan hal – hal yang membuat mereka sedikit hilang fokus dari rasa sakit akan kehilangan.


Dua hari berlalu, namun harapan mereka rasanya terbang karena sampai hari ketiga tidak ada tanda – tanda positif untuk mereka yang berada di Save House.


Tak ada kabar apapun, terkurung dalam sebuah tempat yang entah dalam bumi bagian mana, bahkan hingga seminggu berselang. “Sudah seminggu.” Gumam Jihan dalam duduknya saat ia bersama Michelle.


“Iya Kak Jihan.”


“Aku sudah hilang harapan Chel ... Kalau Jeff bisa berkumpul kembali bersama aku dan Nathan. Bahkan mungkin kita akan terkurung disini selamanya ...” Keluh  Jihan dengan matanya yang mulai berkaca – kaca.


“Mau bagaimana lagi, Kak? ..”


“Kita harus cari cara buat keluar dari sini.” Suara Fania membuat Jihan dan Michelle spontan menoleh.


“Bagaimana Sweety?. Kita sudah mencoba mencari jalan keluar dari sini selama tiga hari tapi nihil kan?.” Ara ikut bergabung.


“Kak Ara benar Fan. Kita sudah coba mencari, sesuai petunjuk Ben dan Theresa. Bahkan setiap dinding baja ini sudah kita telusuri. Tapi kita tidak menemukan satupun pintu rahasia diantaranya.”


“Kita mungkin kurang serius berusaha. Kita harus coba cari lagi.”


“Dan saat cadangan oksigen itu habis?. Lo mau melihat anak lo mati didepan mata lo seperti lo melihat suami lo mati tanpa bisa berbuat apa – apa?!.”


“Sweety!.” Ara berseru karena ucapan Fania yang terdengar tidak mengenakkan itu. “Jangan bicara seperti itu..”


“Memang begitu kenyataannya kan?! Suami kita mati dibelakang kita tanpa kita bisa berbuat apa – apa!. Apa Kak Ara dan kalian berdua mau melihat anak – anak kalian bernasib seperti ayah dan kakek mereka?! Hah?!.” Fania nampak gusar.


“Fania ..”


“Meskipun stok makanan disini lebih dari cukup untuk bertahun – tahun ke depan, apa kalian rela anak – anak kita hidup didalam tanah tanpa lagi bisa melihat dunia?!. Mereka bahkan tidak tahu kalau ayah dan kakek mereka sudah tiada! Mau pakai alasan apa lagi saat mereka tanya tentang ayah dan kakeknya yang ga kunjung datang?!.”


Fania makin gusar.


“Sanggup kalian bilang, I’m so sorry baby, kalian ga akan pernah melihat dad dan kakek kalian lagi! Kenapa? Karna mereka sudah mati!.”


PLAK!


“Kak Ara!.” Seru Jihan dan Michelle yang langsung mendekat pada Fania dan Ara.


“Kendalikan diri kamu Sweety!.” Satu tamparan dari Ara mendarat dipipi Fania dan ia pun mulai terisak memandang pada Ara yang juga matanya berkaca – kaca.


“Kak Fania... Kak Ara .. sudah ya?.” Ucap Michelle.


“Maaf Sweety.” Ucap Ara menyesal kelepasan menampar pipi adik angkat kesayangan suaminya itu yang juga


kesayangannya.

__ADS_1


Fania dan Ara mengusap air mata mereka. “Terserah dengan kalian, tapi gue ga mau duduk diam disini, terperangkap dalam kenangan dan sakit yang ga berujung. Sekalipun Andrew dan yang lainnya udah ga ada... setidaknya gue bisa melihat pusaranya, mengunjunginya setiap hari, daripada hanya harus memandangi gambar indah sosoknya aja seumur hidup gue.....” Air mata Fania mulai mengalir sedikit deras.


Ia kemudian pergi meninggalkan Ara, Jihan dan Michelle yang ikut merasakan sesaknya Fania.


***


“Sweety ...”


“Masuk aja, Kak.”


“Maafkan Kak Ara untuk yang tadi, ya?.” Ara meraih tangan Fania yang sedang duduk dalam kamarnya sendiri sambil memeluk sebuah figura kecil.


Fania tersenyum pada Ara sambil meletakkan figura foto yang tadi ia peluk keatas meja. “Ga perlu minta maaf Kak Ara. Gue ga mempermasalahkannya. Gue udah kelewatan, gue tahu itu. Gue hanya udah ga sanggup dengan sakit dan sesak ini Kak ...”


“Kak Ara pun sama Sweety....”


“Maafin gue, Kak.”


“Kita harus terus saling mendukung dan menguatkan sebagaimana R, Andrew dan yang lainnya.”


Fania mengangguk haru dalam pelukan Ara. “Iya Kak.”


*****


Sejak dua hari yang ditunggu dan amat diharapkan kalau para pria akan datang kembali atau setidaknya ada


seseorang yang menjemput mereka berlalu dengan kosong, para wanita Adjieran Smith beserta anak – anak mereka dan orang – orang yang setia menemani mereka itu mencoba berkawan dengan keadaan.


Dua minggu telah berlalu, semua hal tetap sama, mereka masih berada di dalam sebuah bangunan yang mereka yakini ada didalam tanah. Bukan hidup seperti ini yang ingin mereka jalani. Terbayang pun tidak.


Tapi hidup terkadang berjalan terbalik dari harapan, dan semua hal yang ingin didapatkan belum tentu bisa didapatkan, bukan?.


Belajar ikhlas, dan selalu memikirkan alasan yang akan mereka katakan pada anak – anak yang menanyakan ayah dan kakek mereka. Meski rasanya mereka sendiri sudah hampir gila atas luka yang begitu dalam dihati mereka. Tak ada alat komunikasi apapun, bahkan televisi pun tak ada. Entah apa yang terjadi diluar sana.


“Kalian apa kabar?.”


Fania berada didalam sebuah ruangan yang sepertinya adalah tempat berkumpul para pria mengingat desain ruangan itu begitu manly. Beberapa foto tersimpan dalam tiap figura yang indah. Tergantung di dinding dan berjejer rapih diatas beberapa bufet.


“Kalian ga kangen apa sama kita orang, hem?.”


Fania berbicara sendiri pada foto lima pria muda yang wajahnya sedang tertawa, tanpa sadar ada seseorang yang kini berada dibelakangnya dengan mata yang berkaca – kaca.


“Karena kami kangen kalian...” Fania luruh dalam tangisnya. “Aku kangen kamu, D ...”


“Kaakkkk..”


“Prita .. kapan mereka dateng?, kapan mereka pulang?...” Fania terisak dalam pelukan Prita. “Papah sama Mamah .... kapan kita bisa ketemu mereka lagi, Prita???...”


“Istighfar Kak..” Prita memeluk erat sang kakak yang lagi – lagi nampak rapuh. Meski ia sendiri akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya memandangi foto dimana ada John serta para kakak – kakak lelakinya yang lain. ‘Papi, aku kangen .... Pah, Mah, Prita harap, Prita sama Kakak bisa ketemu kalian lagi secepatnya ..’


*


To be continue ..*

__ADS_1


__ADS_2