
Noted : Setelah kelar, dah siap di up. Ternyata ini episode terpanjang yang pernah emak tulis selama ini.
*************
SUPERMASSIVE BLACK HOLE
(Lubang Hitam Yang Sangat Besar)
Part Three ( 3 )
******************************************
Selamat membaca ...
************************
Rumah Sakit ......
“Dru, Ren ..”
“Ada apa Ma?”
“Itu ... Drea ....”
“Kenapa dengan Drea, Ma?”
“Kayaknya die udeh hampir bangun, Dru. Tapi berhubung denger cerita kalian berdua tadi, kita yang di dalem ga ada yang berani deketin die. Takut si Drea syok malahan entar.”
“Ya sudah ayo, biar Andrew yang lihat”
**
“Rery, go call Doctor (pergi panggil Dokter)”
“There’s a switch at there kan, Pop? (Ada tombol disana kan Pop?)”
“Nanti kakakmu terganggu” Ucap Poppa.
“Oh iya” Sahut Rery. Iapun langsung berjalan keluar dari ruang rawat sang kakak.
Poppa dan Daddy R mendekati brankar Andrea.
“E – ugh..”
“Little Star...”
**
‘ The Playground ‘...
“Pi”
Nathan yang menyusul Papi John ke toilet dalam Playground rahasia para pria Adjieran Smith itu memulai pembicaraan saat keduanya mencuci tangan di wastafel.
“Kenapa?”
“Eumm .... apa yang Abang sudah lakukan pada pria tadi ......”
“Tak perlu kau pikirkan soal itu Than”
“Bukan maksud memikirkan Dad. Sedikit banyak sih iya juga sebenarnya”
“.....”
“Bukan soal kemarahan Abang. Akupun sudah lepas kendali pada salah satu orang yang sudah melecehkan Via.
Semua kengerian ini, apa tidak akan berimbas pada keluarga kita di depannya?”
“Kupastikan, kuyakinkan tidak”
“.....”
“Jika mau terendus, sudah sejak jaman Poppa dan Daddy R dikenal sebagai Duo Black Drakes, Boy!”
Nathan manggut – manggut. “Lalu semua hal, maksud aku mereka yang ‘habis’ disini?”
“We have ‘sweeper’ ( Kita punya ‘tim penyapu’ )” Kata Papi dengan santainya.
“Macam difilm – film ada ‘sweeper’ nya”
Papi spontan terkekeh mendengar celetukan Nathan.
“Tempat ini.. apa Moms dan Drea juga tahu?” Tanya Nathan.
“Nope!”
“Huuumm ..”
“Hanya para pria saja, termasuk Gappa yang tahu tentang tempat ini”
Nathan manggut – manggut lagi. “Sudah ada sejak jaman Gappa?” Tanya Nathan lagi.
“Tidak, baru di bangun saat Dad mu sudah merebut kembali Perusahaan ini dari tangan almarhum kakekmu”
“Jadi tujuan ini didirikan untuk hal seperti ini?. Musuh kalian banyak sekali ya?”
Papi terkekeh.
“Sebenarnya Playground ini hanya sebagai sarana untuk menginterogasi, menakut – nakuti mereka yang mencari
gara – gara, berlaku curang pada kita”
“.....”
“Uncle Sean, Uncle Rico dan beberapa Uncle kalian yang lain juga sering mempergunakan tempat ini untuk
kepentingan mereka seperti yang kubilang tadi. Jika memang terpaksa untuk melakukan hal – hal yang kau lihat tadi, ya sudah”
“.....”
“Banyak yang sudah terjadi, Boy. Bahkan jauh sebelum Abang lahir. Kami tidak pernah mencari musuh sebenarnya. Tapi semakin tinggi pohon kan semakin kencang anginnya. Tidak sedikit orang yang mencari gara – gara, baik langsung dengan kami atau pun mengganggu Moms kalian”
“.....”
“Banyak juga orang yang mencoba menjatuhkan kita dengan cara yang licik. Karena mereka pikir, terutama orang – orang disini, keluarga kita hanya keluarga Pengusaha biasa saja. Tidak terkenal seperti di London. Maka dari itu Poppa dan Dad R mu mencetuskan untuk membuat Playground ini”
“Tapi Pi, seperti orang yang di sarang yang di ‘urus’ Abang tadi berikut keluarganya, lalu orang yang Abang bakar tadi ... mereka kan tokoh negeri ini Pi. Kalau mereka menghilang begitu, apa ga lumayan bermasalah nantinya?
“Listen Boy, negeri ini adalah negeri dimana rumour dan issue sangat mudah dibuat. Dan orang – orang disini sangat mudah mempercayai dua hal tersebut. Kalau kelak akhirnya timbul pertanyaan tentang menghilangnya dua tokoh negeri ini yang ga penting itu juga, kami sudah mempersiapkan cara untuk menghentikannya”
“Huuumm..”
“Sudahlah tak perlu kau pusingkan, jika kau pikir kami akan tersentuh hukum”
“Jadi kalian kebal hukum begitu?” Tanya Nathan.
Papi tersenyum. “Tidak juga sih” Jawab Papi.
Sembari juga Papi merengkuh pundak Nathan untuk keluar dari toliet dan berjalan bersama menuju ruangan
dimana Varen dan Daddy Jeff berada, untuk menunggu kedatangan dua orang yang ingin Varen beri pelajaran.
“Kami tidak pernah terendus. Tidak akan lebih tepatnya”
“Begitukah?”
Papi manggut – manggut lagi.
“Kau tahu mengapa kami para pria dikeluarga ini dari sejak jaman Gappa bahkan buyutmu yang bernama Rery
sibuk bekerja keras hingga sampai diposisi kita saat ini?”
“.....”
“Karena dunia ini bak hutan rimba, you know?” Celoteh Papi John. “Di dunia ini, jika kau punya harta diatas semua orang banyaknya, kau akan mudah jadi penguasa, selain kau harus pintar juga. Karena jika otakmu kosong, sekalipun hartamu tak terhingga kau tetap akan mati dengan mudah”
“.....”
“Jadi saat harta sudah kau genggam begitu banyaknya, kuasa perlu kau dapatkan dengan otakmu selain dengan
uangmu. Baru kau bisa menjadi kuat. Perlu kenekatan juga sih, macam Poppa dan Daddy R mu yang tak takut mati itu”
“.....”
“There are so many things about this world that you need to learn ( Ada banyak hal tentang dunia ini yang perlu kau pelajari ). Terutama dunia yang dekat dengan keluarga kita”
“Yah, aku rasa begitu”
“Well, camkan di otakmu baik – baik..”
“.....”
“Yang lemah takut pada yang kuat. Tapi yang kuat, takut pada yang nekat. Dan kami, Kuat dan Nekat. Bahkan
sangat”
**
Rumah Sakit ......
Mereka yang berada di ruang rawat Andrea hanya bisa memperhatikan Andrea saja yang sudah perlahan siuman.
Meski sudah mencoba mengajak Andrea bicara namun tetap tanpa respon, tapi mereka yang ada disana tidak
melakukan kontak fisik pada Andrea, dan tidak banyak mengajaknya bicara.
Hanya memperhatikan dengan prihatin dengan hati yang mencelos saja pada istri si Abang hanya kemudian hanya diam bergeming saja meski matanya sudah sepenuhnya terbuka. Para wanita yang ada pun menahan isakan mereka saja, karena tak tega melihat Andrea.
“Setidaknya Little Star tidak se-histeris saat pertama aku melihatnya” Itu Gappa yang berbicara.
Yang mendengarnya pun mengangguk saja.
Beberapa waktu kemudian, para kakek dan nenek diminta untuk pulang saja untuk beristirahat dan juga untuk kenyamanan Andrea, yang dikhawatirkan terganggu dengan banyaknya orang di sekitarnya saat ini.
Kini, hanya meninggalkan Poppa, Daddy R, Daddy Dewa dan Rery yang enggan pulang. Sambil menunggu juga
Momma dan Mommy Ara serta beberapa lagi dari Kediaman datang bersama Momma dan Mommy Ara.
**
‘ The Playground ‘...
“Janin Andrea dikuburkan di pekarangan belakang Kediaman” Ucap Daddy Jeff pada si Abang kala keduanya tengah berada didalam sebuah ruangan yang terletak di lantai atas Playground mereka.
Varen mengangguk. “Thanks Dad”
“Setelah ini sebaiknya kau pergi dan temui Little Star dan beristirahat”
“.....”
“Sisanya biar kami yang membereskan”
“Aku tidak mungkin bisa beristirahat sebelum Little Star membaik”
“Ya, paling tidak kau makanlah, isi perutmu walau sedikit. Karena aku yakin kau belum makan sedari pagi”
“Bagaimana aku bisa makan, jika Little Star juga belum makan dengan baik”
“Hhh ..”
Daddy Jeff hanya bisa menghela nafasnya yang terdengar setengah frustasi mendengar jawaban si Abang.
Namun sedikit banyak ia paham mengapa Abang seperti itu.
“Lagipula setelah ini masih ada satu perempuan laknat lagi dan orang kepercayaannya yang harus ku bereskan
dari kolong langit ini”
“Dua orang itu akan menjadi urusan Poppa dan Dad R. Kau cukup dengan dua orang ini, lalu kau harus kembali
ke Rumah Sakit atau Kediaman, mengerti?”
“.........”
“Lebih baik kau menemani Little Starmu, dan membuat para Mom berhenti mengkhawatirkan mu. Mereka sudah
terbebani dengan apa yang sudah terjadi dan juga tentang Little Star”
“Humm ..”
Lalu perhatian keduanya teralih saat mendengar deru suara kendaraan dari lantai bawah.
__ADS_1
“Sepertinya paketmu sudah datang” Ucap Daddy Jeff.
Varen yang sedang duduk landai dengan meluruskan kakinya yang ia topangkan pada sebuah kursi stainless itu sedikit menoleh saat mendengar Daddy Jeff berucap.
Karena si Abang juga sudah mendengar suara deru mobil dan motor masuk kedalam Playground. “Tuan”
Ammar menghampiri sang Tuan Muda yang belum merubah posisinya. “Apa keduanya sudah datang?”
“Baru Gadis itu, Tuan”
“Yang menggunakan motor apakah Celine?”
“Ya Tuan”
“Suruh dia kesini”
“Baik Tuan” Sahut Ammar yang kemudian langsung undur diri dari hadapan Varen dan Daddy Jeff.
"Uncle Sean ikut juga?"
"Tuan Sean akan datang bersama pria yang .."
"Ya sudah pergilah. Bawa perempuan laknat itu ke IR"
**
“Tuan Alva. Tuan Jeff. Tuan John. Tuan Jonathan? ....” Seorang wanita dengan rambut di kepang kelabang datang menghampiri ke ruangan tempat empat pria yang barusan ia sapa berada.
Papi John, Daddy Jeff mengangguk pada wanita tersebut.
“Ya dia Jonathan”
“Salam kenal Tuan Jonathan”
Nathan mengangguk sambil tersenyum tipis pada wanita dengan rambut yang dikepang kelabang bak penyanyi R
‘n B itu yang mungkin seusia dengan si Abang.
“Hai ..” Sapa Nathan pada wanita yang nampak ceria itu dan bersikap lebih santai dari anak buah mereka. “Dia ..”
“Saya Celine Tuan. Senang melihat anda sudah ikut bergabung dengan para ayahmu yang hebat – hebat dan
kakakmu yang luar biasa ini”
Dengan santai Celine berbicara, sembari tersenyum ramah pada Nathan. “Apa kau sudah selesai menjilat?”
Varen menyela masih dalam posisinya yang selonjoran dengan ujung kaki panjangnya yang ditopang sebuah kursi stainless.
Wanita bernama Celine menunjukkan rentetan giginya pada Varen. “Hehehehe, siapa tahu bisa menambah honor ku?”
“Heh!”
“Hehehe!..”
Sementara Varen sedang berinteraksi dengan Celine, Nathan berbisik pada sang Daddy kandungnya.
“Dia anak buah Abang juga?”
“Bisa dibilang begitu” Kata Daddy Jeff dengan santai.
“Bodyguard gitu?”
“Bukan”
“Lalu?”
“Dia punya tugasnya sendiri. Tapi Fleksibel dia sih.” Jawab Daddy Jeff. “Tapi yang jelas jangan tertipu dengan wajahnya yang nampak ceria itu. Karena sesungguhnya dia gadis gila”
“Macam kalian sendiri tidak gila ..” Bisik Nathan lagi dan Daddy Jeff terkekeh saja. ‘Memang segila apa ini Alicia Keys KW?’ Batin Nathan.
“Kau bawakan apa yang kuminta?”
“Jika tidak untuk apa aku kesini” Sahut Celine dengan santai pada Varen kemudian.
Varen pun manggut – manggut, lalu merubah posisinya.
“Aku juga membawa yang lainnya kok Tuan”
“Baguslah! Berarti tidak sia – sia aku membayar mu dengan mahal!”
Varen hanya menatap gadis bernama Celine itu dengan malas.
“Oh iya Tuan, apakah yang kau minta aku bawakan ini untuk perempuan murahan dan suaranya mirip kalajengking
terjepit yang baru saja datang itu?”
‘Kayak apa itu suara kalajengking terjepit?’ Batin Tan – Tan, sementara Papi John dan Daddy Jeff terkekeh geli saja karena celetukan si Celine ini.
“Memangnya suaramu sendiri merdu?!” Timpal Varen yang kemudian berdiri. “Suaramu bahkan tidak kalah mengganggu!”
“Iya, iya, maaf...” Celine kembali menunjukkan barisan giginya pada Varen.
Lalu Celine, berikut Daddy Jeff, Nathan dan Papi John berjalan mengikuti Varen yang sudah melangkah menuju
ke luar ruangan tempat mereka berada.
**
Warning Agihhh
Buat Kalian Yang Hatinya Selembut Sutra, Halus Mendayu Bak Beledu
Yang jelas jiwanya bukan jiwa bar – bar, wkwkwkwk
Skip aja Ini Bagian yeee, bad words en kekejamyan yang hakiki sepertinya ada disindang. Entahlah liat arus jari – jari lentik emak yang kurang terawat ini mengarah.
Begitu kiranya
Ma acih
Enjoy!
**
“Buka saja penutup kepalanya”
“Baik Tuan” Sahut Ammar yang kemudian masuk ke dalam satu ruangan yang berada di seberang Varen dan empat orang lainnya berdiri sekarang.
Ammar yang membuka penutup kepala Gadis itu dari arah belakangnya, kemudian langsung keluar dari ruangan
setelahnya. Sementara dua orang yang salah satunya membawa Gadis tersebut tetap berada didekat si Gadis yang barusan sampai.
“GUE TANYA KALIAN SIAPA???!!!” Teriak Gadis yang wajahnya nampak cukup awut – awutan itu, karena pemulas wajahnya nampak tak dibersihkan dengan baik. “NGAPAIN KALIAN SEMUA BAWA GUE KESINI HAH? MAU INTEROGASI GUE?!”
“Apa kubilang kan Tuan? Suaranya macam kalajengking terjepit”
Namun Varen tak menyahut.
Hanya tiga orang yang lainnya yang terkekeh kecil.
‘Kek suaranya sendiri ga cempreng aja. Bener kata Abang. Ganggu emang nih suara cewe! macam kerumunan lebah!’
Nathan membatin sembari melirik Celine.
‘Sampe sini gue ga tahu fungsinya ini pere’ Batin Nathan ‘Tapi lihat dia yang cerewet ini, gue jadi inget Drea ...’
Hati Nathan jadi melow.
‘Semoga lo lekas membaik ya Cute Girl.. sedih gue lihat kondisi lo waktu di RS .. Terlebih.....’
“Siapkan apa yang kau bawa” Suara Varen yang kembali terdengar membuat lamunan Nathan buyar.
Celine paham kalau ucapan Varen barusan tertuju padanya dan ia pun langsung mengangguk. “Sudah siap semua
tinggal di keluarkan saja dari tas ajaib ku ini”
“Masuk kesana” Ucap Varen sambil menggerakkan dagunya kearah dibalik kaca didepannya. Kaca yang tembus
pandang dari tempatnya berada, namun gelap dari sisi satunya.
Celine mengangguk.
‘Apa sih tugasnya ini cewe sebenarnya?. Dan apa yang ada didalam tasnya coba?’
“Oh iya Tuan. Aku punya sesuatu yang bisa membakar tenggorokannya dalam hitungan detik jika Tuan terganggu dengan suaranya. Apa Tuan mau mencoba, ciptaan baruku itu pada j*lang itu?. Tapi hanya akan membuatnya bisu seumur hidup saja sih. Tapi prosesnya juga cukup menyakitkan kok. Aku rasa sih. Sudah pernah sekali kucoba pada mantanku yang berani selingkuh dan tidur dengan wanita lain dibelakangku kemarin”
Celine yang tidak langsung pergi malah mencerocos terlebih dahulu. Setelah melirik, gadis dari balik kaca itu sepertinya terus berbicara merepet pada dua orang yang berada di dekatnya.
“Tampaknya waktu ku cekoki formula terbaruku pada mantanku itu, dia terlihat cukup menderita sambil memegangi lehernya. Jadi sepertinya cukup menyakitkan ...”
Cerocosan Celine barusan membuat si Tan – Tan melongo. Terlebih Gadis itu kini menampilkan seringai iblis di wajahnya.
“Oh iya, aku juga membawa racun viper yang sudah aku modifikasi, jika kau ingin dia mati dengan busa berlimpah dimulutnya seperti bubbles di bak mandi. Tapi tentu saja akan ‘sedikit’ membuat j*lang yang sudah menjahati Nyonya Muda Andrea menderita sebelum benar – benar mati”
Nathan makin melongo.
“Termasuk seekor viper utuh”
“Sudah kubilang dia gadis gila, bukan?” Bisik Daddy Jeff melihat sang putra yang nampaknya terkejut mendengar cerocosan Celine itu.
“Hish! Gemas sekali rasanya aku pada j*lang satu ini!”
“Jika kau masih berbicara, aku akan membuatmu menelan sendiri formula milikmu yang tadi kau bilang itu dan
membuat viper yang kau bawa itu mencium bibirmu”
Celine nyengir. Lalu merapatkan mulutnya sembari membuat gerakan untuk men-zipper mulutnya.
Lalu Celine melangkah keluar dari tempatnya dan memasuki tempat dimana gadis yang dibawa dengan ditutup
kepalanya itu berada.
“S*i*t!!”
Nathan spontan mengumpat dan mundur saat Celine yang sudah berada dalam ruangan itu mengeluarkan satu toples kaca yang berisikan seekor ular berukuran relatif kecil dengan tubuh berwarna coklat dan putih.
“Ah gila emang!”
Nathan mengumpat lagi, kemudian geleng – geleng melihat Celine yang tersenyum manis saat menunjukkan
toples kaca berisikan ular itu, bak sedang melakukan endorsement produk.
Dan setelahnya wajah gadis itu nampak serius mengeluarkan semua isi tas yang ia bawa dan menyusunnya diatas sebuah meja aluminium dan mengabaikan perempuan dibelakangnya yang teriak – teriak dan merepet tak jelas.
***
“Ah ternyata kamu Alvarend yang menyuruh orang membawa aku kesini” Gadis yang dibawa oleh anak buahnya dan ditekan bahunya oleh salah satu anak buah Varen saat gadis itu mencoba berdiri saat melihat kedatangan Varen ke dalam ruangan tempatnya berada.
“Menjijikkan” Celetuk Celine secara spontan dengan raut wajah jijik menatap perempuan yang ada dihadapannya
itu. Dan perempuan yang adalah Gita itu melotot tajam padanya seraya menghardik dan mengatainya. Sementara Varen tetap diam dan duduk di kursi stainless yang anak buahnya sediakan.
“Apa kabar kamu Alva?”
Gita bertanya dengan manisnya pada Varen yang sedang sangat tajam menatapnya.
“Kau yang sudah menyuntik istriku sebanyak dua kali dengan obat – obatan laknat milik kelompokmu itu?”
Gita nampak tidak takut pada Varen yang sedang menatapnya tajam. Dia malah tersenyum lebar.
"Dan kau juga yang menyuruh orang untuk melecehkan istriku?"
“Jika aku tidak mau menjawab, kamu mau apa?. Memukuliku?”
Gita menantang.
“Aku dengan senang hati menerima pukulan mu, Alvarend sayang”
Semakin jijik Celine memandang pada Gita yang kini mencondongkan tubuh dan wajahnya pada Varen dari sebrang meja yang memisahkan mereka.
“Sayangnya aku tidak memukul perempuan”
Varen berkata dengan dingin tanpa mengalihkan tatapan tajamnya pada Gita.
“Ah, sayang...”
“Tapi dia bisa melakukannya untukku”
Varen langsung menyambar sebelum Gita melanjutkan kata – katanya, sembari menunjuk pada Celine yang
kemudian menyeringai senang.
__ADS_1
“Apa kau bersedia, Celine?” Tanya Varen tanpa menoleh pada Celine.
“Dengan senang hati Tuan”
Celine menyeringai iblis sambil merapatkan tangannya dengan satu yang terkepal.
Dan tanpa memberikan kesempatan pada Gita yang sempat melongo mendengar ucapan Varen pada gadis yang
menyeringai iblis disampingnya itu, Celine dengan cepat melayangkan tinjunya ke wajah Gita yang orangnya memang tidak siap itu, karena matanya tertuju pada Varen.
Wajah Gita dihantam dua kali oleh Celine dengan tinjunya hingga bibirnya robek.
Varen bergeming di tempatnya. Namun alih – alih Gita ketakutan, perempuan itu malah terkekeh sembari meludah.
“Apa istri j*langmu itu sudah mulai menagih, Alvarend sayang?”
“Jadi benar kau pelakunya?”
“Kenapa kalau memang aku?”
Gita menunjukkan wajah yang seolah mengejek dengan senyuman lebar.
“Dia akan menjadi pecandu sebentar lagi. Dan sebaiknya kau mencari istri baru yang lebih menggoda seperti aku ini. Dan memang dibandingkan denganku istrimu itu tidak ada apa – apanya”
Gita merepet, dimana tangan Varen sudah terkepal kuat di bawah meja.
“Ijinkan aku menghajarnya lagi Tuan”
Celine geram. Ia mencengkram lagi satu kepalannya.
“Wah, lo sok cari perhatian sekali lacur?. Apa lo berharap bos lo ini meniduri lo?!”
Gita melotot pada Celine. Namun kemudian ia menyeringai pada Varen. Lalu menampakkan senyum terbaiknya pada Varen.
“Ah iya, aku tahu. Kamu pasti sudah jijik pada istrimu yang sudah disentuh anak buahku itu ya, Alvarend?”
Bukan lagi menyorot tajam, mata Varen kini menyalang menatap pada Gita.
“Kau tahu?. Aku ingin sekali membunuhmu sekarang”
Namun ucapan Varen masih terdengar datar, meski dadanya sudah bergemuruh dengan kemarahan yang menyelimutinya.
Gita malah menambah senyumnya.
“Yakin ingin membunuhku?. Tubuhku jauh lebih menarik daripada istrimu yang sudah menjijikkan itu, tau?. Memang kau tidak jijik apa padanya sekarang? Dia kan sudah...”
“Gunduli dia!”
“Apa?!”
“Pegangi!”
Varen menurunkan titah dan Gita sontak berhenti bicara lalu keterkejutan nampak di wajahnya. Sementara Celine memerintahkan dua orang bodyguard yang ada disana untuk memegangi Gita.
“Tidak! Lepaskan! Alvarend!”
Ammar kemudian masuk dengan membawa sebuah alat cukur yang kemudian langsung disambar oleh Celine yang
langsung mencengkram kuat rambut Gita dan sebentar saja sudah tak ada lagi rambut di kepalanya.
“A*J*N*G!!! CEWEK BANGSAT BERANI BANGET LO!!! Rambut gue ... BANGSAT!! ALVAREND!!!!”
Gita histeris.
Namun kemudian Gita tertawa terbahak – bahak.
“LO PIKIR DENGAN MENGGUNDULI GUE, ISTRI J*LANG LO ITU AKAN JADI BAIK – BAIK AJA???!!”
“.......”
“ISTRI LO AKAN JADI PECANDU HINA!! DAN LAGI, HAHAHA!! ... DIA UDAH DICICIP SAMA ANAK BUAH GUE! HAHAHA!!! ISTRI LO ITU UDAH JADI *****!!! DAN LO.. DAN LO MASIH MAU MEMPERTAHANKAN DIA?! LO ITU BE... Sssss ...”
Gita terdengar mendesis disela ia sedang merepet mengatai Andrea.
“Huh! Lo suntik gue pake obat bius? Mau bikin gue jadi pecandu gitu? Ga akan ngaruh!”
Gita menatap Varen yang ternyata sudah berdiri dari duduknya dengan menyeringai setelah berbicara, dan Celine yang menyuntikkan tubuh Gita dengan sesuatu.
“Seperti yang gue bilang, gue ingin sekali membunuh lo, B*tch .... Tapi....”
“Ke-napa....” Gita nampak panik ditempatnya.
“Tapi gue lebih tergoda, untuk mendengar jeritan lo ....”
“Ap-a... apa yang udah ....”
“Berani menyakiti istri gue tercinta, menyuruh orang untuk melecehkannya, mengatai dia didepan gue .... lo memang sungguh bernyali besar....”
Varen menyeringai dengan menyeramkan menatap Gita yang berkali – kali nampak menelan ludahnya dengan
wajah tegang, namun tubuhnya nampak kaku dalam duduknya. Namun ia masih bisa berbicara meski tergagap.
“Dan karna lo.... bayi kami harus juga menjadi korban!” Varen memekik nyalang. “YOU FCKIN’ HOREEE!!*”
Wajah Varen memerah dan menggebrak meja didepannya dengan keras, bahkan Celine sendiri sampai berjengkit. Gita nampak juga kaget, namun tubuhnya terlihat kaku.
“Dan lo, akan membayar saangat mahal untuk itu....”
“..............”
“Apa yang disuntikkan ke tubuh lo barusan itu, bukan obat bius yang biasa lo konsumsi ....”
“..............”
“Melainkan sesuatu, yang akan membuat tubuh lo kaku selama beberapa jam kedepan, tapi tidak akan menahan
rasa sakit yang akan gue berikan. Hanya jeritan lo, yang akan keluar dari tenggorokan lo itu....”
“..............”
“Lo akan sepenuhnya sadar, untuk merasakan setiap kesakitan yang ga pernah lo bayangkan dalam hidup, bahkan mimpi terburuk lo sekalipun, b*tch”
Varen menyeringai, lalu berjalan menjauh dari Gita menuju meja tempat dimana barang – barang yang dibawa
Celine berada. Lalu kembali lagi setelah memakai sarung tangan karet di kedua tangannya dan salah satunya menggenggam botol berisi cairan bening didalamnya.
“Sudah siap?” Varen menyeret kursi yang ia duduki tadi dan menaruhnya sedikit berjarak dari Gita yang matanya sudah melotot menatap Varen, namun sama sekali tubuhnya tak dapat digerakkan.
“I-tu ap-a....” Tanya Gita dengan terbata sembari melirik botol yang digenggam Varen.
“Ini?”
Varen melirik botol dalam genggamannya sejenak, lalu menunjukkannya pada Gita yang langsung membulatkan
matanya.
“Ti-dakk!! Ja-ngan!! ....”
Mata Gita sudah berkaca – kaca namun ia benar – benar hanya bisa terduduk tanpa bergerak, bahkan menggeleng pun tak bisa.
“Istriku, menjadi histeris karena obat bius yang lo suntikkan ke tubuhnya. Itu, menyiksa gue” Ucap Varen datar dan tersenyum miring.
Varen membuka tutup botol ditangannya dengan hati – hati.
““Ti-dakk!! Ja-ngan!! ....”
“Lepaskan ikatannya, dan simpan tangannya disini”
Varen menggebrak pelan meja didepannya.
“Jaa-ngaaannn ..” Gita sudah mulai menangis.
Pasalnya, botol yang Varen tunjukkan padanya bertuliskan sesuatu yang dapat membakar kulitnya dan menyebabkan nyeri yang hebat meski terkena setetes saja.
“Dan setiap teriakan istri gue tercinta itu, apa yang sudah dialaminya termasuk calon buah hati kami, adalah hutang lo ke gue ..” Varen berdiri dari duduknya, sedikit mundur setelah tangan Gita yang terkulai namun tak bisa digerakkan oleh pemiliknya itu sudah diletakkan diatas meja oleh anak buahnya.
Botol dalam genggaman Varen itu sudah tak bertutup lagi.
“Untuk setiap jeritan my Little Star ....” Varen menuangkan isi botol yang ia pegang dengan perlahan.
“AARRGGGHHH!!!” Jeritan memilukan dari mulut Gita langsung terdengar tanpa tubuhnya bergeming, hanya air matanya saja yang sudah mulai deras keluar, saat cairan yang dituang Varen menyentuh kulit kedua punggung tangannya dan seketika tangannya seperti berasap.
“Ini baru untuk Little Star, istri tercinta gue, belum untuk calon anak kami ...”
“AARRGGGHHH!!!” Jeritan Gita terdengar lagi.
“Sakit?”
Varen berucap dengan datarnya, tanpa ada sorot kasihan sama sekali pada Gita yang menjerit, sembari sesekali memejamkan matanya, merasakan sakit, menahannya dan tak bisa menghindar sama sekali.
“Mana nyali lo yang seperti tadi, hem?. Semangat lo saat merendahkan istri gue. Ini belum seberapa lo tahu?” Ucap Varen lagi dengan tersenyum miring.
“Ssaa-kkiitt ... – hen,tikkaan ....” Lirih Gita.
“Berhenti?”
Kini Varen terdengar seolah mengolok.
“Ini baru permulaan saja ..”
Sementara dibalik kaca, Nathan sudah mulai bergidik ngeri melihat apa yang Abang sedang lakukan pada Gita.
“Ja-ngaaannn!!! ..”
Kembali Gita memohon dalam lirihnya.
“Aku tidak akan membunuhmu ... tapi akan kubuat kau tersiksa hingga berharap mati ... seumur hidupmu!”
“A-ku mmo-hoon .... ssaa-kkitt....”
“Hingga setiap kali lo bercermin, lo akan mengingat kesalahan terbesar dalam hidup lo, yang akan lo bawa sampai mati!”
“AAAAAARRRRRGGGGGGHHHHH!!!” Lengkingan jeritan yang amat sangat mengerikan terdengar begitu memulas telinga dengan memilukan, kala sisa cairan dalam botol yang digenggam Varen, di tuang habis kebagian belakang dan tubuh Gita, termasuk tangan Gita lagi hingga ke sikunya.
“B*tch!” Ucapan Varen terlontar seiring dengan wajah Varen yang begitu kejam tak berperasaan. Jangankan Nathan, Celine dan anak buahnya, termasuk dua Dads yang bersama Nathan saja sempat bergidik ngeri dengan apa yang barusan Varen lakukan.
“AAAAAARRRRRGGGGGGHHHHH!!!” Lengkingan mengerikan dari mulut Gita terus – terusan terdengar belum berhenti, dan tubuhnya masih berasap.
‘Gue ga kebayang sakitnya....’ Nathan membatin sambil meletakkan satu kepalan didepan mulutnya. ‘Bisa segila ini lo Bang ....’
Nathan sembari menggeleng pelan, menatap si Abang yang wajahnya nampak tak berperasaan, menyaksikan tubuh perempuan yang ia siram air keras itu berasap dan terbakar perlahan dihadapannya.
Nathan rasanya tak sanggup melihat lama – lama, hingga ia memundurkan tubuhnya lalu keluar dari ruangan
tempatnya berada. Entah Abang akan berhenti menyiksa Gita atau belum, namun sudah, ia tak sanggup untuk melihat hal lebih jauh yang mungkin Abang lakukan pada Gita.
Daddy Jeff dan Papi John hanya tersenyum tipis saja melihat Nathan yang berjalan keluar dari ruangan tempat mereka menyaksikan si Abang yang sedang mengeksekusi itu.
**
“Pastikan dia hidup Celine. Aku ingin dia hidup dengan menanggung kecacatan seumur hidupnya. Aku ingin dia
hanya bisa terduduk meratapi nasibnya, bahkan tak memiliki kesempatan untuk mengakhiri hidupnya” Cerocos Varen sembari melepaskan sarung tangan karet yang ia pakai, setelah membuang botol berisikan air keras yang sudah kosong ke sebuah tempat sampah aluminium yang ada didalam ruangan.
“Baik Tuan” Sahut Celine. Lalu Varen membalikkan badannya, menatap Gita yang nampak tidak sadarkan diri, namun dibiarkan begitu saja.
Varen menyungging miring dan sinis menatap Gita yang sudah memiliki luka bakar di tubuh dan tangannya.
“Satu lagi Celine ...”
“Ya Tuan?”
“Aku muak dengan suaranya”
Satu perintah keluar dari mulut Varen sebelum ia meninggalkan ruangan tempatnya mengeksekusi Gita.
“Berikan dia apa yang pernah kau berikan pada mantan mu itu”
Celine mengangguk paham.
**
To be continue .......
Oh astogeee ... ternyata hampir empat rebu kata ini episyod...
Hhh... emak jadi cape...
Semoga kalian puas ye
Loph Loph
__ADS_1