THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 270


__ADS_3

HOPE


( Harap )


🌹🌹🌹🌹🌹


Selamat membaca ......


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Dengan semangat yang menggebu Nathan mengemudikan mobilnya menuju kediaman utama.


“Gue mau nanya sesuatu”


“Apa?”


“Lo mau? kalau seandainya gue temuin lo sama Kevia?”


“A – pa Bang...?....”


“Otak lo yang bermasalah selama kurang lebih empat tahun sekarang merembet ke telinga lo?”


“I – ya ... bukan... maksud gue, itu .... lo tahu dimana Kevia?. Lo... juga sudah ketemu dia Bang ...?”


“Pulang aja dulu”


“Oke, oke gue pulang sekarang!”


****


‘Pake nanya lagi gue mau ga ditemuin sama Kevia ... Ya pasti mau lah! Udah tahu kan gue merasa bersalah


sampai hampir gila pada Kevia. Pengen banget ketemu buat minta maaf dan pengampunan Via. Si Abang nih kadang – kadang suka ngeselin sama kayak istrinya’


Nathan menggerutu dalam perjalanannya.


‘Oh iya si Cute Girl ya. Dia pasti merasa bersalah sama gue itu anak’


Ingat Andrea, tapi Nathan menyunggingkan senyumnya.


Nathan sama sekali tidak menyalahkan gadis yang bisa dibilang adiknya itu. Marah juga engga.


Malah Nathan merasa harus berterima kasih pada Andrea, karena menyadarkan Nathan atas kesalahannya yang


terhitung fatal.


Ya sudah, nanti sampai rumah Nathan akan menemui Andrea.


Selain itu, diatas segalanya saat ini, selain penyesalan pada Kevia, orang tua dan keluarganya juga pada dirinya sendiri, ada bahagia yang membuncah kini didada Nathan.


“Ga sabar mau ketemu kamu, Via ....Mudahan kamu masih mau ketemu aku....”


****


Times before ( Waktu sebelumnya )......


“Tidak mau ikut turun sarapan bersama dia?”


“Aku pikir dia sudah turun saat aku ke kamar kalian. Nathan tak ada di kamarnya”


“...”


“Ya sudah, setelah ini aku akan cari dia”


“Biarkan saja .... Biarkan saja dia Abang....” Mama Jihan berkata. Lirih nada suaranya.


Tatapan beralih ke Mama Jihan yang bicara pelan barusan.


“Jika dia pergi biarkan saja ga perlu dicari. Dulu gadis bernama Kevia pun ga dia cari .... Jadi biarkan saja jika memang dia pergi. Setidaknya sakit hati aku berkurang kalau ga lihat wajahnya .... sekarang rasanya aku malu pada diriku sendiri setiap kali aku ingat perbuatannya pada gadis bernama Kevia”


“Mama Bear .... sudah ya? .... “ Andrea mencelos hatinya.


“Bagaimana bisa sudah?! Aku merasa gagal Jeff! Aku gagal mendidik putraku sendiri! Sampai dia bersikap


memalukan seperti itu! Aku malu Jeff.... Demi Tuhan aku sangat malu .... mengetahui betapa rendahnya kelakuan putraku....”


“Ji....” Daddy Jeff menelan ludahnya ketat.


Hancurnya hati Mama Jihan ia tahu dengan sangat. Sama, hati Daddy Jeff pun sama hancurnya. Namun Mama Jihan yang nampak sangat terluka. Kini di ruang makan tangis Mama Jihan pecah lagi, padahal wajah sembab nya akibat menangis semalaman saja belum hilang. Padahal juga mungkin baru beberapa butir nasi yang masuk ke mulutnya.


“....”


Yang lain hanya bisa terdiam. Daddy Jeff tak melanjutkan makan. Tak mungkin bisa menelan, karena setiap butir nasi seolah akan terasa seperti duri melihat kondisi mental istrinya saat ini.


“Kak....”


Mami Prita mendekat, mendekap pundak Mama Jihan tanda memberi dukungan.


Tahu Daddy Jeff juga sedang menahan gejolak batinnya saat ini. Keluarga yang lain sadar, pria itu juga sama


terlukanya seperti sang istri atas kelakuan putra mereka.


Nampak dari mata Daddy Jeff yang kembali berkaca – kaca, ketika tangisan Mama Jihan kembali pecah, isakannya


terdengar menyesakkan dada.


“Sabar Kak, sabar.... istighfar .... ini ujian, cobaan .... bukan untuk Kak Jihan dan Kak Jeff aja, tapi buat kami semua .... aku, Kak John, Kak Michelle, Kak Dewa, Ibu, bahkan mereka yang di London Kak. Kami orang tuanya Nathan juga.... kalau Kak Jihan merasa gagal mendidik Nathan, berarti kami pun sama. Kami juga ikut bertanggung jawab”


“Prita benar Sayang, kita ga sendirian. Kita hadapi semua ini sama – sama .... kita cari solusinya sama – sama .... kamu jangan terus – terusan begini ya?. Nanti kamu sakit. Rasa bersalah aku bertambah lagi kalau kamu sakit....”


“Iya Kak, kasihan Aina juga ....”


Mom Ichel ikut coba menenangkan. Untungnya para krucil sudah selesai duluan sarapan, jadi setelahnya langsung dibawa para pengasuh untuk diantar sekolah sekalian juga dengan Mika. “Kamu istirahat lagi aja ya, Nak?”


Itu Nenek Yuna, yang merengkuh juga putrinya.

__ADS_1


“Iya Ibu benar, kamu istirahat lagi ya?. Nanti sarapan aku minta dibawakan saja ke kamar, hem?”


“Iya Ji, istirahat aja”


Daddy Dewa ikut bersuara. Mama Jihan yang tangisannya kini menyisakan isakan pun mengangguk dan bangun


dari duduknya dengan gontai. Menunjukkan sebersit senyum, namun begitu tipisnya.


“Sudah Dad, biar aku dan Moms sama Nenek yang antar Mama Bear ke kamar, Dad teruskan sarapan aja. Nanti


Dad juga malah sakit”


Andrea yang bersuara.


“Iya Jeff, kamu teruskan sarapan kamu. Ya? Aku sudah ga apa – apa. Jangan sampai kamu sakit nanti”


“Ya Jeff, Jihan benar” Papi John mengkode Daddy Jeff agar mengikuti apa yang Jihan bilang.


“Ya sudah, setelah selesai aku akan segera menyusul sekalian membawakan kamu makanan”


Mama Jihan mengangguk pelan, memaksakan senyumnya pada Daddy Jeff.


“Kak Jeff sarapannya aja dengan tenang, biar sarapan untuk Kak Jihan aku yang siapin sekalian aku bawain”


“Makasih Prita ...” Ucap Daddy Jeff.


“Sama – sama”


****


“Bang, minta tolong kamu handle urusan di perusahaan sementara waktu ya?”


Varen mengangguk dan tersenyum. “Tak perlu Dad minta, pasti akan kulakukan”


“Thanks ya Bang....” Daddy Jeff menggoyangkan kepala Varen dengan menampakkan senyuman.


“Dad nih, macam sama siapa aja. Aku kan anakmu juga”


“Iya iya. Sayangnya anak Dad yang satu kenapa ga seperti Abangnya ....”


“Dad ....”


Varen meraih satu sisi pundak Daddy Jeff.


“Every person made a mistake Dad (Setiap orang membuat kesalahan Dad)”


“Betul itu!”


Papi John dan Daddy Dewa nyeletuk, semata – mata untuk mencairkan suasana karena wajah Daddy Jeff nampak


kembali mendung.


“Yang penting Nathan sudah menyadari kesalahannya dan mau juga memperbaikinya. Kami semua juga sama


“Anaknya R memang ya, dari kecil sudah mateng di pohon kalau kata si Kajol”


“Haha”


Pada akhirnya mereka tertawa dan Daddy Jeff ikutan juga. Yah meski tak serenyah biasanya.


Lagi, Daddy Jeff menyentuh dan menggoyangkan kepala si Abang.


“Thanks ya Abang Varen”


“Sama – sama X bule gila ...”


Lagi – lagi mereka tergelak.


“Dah ayo cepat sarapan. Biar bisa gantian sama para istri. Mereka baru sempat makan sedikit. Ibu juga tuh. Kasihan juga ibu, satu sisi kalian anak menantu, satu sisi cucunya”


Papi bersuara.


“Iya, nanti gue bicara sama Ibu. Gue juga akan bicara sama Dad, R dan Andrew. Selain dari kalian gue mau minta pendapat mereka soal Nathan. Jujur, gue blank. Gue kecewa, sangat padanya. Tapi satu sisi ya biar gimana pun buruknya toh dia putra gue, sedikit banyak ada pengaruh keburukan gue yang menempel didirinya”


“...”


“Terlebih semalam gue lihat dia sama hancurnya dengan kami. Sampai sujud dibawah kaki gue dan Jihan. Gue


sudah memaafkan, tapi Jihan belum sepertinya. Dia sangat terluka, dan gue mengkhawatirkan kesehatannya”


“Ya udah lo bicara dulu sama Dad, R dan Andrew. Gue rasa minta Ara dan Naomy datang deh. Buat kasih Jihan


dukungan moril. Yang satu Ibu Peri dengan segala nasehatnya yang pasti bisa diterima Jihan, yang satu ya kalian tahu deh, kelakuannya”


Mereka terkekeh kecil, paham yang dimaksud Daddy Dewa.


Si Momma kan ngocol orangnya, paling engga dia bisa bantu bikin Mama Jihan ketawa mungkin. Yang jelas, kalau saat yang bisa dikatakan miris ini .... kalau semua kumpul rasanya beban akan terasa lebih ringan.


****


This time ( Saat ini ) ....


Sebuah area pemakaman ...


“Bang....”


“Hem?” Varen yang sedang berjalan bergandengan dengan Andrea itu menyahut pada Nathan yang raut wajahnya


kebingungan, namun nampak juga ada ketakutan.


“Eeeeuuummm, kok kita kesini Bang?” Tanya Nathan ragu - ragu.


“Mau ziarah”


“Ck!. Iya gue paham ke kuburan pasti mau ziarah. Masa mau party?”

__ADS_1


Varen dan Andrea cekikikan.


“Cuma kan tadi, lo bilang .... mau ajak gue ketemu Kevia?”


“Memang”


“Nah terus kesini?....”


Jujur Nathan takut, kan Abang sama Drea bilang mau ajak dia ketemu Kevia. Tapi kenapa mereka malah


mengajaknya ke tempat pemakaman?.


‘Engga mungkin, kan....?’ Batin Nathan sedang menduga, ia bergidik seiring hatinya yang ketar – ketir.


Tapi waktu Andrea membuka semua keburukannya di depan keluarga soal perbuatannya pada Kevia kan, Andrea


bilang bertemu dengan Via di sebuah Mal?. Baru beberapa hari yang lalu, bahkan belum seminggu.


Tapi kan umur ga ada yang tahu?. Lebih – lebih ... yang Nathan tahu, dulu .... Kevia selalunya berusaha


mengakhiri hidup.


‘Engga engga! Jangan Tuhan, jangan!!’


Drea sempat cerita kalau Kevia tambah cantik, lebih cantik dari fotonya di dalam ponsel Nathan. Teduh,


enak dipandang. Masa .... tahu – tahu ...???.


‘Engga! Ga mungkin! Jangan, tolong jangan! Jangan seperti itu Tuhaaaannnn!....’


“Kenapa?”


Andrea bertanya. Ia dan Varen menghentikan langkah mereka, karena Nathan yang tiba – tiba menghentikan


langkahnya.


‘Gue ga mau! Gue ga mau melihat Kevia, kalau .... kalau yang harus gue temui adalah pusaranya .... Engga!’


“Than?”


“Tan, lo kenapa?” Andrea kembali bertanya, karena Nathan nampak linglung sambil menatap diam paving block dibawah kakinya.


Nathan terkesiap, memandang pada si Abang dan Drea bergantian. Ia memang ingin bertemu dengan Kevia,


sangat!. Tapi kalau begini keadaannya, Demi Tuhan rasanya Nathan ga kuat.


“Kalian ajak gue kesini ....”


“Ya lo katanya mau bertemu Kevia?”


“Disini ....?????”


“Iya”


“Ga jauh kok, itu di blok bagian sana”


Lutut Nathan seolah tak bertulang.


****


To be continue ...


Noted ya:


Jadi gini ya, setiap penulis itu punya gayanya sendiri – sendiri tiap tulisan. Jadi jangan dipukul rata sama gaya menulis rata – rata Author pada umumnya.


Ini novel punya emaknya queen yang Insya Allah orisinil bukan plagiat. So dari Bukan Sekedar Sahabat, sudah paham yan mungkin bagi kalian yang sudah baca, bagaimana cara menulis emak.


Setiap alur (kalau ga kelewat) rasanya sudah di beri tanda mana yang lampau, mana yang sedang berlangsung (masa sekarang). Jadi rasanya penikmat novel pun paham ya, ada (banyak) novel yang gaya penulisannya seperti emak ini.


Coba deh baca novel thriller yang plot twist nya itu susah diduga. Atau coba deh baca karyanya Karin Slaughter atau Paula Hawkins dan karya – karya penulis luar negeri lainnya. Pelik, bahkan memaksa pembaca untuk menebak – nebak alur sampe pusing sendiri, tapi asik. ( Menurut emak ).  


Jadi yah gitu aja sih, soal gambaran, jika rasanya kalian kebingungan dengan emak punya cara penulisan.


Mohon maaf emak bahas, karena ada yang bahas. Jadi ini penjelasan yang bisa emak kasih.


Kalo soal nulis emak idealis soalnya. Ga mau ngikutin topik novel apa yang rame di beranda, semata – mata


hanya untuk menarik pembaca.


Bukan ga mau juga punya banyak pembaca, Mau banget kalo soal banyak yang baca sih. Buat pembuktian diri sendiri utamanya.


Tapi ya itu, emak lebih suka menulis tentang apa yang emak suka. Ga mau maksa kalau memang ga ada feel disana. Sekalipun tema - tema di beranda udah jelas banget novel kayak apa yang banyak peminatnya.


Jadi ya inilah emaknya queen dengan novel recehnya, dengan gaya penulisannya.


Suka silahkan terusin, engga suka sampe sini emak pun ga maksa.


Sok beut iye si emak.


Bodo ah. Wkwkwkwk


Daripada kalian pusing terus migrain entar gegara baca novel emak yang plot nya suka maju mundur keseleo


sampe kecengklak?.


Ya intinya sih gini, setiap penulis punya imajinasi berbeda, punya juga yang namanya panutan yang berbeda, jadi gaya penulisan pun berbeda.


Tapi, teuteup makasih buat segala saran dan dugaan.


Enjoyyy kalo masih demen


Loph Loph


Emaknya Queen

__ADS_1


__ADS_2