THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 316


__ADS_3

A RESULT


( Sebuah Hasil )


******************


Selamat membaca..


Author POV


Kelegaan sedikit terasa di hati Varen dan mereka yang bersamanya di Marina. Kevia dan Andrea dapat mereka


temukan dan selamatkan.


Namun begitu, ada juga kekhawatiran yang teramat sangat atas kondisi Andrea saat ditemukan oleh Varen yang untung saja datang pada waktu yang tepat, hingga Andrea tak sampai dilecehkan lebih jauh.


Varen tak memperdulikan apapun lagi selain Andrea saat ini, begitupun Papi John, Daddy Dewa, Nathan dan Kevia. Semua urusan di Marina pribadi Dilara mereka abaikan karena meski tanpa di perintahkan pun, orang – orang mereka sudah tahu tugasnya masing – masing.


Toh, Ammar juga standby disana. Dia amat sangat tahu bagaimana mengatur segala hal dalam lingkup tugasnya.


Nathan dan Kevia menaiki mobil yang berbeda dengan yang ditumpangi Varen dan Andrea berikut dua Daddynya.


Varen terus saja mendekap Andrea dalam mobil yang sudah dikemudikan oleh Papi John menuju Rumah Sakit.


Sekaligus berusaha membangunkan Andrea dengan segala cara, yang pastinya Varen lakukan dengan penuh ke hati – hatian.


Andrea akan dibawa ke Rumah Sakit tempat keluarga Dokter yang mereka percaya praktek disana. Ditempat Rendy dan orang tuanya praktek, termasuk Marsha.


Memang jaraknya agak jauh dari Marina pribadi Dilara, namun selain Rumah Sakit milik keluarga Uncle Bryan, Rumah Sakit dimana Rendy, orang tuanya berikut Marsha biasanya praktek adalah Rumah Sakit yang dipercaya oleh Keluarga Adjieran Smith.


Author POV off


****


Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia...


Dering telepon yang berbunyi membuat semua orang yang sedang menunggu kabar soal Kevia dan Andrea di Kediaman membuat mereka mengendikkan bahu mereka berbarengan.


Ibu Peri yang  langsung bangkit untuk meraih telepon dalam Kediaman, meski seorang asisten rumah tangga kepercayaan mereka juga sudah berlari untuk menerima telepon.


Dengan harap – harap cemas, juga dengan rasa takut atas keadaan kedua putrinya, Ibu Peri menerima panggilan


masuk di telepon rumah dalam Kediaman. Ada Mama Bear yang bersamanya yang juga langsung bangkit saat telepon rumah yang jarang – jarang berdering itu kini berbunyi.


Sementara Mami Prita dan Mom Ichel sedang menemani Momma yang masih belum terbangun dari biusan, dan Nenek Yuna menemani para krucil di kamar mereka.


***


“Benarkah ini Waaa?!..”


“.....”


“Alhamdulillah Ya Allaahhh ..”


Ibu Peri terdengar mengucapkan syukur sembari menutup mulutnya dan dua bulir air matanya jatuh dari pelupuk mata.


“Via dan Drea baik – baik saja kan, Dewa?. Kalian langsung pulang kesini  kan ya?”


“.....”


“Apa???!!!”


“.....”


“Drea ..”


Wajah Ibu Peri menjadi sendu bercampur cemas, dan gurat kekhawatiran juga terlihat disana membuat Mama Bear jadi ikutan cemas dan tak sabar untuk mengetahui alasan perubahan air muka Ibu Peri yang sebelumnya nampak senang dan lega, sekarang malah nampak cemas dan muram.


“Fania masih belum bangun, Dewa. Tadi dia datang sudah dalam keadaan tidak sadar karena Andrew terpaksa


membius nya. Takut, kalau sampai Fania memaksa ikut mencari Drea dan Via”


“.....”


“Mereka bertiga belum ada yang kembali juga” Jawab Ibu Peri lagi.


“.....”


“Iya sudah. Tolong terus mengabari kami disini setiap perkembangan Drea yang Wa?”


“.....”


“Iya, iya. Kami juga menunggu Fania bangun dulu. Tapi mungkin ga aku kasih tahu dulu kondisi Drea. Biar aku tanya Andrew dan R dulu ya apa yang harus aku sampaikan pada Fania, jika dia keburu bangun sebelum mereka kembali” Ucap Ibu Peri pada Daddy Dewa di seberang telepon.


“.....”


“Biar nanti aku minta Adis bawakan pakaian mereka. Sekalian makanan untuk kalian”


“.....”


“Ya sudah. Mudah –mudahan Andrew, R dan Jeff cepat kembali. Kalian juga take care ya”


Lalu Ibu Peri meletakkan kembali gagang telepon nirkabel di Kediaman setelah Daddy Dewa memutuskan panggilan. Setelahnya Ibu Peri mengatakan kembali pada Mama Bear apa yang tadi disampaikan oleh Daddy Dewa padanya di sambungan telepon.


Mama Bear pun bereaksi sama dengan Ibu Peri tadi. Ia lega dan cemas disaat yang bersamaan. Lalu Ibu Peri dan Mama Bear bergegas untuk menyiapkan pakaian ganti untuk Kevia dan Andrea, serta makanan untuk mereka termasuk empat pangeran yang sedang berada di perjalanan menuju Rumah Sakit.



Di Rumah Sakit ...**


Papi John dengan cepat keluar dari mobil untuk membantu Varen turun juga dari mobil dan menerima sebentar Andrea yang belum juga sadar dari tangan Varen. Kemudian Varen mengambil lagi Andrea dari Papi John dan langsung berjalan cepat masuk ke dalam Rumah Sakit dimana Empat orang Dokter yang mereka kenal sudah menunggu di lobi Rumah Sakit.


Dan dengan cepat mengarahkan Varen untuk membawa Andrea ke Unit Gawat Darurat, Rumah Sakit tersebut.


Rendy sekuat tenaga mendorong tubuh Varen untuk keluar dari ruangan tersebut saat Andrea sudah diletakkan di


atas sebuah brankar.


Varen bersikukuh untuk tetap berada di dalam ruang gawat darurat tersebut, makanya ia didorong dengan kuat


oleh Rendy, agar membiarkan sang ayah yang dibantu oleh ibu Rendy memeriksa Andrea.


Kekukuhan Varen untuk tetap tinggal di dalam ruang gawat darurat sedikit menyulitkan Rendy untuk menggiringnya keluar dari sana.

__ADS_1


Papi John yang menyadari hal tersebut, akhirnya membantu Rendy untuk membawa Varen sampai ke depan ruang


gawat darurat tersebut. Sembari ikut memberi pengertian pada Varen yang nampak kacau sekarang.


Hingga akhirnya Rendy dan Papi berhasil meyakinkan Varen untuk menunggu di luar ruangan, dan membiarkan


orang tua Rendy memeriksa keadaan Andrea. Rendy sendiri juga ikut menunggu diluar ruang gawat darurat tersebut.


****


“Bagaimana Drea, Uncle?!”


Varen yang memang tidak duduk selama Andrea diperiksa oleh ayahnya Rendy itu langsung berhambur menghampiri Dokter yang umurnya kurang lebih sedikit diatas Daddy R.


Varen tidak bicara apapun sejak ia dipaksa keluar oleh Rendy dan dibantu Papi John.


Berkali – kali ia mengusap wajahnya dengan kasar sambil menunggu dengan gelisah. Mengabaikan pakaiannya yang sampai sudah menjadi lembab ditubuhnya karena sempat menceburkan diri untuk berenang menyambangi yacht milik Dilara.


Papi John dan Daddy Dewa serta Rendy yang bersama Varen saat ini pun, tidak ada yang mengganggunya dulu.


Ayah Rendy dengan didampingi Dokter Clarissa, menghela nafasnya sejenak sebelum berbicara dengan Varen yang sudah diapit oleh kedua Daddynya.


Sementara Nathan yang beberapa saat kemudian muncul bersama Kevia, langsung diarahkan untuk melakukan


pemeriksaan pada Kevia dan Rendy memanggil Marsha yang sedang berada di dalam ruangan gawat darurat agar Marsha menemani Kevia dan Nathan.


“Menurut observasiku dan Claris, ketidak sadaran Andrea disebabkan oleh obat bius. Aku sudah memberikan xample darah Andrea untuk diperiksa lebih lanjut dan mengetahui jenisnya”


Varen terdengar mendengus geram, menahan amarah.


“Tapi melihat kondisinya, ada kemungkinan jumlah yang disuntikkan kedalam tubuh Andrea cukup banyak”


Varen dan Daddynya mengumpat dengan spontan secara bersamaan.


“Apa itu membahayakan Drea. Apa nyawanya terancam?” Cecar Varen dengan gusar.


“Kadar seberapa bahayanya kami harus menunggu hasil lab”


“Tapi untuk keselamatan Andrea sendiri saat ini, tidak”


Dokter Clarissa dan suaminya berbicara bergantian. Varen, Papi John dan Daddy Dewa menghela nafasnya.


“Kami sudah meminta perawat untuk segera memindahkan Andrea ke ruang rawat” Ucap Dokter Clarissa.


Varen dan dua Daddynya manggut – manggut. “Dalam tiga puluh menit hasil lab akan keluar. Aku akan langsung menemui kalian nanti”


“Baiklah Uncle, Aunt, terima kasih banyak”


“Itu tidak perlu, Abang”


Dokter Clarissa mengelus – elus pelan punggung Varen sembari tersenyum, lalu kemudian ia mengernyit.


“Baju kamu lembab, Bang?” Tanya Dokter Clarissa.


“Iya Aunt”


“Gue ada baju ganti di ruangan. Lo ganti dulu lah mendingan”


“Rendy benar, lebih baik kamu mengganti dulu pakaian kamu Abang. Nanti kamu malah sakit dan ga bisa


menemani Drea gimana?”


“Never mind, Aunt. Aku tidak akan sakit”


Varen bersikukuh.


‘Hanya hatiku yang sakit karena Little Star sampai seperti ini’


Varen membatin. Geram dan sedih bercampur dalam hatinya. Namun Varen belum memikirkan apa – apa untuk


membalas apa yang dilakukan Dilara dan orang – orangnya pada Andrea, termasuk Gita yang terakhir Varen lihat akan melakukan hal yang sangat buruk pada istri kecilnya bersama satu orang pria.


***


Daddy Jeff, Poppa dan Daddy R yang tadi berada di suatu tempat yang sama pun sudah dihubungi oleh Daddy Dewa perihal Andrea dan Kevia yang sudah mereka temukan. Meninggalkan apa yang tadinya hendak mereka kerjakan untuk sesaat dan langsung bergegas untuk pergi ke Rumah Sakit untuk menyusul Varen dan yang lainnya sekaligus melihat kondisi Andrea.


Meski sempat bertanya mengapa kedua putri mereka tersebut tidak langsung dibawa pulang ke rumah, namun


Daddy Dewa hanya menginformasikan kalau Andrea dan Kevia dibawa ke Rumah Sakit untuk melakukan pemeriksaan pada mereka.


Membiarkan nanti Poppa, Daddy R dan Daddy Jeff sendiri mengetahui apa yang menimpa Andrea saat Varen


menemukannya setelah mereka sampai di Rumah Sakit.


Mobil yang ditumpangi Poppa, Daddy R dan Daddy Jeff sudah hampir mencapai Rumah Sakit, disaat ponsel Poppa


kemudian terdengar berdering.


“Mati gue!” Poppa merutuk dengan spontan sembari meneguk salivanya saat melihat nama pemanggil di ponselnya.


Daddy R dan Jeff yang mendengar rutukan Poppa langsung seketika menoleh dan bertanya.


“Siapa?”


“Fania sudah sadar sepertinya”


Poppa menunjukkan layar ponselnya pada Daddy R yang duduk disebelahnya dan Daddy Jeff yang duduk


dibelakang memajukan tubuhnya.


Tidak seperti biasanya jika Momma menelpon Poppa akan langsung menggeser tombol penerima panggilan, kali


ini Poppa sepertinya enggan untuk menerima panggilan tersebut.


Daddy R dan Jeff yang tahu alasan mengapa kini air muka Poppa nampak menunjukkan kegugupan hingga ia sampai meringis, cekikikan melihatnya.


“Sudah terima itu panggilannya Little F! Nanti dia tambah mengamuk karena lo ga terima itu panggilannya, tahu rasa!”


Daddy R buka suara sembari cekikikan lagi, termasuk Daddy Jeff yang merasa geli melihat gugupnya Poppa saat ini.


“Lagian segala lo bius si Kajol. Yakin gue, dia ga terima dan murka akibat dibius suaminya sendiri” Daddy Jeff cekikikan.


“Diam lo!” Poppa nampak jengkel sendiri.

__ADS_1


Otak licin Poppa masih menimbang – nimbang apakah ia akan menerima panggilan Momma atau tidak sampai


akhirnya mobil mereka yang sudah dikendarai seorang supir dan juga Omar yang ikut bersama tiga Pangeran itu sampai di depan lobi Rumah Sakit dan ponsel Poppa berhenti berdering.


Poppa, Daddy R dan Daddy Jeff berikut Omar kemudian turun dari mobil dan Poppa memasukkan ponselnya ke


dalam saku coat kasualnya.


Namun tak lama saat mereka hendak masuk suara deringan ponsel terdengar lagi namun bukan ponsel milik


Poppa, Daddy R atau Daddy Jeff.


Poppa yang terlihat gugup itu mengelus dadanya, karena bukan ponselnya yang berdering dan merasa sedikit


terselamatkan saat ini.


‘Demi Tuhan, gue belum siap menerima murkanya Little F saat ini ..’ Poppa membatin lirih.


“Tuan Andrew ..” Omar datang mendekat.


“Ya?”


“Ini ...”


“Apa?”


Omar menunjukkan ponselnya pada Poppa.


“Nyonya Fania menghubungi saya Tuan .. Dan dia ingin bicara dengan anda...”


Gluk!


Poppa mengusap kasar wajahnya dengan gelisah.


“Omar! Mana Bos Kamu?!” Suara Momma terdengar saat Omar hendak memberikan ponselnya pada Poppa.


“Iy-ya Nyonya Fania, ini Tuan Andrew ..” Sahut Omar yang ikutan gugup mendengar suara sang Nyonya yang cukup nyaring itu. “Tuan ...”


Omar mengulurkan lagi tangannya yang memegang ponsel miliknya. ‘Terimalah Tuan Andreww, jika tidak gendang telingaku bisa pecah mendengar omelan Nyonya Fania!’


Omar membatin.


“Sebaiknya anda terima saja Tuan, jika tidak Nyonya Fania akan lebih marah nanti” Ucap Omar dengan mencoba terlihat tenang.


“Ck!” Poppa berdecak pelan, Daddy R dan Daddy Jeff belum kelar cekikikan melihat wajah si Poppa saat ini.


“Dia benar – benar terlihat dungu sekarang” Celetuk Daddy R.


Yang di Amini oleh Daddy Jeff dengan anggukan, lalu keduanya terkekeh.


“Omar!”


“Iy-ya Nyonya ...”


“Lama banget!”


“Tuan Andrew....”


Andrew akhirnya pasrah dan mengambil ponsel Omar dari tangan orang kepercayaannya itu selain Ezra.


“Ehem!” Poppa berdehem singkat.


“DONALD BEBEEEEEEKKKK!!!! .... BERRANIIII KAMU BIUS AKU HAAAHHH??!!!...”


Klik!


Tangan Poppa dengan spontan memutus panggilan.


“Jika istriku menghubungimu lagi, katakan padanya aku masuk ICU”


***


Kembali ke Rumah Sakit ...


Varen dan dua Daddynya langsung melonjak dari duduk mereka setelah mereka sudah berada di ruang rawat


dimana Andrea yang masih belum sadar itu sudah dipindahkan kesana, saat melihat kedatangan Rendy dan ayahnya satu jam kemudian.


Varen sudah berganti baju, karena Mami Prita juga sudah datang dengan ditemani Mika untuk membawakan pakaian ganti untuk Varen, Andrea dan Kevia.


“Bagaimana Uncle?” Tanya Varen tidak sabaran pada Dokter Alan, ayah Rendy. Papi John, Mami Prita dan Daddy Dewa juga sudah ikut mendekat pada Dokter itu, sementara Mika sedang duduk disisi ranjang Andrea.


Nathan dan Via juga sudah bergabung bersama mereka diruang rawat Andrea. Tidak seperti Andrea, tidak ada luka berarti di tubuh Kevia selain sedikit goresan, terutama di telapak tangannya. Tidak ada kandungan obat apapun dalam tubuh Kevia karena memang Andrea sudah lebih dulu membuatnya selamat untuk melarikan diri dari yacht


Dilara.


“Apa mereka menyuntikkan coccain ke tubuh Drea?! Morfin, Heroin?!”


Varen bertanya dengan gusar. Dokter Alan menggeleng, lalu ia memilin bibirnya.


“Jadi?! ...” Tanya Varen lagi. Mereka yang bersama Varen memilih diam dan menenangkan kegusaran si Abang


yang nampak jelas terlihat, meskipun mereka juga sama ingin tahunya dengan Varen, sekaligus khawatir.


“Dari hasil lab kami temukan ini” Dokter Alan menyerahkan sebuah map dari tangannya yang langsung disambar


oleh Varen dan dua Daddynya ikut pula mengintip apa yang ada didalam map tersebut.


“Opiod sintetis?!”


Varen hampir saja berteriak.


“Mereka menyuntikkan Carfentanyl pada tubuh Drea??!!”


“Keparat!! ..”


Tiga pria Adjieran Smith lainnya mengumpat.


“Mereka menyuntikkan obat bius untuk hewan besar pada istriku??!!”


***


To be continue....

__ADS_1


__ADS_2