THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 158


__ADS_3

😏 P O C E C I P 😏


*******


Selamat membaca ......


Seiring waktu berlalu, begitu juga hal buruk yang pernah menimpa satu keluarga besar yang emezing ini pun telah berlalu menjadi hal yang harus dilupakan. Hal yang buruk telah berlalu dan dilalui, meskipun dibumbui duka, luka serta air mata. Berikut dengan perjuangan dan peluh yang pada akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan.


Meskipun tidak ingin diingat – ingat lagi, namun biarkanlah hal buruk jadi pelajaran untuk bisa menjadi lebih baik, dan dua hal itu, baik dan buruk yang pernah dialami dan dilalui menjadi kekuatan untuk terus melangkah maju.


**


Mansion Utama Keluarga Adjieran Smith, London, Inggris....


Kamar Pribadi Tuan dan Nyonya Bebek ...


“D ....”


“Heem.” Andrew hanya menjawab dengan dehemannya tanpa melepaskan kungkungannya dari atas Fania.


“Udah sih ih, semalem kan udah. Tadi abis subuh juga udah. Udah ah, aku mau mandi nih.”


“Semalam hanya sekali.”


Fania berdecak sekaligus merungut sebal pada si Donald Bebek yang masih kekeh mengukungnya.


“Iya semalem cuma sekali, tapi kan ga sebentar. Tadi abis subuh?." Ucap Fania sebal. "Lagian hari ini kamu udah mulai aktif ngantor kan?.”


Andrew menjawab lagi hanya dengan dehemannya, karena bibirnya sedang bergerilya di setiap inci tubuh Fania yang mulai menggeliat perlahan.


“D ....”


Andrew mengabaikan Fania yang menyebut namanya barusan. Ia sudah terlalu larut dalam gairahnya atas tubuh Fania yang polos selepas subuh tadi dan sudah ia cumbui setiap incinya sekali lagi, saat ini. Bener kata Mom kalo si Donald Bebek napsuan emang.


“Ahhh.”


Tubuh Fania memang sudah lelah rasanya, Andrew tak pernah sebentar menyelesaikan setiap rondenya. Tapi selalu saja jika si Donald Bebek sudah memulai serangan seperti  apa yang diberikan Andrew pada tubuhnya saat ini tak menampik kalau suaminya itu memang paham betul titik – titik sensitif milik Fania yang bisa membuat istrinya itu mulai blingsatan akibat kegelian hingga menaikkan rasa yang tadinya redam, kini kembali menyala.


Dan Fania kini sudah tak bisa lagi menghindar, karena si Donald Bebek yang sedang menyeringai nakal dalam mimik wajahnya yang sudah mesum berkabut gairah itu sudah kembali melakukan penyatuan dan sudah mulai menggerakkan pinggulnya secara perlahan namun pasti.


Fania mencengkram seprai yang sudah tidak berwujud itu saat Andrew mulai bergerak cepat dan makin cepat hingga suaminya itu menghimpit tubuhnya dalam – dalam, dan cengkraman Fania sudah pindah ke punggung Andrew berikut kakinya yang melingkar dengan kuat dipinggang Andrew.


“D .... lepasin udah dong ....” Ucap Fania dengan nafasnya yang masih tersengal.


Karena meskipun si Donald Bebek sudah menyelesaikan ritual paginya yang hampir tidak pernah terlewat itu, namun Andrew belum membebaskan tubuh Fania dari bawahnya. “Sebentar, setiap tetes berharga ini, Heart .... Sayang kalau ada yang terlewat....”


“Iiihh ....”


“Biar cepat jadi adiknya Andrea.” Ucap Andrew tanpa dosa, sambil masih membelai dan mengecupi wajah Fania. “Oke pengecasan selesai....”


Andrew menarik dirinya dari tubuh Fania yang sudah bermandikan peluh sama seperti dirinya pada akhirnya, sambil menyeringai nakal dengan nafas yang masih setengah tersengal, kemudian merebahkan dirinya disamping Fania dengan senyum kepuasan.


“Mau kemana?.” Andrew menahan tangan Fania yang hendak bangun dari sisinya.


“Mandi lah!.”


Fania melirik sebal pada Andrew yang mesam – mesem melihat wajah Fania yang nampak sebal dengannya saat ini.


“Nanti dulu .... Mau kemana memangnya mandi buru – buru?.”


“Tuh lihat tuh, udah jam berapa. Sebentar lagi waktu sarapan. Aku juga mau nyiapin si Andrea kan. Dia sudah mulai Home Schoolingnya hari ini sama kayak Varen dan Nathan.” Cerocos Fania.

__ADS_1


Kemudian si Kajol hendak beranjak lagi, tapi si Donald Bebek lagi – lagi menahannya. “Ga akan tepat waktu pasti juga yang lain turun untuk sarapan.” Ucap Andrew sambil menahan Fania dengan memeluknya dari belakang.


“D!. Udah ih lepasin ga....”


“Engga!.” Goda Andrew yang makin mengeratkan pelukannya.


“Donald Bebeeek!!! ....”


Si Kajol pun memekik karena Andrew mengukung tubuhnya lagi.


'Ampun deh!.'


**


Seluruh anggota keluarga tanpa terkecuali masih berada di Mansion Utama Keluarga Adjieran Smith yang berada di London saat ini. Meskipun semua sudah mulai kembali normal, namun Keluarga Cemara, Mama Anye dan Ibu Yuna termasuk Lucca dan Fabiana masih tinggal di Mansion tersebut.


Mungkin kita sebut mereka semua Keluarga Cempedak?.


“Princess Daddy R kenapa cemberut begini?.”


Reno mengangkat Andrea dalam gendongannya sembari membawa bocah tersebut keruang jamuan untuk sarapan.


“I want to study together with Abang (Aku maunya belajar bareng Abang).”


Andrea merengek manja pada Reno yang mengajaknya bicara sambil menggendong anak Bebek dan Itik itu kemudian memangku nya saat sudah sampai di ruang jamuan. Reno tersenyum melihat ekspresi menggemaskan Andrea jika bocah itu sedang merajuk padanya.


Seperti halnya Varen dan Nathan, Andrea juga termasuk anak yang cerdas. Sudah paham dua bahasa, yakni Inggris dan Indonesia. Dan akibat perpaduan dua bahasa yang seringnya ia dengar dalam kesehariannya itu, jadilah si Andrea kadang mencampur bahasa dalam ucapannya. Namun paham betul jika ada yang berbicara Bahasa dengan kalimat penuh, asal jelas tidak terlalu cepat pastinya.


Andrew yang tadi memang berada dibelakang Andrea saat Reno menyapa seraya bertanya sekaligus langsung menggendong Andrea itu pun tersenyum sambil memandangi putri semata wayangnya dengan Fania itu.


“Andrea, anak Momma yang blaem – blaem. I told you before right? (Momma sudah bilang kan tadi?), kalau Abang Varen itu kan sudah lebih besar dari Drea, so his lesson is different from you (jadi dia berbeda pelajaran dengan kamu). So Drea cannot study together with Abang.... (Jadi Drea ga bisa belajar bareng Abang).”


Andrea merungut sambil mengerucutkan bibirnya. Reno, Andrew dan Fania tersenyum melihat ekspresi Andrea yang pasti akan seperti itu jika keinginannya tidak diiyakan. Dan beberapa anggota keluarga lain yang sudah juga berada di ruang jamuan tersebut ikut tersenyum memperhatikan Andrea yang sedang merajuk dengan salah seorang Daddynya, berikut Poppa dan Mommanya juga.


“I can follow it, I’m smart Momma! (Aku bisa mengikutinya, aku pintar Momma!).” Ucap Andrea. “Right? (Kembali?).”


“Tentu saja....”


“Pede beut anak gua.” Gumam Fania setelah Daddy R dan Poppa menyahuti ucapan Andrea. Namun Reno dan Andrew mendengarnya dan mereka berdua pun terkekeh kecil.


“But Momma also right, Sweety. Abang need to learn with his own teacher, and you also have to learn with your own teacher (Tapi Momma juga benar, Sayang. Abang harus belajar dengan gurunya sendiri, begitupun kamu dengan guru kamu sendiri). Kakak Nathan also learn with his own teacher (Kakak Nathan juga belajar dengan gurunya sendiri).” Poppa menjelaskan dengan pelan dan sabar pada putrinya itu.


Andrea masih merungut. Reno mengacak – acak rambutnya.


“Aku mau belajar bersama Abang!.” Anak bebek dan itik masih kekeh merajuk.


“Andrea, anak Momma sama Poppa yang blaem – blaem...”


“Andrea kenapa?.” Tanya Abang Varen yang baru saja datang bersama Mommy Ara yang sedang menggendong Valera, kemudian diberikan pada Lita dan ia pun mendekat pada Andrea seperti halnya Varen.


“Merajuk karena ingin belajar bersama dengan kamu, Prince.” Jawab Poppa sambil membawa Varen mendekat dengannya dan Reno.


Varen langsung mendekati Andrea.


Si Abang jenius itu kemudian tersenyum pada Andrea yang masih memasang wajah cemberut nan menggemaskan.


“Memang kenapa kalau Andrea belajar bersama aku?.” Tanya Varen pada para ibu dan ayah.


“Nanti kamu susah konsentrasi kalau kalian belajar sama – sama.” Jawab Poppa sembari tersenyum mengingat anaknya dan Fania ini hiperaktif. “Kamu kan mau ikut ujian kelas akselerasi ke kelas 10 bukan?.”


Varen pun manggut – manggut, lalu menoleh kembali pada Andrea.

__ADS_1


“I won’t disturb, I promise! (Aku tidak akan mengganggu, aku janji!).” Ucap Andrea dengan wajah bersungguh – sungguh memandang pada sang Abang yang kini sedang tersenyum padanya.


“Andrea....”


Para Dad dan Mom memperhatikan interaksi dua kakak beradik tak sedarah itu, namun akrabnya mengalahkan saudara kandung beneran, seperti halnya Fania dan Reno.


“Andrea, Poppa benar. Abang harus belajar dengan giat agar bisa pintar dan sukses seperti Poppa, Daddy R dan semua Daddy yang lain.”


Varen berkata dengan lembut pada adiknya yang ambekan persis kek emaknya itu.


“Kan kalau Abang jadi orang hebat, nanti Andrea pasti senang.” Ucap Varen lagi. “Right? (Iya kan?).” Bujuknya pada Andrea. “Jadi abang belajar dulu dengan guru abang, Andrea juga belajar dulu dengan gurunya Andrea seperti juga Nathan, kan?. Jadi Andrea pun bisa jadi orang hebat nanti.”


Varen yang memang pembawaannya jauh lebih dewasa dari umurnya itu benar – benar nampak menyayangi Andrea dan selalu memberikan pengertian jika Andrea sedang merajuk itu dengan caranya.


“Abang juga hanya sebentar saja belajarnya. Setelah itu kita bisa main sama – sama lagi, atau Andrea bisa belajar sama Abang, gimana?.” Bujuk Varen lagi. “Okay, My Little Star? (Oke, Little Star nya Abang?).”


“Tapi Andrea tidak suka!....”


“Apa yang Little Star nya Abang tidak suka?.” Tanya Varen dengan lembut dan sabarnya, sementara para ayah dan ibu hanya geleng – geleng saja pada si anak bebek dan itik itu.


“I don’t like with Abang’s teacher! (Aku ga suka sama gurunya Abang!).” Seru Andrea.


“Why? (Kenapa?).”


“Karena dia cantik!.”


“Uhuk .. Uhuk .. “


Para orang tua yang mendengar ucapan Andrea barusan kompak batuk berjamaah.


“Dan aku tidak suka ada wanita cantik selain aku didekat Abang. Because his Mine. (Karena Abang milik aku seorang).”


Dan para orang tua pun kembali batuk, karena keselek berjamaah.


“Apa kita akan menjadi besan, R?.” Andrew memijat pelipisnya pelan sembari berbicara setengah berbisik.


“Bisa jadi, kalau anak lo seposesif ini.” Sahut Reno dengan terkekeh. “Yakin dia akan memblokade para wanita disekeliling Varen kelak.”


“Jika itu terjadi, betapa kasihannya pangeran pertama keluarga ini.”


Reno pun terkekeh geli mendengar kasak – kusuk Andrew.


‘Meskipun dia putri tercintaku, tapi aku tahu betapa bar – barnya dia seperti Fania, dan Varen pasti kewalahan menghadapinya. Sekarang pun sudah terlihat.’


Andrew membatin melihat Varen yang lagi – lagi sedang membujuk Andrea dengan sabarnya. Sementara yang sedang dibujuk masih terus – terusan merengek agar guru Home Schooling Varen diganti dengan guru laki – laki.


“Ya sudah kita belajar sama – sama kalau begitu, ya Little Star?.” Bujuk Abang Varen lagi. “Boleh kan Mom, Dad?. Poppa, Momma?.” Varen meminta persetujuan dua pasang orang tuanya itu, yang kemudian mengangguk pasrah. “Tuh sudah dibolehkan, jadi Little Star jangan merajuk lagi ya?.”


“Okay, tapi janji!....”


“Janji apa?.”


“Besok gurunya Abang tetap harus ganti dengan laki – laki. Or, I don’t want to eat! (Atau, aku tidak mau makan!).” Dan anak bebek serta itik itu segala mengeluarkan ancaman sambil mensedekapkan kedua tangannya berikut wajahnya yang dibuang kesamping sedikit mendongak, sambil masih merungut.


‘Anak siapa itu?.’


**


To be continue


Jangan lupa sodakoh buat othor pake jempol iyeee

__ADS_1


__ADS_2