
Mohon maaf untuk beberapa hari kebelakang hingga kondisi emak fit. Update rada selow yak. Nyang penting tiap hari ada update - tan emak usahain.
◽◽◽◽◽◽◽◽◽
💮 TIM PENCARI FAKTA 💮
◽◽◽◽◽◽◽◽◽◽◽◽◽◽◽
Selamat membaca ........
“Gimana? Asyik ini Campus? Keren kan?” Andrea sudah membawa Kevia berkeliling di kampusnya.
“Asik si asik Drea. Keren jangan ditanya. Tapi biaya kuliahnya bikin merinding”
“Ah Via, masalah biaya masih aja kamu pikirkan. Sesuai kan dengan fasilitas yang ada disini?”
“Iya sih emang. Tapi kok kayaknya aku ga cocok kuliah disini”
“Ga cocok bagaimana?”
“Ya kayaknya aku macem upik abu aja kalau kuliah disini. Ga sebanding dengan kamu dan golongan kamu”
“Ish! Kuncir loh ya mulutnya”
Andrea mencebik dan Kevia terkekeh.
“Kalau didengar Poppa dimarahi loh!”
“Poppa tuh galak ya?”
“Kenapa kamu takut sama Poppa?”
“Ga takut sih, ngeri!”
“Ahahahahaha!!!! ...” Andrea tergelak.
“Malah ketawa. Poppa kamu tuh jarang banget aku lihat senyum. Sama seperti Daddy R dan Papa Lucca. Horor banget mukanya. Beda dengan Papi, Daddy Jeff dan Daddy Dewa”
“Poppa kita, Via. Kita semua ga ada bedanya. Semua Dads, Moms termasuk Grandpa’s and Grandma’s adalah orang tua dan kakek nenek kita. Sama. Ga ada istilah kandung atau bukan”
“Iya, Jo sudah cerita”
“Poppa itu iya, galak, menyeramkan memang... Kelihatannya”
“......”
“Tapi kalau sedang memarahi sih memang iya. Seram!. Tapi sebenarnya mereka pribadi yang hangat. Ya Poppa,
Daddy R. Konyol bahkan kadang – kadang. Sama seperti tiga Daddy di Kediaman Utama jika mode konyol mereka sedang on. Kamu hanya belum lihat saja, Vi. Papa Lucca juga sama”
“......”
“Ya memang sih kehangatan Poppa dan Daddy R hanya akan terlihat sama kita – kita orang atau dengan kerabat
terdekat kami aja. Kalau diluar sana, yang tampak adalah wajah dingin mereka yang kadang nampak kejam. Ga Cuma Poppa, Daddy R atau Papa Lucca sih yang sepertinya menyeramkan”
“......”
“Kalau dari cerita Momma dan Moms yang lain juga cerita dari Gappa. Papi, Papa Bear dan Daddy Boo – Boo juga
sama menyeramkan nya kalau sedang marah. Pada orang – orang yang cari gara – gara dengan mereka ya, pada kita keluarga ga pernah. Kalau marah ya, marah gitu aja. Kita ini segalanya bagi mereka”
“......”
“Jadi kamu ga perlu takut atau sungkan pada Poppa dan Daddy R ataupun Papa Lucca. Kamu sudah jadi bagian
dari kami, terlepas dari bagaimana status sosial kami di permukaan, didalam kami tidak memperdulikan hal itu. Family value yang kami utamakan”
“......”
“Para Dads akan selalu solid satu sama lain untuk melindungi keluarga kita. Termasuk Abang dan Tan – Tan.
Meskipun mulut mereka kadang memang tajam. Tapi ya itu, dalam keluarga kita semua orang diberi hak kebebasan untuk bersuara, makanya ga ada tuh istilah jodoh jodohan antar anak dari sesama rekan bisnis di Keluarga Adjieran Smith. Semua berhak untuk memilih”
“......”
“Kami semua saling menyayangi dengan kadar yang sama. Jadi kamu jangan lagi berbicara tentang dari keluarga mana kamu berasal. Momma, Mami dan Mama Bear, bahkan bukan berasal dari keluarga terpandang. Tapi kamu lihat aja sendiri, bagaimana mereka diperlakukan dalam keluarga ini. Maka kamupun begitu. Kami menyayangi kamu Via”
“......”
“Andainya ada bahaya yang mengancam kamu dari luar, ya jangan sampai sih. Tapi jika terjadi, bukan hanya Tan – Tan yang akan bergerak, tapi kami semua”
Kevia tersenyum. “Aku sangat beruntung. Entah kebaikan apa yang aku pernah buat sampai aku dipersatukan dengan Jo oleh Tuhan dan diberi bonus keluarga seperti keluarga kalian”
Andrea juga ikut tersenyum. “Jadi jangan sungkan lagi ya kakak ipaaar...”
“Baiklah adik ipaarrrr ...” Kemudian Andrea dan Kevia terkekeh bersama.
*****
Andrea dan Kevia berjalan menuju pelataran parkir kampus, karena Andrea ada mata kuliah hari ini. Dan Kevia akan diantar Niki karena Meissa sedang diberikan tugas oleh si anak Naga.
“Nona, anda jangan kemana – mana jika perkuliahan anda selesai. Balqis sudah dijalan sih. Saya diminta Tuan
Jonathan untuk mengantar Nona Kevia ke Kampusnya. Anda jangan bolos kuliah”
“Iya Nikiii ...”
“Jangan menyusahkan saya tolonglah”
“Iyaaaaa!!!. Di Kampus ini tahu siapa aku, Niki. Kalau ada bahaya banyak yang akan membantu aku. Tuh penjaga kampus ini sudah macam kalian kan?”
“Saya hanya mengingatkan, Nona” Ucap Niki ‘Kepala gue taruhannya, kan?’
Niki membatin sambil spontan menggerakkan lehernya pelan.
“Iyaaaa” Sahut Andrea. ‘Eh, itu kan?’
****
Pandangan Andrea tertuju pada satu arah.
“A ...”
“Via, balik badan!”
Perintah Andrea dengan cepat sembari setengah berbisik dan mendorong tubuh Kevia agar berbalik.
“Ta ...”
“Sstt ... Jangan balikkan badan sebelum aku suruh”
Perintah Andrea lagi dan Kevia menurut.
__ADS_1
Andrea langsung menyembunyikan tubuhnya di belakang Niki juga dengan cepat.
“Cover me, Niki (Tutupi aku, Niki). Jangan banyak tanya”
Niki pun menurut.
Andrea sedikit menyembulkan kepalanya dari sisi kiri lengan Niki.
‘Aman sepertinya sudah’
Andrea membatin sembari matanya tetap siaga disatu arah dimana dia melihat seseorang yang masuk ke arah
dalam gedung kampusnya dari sisi yang berbeda, tapi rasanya Andrea yakin mengenali sosok yang dilihatnya itu.
“Ada apa, Nona?”
“Ayo cepat masuk mobil!”
Dengan mengabaikan ucapan Niki, Andrea langsung menggandeng tangan Kevia dengan cepat seraya berjalan
secepat mungkin menuju mobil yang digunakan Niki untuk mengantarnya dan Kevia.
****
“Ada ...”
Kevia dan Niki bersuara bersamaan.
“Silahkan, Nona Kevia”
Niki mempersilahkan Nona Muda istri Tuan Muda Jonathan itu berbicara duluan.
“Ada apa sih, Drea?”
“Laki – laki yang aku bilang memergoki aku mencuri dengar saat Dilara dan Emali berbicara, aku lihat dia tadi!”
“Masa sih, Drea?!”
“Iya! Aku yakin itu dia!”
Andrea celingukan dari dalam mobil bahkan ia menggeser duduknya hingga ke tengah kemudian mencondongkan
tubuhnya sembari melihat kembali ke arah dimana dia melihat pria yang ia curigai itu. Mata Andrea menyorot hampir tanpa kedip ke arah dimana ia melihat pria tersebut.
“Kaca mobil kita tidak nampak dari luar kan Niki?!”
“Kecuali anggota Fantastic Four tidak bisa melihat kita dari luar”
Andrea melirik malas pada si pengawal pribadinya itu. Kemudian dengan cepat matanya menyoroti lagi arah yang
tadi ia perhatikan.
“Itu! Itu dia!”
Andrea spontan memukul – mukul bahu Niki yang orangnya kemudian meringis namun memperhatikan arah
telunjuk sang Nona Muda istri Tuan Muda Utama itu mengarah.
“Kamu kan katanya lihat wanita itu saat keluar panti bersama bodyguardnya?!”
“Iya, Nona”
“Nah coba itu perhatikan wajahnya baik – baik!”
Niki pun mencondongkan tubuhnya untuk memperjelas penglihatannya untuk mengenali pria yang dimaksud salah satu Nona Muda yang bersamanya.
“Tapi wanita muda itu siapa?”
“Entahlah Nona. Mungkin putri wanita yang anda curigai itu”
“Bisa jadi”
“Oke, kita ikuti dia!” Titah Andrea pada Niki.
“Saya rasa kita harus laporan pada Tuan Muda Alvarend dulu, Nona”
“Ck! Nanti aja! Sekarang kita ikuti dia dulu! Dengan begitu setidaknya siapa tahu kita menemukan fakta!”
“Nona memang benar. Tapi ...”
“Sudah jangan protes! Atau aku lapor sama Abang kalau kerja kamu ga becus! Mau?!”
‘Simalakama!’ Batin Niki.
“Jangan nyalakan dulu mesin mobilnya!”
“Anda bilang mau mengikuti orang itu, Nona”
“Iya, tapi nanti dulu. Dia kan sempat melihat ke arah sini. Nanti dia ternyata memperhatikan mobil kita yang diam saja sedari tadi, tahu – tahu jalan. Pasti dia bisa langsung curiga!. Wajahnya licik begitu!” Cerocos Andrea.
“Jika kita tidak segera ambil ancang – ancang nanti kita kehilangan dia”
“Hish! Stupid lah kamu Niki!. Kamu pakai jam yang Abang design dan berikan pada kamu dan Ammar kan?”
“Ini saya pakai, Nona”
Niki mengangkat tangan kanannya.
“Ya sudah kan tinggal kamu bidik itu mobil berikut nomor polisinya, dan GPS mobil itu kan bisa terhubung dengan jam yang kamu pakai itu?!”
“Oh iya!” Niki langsung melakukan apa yang tadi sang Nona Muda katakan.
“Ck!. Harusnya aku yang jadi bodyguard!” Gerutu Andrea.
‘Dengan senang hati kalau memang mau tukar posisi’
Tiiittt ...
Niki selesai membidik mobil yang dikendarai sendiri oleh pria yang Andrea curigai setelah wanita muda yang tadi bersamanya dibukakan pintu penumpang belakang mobil, lalu menutupnya rapat dan pria itu langsung masuk ke kursi kemudi setelah sebelumnya menerima panggilan di ponselnya sebentar.
“Apa sudah terhubung GPS mobilnya Niki?”
“Sudah, Nona”
“Tunggu lima menit, setelah itu kita jalan”
“Baik Nona”
“Menurutmu dia sempat melihatku tidak?”
“Kurasa tidak Nona”
“Saat dia berjalan kedalam tadi dia tidak nampak menoleh atau melirik ketempat tadi kita berada sebelum masuk mobil”
__ADS_1
“Tapi dia melirik kesini?”
“Dia memang melihat ke arah sini, namun matanya tidak terarah pada mobil kita”
“Mengapa kau begitu yakin?”
“Jika aku tidak yakin, maka aku tidak akan mengikuti arahan anda untuk mengikuti pria itu Nona”
“Tapi mengapa tadi modemu menjadi bodoh, tidak ingat jam canggih yang diberikan Abang padamu?”
“Saya akan selalu terlihat bodoh didepan anda Nona”
“Huuummm ... baguslah. Sadar diri berarti”
‘Sabar Niki. Bos selalu benar’
Andrea menampakkan senyumnya sembari menepuk – nepuk pundak Niki yang wajahnya nampak datar namun kepasrahan juga terbaca disana. Kevia cekikikan saja, karena sadar kalau Niki sempat menghela nafasnya.
“Aku rasa kita bisa jalan sekarang Nona”
“Okay Cuusssss!! ...”
“Kita akan benar – benar mengikuti dia, Drea?” Tanya Kevia meyakinkan.
“Iya dong. Siapa tahu kita bisa mengungkap fakta lebih cepat?” Jawab Andrea.
“Aku sudah mengirim orang untuk mengawasi panti. Ammar juga sedang mencari tahu tentang wanita yang anda curigai itu. Dan setahu saya Tuan Muda Alvarend juga sedang berdiskusi dengan Tuan Rendy dan Nona pemilik panti”
“Iya tahu. Tapi kalau dari pria itu kita bisa mendapatkan sesuatu yang bisa membuktikan kalau kecurigaanku benar, lebih bagus kan?”
“Iya memang Nona”
“Pintar kan aku?”
“Tidak diragukan lagi Nona”
Niki menyahut dengan sabarnya. Melirik sang Nona Muda yang sulit sekali untuk dibantah.
‘Iyain ajalah!’
“Tapi kamu jadinya ga kuliah dong, Drea?”
“Ck! Gampang itu! Lihat catatan teman juga aku sudah bisa paham”
“Iya tapi ga takut dimarahi Kak Varen”
“Ck! Sekarang gampang. Sumpal mulutnya dengan nunu dan nana juga dia diam!”
‘Nunu nana?’
‘Oh iya, Jo belum cerita soal nunu nana itu?’
****
Abaikan rasa penasaran dua orang yang bersama Andrea tentang Nunu Nana, kini ketiga detektip kontan sudah
memasuki kawasan elite di bagian barat Jakarta. “Jaga jarak Niki”
“Iya Nona. Saya paham”
“Good”
Andrea kembali menepuk – nepuk bahu Niki.
“Tapi harusnya kita ambil foto itu cowo ya?. Bisa agak dekat ga?”
“Dia bisa curiga”
“Iya juga sih”
“Tapi sepertinya dia hanya menurunkan dan mengantar gadis yang bersamanya tadi kedalam dan akan pergi lagi”
“Darimana kamu tahu?”
“Dia tidak memasukkan mobilnya Nona”
“Oh iya ya!”
‘Katanya pintar....’
“Tapi untung juga perumahan ini ga ada akses eksklusifnya ya. Jadi kita ga tertahan satpam”
“Ini kawasan terbuka Nona”
Kevia dan Andrea manggut – manggut.
“Eh lihat! Lihat! Kamu benar Niki. Itu dia mau pergi lagi! Ish! Pas sekali!”
“Kenapa?”
Kevia ikutan menatap kearah Andrea memandang.
“Tuh si Dilara kan?!. Berarti ini rumahnya. Dan yang tadi kemungkinan anaknya” Tunjuk Andrea.
“Eh iya bener itu dia”
“Sepertinya kita harus sedikit menjauh karena mereka akan keluar melewati arah ini juga”
Andrea pun mengangguk. Dan Niki langsung menjalankan mobil ke arah berlawanan, dan Andrea dengan sigap memutar tubuhnya untuk memastikan mobil yang ditumpangi wanita yang di-curigai-nya itu tetap bisa ia lihat.
“Anda tidak perlu membalikkan badan Nona. Mereka menggunakan mobil yang sama. Kita tidak akan kehilangan jejak”
“Oh iya betul!”
“Sepertinya kita sudah bisa jalan sekarang” Kevia yang juga sempat memutar tubuhnya seperti Andrea berucap kemudian setelah mobil yang dikendarai dua orang yang mereka curigai itu sudah jauh dari mereka.
“Iya Nona”
“Kalau mereka memang melakukan tindak kriminal dan kita bisa menangkap basah mereka. Rasanya aku akan sangat puas!”
“Iya benar!”
“Ayo Niki!”
Andrea nampak bersemangat dan sumringah.
‘Senyummu akan membawa luka bagiku Nona’
Niki membatin lirih sembari melirik Andrea.
‘Meski kita menemukan bukti, aku tetap akan mendapat caci maki dari suamimu Nona Muda Andrea .... Hhhhhhh
.... semoga tidak terjadi resiko aku kehilangan kepala ...’
__ADS_1
****
To be continue ...