
💛 KITA 💛
Selamat membaca ...
Andrea mengernyitkan dahinya saat menyadari kalau Varen tidak langsung membawanya kembali ke kediaman
setelah menjemputnya di sekolah.
“Eh, Abang kita ngapain kesini?. Ada gaun yang mesti diambil pesanan the Mommies?”
“Engga. Kita cari gaun untuk kamu. Abang sudah buat janji. MUA fave kamu juga sudah Abang minta datang. Dan
mereka sudah menunggu kamu sekarang”
Andrea nampak heran.
“Memang mau ada acara apa?” Tanya Andrea.
“Acara kita”
“Memang keluarga kita mengadakan pesta? Kok Drea ga tahu?”
Varen tersenyum kemudian. “Ki – ta, Little Star”
“Kita?”
“Ya. Kita. Hanya Kita berdua”
Andrea kemudian manggut – manggut.
“Oh, hadiah kelulusan Drea nih ya? Abang mau beri kejutan?”
“Heem .. begitulah”
“Ih, Abang suami so sweet banget deh!..”
“Hadiah untuk kita sih sebenarnya”
“Dari?”
“Sudah lebih baik sekarang kita masuk”
“Okayy”
****
“Jadi Drea harus pakai baju yang seperti apa ini Abang?” Tanya Andrea saat ia dan Varen sudah masuk kedalam
Butik yang menjadi salah satu langganan para Sultan dan Sultanah dikeluarga mereka.
Butik pilihan nomor satu Keluarga Adjieran Smith biasanya kalau di Indonesia, karena perancang pemilik tersebut
memiliki banyak sekali koleksi pakaian baik untuk pria dan wanita, juga banyak pilihan untuk segala usia. Andrea
menyusuri setiap rak pakaian, gaun terutama. Didampingi oleh orang kepercayaan si pemilik Butik, karena yang bersangkutan sedang berada di luar negeri.
“Drea harus pakai gaun formal? Atau semi formal sih ini Abang? Drea bingung kan jadinya kalau Abang bilang terserah Drea”
“Pilih saja yang kamu suka, Little Star” Sahut Varen yang setia mengikuti Andrea menyusuri rak – rak yang
berisikan gaun – gaun indah.
“Nanti kalau Drea salah kostum?” Ucap Andrea seraya bertanya dengan gaya manjanya.
“Tidak akan” Sahut Varen lagi. “Pilihlah yang Drea suka. Setelah itu Pasu akan menghandle kamu.” Tambah Varen. Andrea manggut – manggut.
Dan Pria yang dipanggil Pasu yang merupakan seorang MUA terkenal itu pun juga mengangguk paham, setelah ia menghampiri Varen dan Andrea.
"Hanya riasan seadanya Pasu. Bukan acara formal"
"Aye, Capt!"
Varen kemudian duduk disebuah sofa panjang yang etnik dan nampak nyaman sambil menunggu Andrea memilah gaun yang sekiranya ia suka dan cocok dengannya. Orang kepercayaan si pemilik butik pun membantu menyortir beberapa gaun yang sekiranya cocok dengan Andrea, dan tentunya yang disesuaikan dengan selera gadis itu, termasuk koleksi terbaru mereka.
“Yang mana aja boleh nih Bang?” Tanya Andrea lagi setelah membalikkan badannya. Varen yang sudah duduk disofa etnik dan nyaman sambil bersandar sedikit santai itu mengangguk dengan sabar.
Seorang wanita karyawan butik nampak mendekati Varen dan kemudian berbicara pada laki – laki itu dan Varen terlihat mengangguk setelahnya.
“Yang seksi boleh?”
“Jika Drea suka silahkan saja”
“Benar nih?”
“Hem”
“Seksi banget?”
Varen kembali manggut – manggut.
__ADS_1
Andrea menarik sudut bibirnya keatas.
“Seriusan nih?. Drea beneran pilih yang seksi loh ya Abang....”
“Heeeem...”
“Jangan protes nanti. Tau – tau nanti Drea dipakaikan jaket bomber lagi! Engga kan ya?”
“Heeeem...”
“Okayy!”
Andrea sumringah.
“Abang daebak lah!”
Andrea menunjukkan dua jempolnya pada Varen lalu berbalik untuk mencoba beberapa baju di ruang ganti.
‘Tumben’
Hati Andrea berkata.
Varen menyunggingkan senyumnya saat Andrea berbalik badan untuk pergi mencoba pakaian di ruang ganti Butik. Sekilas senyum Varen memiliki arti tersembunyi.
***
Setelah beberapa saat menunggu, Andrea yang wajahnya sudah dirias dengan polesan make up ringan diwajahnya itu muncul kehadapan Varen yang ternyata sudah berganti pakaian. Kemeja fit body berwarna biru Navy berikut jas casual yang sudah dikenakan Varen sekarang membuat ketampanan si Abang lumayan meroket saat ini.
Andrea terpesona. Begitu juga Varen saat melihat Andrea. Si Abang nampak tertegun, jakunnya sedikit bergerak
melihat penampilan Andrea saat ini. Matanya menelisik Andrea dari ujung rambut sampai ujung kaki, namun tak berkata.
“Enngg..... ga apa – apa kan, kalau Drea pilih gaun ini?.....” Tanya Andrea ragu – ragu, takut si Abang ga setuju. Pasalnya gaun pilihan Andrea, lebih ke-potongan gaun untuk wanita dewasa. Tapi Andrea suka. Pas pula ditubuh sintalnya.
Varen hilang kata saat melihat penampilan Andrea yang tak tampak seperti gadis berusia tujuh belas tahun saat ini. Gaun hitam panjang yang digunakan Andrea benar – benar nampak apik terpasang ditubuh Andrea yang indah dimata Varen.
‘Damned oh Damned! She’s god damned hot!’ Varen tanpa sadar mengumpat namun berarti pujian dalam hatinya akibat penampilan Andrea saat ini.
Gaun hitam panjang dengan belahan seksi hingga setengah paha itu nampak begitu provokatif dimata Varen. Cantik, seksi, oh Miracle Andrea, sang Little Star, bidadari pribadinya Abang. Varen berjalan mendekat pada Andrea yang nampak kikuk seperti hilang kepercayaan dirinya.
“Apa Drea harus ganti dengan gaun yang lain?”
Varen yang sudah berdiri dihadapan Andrea itu kemudian menggeleng pelan.
“Kamu terlihat sangat cantik, Little Star”
Dimana wajah Andrea langsung merona saat mendengar ucapan yang merupakan pujian dari si Abang yang wajahnya sudah sangat dekat dengan wajah Andrea.
“A – apa benar begitu?”
Andrea membisu sambil menyunggingkan senyum cantiknya.
“You’re heavenly ( Kamu terlalu cantik )”
“Thank you”
Varen melebarkan senyumnya. “Sama – sama” Ucap si Abang sambil satu punggung tangannya mengelus garis rahang Andrea.
Jika tidak ingat kalau mereka sedang berada dibutik, rasanya Varen ingin menarik Andrea untuk ia ciumi dengan bertubi – tubi. Gadis remaja yang saat ini lebih seperti wanita matang, selalu saja bisa mengobrak abrik jiwa kelakian Varen , terlebih sejak Andrea menjadi istrinya. Meski hal itu hingga kini masih sedikit dibelenggu oleh dirinya sendiri, hingga saatnya tiba nanti.
“Ya sudah ayo” Ajak Varen dan Andrea mengangguk sambil menyibakkan rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai indah, karena menurut MUA langganan Andrea yang tadi mendandaninya, itu adalah permintaan agar rambut Andrea dibiarkan tergerai saja.
Membuat Varen seolah menahan nafasnya, karena setelah Andrea menyibakkan rambutnya kebelakang, leher dan
tonjolan Nunu dan Nana semakin terekspose.
“Ayo”
Andrea menyambut tangan Varen yang tadi sudah siap untuk menggandengnya. Lalu meninggalkan butik tersebut dengan mengacuhkan orang – orang disana, karena Varen dan Andrea hanya saling lempar tatap satu sama lain.
Ah, bikin iri saja.
**
Andrea pikir dia dan Varen akan pergi ke suatu tempat romantis atau bahkan menghadiri suatu acara. Tapi Andrea cukup dibuat keheranan karena Varen membawanya ke sebuah tempat yang sangat Andrea kenal. Kediaman pribadi Daddy R dan Mommy Ara.
Yah, meskipun agak sedikit berbeda Kediaman pribadi Varen dan keluarga intinya saat ini. Dari sejak pintu masuk, berjejer bunga – bunga yang tertata indah bak pagar. Rasanya seperti berada didalam istana dongeng bertabur bunga.
“Apa Abang membuat acara disini?”
“Begitulah”
**
Mulut Andrea terbuka saking takjubnya.
Saat Varen sudah membawa Andrea ke area belakang rumah yang dihias sedemikian romantisnya, dengan beberapa lilin terjajar dari area dalam rumah, hingga sampai ke sebuah meja dan kursi yang tertata dengan indahnya, dibawah naungan sebuah kanopi berenda berhias bunga didekat area kolam renang.
“Abang ini ....”
“Suka?”
__ADS_1
“Ini indah sekali, Abang! ..”
“Syukurlah kalau kamu suka” Ucap Varen “Mari. Kamu pasti sudah lapar” Varen menggandeng tangan Andrea dan
mengajaknya ke arah meja dan kursi di bawah kanopi nan indah itu sembari tersenyum.
**
“Sorry, Abang tidak membawa kamu ke tempat yang mewah, karena rasanya disini lebih tepat, untuk kita menghabiskan waktu berdua”
“Ini luar biasa Abang. Drea ga sangka Abang sampai kepikiran untuk membuat ini semua, bahkan dari sejak pintu masuk” Ujar Andrea yang masih takjub saat Varen menarik kursi untuknya duduk. “Tapi ngomong – ngomong, sepi sekali?” Tanya Andrea.
“Daddy R, Mommy Ara, Val dan Oma untuk sementara tinggal di Kediaman. Dan mereka yang biasa mengurus urusan rumah ini langsung pergi saat kita datang dan selesai menyiapkan makanan ini dan sementara waktu juga mereka Abang liburkan”
Varen berkata santai, sembari mengambil duduk dikursi sebrang Andrea.
“Kan Abang bilang acara ‘Kita’. Jadi didalam rumah ini hanya ada Abang dan Drea saja” Ucap Varen sambil memandangi Andrea, lalu menggengam tangannya. Mengecup pelan punggung tangan Andrea kemudian.
“Ini wine?” Tanya Andrea saat melihat dan menunjuk cairan berwarna merah dalam gelas disamping gelas yang berisikan air putih.
Varen terkekeh kecil. “Bukan, ini root beer. Abang tidak minum segala jenis alkohol, remember? Anggap saja itu hiasan kalau kamu tidak mau meminumnya”
Andrea ikut terkekeh kecil.
“Ayo kita makan. Kamu pasti sudah lapar kan?” Ucap Varen lagi sambil meraih gelas berisikan air putih lalu meminumnya setengah. ‘Makanlah banyak – banyak, karena setelah ini kamu Abang makan, Little Star’
Varen menyeringai dalam hatinya sembari memandangi Andrea.
**
“Terima kasih ya?” Ucap Varen sambil melingkarkan tangannya dipinggang belakang Andrea dan mereka sudah
bergeser ke area ruang tengah yang juga sudah diberi sentuhan romantis, dengan musik romantis yang diputar pelan sambil dinikmati oleh keduanya dengan dansa pelan sambil mengumbar kemesraan.
“Untuk?. Bukannya Drea yang harus berterima kasih untuk ini semua ya?”
Varen tersenyum, sambil menempelkan dahinya ke dahi Andrea, masih mengikuti alunan musik yang disetel pelan, namun mendayu menghangatkan suasana diantara Varen dan Andrea.
“Kamu tidak perlu berterima kasih pada Abang, Little Star ....... cukup jaga hati kamu untuk Abang”
Cup
Satu kecupan lembut mendarat dibibir Andrea.
“Terima kasih Abang, karena kamu tidak menolak untuk Abang nikahi cepat – cepat. Dan maaf, jika karenanya, Drea kurang menikmati kebebasan dimasa remaja Drea”
“Jangan berpikir begitu, Abang. Yang penting Drea bisa terus sama – sama Abang seperti ini. Itu akan lebih membahagiakan Drea”
“I love you, Little Star ....”
“Too.... Abang .....”
Varen terkekeh kecil, hingga sesaat Varen dan Andrea sama – sama terdiam, hanya saling pandang, dan lebih merapatkan tubuh mereka, hingga wajah begitu dekat satu sama lain, karena Varen membimbing tangan Andrea untuk melingkar dilehernya.
Cup
Hingga saat dua pasang bibir itu bertaut lembut, menyalurkan cinta yang ada diantara keduanya.
Ciuman lembut nan ber ritme pelan itu lama – kelamaan seolah sedang berpacu dengan sesuatu. Suara cecapan
pelan terdengar merdu ditelinga Varen dan Andrea mengalahkan merdunya lagu dari musik yang terpasang.
Hingga Andrea seketika bergidik kala ia rasakan tangan Varen menyentuh bagian punggungnya yang terbuka, yang tak tertutup gaun di bawah rambut panjang Andrea yang tergerai.
“Apakah kamu sudah siap, Little Star? .......”
“Untuk?”
“Hak”
“Hak? ..”
“Hak kita berdua”
“....”
“Sebagai suami istri”
“....”
“You know what I mean, right? ( Kamu tahu maksudku, kan? ). Nyonya Alvarend Aditama Smith?”
Gluk!
Andrea menelan kasar salivanya, sementara Varen menunjukkan seringainya.
‘Ah Little Dragon, sudah saatnya kamu lepas dari kandang’
Abang sudah tak sabar.
**
__ADS_1
To be continue...
Semoga kalean menikmati setiap partnya ya, para reader emak yang blaem – blaem.