
KENDALI
Selamat membaca...
Kediaman Utama Keluarga Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia
“Si ( Iya ) Papa”
Adrieanna sedang berbicara dalam ponselnya dengan sang Papa.
“Ciao Papa. Ti voglio ( Dah Papa. Aku mencintaimu )” Adrieanna mematikan sambungan teleponnya.
“Papa mu jadi datang hari ini, Adrieanna?” Tanya Mom Ichel saat Adrieanna sudah bergabung dengan yang lain di ruang makan keluarga.
Adrieanna mengangguk lalu menyapa semua orang kemudian. “Papa will come today ( Papa akan datang hari ini juga )”
“Ya sudah. Ayo sarapan dulu”
“Iya Mom”
Adrieanna mengangguk dan mengambil tempat, namun celingak celinguk kemudian.
“Rery, Poppa dan Daddy R belum bangun?” Tanya Adrieanna.
“Mereka baru saja berangkat ke Rumah Sakit”
“Kak Drea baik – baik saja kan?”
“Tidak terlalu baik”
“Apa Kak Drea masih belum sadarkan diri?”
“Sudah, tapi tidak stabil”
“Maksudnya?”
“Efek dari apa yang terjadi dan apa yang sudah masuk ke dalam tubuh Andrea membuatnya sedikit hilang kendali”
“Kasihan sekali Kak Drea. Aku dengar apa yang terjadi pada Kak Drea saja, sudah sedih. Pantas Papa begitu marah”
“Mereka yang terlibat harus diberikan hukuman yang seberat – beratnya!” Gamma nampak emosi.
Mereka yang berada di ruang makan manggut – manggut.
“Terutama itu yang berada di Rusia! Dia kan Bos Besarnya?”
“Iya”
“Seharusnya dia diberi hukuman mati! Termasuk antek – anteknya!”
“Hati – hati tekanan darahmu, My Dear..”
Gappa mengingatkan sang istri yang nampak begitu emosi itu.
Membuat yang lain jadi terkekeh kecil. “Ya habis aku marah sekali mereka membuat salah satu cucuku seperti itu! Terlebih setelah mendengar cerita Dad kalau Drea sampai histeris. Hati Mom ini sakit sekali mendengarnya”
“She’s already get a ‘punishment’ Mom ( Dia sudah mendapatkan ‘hukuman’ Mom)” Mama Fabi bersuara.
“Iya, pasti Vladimir sudah mengurusnya bukan?” Ucap Gamma seraya bertanya.
“Papa yang mengurusnya Gamma” Timpal Adrieanna.
“Lucca?”
“Iya Gamma”
“Papa kamu kan di Italia?. Apa setelah kita berangkat Papa kamu langsung terbang ke Rusia?. Tapi katanya mau datang kesini hari ini?. Gamma jadi bingung”
“Papa memang masih di Italia Gamma” Ucap Adrieanna.
“Lalu kamu bilang dia mengurus para penjahat – penjahat Rusia itu terutama pemimpinnya?”
“Ya mereka dikirim ke Italia” Sahut Adrieanna.
“Mereka aslinya orang Italia jadi dipulangkan kembali untuk disidang disana?”
“Tidak. Setahuku mereka orang Rusia asli” Sahut Adrieanna lagi.
“Tapi kenapa dibawa ke Italia?”
“Untuk mainan Pupuma”
“Uhuk! Uhuk! Uhuk!”
“Apaa?? ..” Gamma dan Mami Prita terbatuk dan terperanjat.
“Huumm.. Aku juga baru dengar dari Papa tadi. Papa bilang wanita Rusia yang super jahat itu cocok untuk mengasah gigi Pupuma”
“I – tu serius??...” Mami tergugu.
“Iya Mami”
“Ah kamu ini. Masa iya?. Meledek aja itu Papa kamu. Masa iya Papa Lucca memberi makan itu kucing garong peliharaan nya daging orang?”
Yang dengar cekikikan.
“Kan aku bilang mainan Mami, bukan makanan. Wanita jahat Rusia itu hanya untuk mainan Pupuma saja. Pupuma mana suka daging orang jahat. Dia kan kucing manis pemilih”
“Kucing apaan! Manis lagi! Apanya yang manis tau dari Puma. Blekedet begitu! Hii serem!. Kak Fabi ga larang itu suaminya memelihara hewan buas begitu di rumah kalian?” Cerocos Mami Prita.
“Pupuma is a good girl ( Pupuma itu gadis yang baik )” Sahut Mama Fabi santai sambil cekikikan.
“Aduh ini lagi”
“Mama benar itu Mami, Pupuma itu sangat manis kalau dengan kami. Dia juga penurut. Dia tidak pernah makan daging manusia”
“Bagus deh kalo gitu. Ga gila – gila amat berarti Papa kamu”
“Kalau ada orang jahat yang Papa bawa ke Italia dan diberikan pada Pupuma, ya hanya untuk mainan Pupuma saja”
“Seriusan itu?!”
“Iya Mami”
“Sakit ya, suaminya Kak Fabi sama bapaknya si Adrieanna tuh ya?”
“Ga heran aku sih mendengarnya” Celetuk Mom Ichel.
“Terus maksudnya jadi mainan si Pupuma itu. Dimasukkan dalam kandangnya begitu?”
“Yup!”
“Jangan bilang dimaenin sampai mati baru dikeluarin dari kandang itu si kucing garong?”
__ADS_1
“Sebosannya Pupuma”
“Haish!!”
“Kalau Pupuma sudah bosan tapi orang jahatnya masih bertahan, ya Papa akan menyuruh anak buahnya untuk mengurus”
“Kalau orangnya keburu is dead sebelum kucing garong kalian itu bosan?”
“Ya dikeluarkan”
“Papa kamu kembalikan ke keluarganya?. Atau di Mansion kalian di Italia ada lahan kuburan masal juga jangan – jangan”
Mami Prita geleng – geleng. Sebagian besar cengengesan saja, terutama yang sangat mengenal tabiat Lucca.
“Aku rasa Papa Lucca tidak akan sampai mau repot – repot mengurus jasad orang jahat”
“Jadi?” Mami penasaran.
“Diberikan pada The Sweet Squad”
“Ap – appaa??!!...”
“Wow keren!” Celetuk Mika.
“Aku baru sadar kalau selama ini aku hidup bersama orang – orang sakit jiwa”
Mami Prita menggumam putus asa.
***
Sarang Anaconda
“Kalian berdua lebih baik kembali ke Rumah Sakit atau pulang saja” Ucap Varen saat dia sudah melangkah keluar dari ruangan tempat dimana Varen mengeksekusi Danang dan keluarga laki – laki itu dengan caranya sendiri. “Pekerjaanku masih banyak”
“Gue akan tetap menemani lo Bang” Nathan menjawab yakin. Sementara Rendy masih sedikit syok nampaknya.
Varen melirik temannya yang pias itu. “Lo temani Rendy balik saja Than”
“Terserah kalau Kak Rendy, tapi gue akan terus ikut lo”
“Lo akan mengabaikan Via kalau ikut gue. Daftar yang harus gue lakukan masih panjang hari ini. Jadi lebih baik kalian berdua memisahkan diri dari gue. Kalian berdua juga belum makan kan?. Lo pun belum beristirahat dengan cukup Than. Jadi lebih baik kalian pulang”
“Harusnya lo katakan itu juga sama diri lo sendiri Bang .. Drea butuh elo pasti. Jadi kalau lo suruh gue balik, lo juga ikut. Lo sudah kasih pelajaran kan sama orang yang berpengaruh di belakang semua ini?” Nathan ikut mencerocos seperti halnya Abang tadi.
“Gue belum selesai” Ucap Varen sembari menyalakan rokok yang sudah ia selipkan dibibirnya. “Uncle...”
Varen menoleh saat Uncle Lingga meraih bahunya sembari tersenyum kecil. “Adik kamu itu benar Va” Ucap Uncle Lingga. “Setidaknya kamu kembalilah dulu melihat Andrea. Aku juga akan menyempatkan diri mampir kesana. Lagipula kamu juga sebaiknya sarapan. Aku yakin kamu belum makan dengan baik sejak semalam”
‘Iya yah, baru ngeh kalau ini udah pagi. Tadi berangkat masih gelap dari Rumah Sakit’ Batin Nathan. “Ayo Bang mendingan kita balik dulu ke hospital” Ajak Nathan. “Siapa tahu Drea sudah lebih baik. Sarapan dari Kediaman juga pasti sudah dibawakan. Kita sampai Rumah Sakit juga udah siang kayaknya”
“Lo dan Rendy saja” Sahut Abang. “Gue akan kembali ke Rumah Sakit saat semua sudah gue selesaikan”
“Va ...” Rendy mendekat pada sahabatnya itu. “Udahlah. Apa yang lo lakukan diatas sana gue rasa sudah cukup Va, lebih dari cukup”
Rendy menatap serius pada Varen. Namun Varen dengan cepat menggeleng. “Belum” Ucap Varen singkat.
Rendy menghela nafas frustasi. “Va, ini negara hukum. Keluarga lo juga pasti bisa membuat mereka mendekam di penjara selama mungkin, dengan hukuman yang paling berat. Hukuman mati bahkan”
“Dan membuat mereka mati dengan mudah?”
Varen mendengus sinis.
“Gue ga rela!” Seru Varen. “Lubang hitam yang sudah mereka buat, akan gue buat mereka memasukinya” Sambungnya. “Semua, yang ada hubungan dengan apa yang dialami My Little Star”
“Akan gue seret semua masuk kedalamnya”
Mata Varen menyorot tajam.
“Tapi Va..”
“Mar ...” Varen mengabaikan Rendy yang ia tahu akan terus membujuknya.
“Ya Tuan?” Sahut Ammar seraya mendekat dengan cepat.
“Siapa setelah ini?” Tanya Varen dengan datarnya.
“Orang yang diurus Tuan Andrew Tuan” Jawab Ammar cepat.
Nathan, Uncle Lingga dan Rendy tak ada yang bicara lagi.
Melihat Varen yang sudah bersikap masa bodoh seperti ini, sama seperti saat tadi berangkat dari Rumah Sakit hingga sampai ke ‘Sarang Anaconda’ yang merupakan markasnya Uncle Lingga. Rasanya menasehati Varen dengan cara apapun percuma jika tombol ‘masa bodohnya’ itu sudah menyala.
“Dimana dia?” Tanya Varen pada Ammar.
“Playground, Tuan” Jawab Ammar lagi dengan cepat.
**
Detik bergerak
Rumah Sakit
Beberapa menit lalu Poppa, Daddy R dan Rery sudah sampai di Rumah Sakit tempat Andrea dirawat.
Tiga orang tersebut hanya melihat tiga orang wanita saja yang berada didalam ruang rawat Andrea, selain Andrea yang terbaring di brankar.
“Abang dan Nathan mana?”
Poppa langsung bertanya karena tidak melihat kedua putranya itu.
Momma yang berada dalam pelukan Poppa menjawab dengan gelengan lemah dan wajah yang lesu.
“Kenapa, hem?” Tanya Poppa sambil mengusap lembut kepala Momma. Sementara Rery sedang mendekati brankar tempat sang kakak berbaring dan nampak sedang terlelap.
“Abang pergi ...” Ucap Momma.
“Pergi?” Tanya Poppa lagi
“Iya ...” Momma mengangguk pelan.
“Kemana?”
Mommy Ara dan Momma sama – sama menggeleng. “Entah”
“Dia pergi dengan keadaan yang sangat gusar setelah melihat Andrea histeris lagi, lalu terpaksa Marsha memberikan obat penenang lagi pada Drea. Ditambah Drea seolah tidak melihat kami”
“Dia, paranoid seperti yang Alan katakan pada kami kemarin” Timpal Mommy Ara.
“Sangat parahkah, paranoid nya Little Star?” Tanya Poppa.
Mommy Ara, Momma berikut Marsha yang masih berada didalam ruang rawat Andrea menceritakan kondisi Andrea sampai saat sebelum Marsha harus memberikannya penenang untuk yang kedua kali.
“Lalu Abang pergi. Dia bilang, dia mau membuat semua orang yang terlibat membayar atas apa yang terjadi pada Drea”
__ADS_1
“Hhh ..” Poppa dan Daddy R sama – sama menghembuskan nafas mereka yang terdengar sedikit berat.
“Drea terus saja meracau tak karuan, menangis, lalu teriak histeris”
Momma mulai terisak dalam dekapan Poppa.
“Andrea mungkin paranoid atas apa yang menimpanya sebelum Alva menyelamatkannya. Jadi hal itu yang terus ia ingat. Mungkin Andrea berpikir kalau dia sudah dilecehkan”
Marsha menjelaskan.
“D ..” Panggil Momma pada Poppa yang membawanya berjalan untuk melihat Andrea. Poppa menunduk menatap Momma.
“Heemm?..”
“Drea .. benar tidak sampai dilecehkan tapi kan?”
Poppa menarik sudut bibirnya. “Tidak, Heart..” Jawab Poppa.
“Benar?”
“Iya benar. Aku sudah meminta Alan untuk melakukan visum saat Andrea dibawa kesini, karena Abang menolak untuk melakukannya, karena dia yakin kalau Little Star belum terlampau jauh dilecehkan”
“...”
“Tapi aku tetap meminta Alan untuk melakukannya tanpa sepengetahuan Abang. Dan hasilnya menunjukkan kalau Andrea tidak mengalami pelecehan yang terlampau jauh”
“Syukurlah...” Mommy Ara dan Momma merasa sedikit lega.
Mommy Ara dan Momma yang sedang sama – sama didekap oleh pasangannya masing – masing itu kemudian makin mengeratkan pelukan mereka sambil memperhatikan Andrea.
“Pop, sepertinya Kak Drea akan bangun”
Itu Rery yang duduk disisi Andrea berbicara.
Kemudian Marsha dengan sigap mendekati Andrea untuk mengeceknya.
Momma meminta Rery untuk menyingkir dulu dari tempatnya.
Dan Rery mematuhi apa yang sang Momma katakan dengan segera.
“D!” Momma spontan sedikit memekik saat Poppa berjalan untuk lebih mendekati Andrea saat melihat Andrea bergerak perlahan lalu membuka matanya.
“Little Star .....”
“Sayang ..” Poppa dan Daddy R yang sudah sama – sama mendekat itu tak tahan ingin mengajak kesayangan mereka itu bicara.
Poppa hendak menyentuh kepala Andrea, namun Marsha dengan segera menahan tangan Poppa. “Jangan dulu ada kontak fisik Uncle”
“Okay..”
Poppa dan Daddy sama – sama berusaha mengajak Andrea bicara, setelah melihat mata Andrea terbuka dan tatapannya mengarah ke langit – langit kamar diatasnya.
Mata Andrea nampak sayu, dan sama seperti sebelumnya. Andrea tak merespon meski berkali – kali Poppa dan Daddy R mengajaknya bicara. “Little Star.. Baby .. this is me, Poppa.. Daddy R, Rery also here”
“Sayang .. Little Star..”
“Jangan D.. nanti dia histeris lagi ..” Momma langsung bersuara saat tangan Poppa terulur untuk membelai wajah Andrea.
“Iya Ndrew, kasihan kalau sampai Drea histeris lagi”
Poppa mendengus frustasi dan urung untuk membelai wajah Andrea.
“Biarkanlah dia dulu. Kalau dia histeris terpaksa harus diberi penenang lagi, aku ga tega liatnya D” Kata Momma dengan suaranya yang lirih.
Poppa mengangguk. Bersama Daddy R dan Rery yang kembali mendekat, ketiganya memperhatikan Andrea yang mematung dalam baringnya, meski matanya terbuka dan menatap keatas langit – langit kamar.
“Kak Drea, aku sudah sampai nih. Katanya kangen sama aku?” Rery mengajak sang kakak bicara dengan memposisikan wajahnya tepat diatas wajah sang kakak. Namun sayang, tetap nihil respon.
“Baby, Little Star, semua sudah baik – baik saja sayang .. Poppa sudah bereskan semua orang – orang jahat itu” Poppa berbicara lagi. Sama, nihil respon dari Andrea.
“Little Star .. kesayangan Daddy R.. Daddy, Poppa sudah disini. Abang juga sedang memberi pelajaran pada mereka yang jahat pada Drea, so don’t worry, hem?”
Tetap sama, nihil respon dari Andrea hingga membuat ketiga orang yang berusaha mengajak Andrea bicara itu mendengus frustasi.
***
“Selamat pagi” Dokter Alan datang ke ruang rawat Andrea.
“Pagi Alan”
“Pagi Pa”
“Alvarend mana?”
“Dia sedang keluar” Poppa yang menjawab.
“Apa dia akan segera kembali atau tidak?”
“Apa ada sesuatu Alan?”
Mommy Ara menangkap ada sesuatu yang hendak Dokter Alan sampaikan perihal Andrea.
“Ada berita yang ingin kusampaikan. Sekaligus aku membutuhkan satu keputusan” Jawab Dokter Alan.
“Jangan membuat kami khawatir, Alan” Ucap Daddy R.
“Aku tidak bermaksud tapi .... kalian perlu melihat ini”
Dokter berkharisma itu menyodorkan sebuah amplop berlogo Rumah Sakit yang langsung diterima oleh Daddy R.
***
“Sebaiknya kau yang berbicara langsung padanya, Alan. Abang yang pantas mengambil keputusan soal ini”
“Baiklah”
***
“Lak-lakukan saja.... opsi yang pertama, Un-cle....” Suara Varen terdengar parau saat ia berbicara di sambungan telepon pada ponsel Rendy. Lalu Varen mematung kemudian ditempatnya, setelah sambungan telepon yang ia lakukan telah ia selesaikan.
Tangan Varen terkepal kuat, hingga tanpa sadar ponsel Rendy yang ia genggam pun seketika patah dalam genggamannya. “Va....” Rendy mendekati Varen dan terdengar nafas sahabatnya itu kini mulai memburu.
Nathan dan Uncle Lingga akhirnya ikut mendekati Varen yang sedang mematung namun tangannya terkepal nampak begitu kuat, namun matanya berkaca – kaca dengan rahang yang kian mengetat.
“Bang....”
“Alva, ada apa?....”
“AARRGGHHH!!!!”
***
To be continue....
__ADS_1