
Mayan panjang ini episode ... jadi kasihanilah othor dengan jempol kalean .
Wkwk
************
NOT A FAILED FATHER OR HUSBAND # Bukan Ayah ataupun Suami yang Gagal
Selamat membaca..
************
Jakarta, Indonesia....
‘Dad akan segera mengirimkan orang – orang yang membunuhmu dan membuat mama-mu belum membuka matanya hingga saat ini, ketempat mu disana, My boy.’
Jeff mengepalkan tangannya sambil menatap nisan dan gundukan tanah di pusara putra keduanya dan Jihan itu.
Sebuah sentuhan dibahunya membuyarkan lamunan Jeff. Ia pun mengangguk pada John yang meremas pelan bahunya, menyalurkan dukungan dan dukacitanya mewakili keluarga lain yang tidak dapat hadir karena satu dan lain hal.
Keluarga dari London masih dalam perjalanan, sementara papa Herman yang tadinya mau ikut serta dalam pemakaman putra Jeff diminta untuk tetap tinggal bersama Prita, Mama Bela dan Ibu Yuna agar menemani Jihan di rumah sakit.
‘Kamu pegang janji Dad ini, My boy ...my poor little baby boy.. mereka yang membuat kamu berada ditempat mu
sekarang, akan segera Dad kirim kesana untuk menemanimu...’ Jeff menoleh sekali lagi ke arah pusara putra keduanya itu, sebelum langkahnya kian menjauh. John kembali merengkuh bahu Jeff untuk menguatkan saudara laki – lakinya itu.
Jeff menghela nafasnya dalam – dalam sambil menyeka air mata dipelupuk matanya sampai ia keluar dari area pemakaman dan bersama John melepas kepulangan para kerabat terdekat mereka yang sudah menyempatkan hadir.
“Kami sudah dapat detail van yang membawa istri lo itu Jeff, sesuai petunjuk dari pengawal pribadi lo. Secepatnya
akan langsung kami informasikan ke elo.” Ucap Arman yang datang bersama Vla, Bryan dan Caca.
Jeff manggut – manggut dan mengucapkan terima kasih kepada keempat orang yang dekat dengannya di FC.
*****
“Kak Jeff...” Fania dan seluruh keluarga dari London sudah tiba di rumah sakit tempat Jeff membawa Jihan saat istrinya itu ditabrak dengan sengaja. Para krucil terpaksa juga dibawa ke rumah sakit karena mereka langsung menuju rumah sakit setelah pesawat pribadi keluarga mereka mendarat di sebuah Bandara di Jakarta.
Jeff membalas pelukan Fania dan keluarganya yang lain dengan tersenyum getir.
“So sorry for your lost, Son (Turut berduka atas kehilangan yang kamu rasakan, Nak).” Dad dan Mom memeluk erat Jeff. Mom terutama yang juga merasa sangat sedih atas kehilangan yang Jeff alami saat ini. Kedua orang tua angkat yang merupakan keluarga dari orang tuanya itu menitikkan air mata mereka karena kesedihan yang mereka
rasakan atas apa yang menimpa Jeff dan Jihan.
Disela kehilangannya, setidaknya Jeff sangat bersyukur karena sudah menjadi bagian dari Keluarga Adjieran Smith.
Dua orang tua angkat yang menyayangi dan mengasihinya bak anak sendiri, serta para saudara lelaki yang selalu saling mendukung, termasuk istri – istri mereka dan adik angkat perempuannya juga.
Jeff bersyukur memiliki mereka semua. “Kami turut berduka Jeff...” Andrew menyampaikan belasungkawanya dengan pelukan untuk menguatkan. Begitupun Reno.
John, Prita, Keluarga Cemara dan Ibu Yuna yang sudah sedari tadi berada di rumah sakit pun saling menyambangi dengan keluarga mereka yang baru tiba dari London itu..
“Sabar ya Kak .....” Fania mengelus pelan punggung Jeff dengan wajahnya yang nampak sedih itu. Sedikit banyak Fania bisa merasakan kesedihan Jeff saat ini. Kehilangan seorang anak pernah Fania alami sebelumnya. Andrew ikut menepuk – nepuk bahu Jeff, kembali menyalurkan dukungan morilnya.
Andrew paham perasaan Jeff saat ini. Toh, ia pun sudah pernah berada di posisi Jeff sekarang. Ia pernah kehilangan calon anak pertamanya dan Fania, juga pernah sangat hancur saat melihat sang istri terbaring tak berdaya.
Kemudian keluarga yang baru tiba dari London itupun bergantian melihat Jihan dalam ruang perawatan insentif.
“Tega sekali mereka ...”
Ara berkali – kali mengusap air matanya setelah keluar dari ruangan tempat Jihan dirawat. Istri Jeff itu belum membuka matanya, meski dokter sudah berhasil menyelamatkan nyawanya.
“Mereka harus membayar semuanya..” Ucap Jeff datar namun sorot mata sedihnya itu bercampur kemarahan.
Mom merangkul Jeff. “Ikhlaskan, Nak.” Ucap Mom.
“No, Mom, Jeff tidak bisa ikhlas sebelum para pembunuh putra kami itu tertangkap. Jeff tidak bisa ikhlas, sebelum Jihan sadar dan membuka matanya.”
Kegusaran nampak terdengar disuara Jeff.
“Setelah nanti Prita melahirkan, harusnya Jihan yang melahirkan. Seharusnya, kami bisa menimang bayi kami dalam dua bulan lagi, Mom. Tapi lihat apa yang mereka perbuat? bayi kami lahir sebelum waktunya dan dalam keadaan tidak bernyawa!. Dan ibunya masih tidak sadarkan diri hingga sekarang....”
Suara laki – laki itu bergetar bersamaan dengan air matanya yang sudah turun membasahi pipinya. Mom makin menitikkan air matanya. Keluarganya yang lain pun sama.
__ADS_1
“Bagaimana Jeff bisa ikhlas ... sementara dokter pun tidak tahu kapan Jihan akan membuka mata ... Jeff bahkan tidak berani bertemu dengan Nathan saat ini, karena Jeff takut dia akan menanyakan soal adik dan mamanya. Bagaimana Jeff harus mengatakan pada Nathan, kalau adiknya sudah terbaring didalam tanah ... dan mamanya... entah kapan akan membuka mata ... Bagaimana Jeff bisa ikhlas?..”
Bahu Jeff sudah bergetar, isakannya pun terdengar memilukan. Reno yang berada disampingnya hanya bisa merangkul bahu saudaranya itu tanpa bisa berkata – kata.
Begitupun keluarganya yang lain, yang merasa ikut merasakan kegetiran Jeff melihat kondisinya saat ini yang kacau. Sedih dan marah yang bercampur jadi satu.
“I’m such a bad guy (Aku memang pria brengsek) ... tapi kenapa harus bayi kami yang menanggungnya?. Kalau Mom lihat betapa damai wajah putra kami itu... bahkan sudah terlihat betapa dia mirip denganku, Jihan juga Nathan ...tapi dia...tak bersuara, tak bergerak.. terasa dingin dikedua tangan ini, Mom.. Semua karena kesalahanku, Mom.”
Semua orang membiarkan Jeff mengeluarkan kepedihannya. Sedih memang mendengarnya, tapi mereka biarkan
semata – mata jika itu bisa membuat Jeff merasa lega.
“Aku merasa tak berguna..”
“No, you don’t, Jeff (Engga, Jeff). Lo sudah melakukan apa yang lo bisa untuk menyelamatkan Jihan dan bayi kalian.” Ucap John sambil mendekati Jeff.
“Gue.... sudah membuat satu anak gue terbunuh, dan anak gue yang satu lagi harus merasakan dua duka karena
ayahnya yang brengsek dan bodoh ini ..”
“Don’t talk like that, Son (Jangan bicara begitu, Nak).” Ucap Dad.
“I failed Dad (Aku sudah gagal Dad), failed as a father and as a husband (gagal sebagai seorang ayah dan suami)....” Jeff kembali luruh dan tak bicara lagi. Penyesalannya terasa menyesakkan dadanya.
"Engga Kak, lo ayah dan suami yang hebat. Selama ini lo sudah menunjukkan itu..."
***
“Mama Bear ...” Jeff berada disisi Jihan yang masih belum membuka matanya. “Bangun sayang, aku ingin minta maaf.. maafkan aku yang ga mampu menjaga anak kita....” Jeff mengusap air matanya yang turun ke pipi.
“Jeff,” Sebuah remasan pelan dibahunya membuat Jeff menoleh.
“Mom.”
“Biar Mom yang jaga Jihan, saudara lelakimu sedang menunggu kamu diluar.” Ucap Mom pelan dengan tersenyum.
Jeff mengangguk sambil mengusap air matanya. “Thanks Mom.” Ucap Jeff yang kemudian keluar dari ruangan Jihan.
***
Jeff pun menyempatkan diri untuk menemui Nathan dan mengatakan keadaan sang mama dan adiknya meskipun
dirasa berat, tapi Jeff harus memberikan penjelasan pada sang putra. Dan pada akhirnya Jeff menitipkan Nathan pada Prita dan Michelle serta Fania, juga Ara, agar menemani putranya itu sampai ia kembali ke rumah setelah menyelesaikan urusannya.
Baru kemudian akan pergi ke rumah sakit bersama putranya itu.
“Dua orang yang menyandera Jihan dan yang menabrak istri lo itu sudah ketemu.” Ucap John. “Vla, Arman dan Bryan sudah mengamankan mereka.”
“Apa pria bernama Cakra itu yang menyuruh mereka?!.”
Jeff sudah nampak gusar. “Bukan! .....” Sahut Andrew. “Sebaiknya lo lihat ini.”
Andrew menyodorkan sebuah amplop coklat pada Jeff dan pria itupun langsung membukanya.
Raut wajah Jeff nampak terkejut saat telah membuka dan membaca isi amplop. Namun kemudian ia terkekeh sinis. “Laki – laki atau perempuan, dia tetap dalang dari meninggalnya anak gue, dan komanya istri gue. Dia tetap harus membayar, atas apa yang sudah dia lakukan pada mereka.”
Wajah bengis Jeff sudah nampak.
“Bawa dia kedepan gue, hidup atau mati!..” Jeff melempar amplop diatas meja sambil memandang serius pada Omar. Empat saudara laki – lakinya tak menginterupsi. Mereka paham luka hatinya Jeff. Ikut juga meradang atas apa yang sudah menimpa Jeff dan keluarga kecilnya.
“Temukan siapa saja orang suruhannya, siapa saja orang yang membantunya. Jika perlu cari tahu tentang keluarganya, tanpa terkecuali.”
“Baik Tuan...”
Jeff menghela nafasnya dan kemudian ia berdiri. “Dimana dua orang yang tadi John sebutkan?.” Tanya Jeff datar namun wajahnya sudah menyiratkan kebencian. “Gue mau lihat, wajah pembunuh anak gue, sekaligus menagih hutang nyawa mereka untuk anak gue yang mereka bunuh.”
***
“Dia yang menodongkan pisau pada Nyonya Jihan, dan dia yang menyetir sekaligus menabrak Nyonya Jihan, Tuan
...” Ucap Omar pada Jeff yang sudah berada disuatu tempat dalam satu container besar.
Jeff berdiri dengan menempatkan satu tangannya disaku celana dan satu tangannya lagi memegang tongkat kasti sambil memainkannya pelan sambil menatap dua orang yang sudah lumayan babak belur didepannya dengan tangan yang terikat kebelakang.
__ADS_1
“Hemmm.”
“Kami ... kami hanya disuruh dan dibayar untuk melakukannya ...”
“Dibayar, heh?.” Jeff menyeringai iblis sambil berjalan kearah belakang dua pria itu. “Berani – beraninya lo menodongkan pisau pada istri gue?.” Jeff mengarahkan ujung tongkat kasti yang ia pegang kewajah orang yang sedang ia ajak bicara.
“Ampuni saya ...”
“Ampun?.” Sahut Jeff sinis. “Menodongkan pisau dan menyeret istri gue?. Membuat bayi dalam kandungan gue terbunuh? Dan sekarang lo minta ampun?.”
“Tapi dia yang menabrak istri anda!.” Pria itu menoleh pada rekannya yang sudah ketakutan seperti dirinya itu. “Dia ...”
DAK!.
Satu hantaman tanpa babibu lagi membuat pria yang barusan bicara dan membela diri itu roboh seketika.
“Tetap saja , lo sudah membunuh anak gue...”
Jeff membuang tongkat yang ia pegang kesamping pria yang roboh itu. Ada darah yang perlahan merembes dari bawah kepala pria yang sudah ambruk tersebut.
Omar dan dua pengawal pribadinya lumayan bergidik melihat pemandangan barusan dan kini. Namun mereka tetap dalam sikap siaga mereka. Tak bergerak sebelum ada perintah. Hanya Andrew dan John yang menemani Jeff. Sementara setelah dari kafe Reno dan Dewa kembali ke rumah sakit.
Andrew dan John tak terkejut. Tak juga bisa melarang. Mereka pun merasa akan sama gilanya seperti Jeff jika mereka ada didalam posisi pria itu.
“Am – ampuni saya Tuan!!!.”
Pria satu lagi, itu langsung merangkak dengan lututnya ke kaki Jeff sambil menangis ketakutan karena temannya sudah ambruk dan mungkin sudah tak bernyawa.
“CIH! Ampun lo bilang?!!!.” Wajah Jeff nampak begitu bengis. Ia menjambak kasar rambut pria yang sedang memohon dikakinya itu. “Gue memberikannya kematian yang cepat karena dia hanya menodongkan pisau dan menyeret istri gue. Tapi lo... yang sudah menabrak istri gue, membuatnya sekarat, dan membunuh anak gue.. kematian lo ga akan secepat itu!.”
Jeff menghempaskan kasar pria yang ia jambak rambutnya itu, lalu mulai memukulinya dengan membabi buta.
“Jeff!.”
Suara John menghentikan Jeff. Dan John mengkode agar Jeff dan Andrew keluar dari container tersebut.
***
“Omar, bereskan ini!.” Jeff memberikan perintah setelah bicara dengan John dan Andrew diluar. Omar mengangguk
patuh. “Jaga dia tetap hidup sampai gue kembali!.”
Perintah Jeff lagi sambil menunjuk pada pria yang tadi ia pukuli dengan membabi buta dan kemudian Jeff langsung meninggalkan tempat tersebut bersama Andrew dan John.
***
Kelegaan sudah nampak di wajah Jeff setelah ia sampai di rumah sakit. John menerima pesan dari Reno bahwa Jihan sudah sadarkan diri.
Jeff langsung menghampiri Jihan namun tak sampai memeluknya karena Jihan masih terbaring dan nampak lemah. Jeff langsung mendekatkan wajahnya dengan Jihan dengan air matanya yang berlinang.
“Maafkan aku sayang ...” Ucap Jeff sambil membelai lembut wajah Jihan. “Karena aku... anak kita ...”
Jeff menggantungkan kalimatnya.
“Aku sudah tahu apa yang terjadi dengan anak kita ... bukan kesalahan kamu ..... akupun sudah ikhlas ..” Ucap Jihan dengan sangat pelan dan tersenyum namun air matanya turun.
“Aku.... aku gagal menjadi seorang ayah dan suami .. maafkan aku .... maaf atas kegagalan aku menjaga kalian...” Jeff terisak. “Maafkan aku, yang membuat kamu terperangkap dengan pria buruk ini...”
“Engga Papa Bear ... kamu bukan pria yang buruk ... kamu bukan ayah dan suami yang gagal ... kamu sudah melakukan semua yang terbaik untuk kami selama ini.. dan semua ini juga bukan karena kesalahan kamu...’ Ucap Jihan lagi sambil membelai wajah suaminya dan menyeka pipi dan mata Jeff yang sudah basah dengan air mata. Jihan merasa terenyuh melihatnya.
“Tapi karena aku, kamu jadi seperti ini .... dan bayi kita...”
“Sudah ya? .. wajah kamu yang tampan ini jelek kalau menangis .. aku ga suka melihatnya.” Ucap Jihan lagi. “Kita hadapi ini sama – sama ya Papa Bear?...”
Jeff mengangguk sembari tersenyum.
“Kamu akan selalu menjadi Daddy yang hebat bagi Nathan dan suami terbaik untuk aku..” Jihan membelai lembut rambut suaminya yang tidak serapih biasanya itu. “Jangan pernah lagi berpikir kalau kamu adalah ayah dan suami yang gagal. Ya?.”
“Iya...” Jeff kembali mengangguk.
“Apa yang terjadi pada bayi kita .. anak kedua kita .... Mungkin Tuhan lebih menyayanginya ... aku.. sudah mengihklaskan kepergiannya .....”
‘Tapi aku belum.’ Batin Jeff. 'Aku akan memperbaiki kegagalan aku dengan membuat mereka membayar apa yang sudah mereka lakukan padamu dan bayi kita.'
__ADS_1
***
To be continue ..