THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )

THE SMITH'S ( Sekuel Of Bukan Sekedar Sahabat )
PART 176


__ADS_3

🎀  E H E  🎀


Selamat membaca.....


*************************


 


“Jangan menyerah.....” Andrea menyelesaikan nyanyian ala cute girlnya animasinopal.


“Berhenti Andreaaaa!!! .... Gue sumpahin muka lo jadi kayak si cute girl tuh idung doang yang sisa!.”


Nathan merutuki Andrea.


“Hiya .. Hiya .. Ehe.” Tapi Cute Girl eh Andrea malah makinan dan cekikikan. Bahagia aja rasanya bisa ganggu si Nathan yang dulu sering mengganggunya saat kecil.


Andrea menarik selimut Nathan dengan sekuat tenaga dari arah kaki Nathan yang terjulur dihadapannya.


“Bangun Tan – Tan!.”


“Apaan si Drea!. Keluar ga dari kamar gue!.” Seu Nathan yang membalikkan badannya dengan kesal lalu bersandar dikepala ranjang sambil menghirup nafasnya dalam – dalam karena pagi – pagi udah minum es mony. Eh udah dibikin esmosi ama si cute girl versi blasteran. Tapi si cute girl malah masih cengengesan.


“Angun... Angun... Kaka Tan – Taaaannnnn... yang mukanya kaya setann ...”


“Elo tuh yang setan!.” Seru Nathan yang super kesal karena tidurnya yang baru beberapa jam itu terganggu total akibat Andrea datang dan seperti biasa membuat rusuh dengannya.


“Bangun siii .. Adik Drea yang blaem – blaem udah datang ini .. sambut kek!.”


“Gue sambit yang ada!.” Tan – Tan menyambar dengan sewot. Andrea terkekeh geli.


“Bangun Tan – Taannn!!!. Matahari sudah dandan ituuu! ....”


Andrea mengguncang tubuh Nathan yang sudah bersandar pada sandaran ranjang, namun matanya kembali terpejam dan kepala Nathan sedikit mendongak. Memang si Tan – Tan masih ngantuk berat akibat pulang kelewat larut semalam. Andrea tak habis akal.


“BA – NGUUUUNNN!!!.”


“ASTAJIIIMMM DREAA!! Sakit kuping gue!!!.” Nathan melempar bantal yang dipangkunya ke arah Andrea karena si cewe yang kini jadi super iseng padanya itu baru saja berteriak dengan kencang dilobang telinganya.


“Astajim, Astajim! Astagfirullahal’adzim!. Dosa lo!.”


“Bodo!.”


“Bangun makanya! Kalo engga gue teriak lagi nih ya!.”


“Iya! Iya! Gue bangun! Sana keluar dulu lo ah!.”


“Ga mau! Sebelum you bangun dari itu ranjang! Ayo cepet bangun Tan – Taaaann!.”


‘Kenapalah Poppa sama Momma ijinin dia sekolah disini?? ...’


***


Mansion Utama Keluarga Adjieran Smith, London, Inggris


“Poppa ....”


“Apa?.” Tanya Andrew yang menoleh saat Andrea memanggil dan mendekatinya kala ia sedang mengobrol dengan


Mama Anye sambil bermain dengan Valera dan Rery yang sedang asik dengan pop it ditangan mereka masing - masing.


Reno juga ada didekat Andrew dan Mama Anye. Sementara Fania dan Ara terlibat pembicaraan dengan Dad dan Mom.


“By the way Little Star ( Ngomong – ngomong Little Star ), kamu sudah menghubungi Abang?.”


“Sudah Daddy.”


Andrea menyahut pada Daddy R yang barusan bertanya padanya. “What is it, Kakak Drea?. ( Ada apa Kakak Drea? ).” Tanya Andrew yang kini sudah membiasakan memanggil Andrea dengan sebutan Kakak jika para adik sedang bersama mereka. “Mau mengunjungi Abang?.”


Andrea menggeleng. “Bukan itu Poppa.” Sahut Andrea.


“Lalu, soal apa?.”


Andrea tak langsung menjawab, ia nampak sedikit ragu untuk bicara pada sang Poppa.


“Sekolah aku.”


“Kenapa dengan sekolahmu?.”


“Aku mau pindah dari St. George kelas sepuluh nanti.”


Andrew merubah posisi duduknya dan pada akhirnya para orang dewasa yang sedang bersama Andrea, kini beralih dan memandangi Andrea dengan serius. “Apa kamu di bully?.” Tanya Daddy R. Andrea menggeleng pasti. “Lalu kenapa ingin pindah?.”


“Aku bosan....” Jawab Andrea.


“Ya sudah pilihlah sekolah yang mana yang kamu mau. Di London ini kan banyak. St. Edmund ada, atau Benenden?.” Ucap Poppa mengusulkan.


“Justru itu ... aku bosan sekolah di London, Poppa ...” Sahut Andrea ragu – ragu sambil memandang sang Poppa yang kemudian langsung sedikit membulatkan matanya.


“Bosan? Sekolah di sini?.”


Andrea mengangguk.


“You can go to Le Rosey Institute then. ( Kamu bisa melanjutkan ke Institut Le Rosey kalau begitu ). Cocok untuk kamu. Kakak kan suka sport, disana ada fasilitas rugbi, berkuda, menembak, etc ( dan sebagainya ).” Usul Poppa pada Andrea.


“Aku ingin bersekolah di Luar London atau Inggris Poppa ... aku ingin melanjutkan sekolah di Jakarta.”


“Apa?!.”


Andrew sontak terkejut, begitupun para orang dewasa yang lainnya.  “Boleh ya Poppa?..”


“No!. ( Tidak! ).” Sambar Andre Reno. “Poppa dan Momma kan tinggal lebih sering disini, bagaimana kami membiarkan kamu sekolah di Jakarta sementara kami disini?.”


Andrea tertunduk lesu.


Daddy R mendekati Andrea dan mengelus punggungnya.


“Poppa benar Little Star, Poppa dan Momma kan menjalani bisnis seringnya disini, nanti kalau Little Star sekolah di Jakarta, mereka akan repot.”


“Tapi kan di Jakarta ada Papi, ada Daddy Jeff, Daddy Dewa juga ada. Ada Tan – Tan, Ene Ake juga dekat ...”


Andrea merajuk.


“Tetap saja tidak boleh!.”


“Poppa..”

__ADS_1


“Sekali tidak tetap tidak!.”


“Poppa jahat ... hiks..” Andrea melipat kedua kakinya dan menaruh wajah diatas kedua lututnya. “Poppa tega sama Drea ... katanya Poppa sayang sama Drea, mau kasih Drea dunia ini kalau Drea minta, hanya pindah sekolah saja tidak boleh ... hiks... Poppa memang mau kalau Drea sampai tertekan karena bosan? .... hiks .... hiks....”


“Ya Tuhan Miracle Andrea....” Andrew menghela nafasnya setengah berat. “Justru karena Poppa sayang sama Drea, Poppa akan sangat mengkhawatirkan Andrea kalau kamu jauh dari kami. Poppa...”


“Ya sudah kalau ga boleh... Aku ga akan minta apa – apa lagi sama Poppa .. sama Momma ... sama Daddy R ... dan yang lainnya.. hiks.. “


“Little Star ...”


“Andrea.... jangan seperti ini, tolonglah ..” Andrew rasanya lemah jika Andrea sudah menangis seperti ini. Ingat waktu Varen pergi ke Massachusetts dan Andrea menjadi murung selama beberapa waktu.


***


London, Waktu sebelum permohonan Andrea untuk bersekolah di Jakarta


“Momma.”


“Hem?...”


“Aku boleh ga pindah sekolah?.”


“Kenapa emang di sekolah yang sekarang?.”


“Ya ga apa – apa. Aku bosan.”


“Mau pindah kemana?.”


“Jakarta.”


Fania yang tadinya sedang sibuk mengecek laporan keuangan kafe dan restoran milik Keluarga Cemara yang kini sudah memiliki beberapa cabang, pada akhirnya menatap serius pada putri pertamanya itu.


“Ga salah dengar ini Momma?.”


“Engga.”


“Yakin mau pindah ke Jakarta?. Poppa dan Momma ga mungkin tinggal disana lama – lama loh! ...”


“Ya ga apa – apa, kan ada para Daddies dan Mommies yang lain disana ..”


“Memang kamu bisa jauh dari kami?. Bisa mandiri memangnya?. Ada Daddies dan Mommies yang lain bukan untuk


kamu repotkan kalau kamu pindah ke Jakarta tanpa Poppa dan Momma.”


“Aku ga akan merepotkan Momma .. kan Momma sudah tahu selama ini aku bisa mandiri kalau Poppa dan Momma


terlalu sibuk kadang – kadang.” Sahut Andrea atas cerocosan sang Momma.


“Ya kalau kamu rasa kamu bisa hidup jauh dari Poppa dan Momma sih, Momma mah terserah aja.” Ucap Fania yang membuat Andrea spontan sumringah.


“Boleh nih Mom, beneran?!.” Andrea memastikan lagi ijin sang Momma dengan matanya yang berbinar dan Fania manggut – manggut. 


“Momma sih ga masalah, tapi ngomong noh sama Poppa ..”


Andrea memonyongkan bibirnya.


“Ck.. pasti ga boleh sama Poppa.”


Wajah sumringah Andrea perlahan hilang.


“Coba aja dulu. Lagian biar suka nyebelin gitu, Poppa itu sayang banget sama kamu, Rery, Momma. Kita ini hidup dan matinya Poppa. Kalau dia melarang kamu ini itu, ya karena dia amat sangat mencintai kamu. Jangankan kamu Kak, Poppa kamu aja masih suka OP sama Momma! ...”


“Momma deh yang bilang sama Poppa ..” Bujuk Andrea dengan manja. “Ya???.”


Fania memutar bola matanya malas. “Momma ga punya alasan yang kuat lah, kalau ujug – ujug ngomong sama Poppa kamu mau sekolah di Jakarta.”


“Ujug ...? “


“Tiba – tiba.” Sambar Fania. “Kalau soal kamu dan si adik, Momma angkat tangan deh. Untuk kalian itu Poppa punya kuasa.”


“Ya tapi kan Poppa itu selalu mengikuti keinginan Momma dan sering kalah kalau argue ( berdebat ) sama Momma. Poppa itu kan .. apa tuh? ... bucin! Ya! bucin akut ke Momma.”


Fania terkekeh.


“Sok beut iye ah Juleha....”


Fania menoyor kepala anak gadisnya yang beranjak gede itu.


“Momma ih, nanti aku bodoh kalau Momma sering begitu dengan kepala aku ...”


“Ga ngaruh!. Orang bodoh itu karena ga belajar, bukan karna keseringan ditoyor! .. Mitos itu!...”


Fania mencebik pada Andrea.


“Iya, iya!. Ya udah tolong Drea bicara sama Poppa ...”


“Ngomong sendiri!.” Ucap Fania.


“Momma .... please...”


“Rayulah Poppa, inget kelemahan Poppa kamu, pake itu cara lah!.”


“Kelemahan Poppa?.”


“Ga inget juga?.”


“Engga...” Andrea menggeleng.


“Oneng emang! ...”


“Memang kelemahan Poppa apa?.”


Fania geleng – geleng.


“Poppa .. Poppa ..... memang ga sayang sama akuh .. hiks ...hiks ...” Fania berakting merajuk dan menangis. Andrea membuka mulutnya lebar dengan wajah sumringah, paham maksud sang Mommanya yang kadang gesrek itu.


“Aha! Got that!. ( Aha! Paham aku! ).”


“Ya udeh coba!.”


“Coba apa?...”


Fania berdecak beberapa kali sembari menggoyangkan kepalanya. “Coba akting nangis kamu lah! Momma mau lihat meyakinkan ape engga!.. kalo oke, nah maju sana bicara sama Poppa minta ijin sekolah di Jakarta.” Dan duo emak dan anak itupun kompak terkekeh kemudian memulai latihan nangis didepan Poppa buat si Drea minta ijin sekolah di Jakarta.


***

__ADS_1


“Totalitas doonng...” Fania gemas. “Perhatiin sekali lagi nih yang oke.” Ucap Momma gesrek kalo soal ngerjain si Poppa. Andrea manggut – manggut dengan polosnya.


“Coolll ... ( Kerennnn ) ...”


“Kal Kul Kal Kul! Coba!.”


“Hehehe ... iya, iya.”


“Cepetan..”


“Ya sudah kalau ga boleh... hiks ,,, Aku ga akan minta apa – apa lagi sama Poppa .. sama Momma ... sama Daddy R ... dan yang lainnya.. hiks.. “


“Cakeeeepp!!!!!...”


***


“Ya sudah kalau ga boleh... Aku ga akan minta apa – apa lagi sama Poppa .. sama Momma ... sama Daddy R ... dan yang lainnya.. hiks.. “


“Little Star ...”


“Andrea.... jangan seperti ini, tolonglah ..”


Poppa nampak mulai lemah karena Andrea terdengar terus terisak dan belum mengangkat wajahnya, hanya bahunya saja yang terlihat bergetar oleh Andrew dan yang lainnya.


“Drea ...”


“Abang yang katanya Sayang Drea, ga akan ninggalin Drea .... buktinya tetap pergi sekolah di luar negeri ... hiks ... sekarang..... Drea hanya ingin pindah sekolah supaya Drea ga terlalu sedih memikirkan Abang.. tapi Poppa, Daddy .... semuanya ga kasih..”


Andrea berbicara dengan diselingi isakan.


‘Maaf ya Abang .. Drea bawa – bawa Abang ...’


Anaknya si Kajol membatin.


“Ya sudah ga apa – apa... Andrea cukup tahu .. hiks...”


Andrea mengangkat wajahnya pelan sambil menyeka air matanya.


“Aku mau ke kamar dulu ...”


Andrea berdiri sambil masih menundukkan wajahnya.


“Andrea ....”


“Little Star ...”


Poppa dan Daddy R nampak mencelos.


“Kalian ga bener – bener sayang aku.. hiks...”


Andrea berbalik dan mulai melangkah untuk pergi.


“Ya sudah! Ya sudah!. Fine! ( Baiklah! ). Okay!. Fine!. Berhenti Kakak.” Andrew menyerah.


Ia menarik nafasnya dan menghembuskan setengah kasar saat ia berdiri kala Andrea hendak beranjak ke kamar dengan isakan yang masih terdengar pelan plus sesenggukan, kepala yang tertunduk dan langkahnya yang gontai. Belum lagi kata – katanya yang membuat hati si Poppa jadi tak karuan.


“Come here. ( Kemarilah ) ..” Ucap Andrew pada Andrea yang sudah menghentikan langkahnya menuju kamar, namun dia tak bergerak dari tempatnya.


Andrew mendengus lemah.


Andrew pun melangkah mendekati Andrea dan merendahkan posisi tubuhnya sambil memegang kedua lengan putrinya itu yang masih tertunduk. Reno mengikuti Andrew mendekati Andrea. Sementara sisanya masih terpaku ditempat mereka. “Lihat Poppa ...”


Andrea tidak mengangkat wajahnya.


“Sweety .. Poppa tidak mau dengar, kamu bilang kalau Poppa dan kami semua tidak benar – benar menyayangi kamu... Kamu itu hidup dan mati Poppa, sama seperti Momma dan Rery.”


Andrew mengangkat dagu Andrea dan membelai sayang kepala putri pertamanya itu, Daddy R juga sudah mengelus punggung Andrea.


“Kalau Andrea memang benar – benar ingin sekolah di Jakarta, Poppa ijinkan ..”


Andrea makin mendongakkan kepalanya. “Benar Poppa?! ...” Ucapnya dengan antusias berikut wajah Andrea yang sumringah.


Andrew mengangguk pasrah.


“Thank you Poppaaa!!! ...” Andrea langsung loncat pada sang Poppa dengan cepat hingga Andrew menggendongnya dengan setengah terkekeh. “You’re the best Poppa!. ( Poppa memang yang terbaik! ).”


Andrea bergelayut bak anak mon – mon digendongan sang Poppa dan memeluk tubuh besar itu erat – erat.


Putrinya yang sebentar lagi akan melangkah menuju ke jenjang SMA, namun tetap saja manjanya ada dan Andrew dengan senang hati memperlakukannya bak Andrea kecil.


“Tapi janji kalau kamu jangan lagi pernah mengatakan kalau Poppa tidak benar – benar menyayangi kamu, Sweety...” Ucap Andrew sambil mengelus – elus punggung Andrea yang sedang ia gendong itu.


“Iya Poppa ... Drea minta maaf ... Sayaaaannnggg Poppaaa...”


“Sayang Drea..” Ucap Poppa tulus.


Namun tak Poppa sadari, kalau air mata Andrea sudah berhenti dan anak gadisnya itu kini memandang pada sang Momma, mengangkat satu jempolnya, sembari mengedipkan satu matanya. Dan yang berada di belakang Andrew pun menyadari sikap Andrea, baru paham itu bocah barusan hanya bersandiwara.


Si Kajol anaknya.


Mama Anye, Ara, Dad dan Mom sekuat tenaga menahan tawa.


“Uhuk.... Uhuk.. Maaf permisi...Aku ke toilet dulu....” Fania bangkit dari duduknya.


“Lihat, perkataan kamu membuat Momma sedih pasti ... jangan diulangi lagi.” Ucap Andrew pelan namun nampak serius. Andrea mengangguk.


‘Momma itu pasti ga tahan mau ketawa, makanya sok ke toilet ..’


****


Saat ini


Dan disinilah Andrea sekarang berada. Jakarta. Petualangan Sherina eh si Andrea dan kroni – kroninya akan dimulai. Apa Bang Toyib, eh Bang Varen akan pulang setelah tiga tahun menimba ilmu di Amerika dan Amerini?. Bagaimana juga kisah si Tan – Tan? ...


Apakah ada banyak tawa?. Atau gerimis melanda?. Eyyaaaa.... Akankah ber - action ria?.


Entahlah ... Emak mau cari inspirasi dulu .... wkwkwk ....


Tunggu saja episode berikutnya ...


“Ehe!. Syalalalala Hiya Hiya Kotet!.”


****


To be continue..

__ADS_1


__ADS_2