
⭕ WHAT NATHAN BEEN HIDE ⭕
( Yang Nathan Sembunyikan )
Selamat membaca ...
************************
Andrea, Varen bersama Papi dan Mami sudah berpamitan dari Kediaman Keluarga Dokter Clarissa.
“Kalian menginap di mana malam ini?. Mau kembali ke Kediaman Utama atau ke rumah Daddy R?” Tanya Mami
Prita kala mereka berempat sudah dalam perjalanan didalam mobil yang dikemudikan oleh Varen.
“Drea sih terserah Abang saja!...”
“Kebiasaan terserah aku deh”
“Nanti Drea yang memutuskan, Drea salah lagi???? .....” Sahut Andrea.
“Apa kamu sedang menyindir ku, hem?”
Varen melirik Andrea dari kaca spion depan dengan menyunggingkan senyumnya. Papi dan Mami terkekeh kecil.
“Berantem lagi, Mami ketok dua – duanya”
Mereka ber empat pun terkekeh bersama.
**
Varen dan Andrea pada akhirnya memutuskan untuk menginap saja di Kediaman Utama seperti biasa. Tempat tinggal utama mereka. “Ngobrol apa saja tadi dengan Rendy?”
“Jealous. ( Cemburu ) nih?”
Varen pun langsung terkekeh dan mengacak pelan rambut Andrea saat mereka sudah berada didalam kamar pribadi mereka itu. Andrea ikut terkekeh.
“Hanya memastikan benar atau tidak dugaan Drea tentang cewe yang waktu itu kita lihat sedang sama Kak Rendy
kemarin di Coffee Shop-nya Hospital”
“Lalu?. Benar itu mantannya si Tan – Tan?” Tanya Varen.
“Iya benar. Itu Kevia. Kevia yang sama yang Drea duga”
“Mau langsung kasih tahu si Tan – Tan kalau gadis itu sudah kembali?”
“Iya nanti, kalau Tan – Tan sudah kembali dari Paris” Sahut Andrea. ‘Gue.... kasih tahu Abang ga ya, soal apa yang tadi Kak Rendy bicarakan?’ Andrea membatin.
Varen sudah masuk duluan ke dalam walk in closet, sementara Andrea langsung masuk ke kamar mandi.
‘Tapi kalau gue cerita mentah – mentah sama Abang tentang cerita Kak Rendy soal Kevia tadi, takutnya gue
salah, malah jadi ribut duluan Abang dan Tan – Tan. Gue harus bicara langsung sama Tan – Tan untuk memastikan. Ya Tuhaaaannnn semoga gue salah’
****
Fakta ...
Yang ingin segera Andrea dapatkan kepastiannya. Nathan lama sekali datang dari Paris dalam penantian
Andrea. Mulutnya sudah tak sabar ingin bertanya langsung pada Nathan, ingin menemukan kebenaran dari reaksi Nathan nanti.
Ingin sekali bisa bertemu dan bicara dengan Kevia. Gatal, mau menanyakan nomornya Kevia, tapi takut Kak
Rendy curiga.
Bagaimanapun jika dugaan Andrea benar adanya tentang Nathan dan Kevia, ini akan menjadi urusan keluarga, yang jika Andrea katakan dengan berat, aib nya Nathan. Lagipula selain Kak Rendy yang curiga kenapa Andrea begitu penasaran dengan Kevia, Abang juga pasti akan bertanya lebih detail.
Ah, Andrea dilema.
Tak seharusnya mencampuri urusan pribadi Nathan, Tapi penasaran juga.
Tapi juga, kalau apa yang Andrea duga tentang aibnya Nathan itu benar, sudah sepatutnya itu dibicarakan
dalam keluarga. Nathan jahat sekali kalau keburukan itu benar adanya.
Tapi lagi, apa iya Nathan setega itu?
*****
Hanya dia menjadi aware pada orang – orang di sekitarnya. Ditambah, saat dia hamil...
A... apa?. Ha – hamil?.
Iya, hamil, saat dia masih kelas dua SMA ....
Ya Tuhaaaannnn ....
Iya, miris kan?
A ... pa dia cerita siapa yang menghamili dia?...
Kevia sih ga kasih tahu siapa lebih jelasnya. Dan aku hargai privacy-nya. Aku hanya sebatas memberi dukungan. Jika memang dia memintaku untuk menghajar laki – laki itu, akan aku sanggupi. Tapi tidak. Kevia tidak pernah memintanya. Dia bilang sedikit banyak juga ia bersalah. Mereka melakukannya atas dasar mau sama mau.
Jadi yang menghamili Kevia???? ...
Pacarnya kala itu. Kakak kelasnya jika tidak salah..
***
‘Hish!!! Kenapalah gue jadi pusing sendiri memikirkan soal si Tan – Tan dan Kevia itu!!!’ Andrea menggaruk kesal kepalanya sendiri, bertingkah bak orang yang frustasi.
“Anda baik – baik saja Nyonya?”
Ammar yang melirik dan melihat sang Nyonya Muda nampak aneh di kursi belakang itu spontan bertanya.
“Hum?”
“Apa Nyonya baik – baik saja?”
“Ah, oh! .... Iya aku baik – baik saja”
“Kita langsung pulang, atau Nyonya ingin diantar ke suatu tempat?”
“Antar aku PP dulu, Ammar. Ada yang ingin kubeli. Sekaligus aku mau makan” Pinta Andrea pada driver sekaligus bodyguardnya itu. ‘Pusing, jadi lapar. Abang sibuk banget sih hari ini. Kalau engga gue ke Perusahaan deh, bisa cup cup ah ah Abang sebentar kan?’
__ADS_1
“Baiklah Nyonya”
“....”
“Jangan lupa untuk mengatakan pada Tuan Muda jika Nyonya ingin mampir dulu ke PP”
“Iyaaaa Ammaaarrr...”
Andrea mengerucutkan sekali
“Bawel ga hilang – hilang!” Gerutu Andrea dengan menggumam.
Ammar tersenyum tipis dibalik kemudinya. “Saya hanya mengingatkan Nyonya”
“Iya iya! Terima kasih!”
“Sama – sama Nyonya”
“...”
“Jangan lupa memberitahukan Tuan Muda”
“Iyaa Ammaaaaarrrr!!!!.... Ya ampuunnnn! ...”
“....”
“Nih! Nih! Sudah aku kirimkan pesan nih! Tuh aku telpon ga diangkat!” Andrea menunjukkan ponselnya tepat
diwajah Ammar saking kesal.
“Iya saya percaya. Terima kasih”
“Masa bodoh!”
***
Sebuah Mal Elite di Kawasan Jakarta Selatan
‘Makan Poke Bowl kali ya?’
Andrea sedang menimbang – nimbang makanan yang ingin ia makan saat ini.
‘Ah engga deh. Pepper Lunch aja kayaknya. Banyak kan tuh porsinya’
Andrea masih membatin.
“Ammar, kita ke Pepper Lunch aja ya?”
“Terserah Nyonya saja”
“Ya udah ayo”
***
“Eh?”
“Ada apa Nyonya?. Apa ada seseorang yang kira – kira mencurigakan?” Tanya Ammar sembari celingukan.
“Ck! Apa sih?!”
“....”
“Tidak bisa Nyonya, saya harus memastikan keselamatan Nyonya”
Andrea menghirup udara banyak – banyak, mencoba menenangkan dirinya agar tak berteriak pada Ammar yang
menurut Andrea terlalu berlebihan menjaganya itu jika si Abang sedang tidak bersamanya. “Ammarrrr...”
Andrea berbicara sambil merapatkan giginya.
“Jarak dari sini ke meja itu tidak sampai tiga meterrr, Ammaarr ... mata kamu masih bisa lihat kan?. Aku hanya mau menghampiri teman aku! Ngerti?!”
“....”
“Tunggu disini! Duduk yang manis, atau aku acak – acak ini restoran, mau? Menanggung resiko aku membuat
keributan???!!!!”
Ammar mendengus. “Baiklah Nyonya...” Pasrah ...
Suka aneh – aneh kan memang ini Nyonya Muda sejak ia masih seorang Nona Muda?. Mau tidak mau Ammar
mengikuti kehendak Andrea.
Andrea mengangkat jempolnya. “Gooooddd ... Aku hanya mu memastikan itu benar atau engga teman aku. Nanti
kalau ternyata kamu lihat aku langsung duduk ditempatnya, makanan aku minta pelayannya antar kesana ya?”
Ammar mengangguk. “Baik, Nyonya”
Andrea mengangkat jempolnya pada Ammar.
“Ya sudah duduk ...” Andrea mengkode dengan kepalanya.
“Iya”
Ammar pun duduk dan Andrea baru berjalan meninggalkan pengawal pribadinya itu yang duduk namun sikapnya
tetap siaga dan matanya fokus pada si Nyonya Muda. Andrea berjalan menuju ke satu meja disudut restoran tempatnya berada sekarang.
Andrea berjalan menuju suatu sudut meja dalam restoran yang ia sambangi saat ini, dimana ada seorang wanita yang wajahnya familiar, sedang duduk sendirian disana.
“Permisi ...”
“Ya?”
“Kamu, Kevia?”
"Iya....."
*****
“Serapat – rapatnya bangkai meskipun ditutup dengan apik, pasti akan tercium juga”
“Ngomong apa sih lo Cute Girl???? ....”
__ADS_1
“Bukan apa – apa, hanya berbicara, siapa tahu yang merasa, ingat”
“Maksud?”
“Ga ada maksud apa – apa. Cuma berbicara saja kan tadi gue bilang”
Nathan mendekatkan wajahnya pada Andrea.
“Aneh lo” Ucap Nathan pada Andrea sambil geleng – geleng dan cengengesan.
“Anehnya?”
“Ya aneh! Tiba – tiba ngomongin hal ga jelas!...”
“Apa yang ga jelas?”
“Nah itu tadi lo ngomong soal bangkai?”
“Ohhhh .....”
“Ah oh! Ah oh!”
“.....”
Andrea tersenyum tipis, sedikit sinis, menatap Nathan.
“Tan – Tan!”
“Hem?”
“Ga merasa menyimpan bangkai?”
Nathan kembali menoleh pada Andrea setelah tadi sempat menatapnya lalu melengos dan duduk di depan komputer game miliknya. “Asli, gue ga ngerti maksud lo! Bangkai, bangkai, bangkai apaan sih?!”
“Bangkai yang lo simpan lah”
“Wah lo bener – bener melantur Cute Girl ... dateng – dateng ngomongin bangkai. Bentar lagi kita mau makan malam ini. Geli tau ga?”
“......”
“Ngapain juga gue nyimpen Bangkai?! Mending juga gue nyimpen uang! Cewe kek! Nyimpan bangkai .... Bangkai apaan tau! Abis berantem kali lo ya? sama Abang makanya ngaco ngomong lo!”
“Bangkai yang tersimpan rapih selama kurang lebih empat tahun ....”
Nathan tidak jadi memasang headset game di kepalanya, kepalanya spontan menoleh ketempat Andrea berdiri sekarang.
Andrea menatap Nathan dengan pandangan yang sulit Nathan artikan.
“Tentang apa yang sudah lo lakukan pada Kevia ...”
“.....”
“Sesuatu yang buruk, sesuatu yang busuk... bangkai bukan namanya?... Jahat banget ternyata lo ya?”
Nathan bangkit dari tempatnya.
“Gue ga ngerti maksud lo”
“Gue perjelas kalau begitu”
“....”
“Perginya Kevia, bukan semata – mata karena masalah keluarganya. Tapi lo, juga ada andil atas kepergian Kevia. Benar?”
Nathan terdiam sesaat.
“Melihat ekspresi lo, sepertinya itu benar? Kalau lo termasuk dalam alasan kenapa cewe bernama Kevia itu tiba – tiba menghilang”
“Sok tahu lo!”
“Gue tahu Tan, kebusukan lo ....”
“Jaga bicara lo Drea!”
Nathan berseru memandang Andrea dengan sedikit tajam.
Andrea menyunggingkan senyumnya pada Nathan, senyuman tipis sedikit sinis. Bibir Andrea tersungging miring menatap Nathan lamat – lamat.
“Kok nyolot?”
“Ya elo sok tahu!”
“Memang gue tahu”
“Tahu apa lo?! Lo ga tahu apa – apa tentang gue dan Kevia! Jadi tolong, jaga bicara lo dan keluar dari kamar gue sekarang”
Andrea terkekeh sinis.
Air muka Nathan pun nampak berubah. “Keluar gue bilang”
“Pengecut!”
“Drea!” Wajah Nathan kian berubah.
“Apa namanya kalau bukan pengecut setelah lo merusak Kevia lalu lo lepas tanggung jawab, Hah?!”
“Diam Drea!”
“Gue tahu Than! Gue tahu kisah lo dan dia! Apa yang sudah lo lakukan ke dia!”
Nathan nampak terkejut, namun ucapan Andrea kembali disanggah nya.
“Gue bilang diam! Tutup mulut lo!”
“Oh salah gue ralat, lo bukan hanya pengecut, tapi juga ba**ngan!!!”
“DREA!”
“Benar kan? Kedua sebutan itu cocok buat lo! ....”
“CUKUP!”
“APANYA YANG CUKUP?! CUKUP ITU UNTUK KELAKUAN LO, SEORANG BA**NGAN YANG SUDAH MERUSAK SEORANG CEWE SAMPAI DIA HAMIL! IYA KAN?!”
*****
__ADS_1
To be continue....