THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 229


__ADS_3

🔘 CONSIDERATION – PERTIMBANGAN 🔘


Selamat membaca ....


***************


“Suami disendokin Drea....” Ucap Momma kala keluarga mereka sudah beberapa berkumpul dimeja makan,


sementara sebagian masih asik dengan kegiatannya masing – masing dan belum merasa lapar, jadi belum ikut bergabung di ruang makan atau mengambil makanan.


“Hum”


Andrea menjawab singkat.


“Abang mau ambilkan, atau ambil makanan sendiri?”


Andrea menoleh pada Varen yang mengambil tempat duduk disisi Andrea di meja makan.


“Ya diambilin aja Juleha.”


“Aku kan hanya tanya”


“Ya ga perlu ditanya juga kali. Momma dan Moms yang lain juga Gamma dan Ene kan selalu mengambilkan makanan untuk suami. Kan kamu sering lihat juga”


“Ya kalian kan suami istri beneran”


Mereka yang mendengar ucapan Andrea barusan memandang pada Andrea dengan serempak. Termasuk Varen.


“Kok Drea bicaranya begitu?”


“Memang kenapa? Benar kan yang aku bilang tadi, Ne?”


“Ya Drea sama Abang kan juga suami istri beneran. Sah dimata agama sama hukum”


“Iya, statusnya. Prakteknya kan belum” Sahut Andrea datar. “Aku sama Abang memang sudah sah menikah. Tapi hanya status, sampai nanti aku lulus sekolah. Itu kan ya, yang Abang bilang tadi? Jadi sampai aku lulus dan pernikahan kami diumumkan baru deh aku bisa dibilang jadi istri. Nah sebelum itu kami seolah pacaran. Ya? Abang?”


Drea menoleh pada Varen dan gadis itu tersenyum sangat tipis. Namun hanya sekilas saja, lalu duduk kembali dengan memasang wajah datar setelah mengisi piringnya.


Membuat semua orang menjadi terheran – heran dengan sikap Andrea yang terlalu datar itu.


“Kalau pacaran, berarti belum punya kewajiban menyendokkan makanan untuk pacarnya dong?” Ucap Andrea lagi. “Kecuali aku mau cari perhatian sama calon mertua”


Andrea menyunggingkan senyum datar. Senyum yang nampak, namun seolah enggan dilakukan.


Suasana jadi sedikit terasa kurang nyaman sekarang. Membuat orang – orang yang berada disekitar Andrea


terdiam dan hanya memperhatikan gadis itu saja yang kemudian berdiri.


“Mau diambilkan apa?” Tanya Andrea yang sudah membalikkan piring Varen dan memegangnya.


“Biar Abang ambil sendiri, Little Star”


“Oke”


****


Varen tampak sedang menerima panggilan diponselnya di halaman belakang Kediaman. Sementara Andrea sedang bermain game konsol bersama Daddy Jeff di ruang santai selepas ia makan, dan mereka yang tadi belum sempat makan kini sedang mengambil giliran.


“Abang ....” Gamma yang sedang berada di halaman belakang bersama Daddy Dewa, Mom Ichel, Poppa, Mami


Prita, Papi John, Mommy Ara, Mama Fabi dan Lucca memanggil Varen saat laki – laki itu selesai berbicara ditelpon.


“Ya Gamma?”


“Sini sebentar Gamma mau bicara” Ucap Gamma dan Varen mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


Varen duduk disamping Gamma.


“Kamu sudah menjelaskan alasan kamu atas keputusan kamu yang masih ingin tinggal dikamar terpisah dengan Drea sampai dia lulus nanti, hem?” Tanya Gamma pada Varen, sementara yang lain hanya masih mendengarkan.


“Sudah Gam”


“Lalu Drea bilang apa?. Kok Gamma menangkap sesuatu yang tidak enak dari gelagat Drea tadi”


“Yah, Little Star bilang padaku dia paham dengan alasanku”


“Tapi sepertinya tidak begitu” Celetuk Daddy Dewa.


Varen menghela nafasnya sedikit panjang. “Yeah, you were right Dad. ( Yeah, Dad benar )” Sahut Varen atas ucapan Daddy Dewa barusan. “Aku salah, ya?” Ucap Varen lirih, membuat Gamma para Dads dan Mommies yang bersamanya tersenyum saja.


“Tidak juga” Sahut Poppa. “Baik kau dan Andrea tidak ada yang salah. Menurutku. Kan sudah ku bilang kalau aku


menghargai keputusanmu itu. Toh itu bentuk cintamu pada Andrea juga. Bisa dibilang kau tidak serakah, dan aku salut akan itu. Tapi disatu sisi, Andrea juga tidak bisa disalahkan atas sikapnya. Dia pasti bingung dan heran atas


keputusanmu mengiyakan keputusanku dan Daddy mu untuk menikahkan kalian dengan mendadak tapi disatu sisi kau tetap menjaga jarak dengannya”


Andrew menyesap kopinya.


“Kalian sih, mengambil keputusan se-kritis itu tanpa membicarakannya dulu denganku” Sahut Varen.


“Salah siapa?. Salahmu sendiri yang sok bilang mau membebaskan Andrea dengan gayamu yang sok cool itu. Membuatku dan Daddymu malah menjadi paranoid akan itu. Kau itu terlalu menggebu – gebu soal Andrea, jadi saat kami melihat kau nampak sok pasrah dan ikhlas untuk membebaskan Drea itu justru membuat kami was – was!”


Varen terkekeh kecil.


“Lagipula kau menyeret  nama Narendra karena urusanmu dan Arya” Sambung Andrew. “Dan aku tahu persis kau tidak main – main akan itu. Kau membakar Xaviour dan membuat lumpuh pemiliknya dalam arti yang sebenarnya. Dan itu, hanya karena ketidak sukaanmu atas Andrea yang menyelinap kesana. Jika anaknya si Rico itu tetap keras kepala mendekati Andrea, aku rasa kau akan membunuhnya. Bukan begitu?”


“Itu sih tergantung sikapnya”


“Heh!”


“Kalau menurut Mommy sih, ada baiknya kamu pikirkan lagi soal keputusanmu itu soal tinggal dikamar masing – masing sampai Little Star lulus sekolah. Mommy hanya tidak ingin Drea merasa terluka. Kalau tersinggung sih iya, terlihat jelas dalam sikapnya saat makan tadi”


Papa Lucca bersuara.


“You and Little Star were married, nothing’s wrong with living in the same room even she’s still a student?. ( Kau dan Little Star kan sudah menikah, tidak ada yang salah jika kalian tinggal dikamar yang sama meskipun ia masih sekolah )” Sambung Papa Lucca.


Varen masih mendengarkan.


“London, Italy. Some of girls there, even already living together with their boyfriend. ( London. Italia. Beberapa gadis disana, bahkan sudah tinggal bersama dengan kekasihnya ).Most of them even already knows *** and doing it, in the younger age than Andrea. ( Banyak dari mereka bahkan sudah mengenal **** dan melakukannya, diusia yang lebih muda daripada Andrea )”


“Iya Bang, toh saat masih bersekolah di St. George pun dia sudah mendapat pendidikan **** sejak dini, jadi hal itu bukan hal yang tabu lagi bagi Andrea”


“Jika kau takut Andrea keburu hamil sebelum ia lulus sekolah, kau bisa memakai pengaman bocah tengik. Atau kau keluarkan diluar” Ucap Poppa santai, membuat mereka yang bersamanya terkekeh saja. “Tapi jangan menyuruh Andrea yang menggunakan alat kontrasepsi baik pil atau semacamnya”


Poppa menyambung kalimatnya.


“Aku punya pengalaman buruk dengan sikap Momma mu waktu aku memaksanya mengkonsumsi pil kontrasepsi saat kami belum memiliki anak. Aku dengan ketakutan dan traumaku atas kejadian buruk yang pernah menimpa Mommamu, jadi aku mengambil keputusan sendiri yang ternyata membuatku menyesal setelah itu”


Varen terdiam, nampak berpikir.


“Kau dengan ketakutanmu yang langsung mengiyakan keputusanku dan Daddymu untuk menikahi Andrea secepat itu, kurang lebih sama denganku. Hanya berbeda hal saja. Intinya takut kehilangan” Sambung Poppa.


“Sama bucin akut” Celetuk Mami Prita dan mereka semua tergelak.


“......”


“Setidaknya kamu dan Andrea tidur dikamar yang sama, Abang. Paling tidak itu membuat Andrea nyaman. Kamu pun begitu. Memang enak tadi disindir seperti itu dimeja makan sama istri kamu, hem?”


“Ya tidak, Gam”


“Benar yang dikatakan Gamma itu, Bang. Poppa sama Momma juga ga akan masalah kalau kamu menghamili Drea. Iya ga Pop?” Ucap Mom Ichel senyam – senyum pada sang kakak. “Momma saja sudah ‘dikunci’ lebih dulu sama Poppa kalian nih, karena Momma kalian dulu minta putus”

__ADS_1


Andrew memutar bola matanya malas, sisanya terkekeh.


“Yah, kembali lagi apapun yang menjadi keputusanmu itu sih terserah kau sendiri. Tapi melihat sikap Andrea tadi, aku yakin dia tidak akan semesra dan se-manja dulu lagi padamu. Coba saja. Dia sangat mirip Mommanya kalau sedang tak nyaman akan sesuatu, dan dia akan membagi ketidak nyamanan-nya pada orang yang membuat dirinya tak nyaman. Dalam hal ini, ya kau”


“Benar sekali! Wanita dalam keluarga ini kalau soal menyindir, mereka jagoannya. Terlebih lagi Momma kalian, dia juaranya. Bisa jadi itu menurun ke Andrea. Kamu siap – siap aja, Bang. Minimal telinga kamu panas”


“Hahahaha!....”


“There’s another thing she said to you, when you both talked about your decision to stay in the different room untill Andrea graduated?. ( Ada hal lain yang ia katakan padamu, saat kalian bicara tentang keputusanmu untuk tinggal dikamar yang berbeda sampai Andrea lulus? )”


Mama Fabi bersuara.


Varen manggut – manggut. “Hummm ......”


“What is it?. ( Apa itu? )”


Pertanyaan Papa Lucca mewakili yang lainnya.


“Dia menyuruhku kembali ke Massachusetts. Aku diusir dengan dengan halus....”


“Hahahaha!....”


**


Trriinngg.....


Alarm weker Andrea berbunyi nyaring diatas nakas. Kalau hari – hari sekolah memang Andrea selalu memasang


waktu bangunnya di weker karena bunyinya yang super nyaring dan bising, mengalahkan suara alarm diponselnya.


Tangan Andrea meraba nakas disampingnya untuk meraih weker. Matanya masih terpejam, berikut penutup mata


untuk tidur yang masih terpasang menutupi matanya. “Hish!”


Andrea mendengus karena tak dapat mencapai weker yang berbunyi nyaring itu. Ia membuka kasar penutup


matanya.


“Duuh Reryyy ..”


Andrea mengeluh karena ada tangan yang melingkar diperutnya.


“Pasti mimpi seram lagi!” Gumam Andrea.


Andrea menebak.


Adiknya itu memang sering begitu jika mimpi seram. Kalau tidak pergi ke kamar Andrea dan tidur disana sampai pagi, atau ke kamar orang tua mereka.


Andrea mendengus pelan. Dia yang tadi tidur menyamping pun mencoba menggerakkan badannya yang seperti


terkunci dengan lingkaran tangan dipinggangnya, sementara weker yang tadi berbunyi nyaring itu sudah berhenti berbunyi.


Andrea menepak tangan dipinggangnya untuk ia singkirkan, karena weker nya itu akan berbunyi nyaring lagi setelah berhenti beberapa menit. Maka itu Andrea harus buru buru, menggeser tombol kecil dibelakang weker untuk mematikan alarm, kalau tidak telinganya sakit.


‘Eh?’ Andrea yang masih berbaring miring itu, meraba – raba tangan diperutnya. Merasa aneh, karena seperti bukan tangan anak kecil. ‘Tangan Rery, kok kayaknya besar?’.


Andrea menarik penutup matanya hingga lepas yang tadi ia geser sampai jidat, lalu bergerak dengan cepat untuk membalikkan tubuhnya.


“Morning. ( Pagi )”


**


To be continue.....


Maapkeun kalau beberapa waktu emak slow update. Lagi lumayan sedang banyak kesibukan diluar soale, jadi harap maklum. Yang penting akan selalu diusahakan ada update – tan episode baru setiap hari sampe emak tamatin ini novel.

__ADS_1


Begitu aje kiranya sekilas inpoh.


__ADS_2