
đ CONSIDERATIONÂ â PERTIMBANGAN đ
Selamat membaca ....
***************
âSuami disendokin Drea....â Ucap Momma kala keluarga mereka sudah beberapa berkumpul dimeja makan,
sementara sebagian masih asik dengan kegiatannya masing â masing dan belum merasa lapar, jadi belum ikut bergabung di ruang makan atau mengambil makanan.
âHumâ
Andrea menjawab singkat.
âAbang mau ambilkan, atau ambil makanan sendiri?â
Andrea menoleh pada Varen yang mengambil tempat duduk disisi Andrea di meja makan.
âYa diambilin aja Juleha.â
âAku kan hanya tanyaâ
âYa ga perlu ditanya juga kali. Momma dan Moms yang lain juga Gamma dan Ene kan selalu mengambilkan makanan untuk suami. Kan kamu sering lihat jugaâ
âYa kalian kan suami istri beneranâ
Mereka yang mendengar ucapan Andrea barusan memandang pada Andrea dengan serempak. Termasuk Varen.
âKok Drea bicaranya begitu?â
âMemang kenapa? Benar kan yang aku bilang tadi, Ne?â
âYa Drea sama Abang kan juga suami istri beneran. Sah dimata agama sama hukumâ
âIya, statusnya. Prakteknya kan belumâ Sahut Andrea datar. âAku sama Abang memang sudah sah menikah. Tapi hanya status, sampai nanti aku lulus sekolah. Itu kan ya, yang Abang bilang tadi? Jadi sampai aku lulus dan pernikahan kami diumumkan baru deh aku bisa dibilang jadi istri. Nah sebelum itu kami seolah pacaran. Ya? Abang?â
Drea menoleh pada Varen dan gadis itu tersenyum sangat tipis. Namun hanya sekilas saja, lalu duduk kembali dengan memasang wajah datar setelah mengisi piringnya.
Membuat semua orang menjadi terheran â heran dengan sikap Andrea yang terlalu datar itu.
âKalau pacaran, berarti belum punya kewajiban menyendokkan makanan untuk pacarnya dong?â Ucap Andrea lagi. âKecuali aku mau cari perhatian sama calon mertuaâ
Andrea menyunggingkan senyum datar. Senyum yang nampak, namun seolah enggan dilakukan.
Suasana jadi sedikit terasa kurang nyaman sekarang. Membuat orang â orang yang berada disekitar Andrea
terdiam dan hanya memperhatikan gadis itu saja yang kemudian berdiri.
âMau diambilkan apa?â Tanya Andrea yang sudah membalikkan piring Varen dan memegangnya.
âBiar Abang ambil sendiri, Little Starâ
âOkeâ
****
Varen tampak sedang menerima panggilan diponselnya di halaman belakang Kediaman. Sementara Andrea sedang bermain game konsol bersama Daddy Jeff di ruang santai selepas ia makan, dan mereka yang tadi belum sempat makan kini sedang mengambil giliran.
âAbang ....â Gamma yang sedang berada di halaman belakang bersama Daddy Dewa, Mom Ichel, Poppa, Mami
Prita, Papi John, Mommy Ara, Mama Fabi dan Lucca memanggil Varen saat laki â laki itu selesai berbicara ditelpon.
âYa Gamma?â
âSini sebentar Gamma mau bicaraâ Ucap Gamma dan Varen mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
Varen duduk disamping Gamma.
âKamu sudah menjelaskan alasan kamu atas keputusan kamu yang masih ingin tinggal dikamar terpisah dengan Drea sampai dia lulus nanti, hem?â Tanya Gamma pada Varen, sementara yang lain hanya masih mendengarkan.
âSudah Gamâ
âLalu Drea bilang apa?. Kok Gamma menangkap sesuatu yang tidak enak dari gelagat Drea tadiâ
âYah, Little Star bilang padaku dia paham dengan alasankuâ
âTapi sepertinya tidak begituâ Celetuk Daddy Dewa.
Varen menghela nafasnya sedikit panjang. âYeah, you were right Dad. ( Yeah, Dad benar )â Sahut Varen atas ucapan Daddy Dewa barusan. âAku salah, ya?â Ucap Varen lirih, membuat Gamma para Dads dan Mommies yang bersamanya tersenyum saja.
âTidak jugaâ Sahut Poppa. âBaik kau dan Andrea tidak ada yang salah. Menurutku. Kan sudah ku bilang kalau aku
menghargai keputusanmu itu. Toh itu bentuk cintamu pada Andrea juga. Bisa dibilang kau tidak serakah, dan aku salut akan itu. Tapi disatu sisi, Andrea juga tidak bisa disalahkan atas sikapnya. Dia pasti bingung dan heran atas
keputusanmu mengiyakan keputusanku dan Daddy mu untuk menikahkan kalian dengan mendadak tapi disatu sisi kau tetap menjaga jarak dengannyaâ
Andrew menyesap kopinya.
âKalian sih, mengambil keputusan se-kritis itu tanpa membicarakannya dulu dengankuâ Sahut Varen.
âSalah siapa?. Salahmu sendiri yang sok bilang mau membebaskan Andrea dengan gayamu yang sok cool itu. Membuatku dan Daddymu malah menjadi paranoid akan itu. Kau itu terlalu menggebu â gebu soal Andrea, jadi saat kami melihat kau nampak sok pasrah dan ikhlas untuk membebaskan Drea itu justru membuat kami was â was!â
Varen terkekeh kecil.
âLagipula kau menyeret nama Narendra karena urusanmu dan Aryaâ Sambung Andrew. âDan aku tahu persis kau tidak main â main akan itu. Kau membakar Xaviour dan membuat lumpuh pemiliknya dalam arti yang sebenarnya. Dan itu, hanya karena ketidak sukaanmu atas Andrea yang menyelinap kesana. Jika anaknya si Rico itu tetap keras kepala mendekati Andrea, aku rasa kau akan membunuhnya. Bukan begitu?â
âItu sih tergantung sikapnyaâ
âHeh!â
âKalau menurut Mommy sih, ada baiknya kamu pikirkan lagi soal keputusanmu itu soal tinggal dikamar masing â masing sampai Little Star lulus sekolah. Mommy hanya tidak ingin Drea merasa terluka. Kalau tersinggung sih iya, terlihat jelas dalam sikapnya saat makan tadiâ
Papa Lucca bersuara.
âYou and Little Star were married, nothingâs wrong with living in the same room even sheâs still a student?. ( Kau dan Little Star kan sudah menikah, tidak ada yang salah jika kalian tinggal dikamar yang sama meskipun ia masih sekolah )â Sambung Papa Lucca.
Varen masih mendengarkan.
âLondon, Italy. Some of girls there, even already living together with their boyfriend. ( London. Italia. Beberapa gadis disana, bahkan sudah tinggal bersama dengan kekasihnya ).Most of them even already knows *** and doing it, in the younger age than Andrea. ( Banyak dari mereka bahkan sudah mengenal **** dan melakukannya, diusia yang lebih muda daripada Andrea )â
âIya Bang, toh saat masih bersekolah di St. George pun dia sudah mendapat pendidikan **** sejak dini, jadi hal itu bukan hal yang tabu lagi bagi Andreaâ
âJika kau takut Andrea keburu hamil sebelum ia lulus sekolah, kau bisa memakai pengaman bocah tengik. Atau kau keluarkan diluarâ Ucap Poppa santai, membuat mereka yang bersamanya terkekeh saja. âTapi jangan menyuruh Andrea yang menggunakan alat kontrasepsi baik pil atau semacamnyaâ
Poppa menyambung kalimatnya.
âAku punya pengalaman buruk dengan sikap Momma mu waktu aku memaksanya mengkonsumsi pil kontrasepsi saat kami belum memiliki anak. Aku dengan ketakutan dan traumaku atas kejadian buruk yang pernah menimpa Mommamu, jadi aku mengambil keputusan sendiri yang ternyata membuatku menyesal setelah ituâ
Varen terdiam, nampak berpikir.
âKau dengan ketakutanmu yang langsung mengiyakan keputusanku dan Daddymu untuk menikahi Andrea secepat itu, kurang lebih sama denganku. Hanya berbeda hal saja. Intinya takut kehilanganâ Sambung Poppa.
âSama bucin akutâ Celetuk Mami Prita dan mereka semua tergelak.
â......â
âSetidaknya kamu dan Andrea tidur dikamar yang sama, Abang. Paling tidak itu membuat Andrea nyaman. Kamu pun begitu. Memang enak tadi disindir seperti itu dimeja makan sama istri kamu, hem?â
âYa tidak, Gamâ
âBenar yang dikatakan Gamma itu, Bang. Poppa sama Momma juga ga akan masalah kalau kamu menghamili Drea. Iya ga Pop?â Ucap Mom Ichel senyam â senyum pada sang kakak. âMomma saja sudah âdikunciâ lebih dulu sama Poppa kalian nih, karena Momma kalian dulu minta putusâ
__ADS_1
Andrew memutar bola matanya malas, sisanya terkekeh.
âYah, kembali lagi apapun yang menjadi keputusanmu itu sih terserah kau sendiri. Tapi melihat sikap Andrea tadi, aku yakin dia tidak akan semesra dan se-manja dulu lagi padamu. Coba saja. Dia sangat mirip Mommanya kalau sedang tak nyaman akan sesuatu, dan dia akan membagi ketidak nyamanan-nya pada orang yang membuat dirinya tak nyaman. Dalam hal ini, ya kauâ
âBenar sekali! Wanita dalam keluarga ini kalau soal menyindir, mereka jagoannya. Terlebih lagi Momma kalian, dia juaranya. Bisa jadi itu menurun ke Andrea. Kamu siap â siap aja, Bang. Minimal telinga kamu panasâ
âHahahaha!....â
âThereâs another thing she said to you, when you both talked about your decision to stay in the different room untill Andrea graduated?. ( Ada hal lain yang ia katakan padamu, saat kalian bicara tentang keputusanmu untuk tinggal dikamar yang berbeda sampai Andrea lulus? )â
Mama Fabi bersuara.
Varen manggut â manggut. âHummm ......â
âWhat is it?. ( Apa itu? )â
Pertanyaan Papa Lucca mewakili yang lainnya.
âDia menyuruhku kembali ke Massachusetts. Aku diusir dengan dengan halus....â
âHahahaha!....â
**
Trriinngg.....
Alarm weker Andrea berbunyi nyaring diatas nakas. Kalau hari â hari sekolah memang Andrea selalu memasang
waktu bangunnya di weker karena bunyinya yang super nyaring dan bising, mengalahkan suara alarm diponselnya.
Tangan Andrea meraba nakas disampingnya untuk meraih weker. Matanya masih terpejam, berikut penutup mata
untuk tidur yang masih terpasang menutupi matanya. âHish!â
Andrea mendengus karena tak dapat mencapai weker yang berbunyi nyaring itu. Ia membuka kasar penutup
matanya.
âDuuh Reryyy ..â
Andrea mengeluh karena ada tangan yang melingkar diperutnya.
âPasti mimpi seram lagi!â Gumam Andrea.
Andrea menebak.
Adiknya itu memang sering begitu jika mimpi seram. Kalau tidak pergi ke kamar Andrea dan tidur disana sampai pagi, atau ke kamar orang tua mereka.
Andrea mendengus pelan. Dia yang tadi tidur menyamping pun mencoba menggerakkan badannya yang seperti
terkunci dengan lingkaran tangan dipinggangnya, sementara weker yang tadi berbunyi nyaring itu sudah berhenti berbunyi.
Andrea menepak tangan dipinggangnya untuk ia singkirkan, karena weker nya itu akan berbunyi nyaring lagi setelah berhenti beberapa menit. Maka itu Andrea harus buru buru, menggeser tombol kecil dibelakang weker untuk mematikan alarm, kalau tidak telinganya sakit.
âEh?â Andrea yang masih berbaring miring itu, meraba â raba tangan diperutnya. Merasa aneh, karena seperti bukan tangan anak kecil. âTangan Rery, kok kayaknya besar?â.
Andrea menarik penutup matanya hingga lepas yang tadi ia geser sampai jidat, lalu bergerak dengan cepat untuk membalikkan tubuhnya.
âMorning. ( Pagi )â
**
To be continue.....
Maapkeun kalau beberapa waktu emak slow update. Lagi lumayan sedang banyak kesibukan diluar soale, jadi harap maklum. Yang penting akan selalu diusahakan ada update â tan episode baru setiap hari sampe emak tamatin ini novel.
__ADS_1
Begitu aje kiranya sekilas inpoh.