
♣♣DON’T EVER TRY!....♣♣ Jangan Pernah Coba – Coba!...**************************
Selamat membaca ..
‘Kalau ini Cuma Prank, sumpah akan gue unyeng - unyeng semua yang terlibat.’
‘Tapi satu – satunya orang yang ga akan pernah amat sangat mungkin ngerjain gue adalah Vladimir.’
– Fania –
‘Dan Vla bilang...’
“**Fania, it is confirmed, your sister has been taken. I found a cctv record that she was drag into a silver mpv. ( Fania, adik lo memang diculik. Gue dapat rekaman cctv yang memperlihatkan kalau dia dipaksa masuk kedalam sebuah mpv berwarna silver ).”**
‘Kalau sampai ada satu goresan aja di badan Prita, gue bersumpah akan gue kuliti lo hidup – hidup Tristan!.’
***
“Yes, Ndrew?. ( Ya, Ndrew? ).”
John sudah mengemudikan mobilnya tepat di belakang mobil Andrew.
‘Omar already clear the way. ( Omar sudah mengamankan jalan ).’
“Okay!.” John melajukan cepat mobilnya karena Andrew menambah kecepatan mobilnya.
“Tristan Paraduta!. Lo benar – benar cari mati!.”
***
“Who’s behind us John?.( Siapa dibelakang kita , John? ).” Andrew yang sedang terhubung dengan John melalui ear phone bluetooth ditelinganya langsung bertanya pada John selepas dia melirik sepertinya ada dua mobil lagi yang berada selurusan dibelakang mobil John.
‘Rico and Arya.’
Andrew mematikan saluran telponnya dengan John. Ia menambah lagi kecepatan setelah hampir sampai ketempat dimana titik ponsel Fania berhenti. Tak berapa lama layar ponsel Andrew yang tertempel di penyangga ponsel miliknya menyala.
“Is my wife and Prita save, Arman?! ( Apa istri gue dan Prita aman, Arman?! ).”
***
“Jangaan Triss ... gue mohon ..” Prita mengiba seiring air matanya yang sudah menetes.
“Tenang saja sayang, aku pasti akan bertanggung jawab. Dengan senang hati malah.”
SREK...
Bagian bawah kaos Prita sobek karena Prita yang coba berontak untuk melepaskan tangannya yang dikunci Tristan
diatas kepala Prita dan satu tangan pria itu sudah memegangi kaos yang Prita pakai.
‘Kak John .. hiks..’
DUAK!!!!.
“***!. ( SILAN! ).”
DUAK!!!!.
“APA ITU?!.”
Tristan berteriak pada orangnya yang berada dikursi penumpang depan. Ia tak lagi fokus pada Prita.
“Ada seseorang dengan motor disebelah kanan Bos!.” Orang Tristan yang mengemudikan mobil berucap pada Bosnya itu.
“APA?!.”
“Dia sepertinya berusaha untuk menghentikan kita.”
“CK!.”
Tristan melonggarkan dirinya dari atas Prita dan Prita menyegerakan dirinya untuk duduk.
“Siapa dia???.” Tristan melongok ke kaca sebelah kanan dan menemukan seseorang dengan motor sport disamping mobilnya. Namun ia sulit mengenali. Selain tidak pernah melihat motor seperti itu berkeliaran di jalanan Jakarta, pengendaranya juga menggunakan helm dengan kaca gelap.
‘Kak Fania ....’ Batin Prita yang mengenali motor dan perawakan kakaknya itu merasa lega dan harus bersamaan.
‘Apa itu pria yang bernama John?. Sepertinya bukan. Tubuh pria itu jauh lebih besar dari ini.’ Tristan bertanya – tanya dalam hatinya. 'Orang dimotor itu seperti seorang perempuan??!.'
DUAK!!!!.
“BODOH!. TUNGGU APALAGI! SINGKIRKAN DIA!.” Hardik Tristan pada anak buahnya. “KEMANA MOBIL YANG
DIKENDARAI FAHRI?!.” Tristan melongok ke arah belakang mobilnya. Seharusnya ada satu mobil yang berisi anak buahnya yang lain dalam mobil tersebut, tapi sudah tak ada dan Tristan baru menyadarinya.
“Mungkin mereka tertinggal Bos!.” Sahut salah satu anak buah Tristan yang berada satu mobil dengannya ini.
“BENAR – BENAR BODOH!.” Teriak Tristan lagi.
DUAK!!!!.
Suara hantaman dimobil Tristan terdengar lagi.
“SINGKIR..”
PRANG!!!!!
Belum sempat Tristan menyelesaikan kalimatnya tapi suara kaca mobil yang dipecahkan sudah keburu terdengar. “Akh!.”
Tristan terjungkal kesamping karena mobil yang ia tumpangi langsung oleng dan si pengemudi menginjak rem dan
membanting setir kesamping. Prita berpegangan kencang pada pegangan mobil yang ada disamping atasnya.
****
“Am I already behind him, Vla?. ( Apa gue sudah berada dibelakang mobil dia, Vla? ).”
'No. Your sister is in the first car. In front of you is one of that bstard men’s car. ( Bukan. Adik lo ada dimobil yang pertama. Yang ada didepan lo itu salah satu mobil anak buahnya ).'*
'Lo maju aja Fan, gue sudah di belakang lo. Biar gue yang urus mobil yang didepan lo.'
“Okay!.”
Fania menggas dan langsung menyalip hingga berada ditengah kedua mobil Tristan dan anak buahnya.
'I am right behind you, Fania!. ( Gue tepat di belakang lo, Fania! ).'
“Okay, Vla. Let me play first. ( Gue main - main dulu sama mereka ).”
'As your wish my Queen. ( Sesuai titahmu, Ratuku ).'
Fania langsung bergerak ke sisi kanannya dan sudah memposisikan diri dan motornya tepat disamping mobil Tristan.
__ADS_1
'Andrew dan John sudah menyusul, Fan!.'
“Got that Arman!. ( Iya Arman! ).”
‘Ga salah emang gue punya temen – temen macam mereka.’ Fania menyunggingkan senyum dibalik helm yang ia
pakai.
***
‘Tahan sebentar Prita. Gue tau lo bukan cewe lemah.’
DUAK!!!!.
Fania menghantam sisi kanan pintu mobil Tristan beberapa kali.
PRANG!!!!!
Fania sudah memecahkan kaca mobil dengan palu yang sudah ia selipkan di sepatu boots nya dan ia keluarkan dengan cepat agar motor yang ia kendarai tak oleng karena tangan kirinya harus melepaskan pegangan kopling motornya sebentar.
CIIIIIIT ... SRAKK ..
Fania dengan cepat mengerem motor yang ia kendarai diatas jalan yang sedikit berpasir nampaknya setelah mobil yang dipastikan ada Prita didalamnya itu kemudian oleng dan membanting setir hingga terpaksa harus berhenti.
“KAK!!.”
Prita nampak keluar dengan tergesa dari dalam mobil.
***
“SINGKIR..”
PRANG!!!!!
“ARRRRGHHH!...”
CIIIITT ....
“PRITA!.”
Tristan berteriak saat Prita dengan begitu cepat keluar dari dalam mobilnya setelah menekan tombol kunci otomatis disamping pengemudi agar pintu disampingnya terbuka, tepat disaat mobil berhenti dengan mendadak.
Tangannya mencoba meraih Prita, namun kalah cepat dengan gerakan Prita yang sudah keluar dari mobil.
***
“KAK!!.”
Prita langsung berhambur kearah Fania setelah ia berhasil keluar dari mobil Tristan. Ia sudah pasti mengenali sang kakak beserta motor sport kesayangan kakaknya itu.
“Apa lo terluka?.”
Fania bertanya dengan khawatir pada Prita. Prita menggeleng, namun mata Fania membola dibalik helmnya yang belum ia lepas, hanya baru melonggarkan ikatannya saja.
Fania memegang leher Prita dan melihat kedua lengan Prita yang memiliki sedikit ruam merah.
Berikut kaos Prita yang robek dibagian bawahnya pun tak luput dari perhatian Fania. “Gue ga apa – apa, Kak.”
“SIAPA LO?!.” Suara Tristan membuat Fania dan Prita menoleh padanya.
‘B*j*ng*n!.’ Batin Fania geram.
“Kak...” Prita berucap pelan. Jujur saja saat ini ia ketakutan. Meski Prita tahu kakaknya ini punya kemampuan bela diri yang lumayan setelah sering latihan bersama suaminya itu, namun tetap saja Prita merasa ngeri pada Tristan dan dua orangnya yang bertubuh besar ini. Fania menggeser tubuh Prita agar berdiri dibelakangnya.
‘Kak Fania???....’
“Tapi ternyata adik gue melakukan keputusan yang benar untuk ga memilih lo.”
“Wah, wah. Calon kakak ipar.”
‘Najis!.’ Fania dan Prita sama – sama mengumpat dalam hati mereka.
“Besar juga nyali Kak Fania menghadang gue sendirian!. Dan gue akui kalau kekasih gue itu punya kakak yang
hebat karena bisa segera menemukan kami dengan cepat.”
Prok Prok! Tristan bertepuk tangan.
“Tapi sayangnya Kak Fania sedikit bodoh.” Ucap Tristan.
‘Wah ngatain gue b*g*. Ciri – ciri orang mau mati cepet.’ Batin Fania. “Oh ya?.” Fania setengah terkekeh sinis.
Tristan menyunggingkan senyuman. “Kak, gue ga mau berlaku kasar sama lo, oke?. I like you so much. Jadi gue minta, lo anter Prita kesini, sekalian gue minta restu lo dan lo bisa bebas melenggang pergi tanpa tergores sedikit pun.”
“Heh? Apa lo kaa – taa?!.”
Fania terkekeh.
“Lo mau gue ngasih ade gue ke elo?. Hahaha. MIMPI LO!.”
“Kak Fania... gue ga menyakiti lo oke?. Tapi kalau rasanya elo jadi penghalang. Maaf sekali, kedua orang gue ini bisa sedikit yah bermain – main dengan kakak?.” Ancam Tristan.
Fania menarik satu bibirnya keatas.
“Oke kalo lo memaksa.”
“CIH.”
Tristan berdecih dengan memandang sinis pada Fania.
“Dia milik kalian!.”
BRUGH!
Fania menghantam keras kepala salah satu anak buah Tristan dengan helm yang sudah dalam pegangannya.
“AARGGHHH!...”
Suara pekikan kesakitan dari anak buah Tristan yang kepalanya dihantam keras oleh helm yang dipegang Fania
terdengar. Sementara yang satu coba memegangi Prita.
“EAT THAT!. ( MAKAN TUH! ).”
Fania memandang sinis dengan tatapan mengejek pada pria yang sudah roboh karena kepalanya berdarah akibat
benturan keras dari helm Fania.
“Kak!!.”
Prita berteriak karena salah satu anak buah Tristan berhasil meringkus Fania yang lengah dari belakang. Tristan berjalan mendekat pada Fania dan Prita.
__ADS_1
“Gue ga sudah bilang Kak, tapi malah lo sok jadi jagoan.” Ucap Tristan sambil menunjukkan seringainya pada Fania.
“Sebaiknya lo menjauh dari gue, kalau ga mau kepala lo itu terpisah dari badan lo.” Ucap Fania pada anak buah Tristan yang sedang meringkusnya kuat. ‘Kalo si Donald Bebek liat lo peluk gue begini, di kulitin idup – idup lo yang ada.’ Batin si Kajol.
“Hahaha!!. Kak Fania ... Kak Fania ..”
Tristan mencengkram dagu Fania. “Lo cantik Kak, tapi gue lebih tertarik sama adik lo.”
“Jangan pegang – pegang gue lo!.” Fania menggerakkan kepalanya agar tangan Tristan terlepas. “Tangan lo bisa meng - kontaminasi skin care di muka gue!.”
‘Apa sih ni kakaknya Prita?!.’ Batin Tristan. “Well, Kak, sepertinya Kak Fania harus bermain dengan lima orang anak buah gue malam ini.” Tiga orang datang dari arah belakang Fania dan Prita. Dari sebuah rumah yang nampak seperti Vila sepertinya.
“JANGAN BERANI – BERANI LO SENTUH KAKAK GUE, TRISTAN!.” Teriak Prita dengan keras. Namun Tristan tergelak.
“Berhenti sampai disini, dan gue akan meminta pada dzat yang maha kejam ..” Ucap Fania. ‘Yang sedang berjalan kesini.’ Batinnya. “Untuk pengampunan lo.” Ucap Fania dengan seringainya.
Tristan mengernyitkan dahinya sambil menatap Fania. “Apa?!.”
“Gue bilang, lo berhenti dan akan gue minta agar lo dibiarkan hidup meski harus dipenjara.”
Fania berkata dengan tersenyum.
“HAHAHAHA.” Tristan tergelak
kencang.
“Puas – puasin deh lo ketawa.”
“Hah?.” Tristan manggut – manggut sambil masih terkekeh. “Besar memang nyali Kak Fania ya, meski sebentar
lagi tubuh indah kakak akan menjadi santapan mereka...” Ucap Tristan sambil melirik pada anak buahnya lalu menatap horor pada Fania.
“Dan sebelum itu terjadi.. Lima, eh enam termasuk lo.... mungkin sudah berhenti bernafas.”
Gantian Fania yang menyeringai dengan seringai iblis pada Tristan
“....”
BUGH!
BUGH!
BUGH!
Terdengar ada tiga tubuh yang ambruk di belakang Fania, saat Tristan sedang menelaah ucapan Fania sambil tersenyum miring.
BUGH!
“ARGH!.”
Anak buah Tristan yang memegangi Fania juga ambruk. Seiring dengan munculnya sepuluh orang yang sudah berada disekitar Fania. nampak membuat lingkaran.
“Hish!.” Fania mengibas ngibas kan tangan di jaketnya seperti menghilangkan debu.
Wajah Tristan pun berubah horor memandangi Fania setelah memandangi orang – orang yang sedang berdiri mengelilinginya. Prita langsung berdiri dibelakang Fania lagi.
“Surprise!.”
Fania membuka tangannya berhadapan dengan Tristan.
“Are you okay, My Queen?. ( Apa lo baik – baik saja, Ratuku? ).”
“Kak Vla?.”
Prita mengucap pelan.
“I’m okay, Vla!. ( Gue baik – baik aja, Vla! ).”
BUGH!
“Kak Arman?.”
Lalu Prita berucap lagi. Sedikit kebingungan. Tristan kini sudah dibuat berlutut oleh Arman di hadapan Fania dan Prita.
“Apa – apaan??!!!.”
Tristan hendak berontak tapi tak jadi karena ada ujung senjata api yang sudah menempel disisi kiri kepalanya. Berikut juga lima anak buahnya yang sudah dipaksa berlutut dengan todongan senjata dimasing – masing kepala mereka.
“Kak ini...” Prita memegangi lengan Fania.
Fania menoleh dan tersenyum pada adiknya itu. “I’m Fania Andrew Smith Prita, kakak lo.” Fania menepuk nepuk tangan Prita dan memeluk bahu Prita yang kemudian terisak. “Gue gede dijalan, inget?.”
“Kaakk....”
“Ga akan gue biarkan hal yang buruk terjadi sama lo.” Ucap Fania lalu melirik pada Tristan. “Terutama ....”
“HEART!.” Suara Andrew datang dari belakang Arman dan Vladimir. “PRITA!.”
“PRITA! FANIA!.” Suara John pun juga terdengar berikut dengan sosok pria yang wanitanya tadi dalam bahaya itu.
“Poppaa..” Fania menyambut manja sang suami yang setengah berlari dengan wajah khawatir itu.
“Oh, Heart, I’m so sorry. ( Oh sayang, aku benar – benar minta maaf ).” Andrew langsung memeluk Fania. “Apa kamu terluka?!.”
“Aku ga apa – apa.”
“Syukurlah ..”
Andrew memeluk lagi Fania. Sementara John sudah menghampiri Prita.
“Prita, sayang, aku benar – benar minta maaf. Apa dia menyakiti kamu?.” Tanya John yang juga sudah memeluk Prita.
“Aku ga apa – apa Kak..” Ucap Prita yang memeluk erat John.
“Ehem! Ehem!. Aa maaf guys, adegan mesra – mesraan bisa nanti aja, gitu?. Selain tangan gue pegel memegang
ini senjata, ini orang dan kronco – kronco nya mau diapain?.” Arman menginterupsi dua pasangan yang sedang sedikit ber uwu – uwu an.
Fania, Andrew, John dan Prita spontan menoleh pada Tristan.
“You’re a dead man!. ( Lo pasti mati! ).”
Bisik Vladimir yang sudah mendekati Arman dan pria rusia itu berbisik sinis pada Tristan saat melihat tatapan Andrew dan John yang nampak seperti menyalang.
Arman pun terkekeh sinis.
“Kalau lo pintar, lo ga akan pernah coba mengusik mereka.”
**
To be continue ...
__ADS_1