
US
(Kita)
Selamat membaca ...
Pagi menjelang ..
“Pagi ..”
“Pagi ..”
Mommy Peri dan Daddy R sudah datang ke halaman belakang diwaktu sarapan. Beberapa sudah lebih dulu mengambil tempat, para kakek dan nenek terutama yang sudah duduk manis dimeja makan.
Sementara para krucil, termasuk Valera dan Andrea nampak sudah berada di area kolam renang dengan para
pengasuh mereka yang membantu mereka memakan sarapannya sembari bermain di kolam renang.
Poppa dan Momma juga terlihat ada bersama para krucil di area kolam renang.
“Pengantin baru belum turun?” Tanya Mommy Peri yang sempat celingukan mencari Nathan dan Kevia.
Mereka yang sudah lebih dulu ada di halaman belakang mesam – mesam lalu menjawab kemudian.
“Mungkin besok pagi baru keluar”
Celetukan Nenek Yuna membuat mereka kemudian tertawa.
Hingga kemudian satu per satu mereka yang belum bergabung muncul dengan pasangan masing – masing termasuk sepasang pengantin baru yang kehadirannya tentu menjadi pusat perhatian semua anggota keluarga
yang mesam – mesem ga jelas.
*****
‘Muka mesum, puas banget kayaknya semalam itu si Tan - Tan’
Andrea membatin memperhatikan si Tan – Tan yang datang dengan menggandeng tangan Kevia yang sudah mengurai senyumnya. Kurang lebih batin Andrea yang sedang berbisik itu sama dengan batin si Abang dan para orang tuanya.
“Segaarr!!”
Itu si Abang yang iseng nyeletuk dengan maksud yang mengarah pada ledekan, karena si Abang nampak
tersenyum lebar sambil melirik si Tan – Tan. Dan dengan bahagianya si Tan – Tan yang merasa itu, menjawab dengan tanpa malu.
“Sangaatt!!”
Kalau Kevia, jelas nampak malu – malu karena ia sendiri sadar kalau Varen sedang meledek suaminya. Kemudian Varen dan Nathan tertawa, diikuti dengan tawa yang keluar dari mulut para anggota keluarga yang lain.
Melihat si Tan – Tan, yang sudah jelas kalau semalam pasti tidak melewatkan ritual sakral suami istri diatas ranjang. Para Dad langsung mendekat dengan semangat pada sepasang pengantin baru yang mengambil tempat di meja makan yang berada di halaman belakang. Para Dads yang sudah bertampang usil itupun cengengesan.
“Tell us! (Ceritakan pada kami!)”
Itu Papa Lucca yang iseng nyeletuk sembari berdiri disamping Nathan lalu menepuk – nepuk bahunya.
“Tell what? (Cerita apa?)” Sahut Nathan pura – pura tak paham, menjawab santai.
Papa Lucca cekikikan.
“Was he dissapointed? (Apa dia mengecewakan?)”
Papa Lucca beralih pada Kevia.
"Huuum ..?"
Kevia yang menyadari kalau Papa Lucca kini sedang mengajaknya bicara, pun melengos dengan wajah polosnya.
“Don’t tell if he only sticked out for five minutes? (Jangan bilang kalau dia hanya bertahan lima menit?)”
Papa Lucca masih mencecar Kevia. Seperti halnya Abang, Nathan tidak lewat dari keisengan para Dadsnya yang usilnya minta ampun kalau soal ‘begituan’. Dan si Papa Lucca yang dulunya jarang bicara, jaim minta ampun, kini sudah ketularan usil bin lemes.
Kevia menjadi salah tingkah. Paham maksud Papa Lucca. Itu setan Italia, ngomongnya asal jeblak aja.
“Did he make you screamed, since he could gave you a total enjoyment? (Apa dia membuatmu berteriak, karena
dia memberimu kenikmatan yang maksimal?)”
Kevia sampai menganga mendengar pertanyaan Papa Lucca yang tanpa saringan, dan pria Italia itu nampak
santai saja bertanya tentang hal yang masih dirasa tabu oleh Kevia dibahas didepan keluarga seperti ini. Wajah hingga telinga Kevia nampak bersemu menandakan kalau dia malu.
Sementara Nathan hanya cengengesan dan sisanya terkekeh mendengar ucapan Papa Lucca.
“Edi tansil sepertinya sih!” Celetuk Abang sambil cekikikan.
“Pasti!”
__ADS_1
“Seronde juga ga sampe kayaknya!”
“Hahaha!!!”
“Hoyy!!! Sembarangan anda – anda semua kalau bicara!. Stamina ku begitu terjaga dan terpercaya oke?!. Boleh tanya Kevia bagaimana semalam aku membuatnya tak berdaya”
Samanya aja seperti para Dads dan Abangnya, mulut Nathan juga ga ada saringannya.
“Iya kan Cinta?” Kemudian Nathan beralih memandang jahil pada Kevia.
Dan dengan spontan Kevia mendaratkan cubitan dipinggang Nathan yang kemudian malahan tergelak tanpa
akhlak.
“Jadi berapa round?”
“Dua!”
“Mantaaap! ........”
Kevia membulatkan matanya dengan spontan. Oh ya Ampun, bapak – bapak ini mulutnya.
*****
“Kalian mau berangkat bulan madu kapan jadinya?”
“Mungkin bulan depan, Oma”
“Oh iya kamu mau mengejar kuliah kamu yang tertinggal saat kamu sakit ya?” Timpal Gamma.
“Iya itu juga. Tapi Via juga masih ada urusan di Panti katanya”
“Huuumm”
“Apa ada masalah di Panti tempatnya kekasih si Rendy itu, Vi?”
Seluruh anggota keluarga sedang berkumpul santai di ruang tamu kediaman. Beberapa sedang sibuk dengan
ponsel mereka terkait persiapan acara resepsi Nathan dan Kevia minggu depan.
“Iya Mam, ada sedikit masalah”
“Masalah apa?”
“Ada beberapa anak panti yang tahu – tahu pergi tanpa pamit”
“Mungkin mereka sudah ga betah lagi , lalu takut kalau ijin ga dikasih pergi, jadi mereka pergi diam – diam” Varen berpendapat.
“Ya kalo memang seperti itu, kamu juga ga bisa berbuat apa – apa, Vi. Hak mereka kan jika mereka memang
memilih pergi?”
“Iya memang Momma, tapi kok aku merasa ga enak aja kalau ada anak – anak panti yang pergi begitu saja tanpa
pamit, terlebih mereka belum sepenuhnya pulih”
“Ya tapi bukan sepenuhnya tanggung jawab kamu juga, Vi”
“Memang sih, tapi aku merasa berkewajiban mencari tahu aja”
“Tapi juga jangan terlalu merasa terbebani. Benar yang dibilang Abang. Siapa tahu mereka memang udah ga betah jadi pergi diam – diam”
“Aku pernah tinggal disana Jo. Disana kami tidak diperlakukan sebagaimana orang sakit jiwa. Tapi kami dirangkul layaknya keluarga. Kebutuhan juga dipenuhi dengan baik. Dari mulai makanan bahkan pendidikan. Ga pernah ada keributan karena kami yang berada disana benar – benar diperlakukan dengan baik dan sangat diperhatikan. Jadi
kalau ada yang pergi seperti itu sekarang sih, kok aku merasa sedikit aneh aja”
“Coba nanti aku bicara dengan Rendy. Siapa tahu dia mengetahui detailnya”
“Iya, Kak Varen. Makasih sebelumnya” Sahut Kevia sopan.
“Santailah Vi. Kamu kan sudah jadi bagian dari keluarga ini”
“Iya Vi, Abang benar. Jangan sungkan lagi sama kami”
“Iya”
****
Semua orang di Kediaman tidak beraktifitas diluar hari ini.
Masih sedikit letih karena acara akad nikah Nathan dan Kevia kemarin. Namun begitu, para Moms dan Nenek termasuk juga Andrea dan Kevia sendiri tetap mengurusi persiapan acara resepsi Nathan dan Kevia yang akan digelar seminggu lagi.
“Baju resepsi buat penganten kapan dianter Kak Ara?”
“Besok atau lusa, Prita”
“Huummm ..” Mami Prita manggut – manggut.
“Seragam kita semua juga?”
“Yup”
__ADS_1
“Okelah kalau begitu”
Mama Jihan yang ikut bertanya seperti Mami Prita pada Mommy Peri juga manggut – manggut kemudian.
“Souvenir gimana?” Tanya Mama Jihan lagi.
“Santai sih Ji, sudah ada WO plus EO. Si Ana pasti bakal ngurusin semuanya tanpa cela. Secara dari jamannya
gue sama Andrew, termasuk kalian semua kan juga dia yang ngurus. Udeh paham buanget pasti dia” Celetuk Momma. “Kita semua tinggal jaga kesehatan supaya nanti pas acara ini nih, Neng Via sama si Tan – Tan kita semua bisa hadir”
“Aamiin ..” Sahut mereka yang bersama Momma.
“Ada yang bisa Via bantu?”
“Tidak perlu Via sayang” Sambar Mom Ichel. “Kamu hanya tinggal duduk manis sampai hari resepsi tiba” Sambungnya. "Kita nanti perawatan sama - sama, kalau perlu Salon dan Spa kita bawa ke sini!"
“Betul sekali istrinya Dewa mabuk”
“Tau, duit banyak. Pusying amat. Tinggal kita nikmatin aja itu uang cowo - cowo yang sudah bekerja keras. Sayang kalo ga dipake, kan?”
“Iya lah! Jangan macam orang susyah..”
“Ahahahaha”
Mereka pun tergelak lebar, terkecuali Kevia yang senyam – senyum saja, melihat keluarga barunya yang ga ada jaim – jaimnya.
“Try to make yourself get usul, My Dear. (Cobalah membuat dirimu terbiasa, Sayangku)”
Mama Fabi yang sudah ada sejak tiga hari sebelum acara akad nikah Nathan dan Kevia bersama Papa Lucca
dan Adrieanna, menepuk – nepuk bahu Kevia sambil mesam mesem. Wanita itu sudah paham betul Bahasa, namun tetap tak terbiasa menggunakannya dalam percakapan.
“Yes Mama Fabi”
"Nanti pas bulan madu, puas - puasin belanja Vi. Mau ke Paris kan?. Nah hambur - hamburin deh tuh duitnya si Jonathan. Banyak itu dutanya dia. Jatah cucu, jatah anak, dan jatah - jatah lainnya. Nikmatin, kendorin aja itu duit!"
"Betul itu Vi"
"Jangan celananya si Jonathan aja yang kamu kendorin"
“Ahahahaha”
'Oh, ya Tuhan'
***
Hari resepsi Nathan dan Kevia tiba. Resepsi pernikahan keduanya di selenggarakan di Hotel milik Daddy R yang memang berada di Jakarta.
Sementara beberapa Hotel lain baik milik keluarga atau pribadi yang berada di Indonesia, tersebar dibeberapa kota lainnya.
Nathan dan Kevia pun disibukkan dengan melayani para tamu undangan yang datang, yang memberikan ucapan selamat pada mereka yang di pelaminan. Nathan sudah terlihat bosan, tetapi Kevia tetap menunjukkan senyum keramahannya.
Sama seperti pernikahan – pernikahan para pria Smith lainnya dari jamannya Daddy R hingga terakhir Varen
sebelum Nathan, Kevia menjadi bahan kedengkian para wanita yang mengenal Nathan. Bahkan beberapa yang datang pernah jadi gebetan meski hanya sangat sebentar, yang tadinya Nathan niati sebagai pengalihan dari pikiran dan hatinya yang dikuasai oleh Kevia.
Yang nyatanya memang percuma. Kevia selalu meraja di hati dan pikiran Nathan, untungnya sekarang Kevia sudah sepenuhnya Nathan dapatkan.
Selamat diucapkan lewat bibir pada Kevia, namun rutukan dalam hati juga terucap pada wanita yang sudah sah menjadi istri seorang Jonathan Alton Smith itu.
Kevia tetap menyunggingkan senyumnya. Meski diantara beberapa wanita itu ada yang memberikan selamat pada
sang suami dengan raut yang menggoda.
Namun ketika hendak cipika cipiki atau memeluk Nathan, suaminya itu langsung menahan dengan tangannya hingga beberapa dari wanita kecentilan yang adalah teman satu kampus Nathan jadi malu sendiri.
Setelahnya Nathan makin merapatkan Kevia padanya. Dan.....
Cup!
Nathan mencuri kecupan yang tidak singkat dari bibir Kevia, yang orangnya langsung membelalak karena sang
suami menciumnya saat mereka masih diatas pelaminan yang tentunya akan menjadi sorotan orang – orang yang ricuh tergelak kemudian.
Kevia memukul pelan dada Nathan yang cengengesan setelah kecupannya ia selesaikan.
“Ga tahu malu”
“Biarin”
“Dasar” Kevia mencebik, namun tersenyum kemudian.
Dan Nathan membawanya dalam ke dekapan hingga nampaklah ke - uwuan.
“Aduh, berasa pengen ngulang jadi penganten” Celetuk Momma.
“Ayo” Poppa spontan menyahut. “Resepsi kita skip. Langsung malam pengantin”
“Au ah!”
***
__ADS_1
To be continue....