THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 53


__ADS_3

♦ SHOCK THERAPHY ♦ Bagian 2


Selamat membaca ...


“Gue memang ga memberikan Prita pilihan Fan, gue ga bertanya apa dia mau jadi pacar gue, atau dia mau menerima lamaran gue. Gue ga kasih di opsi, karena gue ga mau melepas dia. So, lo setuju atau engga, gue akan tetap mempertahankan hubungan gue dengan Prita. Sorry kalau gue egois. Tapi tolong, lo juga jangan egois Fan....”


Fania hanya memandangi John yang matanya sudah berkaca – kaca itu. Lalu pandangannya beralih ke Prita.


“Kalau ternyata memang gue egois?.”


“Kak..”


“Fan..”


Prita dan John kompak memandang pada Fania. Begitu juga Andrew, Jeff, Michelle, Dewa, Papa dan Mama. Lima orang tersebut hanya masih memperhatikan dan hanya berkomunikasi lewat mata mereka.


“Bagaimana kalau gue tetap bertahan dengan keegoisan gue?.” Ucap Fania. “Ga setuju kalau kalian berhubungan diluar hubungan keluarga?.”


“Sudah gue bilang....” John langsung menyambar.


“Apa jawaban lo Prita?.” Namun Fania tak membiarkan John menyelesaikan kalimatnya. Wajah dan matanya langsung beralih pada Prita, berikut satu kalimat pertanyaan pada Prita yang membuat gadis itu seketika menatap Fania dengan wajah yang memelas.


“Jangan menekan dia Fania.. please.” Ucap John yang kemudian berdiri diantara Fania dan Prita.


“Gue hanya bertanya pada adik gue. Jadi gue harap lo minggir... please.. Kak – John?.”


Prita menggeser pelan tubuh John. “Kak .. Gue sayang elo, Kak. Hanya gue dan Tuhan yang tau, seberapa besar


sayang gue ke elo, seberapa ingin gue jadi adik kebanggaan lo. Selama ini gue ga pernah nge bantah lo, Kak. Tapi gue juga cinta Kak sama Kak John, dan gue yakin lo tahu pasti bagaimana kadar cinta gue ke dia ..”


Mata enam orang lain selain ketiga orang yang sedang terlibat obrolan rumit itu masih juga fokus pada tiga orang


yang sedang mereka perhatikan itu.


“Dan sekarang kalau gue bilang, gue ga setuju dengan hubungan cinta lo sama Kak John. Lo akan nge bantah gue, untuk pertama kalinya dalam hidup lo?.”


Fania masih berbicara dengan nada suara dan wajah yang datar. Prita menggeleng cepat.


“Engga Kak. Gue ....”


“Sorry. Very sorry (Maaf. Maaf banget).” Sambar Fania. “Tapi gue ga bisa terima hubungan kalian. Pilihan ada di elo Prita.”


“Prita ga harus memilih, Fan!.”


John juga langsung menyambar. Rahangnya sudah sedikit mengeras.


“Kak ..” Suara Prita terdengar lirih.


“Kamu ga harus memilih Prita! Please, Fania lo ga bisa begini, lo boleh begini. Lo terlalu egois tahu ga?!.”


“Pilih Prita.”


“Engga!.” John berseru tegas dan lantang.


“Kak John lo yang baru lo kenal selama beberapa tahun ini dan bahkan baru mencintai lo dalam jangka waktu dua tahun bahkan kurang ..”


“Stop it (Hentikan) Fania, please..” John menggelengkan kepalanya menyentuh lengan Fania.


“Atau hubungan seumur hidup lo dengan gue?....”


John menggelengkan kepalanya lagi, tak percaya kalau Fania pada akhirnya memberikan pilihan pada Prita. Pilhan yang John tahu dengan sangat kalau Prita tidak mungkin memilihnya.


“Prita ga mungkin mau mengorbankan hubungan seumur hidupnya sama lo, Fan..” Suara John yang tadi terdengar tegas dan lantang kini berubah lirih. “Tapi Demi Tuhan, gue cinta sama adik lo, dan di cinta sama gue. Gue dan dia saling cinta Fan .. lo tega kalau dia harus mengorbankan perasaannya kebahagiaannya sama gue, hanya karna lo ga percaya sama gue!.”


“Apapun alasannya Prita ... meski gue tau lo cinta sama Kak John sejak lama, tapi gue sulit untuk menerima kalau lo harus sama dia. Itu aja. Keputusan ada di elo.”


“Jadi Kak Fania tetep mau gue untuk memilih antara elo... dan Kak John, gitu? ..” Prita sudah meneteskan air matanya.


“Ya.”

__ADS_1


“Engga Prita! Kamu ga harus memilih! Ga aku, ga kakak kamu! Ga ada yang perlu kamu korbankan. Ga ada! ..” Mata John nampak sudah basah. ‘Kenapa sesulit ini Ya Tuhan.’ Batin John.


John beralih pada Fania.


“Ga ada .... ga ada yang perlu Prita korbankan Fan!. Please, sekali lagi gue mohon. Lo menyakiti adik lo sendiri kalau lo seperti ini. Lo menghalangi kebahagiaan dia. Dan bukannya lo selalu ingin membuat dia bahagia?.”


“Memang!. Tapi kalau kebahagiaan yang dia pilih adalah suatu hal yang ga bisa gue terima, gimana?.”


“Apa?. Lo ga bisa terima gue sama Prita karena apa?.”


“Banyak hal. Beberapa diantaranya sudah lo sebutkan tadi. Lo laki –laki baik Kak, sejauh yang gue kenal..”


Fania menatap serius pada John.


“Tapi lo ga cukup baik untuk Prita.”


Duarrr!.


Fania sudah mengeluarkan pernyataannya.


Sebulir air mata John jatuh ke pipi laki – laki itu. Kalimat Fania begitu menyakitkan hatinya.


“Kak .. Kak John... meskipun Kak John ga cukup baik dimata Kak Fania untuk Prita ..... tapi Prita ga bisa melihat laki – laki lain selain dia, seperti Kak Fania yang bisa melihat laki – laki lain selain Kak Andrew...” Prita sudah terisak, air mata yang turun kepipinya sudah bukan sebulir lagi. John mendekapnya.


Fania menghela nafasnya. “Oke.. gue sudah paham. Kalimat lo barusan sudah menjelaskan semuanya. Gue cukup


tau.... D, tolong bawa Andrew, kita pulang? ....”


Andrew mengangguk pada Fania yang kemudian berbalik dari hadapan Prita dan John.


“Kak....” Prita memeluk Fania yang sudah membelakanginya. “Jangan pergi gue mohon...gue sayang sama lo Kak..


gue ga mau di benci sama lo..” Prita terisak lirih. Fania bergeming.


“Prita ...” John pun ikut mendekati Fania. “Jangan begini Fan, gue mohon..” Ucap John memelas.


“Gue ga memaksa lo untuk melepaskan cinta lo, Prita.” Ucap Fania tanpa berbalik. “Tapi gue ga bisa berdekatan dengan hal yang gue ga suka. Meskipun itu elo .. adik gue sendiri.” Fania melepaskan pelukan Prita tanpa memalingkan wajahnya. “Semoga kalian bahagia. Tapi sorry, mulai sekarang gue ga akan ada buat lo Prita.”


“Prita!.”


John berseru saat mendengar Prita berucap barusan.


“Stop Kak John!.”


Prita mengangkat tangannya pada John, agar laki – laki itu tak mendekat.


Aura ketidaknyamanan nampak mendominasi.


“Prita, lebih memilih untuk patah hati seumur hidup Prita.. daripada Prita harus kehilangan kakak Prita.. orang yang seumur hidup udah jagain Prita selain papa sama mama.....Jadi kalau memang maunya kak Fania..” Suara Prita tercekat sesaat, seperti ada sesuatu yang begitu besar mengganjal di tenggorokannya. “Prita ga berhubungan dengan Kak John..”


“Prita Stop!.” Seru John.


“Akan Prita lepasin Kak... cinta Prita pada Kak John asal Kak Fania ga ngejauhin Prita ..”


“Prita!.” John menarik Prita yang sudah terisak sesak dalam dekapannya. “Demi Tuhan Fania, gue yang cukup baik ini punya cinta yang besar dan tulus sama adik lo.. gue yang ga cukup baik ini, bisa membuktikan sama lo, kalau gue sanggup melakukan dan mengorbankan apa – pun! Buat Prita.”


John menghadapkan dirinya pada Fania.


“Gue hanya butuh kesempatan untuk membuktikan. Dari lo, dari papa sama mama.” Ucap John sungguh – sungguh. “Kalau gue ga menghargai lo sebagai kakaknya Prita, gue ga akan memohon – mohon begini sama lo.. Toh Papa dan Mama sudah kasih gue restu kok.” Sambungnya. “Lo sayang kan sama gue, Fan?. Sama. Gue lebih – lebih sayang sama lo. Dan karena itu, hati gue sakit mendapat perlakuan seperti ini dari lo, melihat perlakuan lo pada Prita.”


John berbicara tanpa memalingkan sedikit pun pandangannya dari Fania. Ia pun tanpa sadar menjatuhkan sebulir air matanya saat sedang bicara pada Fania saat ini.


“Gue ga akan melepaskan Prita! Sama seperti Andrew yang ga akan pernah melepaskan lo!. Tapi gue juga ga rela, kalau lo harus memutuskan hubungan antara lo, gue dan Prita. Gue ga mau! Gue ga mau kehilangan ikatan yang selama ini terjalin antara lo sama gue. Seperti Prita yang ga mau kehilangan ikatan dengan kakaknya. Begitupun gue yang ga mau kehilangan ikatan sama adik gue. Sebegitu gue sayang sama lo, Fania!.”


John menunjuk dirinya sendiri dan Fania. Beberapa bulir air matanya juga masih nampak menetes.


Fania menatap intens pada John. Ia mengangkat tangannya menunjuk John.


“Kak..”

__ADS_1


“Heart!.” Suara Andrew membuat semua orang beralih padanya. “Enough ! ( Cukup! ).” Andrew menunjuk pada Fania. Laki – laki bertubuh kekar itu nampak menarik nafasnya dalam – dalam. Lalu berjalan menuju ke arah Fania dan John. “Just .. Stop.. It... Heart .. Please ..”


“D...”


“Ndrew, maaf gue ga bermaksud bicara keras pada Fania .... Gue hanya mencoba membuat dia mengerti tentang perasaan gue pada dia dan pada Prita.”


Andrew mengangkat tangannya pada John sekilas. “It’s okay, John.”


“D..”


“Heart, Enough, Okay.” Andrew mengarahkan telunjuknya tepat didepan wajah Fania.


“D...” Fania menatap Andrew dengan tatapan yang sukar John mengerti.


Namun John berpikir Andrew akan memarahi Fania. “Ndrew....”


Andrew melengos sebentar pada John, lalu kembali lagi beralih pada Fania yang sudah mensedekapkan tangannya.


“Sudah ya..?.” Ucap Andrew.


“CK!.” Fania terdengar berdecak.


“Sudah, aku mohon.” Andrew melipat tangannya didepan Fania.


John dan Prita mengernyitkan dahi mereka.


“Aku sudah ga tahan, Demi Tuhan, Heart ..” Kini Andrew menyilangkan tangannya pada Fania. “Aku..” Suara Andrew terdengar seperti  tertahan. “Aku ... sudah ga sanggup, Heart.... Haha hahahahaha!.” Si Donald Bebek tergelak panjang sambil memegang perutnya.


John dan Prita saling pandang.


“Hahaha! Sudah.. sudah.. Heart.....”


Si Donald Bebek terkekeh geli sampai suaranya terdengar putus – putus.


John men-serius-kan pandangannya ke sekeliling, Prita pun sama. Si Donald Bebek yang sedang terkekeh geli, Dewa, Michelle juga Jeff juga nampak sama seperti Andrew. Bahu mereka bertiga nampak bergetar, meski mereka menutup mulutnya. Papa Herman dan Mama Bela nampak mesam – mesem.


“Ka - kalian ... “ John seperti sedang membaca situasi.


“A – pa..?.” Ucap Andrew di sela gelakannya.


“Ah ilah! Donald Bebek dasar!. Tahan sebentar lagi kek!.” Ucap Fania sambil memukul pelan lengan Andrew.


“Aku.. udah.. ga.. tahan.. Heart... sumpah!..”


Andrew belum makin tergelak, makin terbahak – bahak.


“Jangan bilang kalau kalian..”


“Lihat muka bodohnya itu... hahahaha...” Sambar Andrew.


Andrew menggerakkan tangannya seperti melambai, sambil memegang perutnya. Memandangi John.


Kekehan tertahan Dewa, Michelle dan Jeff akhirnya terdengar juga. Kini mereka tergelak seperti Andrew yang belum juga selesai tertawa hingga mengeluarkan airmata.


Dewa dan Jeff mendekat.


“Anda layak dapati bintang, Naomy..” Celetuk Dewa masih terkekeh.


“Lo berdua lihat muka bodohnya tadi kan?. Hahahaha...”


Dewa dan Jeff mengangguk berbarengan sambil masih tergelak juga.


“John ... John ....” Ucap Jeff disela gelakannya.


“Okay, You Pass Kak John ( Oke, Lo Lulus Kak John ).” Fania dengan santai mengangkat jempolnya pada John.


‘KAJOOOOL!!!!.’


Rasa hati John ingin meremukkan si Kajol jadi remahan gorengan, setelah tadi membuat jantung dan kakinya rasa lemas.

__ADS_1


**


To be continue ...


__ADS_2