
GEMOY
Selamat membaca..
“Nunu” __ “Nana” __ “Abang mau\, kenalan sama mereka?”
Tolong .... Abang butuh tambahan oksigen sepertinya.
***
Andrea sedang melihat pantulan dirinya sendiri didepan cermin meja rias dalam walk in closet di kamarnya dan Varen.
Sepertinya Andrea sedang membayangkan sesuatu, hingga ia tersenyum simpul sendirian. Hingga tak sadar jika ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya sembari bersandar diantara pintu walk in closet sembari menyunggingkan senyumnya.
“Pasti sedang memikirkan sesuatu yang nakal”
Andrea yang sedang melamun itu pun mengendikkan bahunya.
“Abang ih! Kaget nih Drea ....”
“Siapa suruh melamun, hem?”
Varen berjalan mendekati Andrea. “Siapa juga yang melamun?” Sahut Andrea.
“Buktinya kaget?”
“Habis Abang tahu – tahu muncul!”
Varen tersenyum dan memeluk Andrea dari belakang.
‘Hati, jangan mulai’ Andrea membatin. Sedikit mulai kikuk sendiri. Lalu menunduk.
“Kenapa, hem?”
“Gaaa apa – apa?”
“Salting ya?”
“Ih apa sih Abang!”
“Makanya jangan nakal”
***
Weekend pagi .......
Andrea sedang memandangi Varen yang sedang bermain basket bersama tiga Daddies mereka di lapangan basket
yang ada di pekarangan kediaman mereka. Fokusnya pada Varen seketika terusik saat Nathan datang menghampirinya yang sedang berada di balkon depan yang berada di lantai dua.
“Gimana?”
“Gimana apa?. Datang – datang langsung bertanya yang ga jelas lo”
“Ck! Ga usah belaga bego lo ah! Paham pasti lo maksud pertanyaan gue, kan? Cute Girl sengklek!”
Andrea terkekeh.
“Jadi lo pancing Abang semalam?” Tanya Nathan penasaran.
“Menurut lo?”
“Ih, gue nanya, malah nanya lagi!”
“Lagian elo, cowo, kepo banget!”
“Gue ini penasaran. Tuh ustad Varen kan kuat banget imannya perasaan gue. Nah pabrik susu gratis dia yang punya ga mau dicobain. Udah hak milik lagi”
“Haha!....” Andrea spontan tergelak. “Mulut lo tuh ya!”
“Sudah cepat kasih tahu, lo jadi pancing si Abang semalam?” Tanya si Tan – Tan lagi yang penasaran pada si Abang yang memang nampak teguh pendiriannya untuk tidak ‘menyentuh’ Andrea sampai gadis itu lulus SMA.
Andrea cengengesan.
“Drea!” Nathan membeo.
“Heemm??” Sahut Andrea.
“Jangan ham hem aja, jawab. Lo jadi pancing Abang ga?”
Andrea bersikap masa bodoh menanggapi Nathan, sambil kembali memandangi Varen di lapangan basket.
“Drea! Jawab ga?!” Nathan memaksa, Andrea masih bersikap masa bodoh. “Wah, ngajak ribut nih bocah!”
“Tan – Tan!”
Andrea memekik saat Nathan menjegal leher Andrea tidak serius sambil menggelitikinya.
“Jawab ga?”
“Hahaha.... iya ampun....”
“Jawab makanya!”
“Iyaaa gue jawab, lepasin dulu tapi”
“Ga jawab dulu!”
“Ahaha.... iya iya gue jawab.... Iya jadi gue pancing si Abang” Ucap Andrea .
“Seriusan Drea?!” Nathan langsung melepaskan jegalannya dan kini memegang kedua lengan Andrea dengan wajah konyolnya.
“Iyaaa ih!”
“Ahahaha, asli nekat bin gatel lo Cute Girl! Haha ....”
Nathan tergelak tak percaya dan Andrea cekikikan.
“Terus gimana?”
“Uummm ...”
__ADS_1
**
Semalam ...
“Tidak baik tidur menggunakan pakaian yang terlalu ketat” Ucap Varen.
“Bukannya ini membuat mereka nampak perfect?” Sahut Andrea.
Varen spontan menoleh pada Andrea. “Mereka?”
Andrea manggut – manggut.
“Mereka siapa?”
“Nunu and Nana”
“Nunu and Nana?” Varen tak paham, sementara Andrea tersenyum jahil. “Siapa Nunu and Nana?”
“Ini”
Mata Varen spontan membelalak saat Andrea mencondongkan tubuhnya di depan Varen.
“Nunu” Menggerakkan sesuatu berukuran 36D yang sebelah kanan. “Nana” Kemudian yang kiri. Abang menelan kasar salivanya. “Abang mau, kenalan sama mereka?”
Gluk!
‘Tarik nafas... hembuskan...’
Abang membatin, bersamaan dengan tenggorokannya yang terasa kering. Jantung mulai deg – deg ser, dirinya mulai salah tingkah. Suhu kamar sejuk. Dingin sih, tapi kok mulai agak – agak panas ya?.
‘Tidak usah kebanyakan mikir Alvarend! Sambat! Daripada mubazir!”
Sebelah hati Varen mulai rusuh.
‘Pegang dulu biar ga penasaran! Sekalian cek keaslian....’
Hati yang tak berakhlak itu rusuh lagi.
‘Awas, ingat janji pada dirin sendiri. Andrea belum lulus SMA loh....’
Batin yang sebelah lagi mengingatkan.
‘Alah sudah hak milik itu pabrik susu cap nona. Kalau Cuma main di pabrik susu ga akan hamil itu Little Star’
Abang coba berpikir lurus, coba fokus.
Abang memalingkan pandangannya dari Nunu dan Nana. Ingin tetap fokus pada janjinya ke diri sendiri, namun galau melanda.
“Hhhhh ....”
Andrea terdengar menghela nafasnya.
Tapi sialnya bagi Varen, kenapa helaan nafas Andrea itu seolah menggelitik telinganya dan terdengar seksi, begitu menggoda iminnya. Abang melirik Andrea saat ia pura – pura fokus dengan laptopnya. Gadis itu sepertinya sedang tersenyum. Varen sedikit tersentak kala tangan Andrea menangkup wajahnya dan menghadapkan ke wajah
istrinya itu.
“Abang, Abang. Lucu banget sih. Sampai tegang begini mukanya”
Andrea terkekeh kecil sambil menggoyangkan wajah Varen yang matanya seolah berusaha berpaling dari Nunu dan Nana. Pria itu diam saja. Memang benar dia tegang seperti ucapan Andrea barusan.
“Ya sudah ya, Drea bobo duluan kalau begitu. Abang masih mau mengecek kerjaan kan?” Ucap Andrea seraya bertanya dan Varen mengangguk pelan.
Andrea tersenyum dengan manisnya, nampak hendak berdiri, karena satu kakinya yang tadi ia naikkan ke atas sofa, kini sedang dikaitkan ke slippernya lalu berdiri kemudian.
Cup
Satu kecupan dipipi Varen mendarat dengan lembutnya dari bibir Andrea yang orangnya sedikit menunduk dihadapan Varen. Yang nampak cool diluar, padahal hatinya sedang berperang.
“Love you....”
“Lo-love-you-t-too....”
Cup
Satu kecupan dikening Varen yang sumpah membuat hati si Abang berdegup tak karuan. Pasalnya Nunu dan Nana
hampir menempel diwajahnya kala Andrea mencium keningnya.
Ada yang naik turun namun bukan perekonomian, melainkan jakun si Abang.
“Matikan lampunya kalau sudah selesai ya?”
Varen memejamkan matanya, kala jemari lentik Andrea menyentuh pelan garis rahang Varen, saat Andrea hendak berjalan menuju ranjang mereka.
Strawberry
Mangga
Donat
.........
SYUT!
Abang sudah tak kuat.
Di cekalnya tangan Andrea yang hendak berjalan itu dengan tiba – tiba hingga Andrea memekik pelan dan sampai jatuh diatas pangkuan Varen.
Goyah sudah pertahanan pertama Alvarend Aditama Smith malam ini, gegara istri kecil yang asetnya tidak bisa dibilang kecil. Ah, Pabrik susu Andrea, sudah memporak – porandakan pertahanan si Abang yang tadinya kokoh berdiri.
Tubuh Andrea Varen kunci dalam pangkuannya. Tanpa bicara, hanya menatap pada Andrea. Hingga netra mereka
bersinggungan. Ada rasa yang aneh kian menjalar disekujur tubuh Andrea, saat dipandangi Varen seperti itu, sambil telunjuk panjang si Abang menyusuri wajah Andrea. Begitu juga yang Varen rasa.
Benturan bibir kemudian bertemu dengan cepat, saat Varen memegang tengkuk Andrea dan menempelkan bibir mereka.
Lembut diawalnya, namun kian berubah sepersekian detiknya, terlebih saat Andrea melingkarkan tangannya dileher Varen.
Andrea merasakan dirinya seolah terbang, saat Varen masih terus bermain dengan bibirnya.
Yang kemudian baru Andrea sadari kalau sebenarnya Varen sudah berdiri dari duduknya tadi, menggendong Andrea bak bayi koala, tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Andrea seolah menahan nafasnya, kala Varen melepaskan belitan bibirnya pada bibir Andrea. Didetik yang sama dia tersadar, bahwa mereka sudah berada diatas ranjang.
“I Love you, Little Star....” Ucap Varen lembut yang berada diatas Andrea sambil kembali menyusuri telunjuknya di wajah Andrea, dan satu tangan Varen menjadi penopang dirinya agar berjarak dari tubuh Andrea.
“I love you too, Abang....”
Varen menyunggingkan senyumnya dan kembali menyerang bibir Andrea dengan perlahan.
Tubuh Varen yang tadinya berjarak itu kini kian rapat, membuat Andrea merasakan tonjolan keras dibawah sana. Yang sudah bisa Andrea pastikan bahwa itu adalah sosis jumbo yang membuat dirinya penasaran.
__ADS_1
Wajah Andrea bersemu merah, meski pakaian mereka masih melekat pada tempatnya.
Untuk pertama kalinya, mulut Andrea menyuarakan sesuatu yang belum pernah sama sekali ia lakukan. Mend**ah.
Saat bibir Varen sudah berpindah ke lehernya dan deru nafas si Abang yang seolah menahan untuk menggeram begitu terasa menyapu kulit leher Andrea, membuat bulu – bulu halus ditubuh Andrea meremang seluruhnya.
“May I? ( Boleh? )”
Varen menghentikan kegiatan bibirnya di leher Andrea, bertanya dengan telunjuknya yang sudah berada di tulang selangka Andrea. Sudah siap untuk merambat ke pabrik susu jika istri kecilnya itu memberikan persetujuan.
Andrea paham maksud pertanyaan Varen dan ia pun mengangguk pelan.
‘Lampu hijau. Hajar Bang!’
Batin tak berakhlak milik Varen bersuara lagi.
Tangan Varen merambat turun dengan pelan, akhirnya kenalan dengan Nunu Nana.
Andrea menggigit bibir bawahnya kala tangan Varen sudah berada di ujung kaosnya yang hanya sebatas udel itu, hingga kemudian si Abang sukses menanggalkan nya.
Varen meneguk kasar salivanya, kala Nunu dan Nana sudah terpampang nyata dihadapannya tanpa halangan apapun lagi, karena Andrea memang tak memakai penyangga lain dibalik kaos super ketatnya tadi. Varen kembali menatap Andrea sebelum melakukan sesuatu disana, meski rasanya ia sudah begitu gemas.
Berharap Andrea tak merubah keputusannya.
Andrea mengangguk pasrah, kala Varen kembali menatap iris matanya. Seolah kembali meminta ijin, untuk bermain bersama Nunu dan Nana.
Roti sobek yang sering Andrea lihat dengan curi – curi pandang kala si Abang sedang berenang, nge - gym, atau bahkan jika suaminya itu selesai mandi kini terpampang nyata dihadapannya setelah Varen menanggalkan kaosnya dan melemparnya sembarang.
Tangan Andrea terulur begitu saja, menyentuh perut Varen yang seperti dibuat dengan cetakan dan terlihat kokoh itu.
Varen menyunggingkan senyumnya. Namun kemudian meraih tangan Andrea yang tadi menyentuh perutnya, menciumi telapaknya lalu mengalungkan kedua tangan Andrea kebelakang lehernya dan Varen kembali menundukkan tubuhnya untuk kembali menyapa Nunu dan Nana, berinteraksi lebih dekat pada dua benda berdiameter sama yang sudah memporak porandakan pendiriannya.
Tangan Andrea sudah bergerak tak beraturan saat Varen sudah mulai bermain dengan Nunu dan Nana tak hanya
dengan tangannya.
Paham dah yak. 😆
Varen tak perduli pada jambakan gemas di rambutnya, serta kuku Andrea yang mungkin sempat menancap dipunggungnya.
Abang sedang fokus, pada Nunu dan Nana.
“Ah-bangh ....”
Andrea terlena ... itu baru sampai Nunu dan Nanan dan tubuhnya sudah seolah bergetar. Abang pandai sekali.
***
“Sudah cepat kasih tahu, lo jadi pancing si Abang semalam?”
“....”
“Drea!”.
“Heemm??”
“Jangan ham hem aja, jawab. Lo jadi pancing Abang ga?”
“....”
“Drea! Jawab ga?!” ___ “Wah\, ngajak ribut nih bocah!”
“Tan – Tan!”
“Jawab ga?”
“Hahaha.... iya ampun....”
“Jawab makanya!”
“Iyaaa gue jawab, lepasin dulu tapi”
“Ga jawab dulu!”
“Ahaha.... iya iya gue jawab.... Iya jadi gue pancing si Abang”
“Seriusan Drea?!”
“Iyaaa ih!”
“Ahahaha, asli nekat bin gatel lo Cute Girl! Haha ....”
“....”
“Terus gimana?”
“Uummm ...”
“Sukses?! Udah ngerasain sosis jumbo?! Jawab Drea!” Nathan yang super antusias. “Berbagi itu indah Dreaa ..” Seloroh Nathan.
Namun Andrea bungkam.
“Drea! Jawab!” Nathan makin tak sabar. “Aku tuh ga bisa diginiin!!!”
Yang membuat Andrea cekikikan hingga tergelak dengan kelakuan alay si Tan – Tan.
“Ehem” Andrea berdehem. Lalu menurunkan kerah leher kaos halter necknya. Dan nampak sebagian prakarya dileher Andrea yang hanya terlihat sedikit saja, dan si Tan – Tan itu akibat apa.
“Emang Anjiiiimm lo Drea!!. Hahaha! ..”
Si Tan – Tan entah kenapa begitu girang sampai gemas menepak jidat Andrea yang orangnya tak marah ataupun
protes, namun ikut tergelak tanpa akhlak.
“Hebat lo hebat cute girl sengklek! Gila! Bisa runtuh juga itu pertahanan si Abang. Ckckck ...Haha..”
“Baru tahu lo, gue hebat?”
“Ckck. Memang lo goda Abang pake cara apaan?”
“Thick strap, super ketat berbelahan amat rendah”
“Terus?”
“Terus gue tanya, Abang mau kenalan sama Nunu dan Nana?”
Andrea mempraktekkan kurang lebih gayanya yang semalam saat menggoda Abang, membuat Nathan benar benar tergelak segelak segelaknya.
“Perempuan minim akhlak emang lo Dreaaaaa!.. Momma ngidam apa tahu saat hamil lo! .. Hahahaha! ..”
__ADS_1
***
To be continue..