THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 120


__ADS_3

💔    IT FEELS LIKE ..... THE WORLD IS STOPPING NOW ....   💔    Dunia .... Seolah Berhenti.....


*********


Selamat membaca...


‘Heart ...’


‘I Love you, Heart ..’


‘Tak akan aku lepas, meski kamu mau melepas .. ingat itu.’


‘Momma..’


“D! ANDREA!.”


Fania tersentak kuat saat membuka matanya. Mulutnya menyebut dua nama yang begitu berarti untuknya. Fania pun memegangi dadanya. Ia kemudian mengingat apa yang terjadi sebelumnya.


Kemudian ia mendudukkan dengan benar dirinya. Tangannya merasakan permukaan lembut suatu benda lalu melirik kearah tangannya. “Mimpi.. itu semua mimpi, kan?..” Fania bergumam. Saat menyadari kalau dia terduduk diatas sebuah ranjang.


Fania memegangi lagi dadanya, mengusap wajahnya, dengan guratan wajah yang menggambarkan sedikit kelegaan.


“Bener kan semua itu mimpi?.” Gumam Fania lagi dan langsung beringsut untuk berdiri dari ranjang yang ia duduki. Namun saat ia berdiri, ia menyadari sesuatu.


Kedua mata Fania yang pandangannya tak lagi buram itu menangkap pemandangan yang asing.


“Dimana ini?....”


Fania menyadari kalau ia berada didalam sebuah kamar.


Namun Fania sadar betul kalau itu bukan kamarnya dan Andrew, baik yang berada di Mansion atau pun di rumah pribadi mereka.


“Ezra!.” Fania tiba – tiba teringat kalau Ezra mengenakan masker dan menyemprotkan sesuatu sebelum dirinya kemudian tak sadarkan diri. Ia pun langsung berjalan cepat ke arah pintu kamar tempat dia berada saat ini. ‘D! Andrea! Kalian dimana?.’ Batin Fania sambil memutar knob pintu kamar. “EZRA!.”


Fania memutar knob pintu dengan cepat dan kasar untuk segera keluar dari kamar.


Sekaligus ia mengingat Ara, Mom, Jihan dan Michelle yang terakhir bersama dengannya. “Sweety!.”


“Fania!.”


Ara sudah berdiri saling merengkuh dengan Mom didepan kamar Fania saat suaranya terdengar memanggil Ezra


dengan kencang.


“Kak Ara! Mom!.” Fania merasa sedikit lega saat melihat Ara dan Mom yang langsung memeluknya. Fania pun memeluk balik keduanya. “Jihan dan Michelle mana?.” Tanya Fania. “Apa yang sudah Ezra lakukan sama kita?.”


“Entahlah Sweety, Kak Ara juga tidak mengerti.” Jawab Ara yang wajah sembab nya masih ketara seperti Mom dan Fania.


“Kami belum bertemu dengan mereka.” Sahut Mom. “Sepertinya kita ditempatkan di kamar yang berbeda.” Sambung Mom.


“Berarti.. Jihan dan Michelle ada didalam salah satu kamar – kamar ini ....”


Mata Fania memperhatikan koridor tempatnya berdiri sekarang. Tempat itu cukup terang, dengan beberapa pintu – pintu seperti pintu kamar yang saling berhadapan satu sama lain dikedua sisinya. Tiga wanita itu mengamati apa yang ada disekeliling mereka dari tempatnya berdiri sekarang. Masih belum tahu mereka sedang berada dimana


sekarang.


“Lebih baik kita cari Jihan dan Michelle....” Ucap Mom. Fania dan Ara mengangguk. Mereka menoleh ke kanan dan kiri sesaat.


“Kamu kesana, aku kearah sini Sweety.”


Fania mengangguk pada Ara. Mereka berdua pun hendak memeriksa setiap kamar yang terbentang selurusan koridor. “Kak Fania! Kak Ara!.” Michelle muncul seraya berseru saat Fania dan Ara hendak memeriksa. “Mom!.” Seru Michelle lagi sambil memeluk satu – satu tiga orang yang disebutnya tadi.


“Fania! Kak Ara! Michelle! Mom!.” Kemudian suara Jihan pun terdengar dan wanita itu juga keluar dari dalam sebuah kamar selurusan kamar Fania. Kelimanya saling berpelukan dengan wajah khawatir dan wajah yang masih sembab tentunya, berikut mata mereka yang bengkak.


Kemudian kelimanya kembali mengamati tempat dimana mereka berada saat ini. “Where are we? (Dimana kita?).”


Tanya Michelle.

__ADS_1


“Kami juga ga tahu, Chel.”


“Mom? ....” Empat wanita muda itu kemudian mendekatinya karena wanita paruh baya yang masih senantiasa cantik itu kembali meneteskan air mata lalu mengusapnya pelan.


“Mom berharap apa yang sudah terjadi, semua hanya mimpi, saat terbangun tadi.” Mom mulai terisak. “Tapi ternyata itu bukan ....” Ucapnya lirih sambil memandangi pakaiannya sendiri, lalu pakaian anak perempuan dan tiga menantunya.


“Mom....” Jihan, Michelle, Fania dan Ara saling tatap dengan wajah yang menampakkan kegetiran. Kemudian memeluk Mom bersama, mencoba saling menguatkan dan masih memiliki asa dalam hati mereka bahwa para pria -  nya baik – baik saja. “Anak – anak dan yang lainnya....” Michelle berucap, dan ucapannya seperti menyadarkan keempat wanita selain dirinya bahwa ada lagi yang perlu mereka khawatirkan selain para pria –nya.


“Kita harus cari tahu dimana mereka.” Ucap Fania. Ara, Mom, Jihan dan Michelle langsung mengangguk dan mereka pun melihat kanan dan kirinya sesaat untuk memutuskan kearah mana dulu mereka akan mulai menyusuri tempat mereka berada saat ini. Koridor dengan banyak pintu yang merupakan pintu kamar itu seperti koridor hotel.


Namun jika tempat mereka berada saat ini adalah sebuah hotel, rasanya aneh jika atap diatas koridor itu nampak seperti baja yang nampak kokoh. Dan seingat mata mereka memandang saat di kamar tadi, sepertinya kamar itu tak berjendela.


“Kita ke arah sana atau sana?.” Ucap Ara sambil menunjuk kanan dan kirinya. Jihan juga menoleh seperti Ara.


“Kesana aja sepertinya Kak Ara, disana agak terang sepertinya.” Ucap Jihan menunjuk kearah kanannya. Ara dan tiga wanita lainnya mengangguk.


“Mrs. Erna ....”


Sebuah suara datang dari arah kelima wanita yang hendak berjalan kesatu arah, dan suara orang yang memanggil nama Mom itu membuat Fania, Ara, Mom, Jihan dan Michelle pun spontan menoleh.


*****


“My angels!!! ....”


Mom meneteskan lagi air matanya saat ia melihat semua cucunya ada dihadapannya kini.


“Gamma!....” Nathan, Varen dan Andrea berbinar melihat sang Gamma yang sudah berjongkok dan memeluki, dan


menciumi mereka satu – satu.


“Mama.”


“Momma.”


“Mom.”


“Mika.. My baby.. Boo – Boo....” Michelle menggendong dan memeluk putrinya dan Dewa dan rasa  lega karena masih bisa bertemu dengan putrinya, namun sesak yang membuatnya terisak lirih mengingat apa yang menimpa


suami serta kakak – kakaknya.


Mama Anye juga ada disana, dan wanita itu menghampiri Mom, juga Fania, Ara, Jihan dan Michelle dengan air mata yang berderai, termasuk Theresa dan juga Ben yang ada bersama mereka serta tiga pengasuh setia yang juga nampak sedih pun terisak.


Mereka semua saling memeluk dengan isakan yang terdengar menyalurkan haru serta duka. “Prita dan si kembar


Mana?!.”


Fania teringat kalau adiknya tidak ada bersama mereka.


“Prita dan si kembar ada di kamar.” Ucap Mama Anye. “Ayo, mama antar kesana. Prita amat sangat shock ..”


“KAKAAAK!! ..” Suara Prita yang setengah berlari itu terdengar dan ia langsung memeluk Fania seraya menangis.


“Prita..” Fania juga memeluknya dengan terisak. “Lo ga apa – apa?..” Tanya Fania seraya memeluknya.


“Mereka ga apa – apa kan Kak?. Kak John.. Kak Andrew .. semuanya ga apa – apa kan, Kak?..”


“Gue juga ga tau Prita..” Fania memandang sendu dan berucap lirih sambil membelai wajah dan rambut sang adik yang sudah berderai air mata. “Semuanya terjadi begitu cepat ... dan kami langsung dibawa Ezra pergi saat ada tembakan..”


“Gue denger Nino.... ngomong soal ledakan ditelpon.... tapi waktu gue tanya.. dia bilang ada situasi gawat dan dia langsung bawa gue serta mama Anye ke ruang keluarga dan seinget gue Nino kasih gue dan Mama Anye minuman habis itu rasanya semuanya gelap dan saat bangun... kami berdua sudah berada disini, sama anak – anak dan juga mereka..” Prita menjelaskan apa yang dia alami sebelumnya sambil menunjuk ke lima orang yang bekerja dikeluarga mereka.


“Kami juga sama Prita, saat dalam mobil sepertinya Ezra membius kami dan saat bangun, tau – tau aku sudah berada dikamar tadi.” Ucap Jihan disela isakannya.


“Terus, ledakan yang dibilang Nino saat dia telpon dengan seseorang ....?..” Prita berharap penjelasan, berharap ia salah dengar.


Namun Fania mengangguk getir. “Itu bener Prita .. rumah Uncle Keenan tau – tau meledak saat mobil udah bawa kami..” Ucap Fania lirih. “Dan mereka..” Fania menggantungkan kalimatnya, tenggorokannya terasa tercekat. “Mereka masih didalam..” Kemudian Fania terisak hebat. “Ezra ga mau gue suruh balik untuk melihat mereka..”


“Ya Allah Kaaakk...”

__ADS_1


Prita merintih sambil terisak menutup mulutnya. Anak – anak sudah dibawa kekamar oleh tiga pengasuh yang ada ditempat mereka berada sekarang.


“Gue juga berharap mereka baik – baik aja.. tapi gue ga bisa menghubungi mereka.. handphone kami semua ditahan Ezra dan orang – orangnya.”


Fania masih berucap dengan lirihnya.


“Handphone lo! Handphone lo mana Prita?. Mama Anye?. Handphone kalian ada kan?. Kita bisa coba hubungi mereka.” Ucap Fania memandang pada Prita dan Mama Anye dengan penuh harap.


Namun keduanya menggeleng. “Gue dan Mama Anye juga sudah cari handphone kami tadi, tapi ga ada juga..”


Fania mengucap kasar wajahnya, merasa frustasi. Termasuk juga Ara, Mom, Michelle dan Jihan. Mereka menghela nafas kasar. “Ben! Theresa!.” Fania menyadari keberadaan dua orang yang ia sebut itu. “How about your cell phones? (Bagaimana dengan ponsel kalian?).” Tanya Fania pada keduanya. Ben dan Theresa menggeleng.


“Your cell phones and Hera’s, Lita’s and Amber's are also taken? (Ponsel kalian, Hera, Lita dan Amber juga diambil?).”


“Yes, Mrs. Ara (Iya, Nyonya Ara).”


“Was Nino said something to you? (Apa Nino mengatakan sesuatu pada kalian?).” Tanya Mom.


“He said, that me and Theresa must to be with all of you to take care and make sure you got everything you need here (Dia bilang, kalau aku dan Theresa harus berada bersama anda semua untuk menjaga dan melayani kalian disini).”


Ben berbicara. Fania mendekatinya. “Is there something else he said? (Ada hal lain lagi yang dia katakan?).” Tanya Fania. “About the men .. our husbands? .... (Tentang para pria .... suami – suami kami?....)..” Masih bertanya penuh harap.


Ben dan Theresa saling tatap dengan wajah yang menyiratkan keraguan.


“Both of you know something, right? (Kalian berdua mengetahui sesuatu, kan?). Nino must said something about R and others (Nino pasti mengatakan sesuatu tentang R dan yang lainnya).” Cecar Ara, namun Ben dan Theresa masih diam setengah menunduk. “Talk! (Bicara!).”


“Are you betray us? (Apa kalian mengkhianati kami?).” Tanya Mom penuh selidik.


“No! No Mrs. Erna! We will never betray to this family! Ever! (Tidak! Tidak Nyonya Erna! Kami tidak akan mengkhianati keluarga ini! Tidak akan pernah!).” Ben dan Theresa dengan cepat menyanggah dengan mata mereka yang berkaca – kaca. “This family is also family for us, We will serve all of you with our lifes (Keluarga ini sudah kami anggap keluarga kami sendiri, Kami akan melayani anda semua dengan nyawa kami).” Theresa yang kini air matanya turun itu berbicara dengan sungguh sungguh sambil menyentuh dadanya.


“Then tell us everything... (Lalu beritahu kami semuanya ..) ..”


Michelle bersuara.


“Please ... (Tolong)..” Ucap Michelle. "Maybe there still any hope?.... maybe Nino, Ezra and other are picking them now? (Mungkin masih ada harapan?... mungkin Nino, Ezra dan yang lainnya sedang menjemput mereka sekarang?)...."


“Mister Nino, was told about explosions that was happened at Mister Keenan house ..... and ...... he said when that happened, Mister Anthony and all of the Young Masters were still inside (Tuan Nino, mengatakan soal ledakan yang terjadi di rumah Tuan Keenan... dan..... dia bilang saat itu terjadi, Tuan Anthony dan para Tuan Muda masih berada didalam sana).”


Ben berbicara setengah terbata.


Ucapan Ben membuat Fania dan lima wanita lainnya kembali meneteskan air mata.


“Then? (Lalu?).”


“Mister Nino said ... the explosion happened twice in the close time .. and ... there will be small chance for everyone.. inside there ... might be survived ..... (Tuan Nino bilang.. ledakan terjadi dua kali dalam waktu yang berdekatan.. dan... kecil kemungkinan bagi siapapun.... yang masih berada disana.. untuk selamat)..”


Tangisan dari para nyonya akhirnya pecah seketika. Luruh dalam duka, tenggelam dalam kesedihan yang teramat dalam. Hancur luluh rasanya jiwa dan raga mereka. Dunia mereka seolah berhenti membayangkan semua yang dikatakan Ben dan Theresa adalah sebuah kenyataan pahit yang harus dihadapi oleh para wanita di Kerajaan Smith.


“D!!!...” Fania tiba – tiba berteriak histeris dan merosot ditempatnya berdiri. Theresa langsung merengkuh nyonya mudanya yang tampak begitu rapuh saat ini. “AAAA!!.....” Teriakannya begitu memilukan.


“Sweety..” Ara langsung memeluk Fania erat. Ia pun terisak kencang. “Sabar Sweety, Kak Ara paham perasaan kamu...... kami semua juga merasakannya..” Ucap Ara sambil masih memeluk Fania.


“Andrea pasti.... pasti tanya soal Poppanya ..” Lirih Fania “Varen.. Valera.. Nathan.... Mika.. si kembar.. mereka akan... pasti akan tanya dan cari daddy mereka .. kita harus bilang apa kak..? ..”


Suara serak Fania yang terbata terdengar pilu dan menyayat.


Ara hanya bisa menggeleng dengan terisak, Mom dan yang lainnya pun sama.


“Ini mimpi kan kak?.. Cuma mimpi kan...?.” Fania mengguncang lengan Ara. “Cubit gue Kak!... tampar.. pukul.. pukul... gue kak. Supaya gue bisa bangun...” Lirihnya pada Ara. “BANGUNIN GUE KAK ARAA!!!.....” Fania begitu histeris.


“Fania...” Mom dan Jihan mendekatinya, berikut Michelle dan Prita.


“Bangunin gue, gue mohon Kak.. gue ga sanggup... gue ga sanggup kak Araaa.....!!!!”


Sakit yang dirasa Fania, terasa sakit juga untuk Ara, Mom, Prita, Jihan dan Michelle. Sama halnya dengan Fania yang kini begitu histeris dan ucapannya yang begitu menyayat hati, berharap semua ini hanya mimpi buruk semata. Dan esok hari, semua kembali seperti semula, baik – baik saja. Semoga..


*****

__ADS_1


To be continue ....


__ADS_2