
♠ WAY ♠
( Cara )
Selamat membaca ..
**********
Jakarta, Indonesia..
“Hai!....” Arya menyapa Andrea yang sudah keluar dari gerbang sekolah untuk pergi ke mobilnya yang dikendarai Ammar, si pengawal pribadi Andrea.
“Eh Kak Arya....” Sahut Andrea.
“Dre .... kita duluan ya?.” Celetuk teman Andrea yang berjalan bersamanya dari sejak keluar kelas.
“Oke.... jangan lupa laporan program loh ya. Kirim ke email gue kalo udah selesai. Biar senin bisa gue bawa.”
“Iya bawel!.”
Andrea terkekeh dan kedua temannya itu tersenyum.
“Yakin nih ga mau pulang bareng gue?.”
“Enggalah. Kita ngeri ganggu dua sejoli.”
“Gosip deh....”
Andrea dan kedua temannya itu terkekeh, sementara Arya tersenyum saja.
“Ya udah ya kita duluan. Yuk Kak Arya!.” Ucap dua teman Andrea itu bersamaan lalu melambai pada Andrea yang
berdiri bersama Arya di dekat gerbang sekolah bagian luar.
**
“Ga ada ekskul hari ini kan?.” Tanya Arya.
“Ga ada Kak. Ini makanya langsung buru – buru keluar. Sudah laper soalnya.”
Andrea menjawab pertanyaan Arya dengan sikap yang biasa.
“Gue udah minta ijin.” Ucap Arya yang melihat Andrea sedikit celingukan dari tempatnya berdiri.
“Eh, apa Kak?.”
“Gue sudah minta ijin untuk jemput lo saat pulang sekolah sama Kak Jo.”
“Tapi Ammar....”
“Ammar udah pergi. Mungkin Kak Jo sudah telpon dia.”
“Oh. Kok ga bilang Kak Arya mau jemput gue hari ini?.”
“Takut lo menghindari gue kalau gue bilang lebih dulu, gara – gara waktu itu.”
“Ya engga gitu juga Kak.”
“Ijinkan gue Drea, untuk selalu berada disisi lo mulai dari sekarang. Lebih dari sekedar teman..”**
“Kak gue ....”
“Yah, gue tau kalau gue berasal dari keluarga yang ga sebanding sama keluarga lo meski bokap kita temenan. Tapi gue tulus sayang sama lo Drea. Gue nyaman saat deket lo, denger lo bercerita. Ga pernah merasa senyaman ini deket dengan cewe. Bukan gombalan loh ya ini.”
( Andrea tersenyum tipis mendengar ucapan Arya ).
“Lo belum punya pacar kan?.”
“Belum....”
“Haahh lega gue .... berarti gue bisa dapat kesempatan untuk dapat kehormatan itu?. Untuk jadi pacar lo?. Kalau memang boleh, gue akan langsung minta ijin sama Uncle Andrew....”
“Kak....”
“Apa Uncle Andrew belum kasih lo ijin buat pacaran?. Tapi kalau lo mau kasih gue kesempatan, gue akan bicara dengan Poppa lo secara personal Drea untuk minta ijin pacarin anaknya. Biar Uncle Andrew lihat sendiri kesungguhan gue. Gue akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga dan....”
“Kak ....”
“Ya?.”
“Maaf, tapi gue ga bisa.... sorry banget Kak. Gue hargai pernyataan lo barusan. Suatu kehormatan juga buat gue. Tapi sekali lagi maaf, gue ga bisa kasih kesempatan itu. Untuk lo jadi pacar gue.”
“Tapi kan lo belum punya pacar, Andrea?.”
“Tapi sudah ada satu nama dihati gue....”
“Siapa?....”
“Alvarend Aditama Smith.”
“Tapi dia kakak lo, Drea.”
“Kami tidak sedarah.”
“Iya gue tahu, tapi....”
“Gue mencintainya Kak, gue cinta sama Abang Varen.”
__ADS_1
“Lo yakin itu cinta?. Yang lo rasa pada Kak Alvarend?. Bukan hanya sekedar obsesi lo pada laki – laki yang selalu bersama lo sejak lo kecil itu?.”
“Tadinya iya gue berpikir seperti itu. Hanya keposesifan gue pada Abang dari sejak gue kecil, obsesi seperti yang lo bilang. Tapi.... seiring waktu semakin lama gue yakini itu lebih dari sekedar rasa adik yang teramat menyayangi kakaknya, manja yang berlebihan. Tapi memang gue yakin itu cinta.... yang gue rasa pada Abang ....”
( Andrea tertunduk sambil menautkan jarinya dan memainkannya pelan ).
*“Hati gue serasa dirmas, saat tahu dia sedang dekat dengan orang lain, meski gue sendiri yang meminta untuk menjaga jarak. Jika itu hanya sebuah obsesi, seharusnya gue marah, bukannya merasakan perih dalam hati gue, bukan?.”**
“Kalau begitu tetap kasih gue kesempatan.”
“Kak....”
“Siapa tahu dalam kesempatan itu gue bisa membantu lo mengeluarkan satu nama yang ada dihati lo sekarang ini. Kalau memang dia sudah punya orang lain, dan lo sakit akan itu. Biar gue yang membantu menghilangkan sakit itu. Gue Cuma butuh kesempatan, jika lo ga bisa menerima gue sekarang ....”
“Tapi gue ga bisa kasih jawaban sama lo sekarang, tentang kesempatan yang lo minta itu, Kak.”
“Gue akan menunggu.”
**
“Takut lo menghindari gue kalau gue bilang lebih dulu, gara – gara waktu itu.”
“Ya engga gitu juga Kak.”
“Ya takutnya.”
“Apa gue terlihat menghindari lo sejak hari itu?.” Ucap Andrea.
“Ya engga sih.”
“Nah lo aja tuh yang berprasangka buruk sama gue.”
“Iya udah deh, sorry. Ayo deh, katanya lo laper. Daripada ngobrol disini, mendingan kita ngobrol dimobil sambil jalan. Sekalian....”
🎵Thinking You Could Live Without Me🎵
Suara dering ponsel Andrea yang ia simpan di sakunya terdengar.
Andrea mengeluarkan ponsel dari sakunya, namun tidak menjawab ataupun menolak panggilan. Ia biarkan saja, namun ia menekan tombol kecil disisi kana agar dering ponsel tidak terdengar.
“Ya udah ayo.”
“Ga lo terima dulu itu panggilan?.”
“Ga apa – apa, nanti aja. Berisik juga kalau terima telpon disini.”
“Ya udah yuk. Kita cari tempat makan, habis itu gue anter lo pulang.”
Andrea mengangguk saat Arya mengajak untuk masuk ke dalam mobilnya.
*
Dua hari berikutnya...*
“Mau ke rumah teman gue.” Sahut Andrea.
“Momma dan yang lain mau dateng loh nanti sore.”
“Iya tahu gue, Tan – Taann .... Gue juga Cuma sebentar aja kok. Dekat sini juga rumahnya.”
“Di komplek ini?.”
“Engga di Matraman situ.”
“Kenapa ga temen lo aja suruh kesini sih?. Ngomel lo nanti Momma kalau dia sampai lo ga ada.”
“Iyaaaa.... gue akan sampai kesini lagi sebelum mereka dateng. Eh inget loh ya, kalo Abang tanya sama lo, hari ini gue ada wisata alam!.”
Andrea menyahut lalu menegaskan sesuatu pada Nathan yang mimik wajahnya terlihat malas menanggapi.
“Tan – Tan!.”
“Iyaaa!!!! ...”
“Dah awas gue mau pamitan dulu.”
Andrea pun bergegas berpamitan pada anggota keluarganya yang ada di lantai bawah kemudian pergi dengan diantar Ammar.
**Kediaman Utama Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia ...
“Aman....”
Andrea mengusap dadanya saat sudah kembali ke rumah saat waktu sudah menunjukkan hampir jam setengah empat sore. Belum ada tanda – tanda Keluarga dari London sudah tiba. Kalau soal Abang yang jadi dateng apa engga, Andrea ga tahu. Belum dapat kabar, belum sempet tanya, karena sibuk menghindar dari Varen.
🎵Thinking You Could Live Without Me🎵
‘Pasti Abang nih.’
Andrea membatin.
‘Angkat ga ya?.’
Andrea belum mau menerima panggilan. Ia nampak masih menimbang – nimbang.
‘Dia inget ga sih kan gue bilang gue wisata alam hari ini, walau alasan gue aja. Tapi harusnya Abang inget, ingatannya kan tajam. Kok masih hubungi gue juga sih?...’
Andrea masih membatin sambil berjalan ke dalam rumah. Tidak ada anggota keluarganya di lantai bawah, hanya
ada asisten rumah tangga yang tadi menyambutnya yang Andrea tak sengaja hiraukan karena panggilan telpon dari Varen yang tak kunjung berhenti.
🎵Thinking You Could Live Without Me🎵
__ADS_1
Ponsel Andrea berdering lagi.
‘Tumben Abang non stop calling, biasanya ga diangkat sekali di kirim chat setelah itu.’
Ponsel Andrea terus – terusan berdering dan semuanya panggilan dari Varen, dua kali tak dijawab Andrea, Varen terus memanggil.
“Ih, Abang hari ini kenapa sih, telpon ga berhenti – berhenti, ga inget gue lagi wisata alam apa ih. Dibilang ga ada sinyal, oon banget!. Duuuh ... terima ga ya? ...”
Andrea yang kebingungan untuk menerima atau tidak panggilan Varen itu bergumam sendiri saat sudah masuk ke kamarnya dan bersandar di pintu setelah ia menutupnya.
‘Jangan – jangan Abang tanya sama si Tan – Tan lagi!. Eh tapi kan udah titip pesen sama dia tadi udah gue ingetin ulang, dan udah titip pesen ke semuanya bilang gue wisata alam hari ini, kalau Abang ada tanya mereka.’
🎵Thinking You Could Live Without Me🎵
“Ck!.”
Andrea berdecak sebal, karena ponselnya berdering lagi, masih panggilan dari ‘Abangnya Drea’.
“Ehem!.” Andrea berdehem. Dengan ragu – ragu akhirnya menggeser tombol hijau tapi sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya. “Ha-lo...”
“Dimana ...? ...”
“Ha-lo... Abang... hah – apa?... suara Abang agak jauh nih!.”
“Dimana ...? ...”
Varen terdengar bertanya lagi dengan pelan disebrang ponsel. Satu kata yang sama dengan pertanyaan sebelumnya, namun suara Abang terdengar datar ditelinga Andrea. Salam pun tidak, langsung nanya. Tumben.
Andrea sedikit menjauhkan lagi ponsel dari telinga dan mulutnya sebelum menjawab, agar seolah – olah memang benar dia sedang berada ditempat yang susah sinyal.
“Kan – Drea sudah bilang ... hari ini – sedang wisata alam ... jadi susah terima telpon ...”
“Apa di sekolah kamu di ajarkan berbohong, Miracle Andrea?.”
‘Eh?.’
Andrea seperti mendengar suara Varen keluar dari ponsel hingga terdengar dekat.
“Eeeng... hah – apa, Bang ...?.” Andrea duduk ditepi ranjang sambil kembali melanjutkan sandiwaranya yang seolah tidak jelas mendengar suara Varen.
Klik!.
Panggilan telpon itu dimatikan Varen, Andrea hendak menarik nafas.
“Selain sudah pandai berbohong, kamu juga menjadi tuli, Miracle Andrea?.”
Prakk!
Ponsel Andrea seketika jatuh ke lantai beralaskan karpet di kamarnya.
“*What the f*k ...” Andrea mengumpat pelan karena ponselnya terlepas dari tangannya dan jatuh ke atas karpet yang mengitari lantai dibawah ranjangnya.
Panggilan dari Abang Varen di ponsel sudah mati, tapi suaranya masih ada, dan makin jelas malahan. Seketika Andrea merinding. Ragu, juga takut, Andrea memiringkan kepalanya dan menoleh ke arah suara itu berasal.
“Juga pandai mengumpat?.”
Dan disana berdiri bersandar, sambil mensedekapkan kedua tangannya di pintu penghubung antara kamar tidur Andrea dan balkon kamarnya. Menatap Andrea dengan sorot mata yang tajam, menghadap padanya.
‘Mati gue!.’
Andrea meneguk kasar salivanya, dia sungguh tak menyangka.
“A... Ab – bang????...”
**
Massachusetts, United States of America ...
Dua hari yang lalu..
“Sir! ( Tuan! ).”
“What you’ve got? ( Apa yang kau dapat? ).”
“Here, Sir ( Ini, Tuan ).”
( Varen menerima Amplop putih dari orang yang sedang berbicara dengannya, serta langsung membuka amplop tersebut dan melihat isinya ).
‘Gadis bodoh, apa dia lupa kalau tiga hari lagi ulang tahunnya?. Poppa dan lainnya akan datang ke Jakarta lusa dan dia pikir aku percaya begitu saja tentang ‘wisata alam’ yang dia bilang itu, Cih!.’
( Varen tersenyum miring ).
“Are we going now to Airport, Sir? ( Apa kita berangkat sekarang ke Bandara, Tuan? ).”
“Hem.”
( Varen hanya menjawab dengan deheman pada pria yang bertanya padanya dan kini sudah duduk di kursi penumpang samping supir dalam mobil yang juga ia tumpangi. Pria itu pun langsung menyuruh sang supir yang duduk disamping kirinya agar segera melajukan mobil ke sebuah Bandara yang memang khusus untuk jalur jet pribadi ).
‘Tujuh belas tahun, dan kamu ingin menarik diri dariku sekarang, Miracle Andrea? ...’
**Jakarta, Indonesia ...
“A... Ab – bang????...” Andrea tergugu.
Sungguh ia tak menyangka kalau kini sang Abang ada di Jakarta, bahkan dikamarnya. Sedang berdiri menatapnya dengan pandangan menusuk, namun tak beranjak dari tempatnya berdiri sekarang.
“Tempat wisata alammu begitu mirip dengan kamar pribadimu ya?.”
“Itu...”
**
__ADS_1
To be continue..