THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 99


__ADS_3

###SATU PERTANDA LAGI ###


*******


Selamat membaca ...


“Eh Papi..” Prita tersenyum pada John yang muncul di kafe tanpa pemberitahuan. ”Kirain aku ga bakal jemput. Kok ga bilang mau kesini. Aku telpon ga diangkat – angkat, pesan aku juga di read doang. Aku kira kamu sibuk banget, Pi?.”


“Memang aku lumayan sibuk hari ini.” Sahut John. “Lagipula kenapa memangnya kalau aku tiba – tiba datang kesini?. Bukannya kamu bilang mau main tadi selepas latihan?.”


‘Pengennya. Tapi liat muka dia tadi pas nganter ke studio bikin gue mikir dua kali mao main juga.’ Batin Prita.


“Lagipula aku juga iseng aja datang kesini.” Celetuk John.


“Kan aku udah bilang sebelumnya, dari studio aku mau ke kafe juga. Mau pergi sama Diana tadi rencananya ke Mal, tapi tiba – tiba aku malas, jadi ya langsung kesini aja.” Ucap Prita.


“Hem, aku pikir kamu masih asik meliuk – liuk kan tubuh kamu di studio. Kamu kan suka lupa waktu kalau disana.


Suka lupa sudah punya suami bahkan saking terlalu asyik dancing.” Cicit John.


‘Astogeee!!!!. Segitunya ini om – om.’ Batin Prita. 'Seminggu belakangan ini nape suka berubah jadi lambe nyinyir sih dia?.'


***


Kediaman pribadi Jeff dan Jihan ...


“Assalamu’alaikum.” Jeff mengucapkan salam saat ia sudah sampai di rumah pribadinya dan Jihan. Seminggu ini jadwalnya dan Jihan untuk tinggal di rumah mereka itu sekaligus menemani Ibu Yuna, yang memilih untuk tinggal di rumah anak dan menantunya itu, meskipun terkadang dua J versi couple itu sedang menginap di Kediaman Utama Keluarga Smith yang berada di Jakarta.


“Wa’alaikumsalam.”


Nathan yang melihat sang Daddy langsung berlari dan memeluk kaki Jeff yang juga langsung berjongkok didepan Nathan lalu mengacak – acak rambutnya.


“Jagoan Daddy hari ini melakukan apa saja sama Mama, hem?.”


“Nathan sudah bisa membaca dengan lancar, Daddy.”


“Nathan, salim dulu dong sama, Daddy.” Jihan mengingatkan Nathan untuk mencium tangan Jeff, dan putranya itu langsung menyalimi sang Daddy dengan takdzim.


“Maaf Daddy, Nathan lupa.”


“It’s okay, Boy..”


“Daddy bawa apa itu?. Es krim?.”


Nathan melirik bungkusan transparan ditangan Jeff.


“Oh iya. Ini Mam.” Jeff memberikan bungkusan ditangannya pada Jihan. “Es podeng yang aku beli bersama John tadi. Tapi sudah cair sepertinya.” Ucap Jeff.


“Jadi juga beli ini es podeng?. Dapat dimana?.” Tanya Jihan.


“Nathan mau esnya, Maaaaa.”


“Iya, sebentar ya, Mama pindahkan ke gelasnya Nathan dulu, oke?.”


Nathan mengangguk setelah mendengar ucapan Jihan dan langsung kembali ketempatnya bermain tadi bersama sang nenek. “Di daerah Blok S.” Sahut Jeff menanggapi pertanyaan Jihan sebelumnya dan Jihan hanya manggut – manggut, kemudian langsung pergi ke dapur setelah menyalimi tangan suaminya.


Jeff pun langsung menghampiri ibu mertuanya untuk salim juga.


***


Dua J versi couple bersama Nathan dan Ibu Yuna sedang bercengkrama santai di ruang keluarga mereka.


“Nathan mau itu.” Nathan menunjuk pada sebuah iklan yang tayang di televisi yang sedang mereka tonton itu. Jeff, Jihan dan Ibu Yuna spontan menoleh ke arah televisi. “Dad, Nathan mau pizzaaaa ....”


“Loh tadi kan Mama sudah buatkan Nathan pizza, sudah Nathan habiskan juga, kan?.” Ucap Jihan.


“Iya, tapi mama bikinnya sedikit, terus kecil – kecil. Nathan maunya yang besar kayak tadi tuh! Panjaaaang.” Cerocos Nathan dan tiga orang dewasa yang bersamanya pun terkekeh.


“Emang Nathan ga bosen?.”


“Engga.” Sahut Nathan pada neneknya.


“Kalau beli pizza yang sepanjang tadi, memang Nathan bisa habiskan?.”


“Bisa!. Nathan kan suka pizza, Dad!.”

__ADS_1


Jeff, Jihan dan Ibu Yuna pun tersenyum. “Ya sudah pesankan lah, Ma!.” Ucap Jeff pada Jihan.


Jihan pun mengangguk dan beranjak untuk mengambil ponselnya di kamar.


Setelahnya ia langsung memesankan pizza yang diminta Nathan.


***


Pizza yang Jihan pesan pun datang dan Nathan langsung berbinar saat makanan kesukaannya yang berukuran


panjang itu datang. Orang tua dan neneknya hanya geleng – geleng saja dengan kelakuan bocah berumur lima tahun itu. “Cuci tangan dulu ya Nathan!.”


Nathan mengangguk pada mamanya dan langsung pergi ke wastafel untuk mencuci tangannya dengan menaiki


bangku kecil yang memang sudah disediakan untuknya didekat wastafel yang masih lebih tinggi dari Nathan posisinya.


“Sepertinya makan malam kita dengan pizza ini.”


“Sepertinya begitu. Ga mungkin Nathan menghabiskan pizza berukuran satu meter itu juga, kan?.”


“Ah, ibu sih tetep makan nasi deh. Kalau makan itu, kenyangnya cepet dan sebentar. Ujungnya cari nasi juga.” Dua J versi couple itu pun cekikikan.


“Yee Nathan makan Pizza lagi!!!.”


“Hayo, lupa berdoa deh!.”


“Oh iya!.” Sahut Nathan yang kemudian mengangkat tangannya untuk berdoa. Jeff yang gemas pada sang putra,


mengacak rambut putranya yang nampak begitu senang itu.


“Ini buat mama!.”


Nathan memberikan satu potongan pizza pada mamanya.


Lalu memberikan satu potongan lagi pada Jeff. “Ini buat Daddy!.”


“Makasih anak mama.”


“Terima kasih jagoan.” Sahut Jihan dan Jeff.


“Kenapa, Dad?.”


“Pizza apa sih ini?.”


“Coba sini aku lihat.”


Jeff memberikan potongan pizzanya pada Jihan yang tadi dia endus.


“Ini Tuna Melt yang biasanya kamu suka kok, Dad.”


“Masa sih?. Kok beda baunya perasaan aku, lebih menyengat, seperti bau amis.”


“Engga ah. Sama aja rasanya kayak biasa. Ga ada bau apa - apa juga. Biasa aja. ga ada amis - amisnya. Emang begini juga rasa ikan tuna varian ini. Ga ada bedanya sama yang kamu biasa beli.”


Jihan mengendus lalu menggigit dan merasakan pizza potongan milik Jeff. Jeff mengambil lagi pizzanya yang sudah digigit Jihan.


“Kamu lagi flu?.”


Jeff menggeleng. “Engga, aku sehat – sehat aja.”


Jeff kemudian menggigit pizza ditangannya. Sepersekian detik, ia langsung menutup mulutnya.


“Kamu kenapa, Dad?.” Tanya Jihan karena melihat wajah Jeff nampak aneh.


Jeff tiba – tiba berdiri dari duduknya, meletakkan dengan asal pizza dari tangannya, lalu berlari menuju kamar mandi di lantai bawah.


“Daddy kenapa, Ma?.”


“Mama juga ga tahu, Sayang.”


“Hoek, Hoek!...”


Terdengar suara Jeff yang nampak sedang mengeluarkan isi perutnya.


Jihan langsung berlari untuk menyusul suaminya ke kamar mandi.

__ADS_1


Tok.. Tok..


“Sayang, kamu kenapa?.” Tanya Jihan dari luar kamar mandi. “Aku masuk ya?.”


“Jangan dulu!.”


Tapi Jihan sudah terlanjur membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci itu.


“Sayang....”


Jihan menghampiri Jeff yang sedang berjongkok di closet.


“Jangan mendekat Ma, aku sedang muntah.”


“Aku ga akan jijik sama suami sendiri. Kamu nih.”


Jihan sudah mendekati Jeff, lalu memijat pelan tengkuk Jeff. “Hoek .. Hoek....” Jeff masih muntah – muntah.


“Badan kamu dingin, Sayang. Masuk angin ini kamu ....” Ucap Jihan yang masih membantu memijat tengkuk Jeff.


Jeff mengangkat tangannya, mengkode kalau ia sudah tak lagi ingin memuntahkan isi perutnya.


“Ini!.” Jihan menyodorkan handuk kecil pada Jeff yang sudah diambilnya.


“Aku rasa tuna di pizza tadi sudah basi!.”


“Mana ada basi sih?. Indra perasa kamu sedang terganggu kali, Dad. Mau flu biasanya. Kamu sih kerja suka lupa waktu, lupa makan bahkan.”


“Ini buktinya, baru satu gigitan aku sudah mual. Amis sekali baunya!. Memang kamu ga mencium bau amis dari tuna di pizza itu?. Lebih baik singkirkan itu pizza sekarang, nanti Nathan malah sakit!.”


“Iya itu mulut kamu yang sedang bermasalah mungkin, Sayang. Aku ga merasakan ada yang ga beres sama itu pizza. Sama aja rasanya seperti Tuna Melt yang kamu biasa pesan.”


“Entahlah!. Aku ke teras dulu, mau merokok untuk menghilangkan rasa amis dimulut aku ini.”


“Ya sudah, aku buatkan teh?. Eh jangan deh. Aku ambilkan air putih hangat aja ya?.”


Jeff mengangguk lalu ia dan Jihan berjalan keluar dari kamar mandi.


“Eh iya Ma, es podeng yang tadi aku bawa masih ada ga?.”


“Masih ada tiga cup lagi di freezer, Dad.”


“Ambilkan tolong satu cup!.”


“Iya nanti aku bawakan. Sekalian sama air hangatnya.”


Jeff pun mengangguk dan melangkah ke teras untuk merokok.


***


“Ambilkan lagi es ini Ma!.”


“Hah?. Kamu sudah makan dua cup loh, Dad.”


“Iya, besok aku belikan lagi.” Sahut Jeff santai nampak menikmati suapan terakhir es podeng yang sedang ia makan itu.


“Bukan itu masalahnya, Sayang!.”


“Lalu?.”


“Ya kamu kan habis muntah – muntah, kamu sudah makan dua cup es ini, malah mau menghabiskan cup yang ketiga. Nanti kamu malah sakit perut, Sayang.” Cerocos Jihan.


“Engga, justru ini es membuat perut aku, tenggorokan dan lidah aku terasa enak. Tidak lagi terasa tuna basi pizza tadi!.”


Jeff meletakkan cup es podeng keduanya yang kini dia sudah habiskan.


“Mama Jihan yang cantik, ambilkan lagi es ini ya?. Masih ada satu lagi, kan?. Kalau kamu mau besok aku belikan lagi. Tapi malam ini, aku aja yang habiskan ya?.”


Jihan geleng – geleng dan beranjak untuk mengambilkan satu lagi cup es podeng yang tersisa di kulkas mereka.


‘Benar juga yang dibilang John, enak juga itu es lama – lama.’ Batin Jeff. ‘Besok gue beli lagi itu es. Kalau perlu sama gerobak dan penjualnya sekalian.’ Jeff manggut – manggut. ‘Ah iya bisa juga begitu.’ Ada sebuah ide yang nyangkut di otak si bule gila. ‘Besok gue suruh itu penjual es podeng standby di kantor, sepertinya oke juga.’


***


To be continue .......

__ADS_1


__ADS_2