
Wu Song melihat irama suling tidak membawa efek bagi Ouwyang Mo, dia menghentikan tiupan sulingnya bersiap-siap menyambut serangan Ouwyang Mo.
Wu Song melirik kearah tangannya yang mulai terasa gatal, tapi dia tidak sempat mengobatinya.
Karena Ouwyang Mo tidak memberi nya kesempatan mengambil nafas sekalipun.
Ketika tiba di dekat Wu Song bayangan tubuh Ouwyang Mo lenyap kemudian muncul di belakang Wu Song.
Dengan sepasang telapak tangan terbuka diarahkan ke punggung Wu Song, Wu Song merasakan punggungnya dalam bahaya.
Wu Song menggunakan kombinasi 72 langkah tanpa bayangan dengan 18 Tapak Penahluk Naga.
Tubuh Wu Song tiba-tiba menghilang dari hadapan Ouwyang Mo.
Muncul lagi tubuhnya seperti mendekam nempel sejajar dengan tanah.
Ini adalah jurus ke 4 dari 18 Tapak Penahluk Naga,.disusul dengan jurus ketujuh mendadak menghilang dan melesat ke atas.
Kemudian melayang turun dengan kedua cakar terarah ke Ouwyang Mo, membentuk seekor Naga Mas yang mengejar kearah Ouwyang Mo seperti seekor Naga sedang mengejar mutiara.
Ini adalah jurus ke 13 dari 18 Tapak Penahluk Naga, Ouwyang Mo terpaksa mengubah serangan menjadi tangkisan menyambut serangan Wu Song yang membentuk bayangan seekor Naga Mas.
Benturan keras terjadi Ouwyang Mo terpental keatas tanah debu beterbangan Ouwyang Mo mendekam diatas tanah dengan bunyi "KOK..KOK...KOK...!"
Dari sudut bibirnya mengalir darah, tanda pertemuan benturan tadi membuatnya mengalami luka dalam cukup serius.
Sedangkan Wu Song terpental keatas dari mulutnya menyemburkan darah segar, kemudian perlahan-lahan melayang turun keatas tanah.
Setelah menginjakan kakinya diatas tanah tubuh Wu Song gemetaran, terlihat sedikit bergoyang-goyang.
Sambil memegang dadanya yang terasa sakit dan sulit bernafas, keringat sebesar biji jagung membasahi kening dan wajahnya yang terlihat sepucat kertas.
Racun yang tadinya berkumpul ditelapak tangan kini naik sampai lengan atas, urat-urat hitam menonjol keluar dari lengan Wu Song
Wu Song cepat-cepat mengeluarkan sebutir pil Nirwana dari dalam cincinnya menelannya sambil memejamkan mata.
Tepat di saat mata Wu Song terpejam sedang berusaha menyembuhkan luka dalamnya.
Ouwyang Mo kembali terbang kearah Wu Song dalam kecepatan tinggi.
Se Se tiba-tiba melesat memunggungi Ouwyang Kok dan memeluk Wu Song dari depan dengan erat sambil berteriak,
"Wu Song ke ke awas...!"
__ADS_1
Wu Song membuka matanya tapi semua sudah terlambat, telapak Ouwyang Mo yang penuh dengan tenaga sakti beracun dari ilmu katak, tepat mendarat di punggung Se Se.
Se Se menyemburkan darah segar membasahi wajah dan dada Wu Song, pelukannya yang erat tadi kini mengendur pelan-pelan terlepas.
Tubuhnya lemas lunglai, matanya terpejam, Wu Song merangkul tubuh yang lemah dan lunglai tersebut agar tidak jatuh.
Ouwyang Mo juga terkejut ada yang menghalangi serangan terakhirnya.
Sebelum keterkejutannya berakhir.
Sebuah suling muncul, menotok beberapa kali jalan darah di dada perut dan leher nya.
Tubuh Ouwyang Mo terdorong mundur terhuyung-huyung.
Ouwyang Mo memegang dadanya yang sakit dan sulit bernafas, setelah memuntahkan beberapa teguk darah segar.
Melihat situasi tidak memungkinkan melanjutkan pertempuran lagi.
Dia segera melompat pergi dari lokasi pertempuran dengan kecepatan tinggi.
Ouwyang Mo tidak takut dengan Wu Song yang kondisinya tidak lebih baik dari dirinya.
Ouwyang Mo takut dengan Lu Ping yang terlihat bergerak mau menyerangnya, Ouwyang Mo menebak kekuatan Lu Ping tidak berada disebelah bawah Ouwyang Kok putranya.
Mengeluarkan pil Nirwana memasukkan kedalam mulutnya.
Tapi Se Se tidak bisa menelan lagi, Lu Ping yang berjongkok di sampingnya membantu meniup obat tersebut melalui mulut Se Se.
Sesaat kemudian matanya mulai terbuka tapi dia masih lemah tapi kemudian tertutup kembali, tabib Hua ikut memeriksa kondisi Se Se kemudian menggeleng kan kepalanya.
Mengeluarkan sebutir pil berwarna merah memberikan pada Wu Song dan berkata,
"Beri minum pil ini bisa memulihkan kondisi nya, tapi hanya bisa tahan 3 hari saja."
Wu Song menatap Tabib Hua dengan cemas dan bertanya,
"Apa tidak ada cara lain, untuk menyembuhkan nya?"
Tabib Hua menatap Wu Song sejenak kemudian menggelengkan kepalanya, tabib Hua tidak menjawab sebaliknya dia menggunakan pisau kecil melukai jari tangan Wu Song.
Menempelkan sebuah batu putih ke luka
Wu Song sambil menoleh kearah Lu Ping dia berkata,
__ADS_1
"Apa anda punya mangkok dan air putih? kalau ada bawakan kemari untuk ku, bila tidak ada carikan sebuah wadah isi dengan air putih segera bawa kemari."
Lu Ping mengangguk berlari kearah kereta, sesaat kemudian Lu Ping meletakkan sebuah mangkok berisi air di samping tabib Hua.
Batu putih yang ditempelkan di jari Wu Song perlahan-lahan berubah menjadi hitam.
Tabib Hua memasukkan batu kedalam mangkok, air didalam mangkok berubah jadi hitam mengeluarkan bau busuk.
Tabib Hua membuang airnya, mengambil batu putih tersebut dan kembali menempelkan pada jari Wu Song
Hal itu dilakukan berulang-ulang sampai batu tersebut berwarna merah.
Setelah di taruh di mangkok berisi air putih dan batu kembali ke warna putih setelah air dalam mangkok yang berwarna merah dibuang.
Tabib Hua baru memindahkan batu itu ke tangan Wu Song yang lainnya, hal seperti tadi kembali di lakukan secara berulang-ulang.
Kini kedua tangan Wu Song telah kembali normal, tabib Hua memberikan sebutir pil berwarna hijau kepada Wu Song sambil berkata,
"Telan lah pil ini, dia akan memulihkan kondisi mu seperti sedia kala."
"Terimakasih Pendekar Muda, anda telah menolong kami dari kejaran Ouwyang Mo."
Wu Song seperti tidak mendengarnya, setelah memasukkan pil merah ke mulut Se Se.
Wu Song terus menatap Se Se dengan cemas dan diliputi penyesalan dan sedih.
Gadis secantik dan seimut in masih begitu muda usianyai, telah mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan diri nya, Wu Song sungguh merasa bersalah pada Se Se.
Kalau gadis ini tidak ikut dengannya, karena mengharapkan balasan cinta darinya.
Tentu gadis ini masih sehat-sehat saja bersama kedua saudaranya.
Semakin pikir hati Wu Song semakin sedih menyesal dan merasa bersalah.
Wu Song tertunduk memejamkan sepasang matanya sambil memangku tubuh Se Se dalam pelukannya.
Dua butir air bening menitik dari sudut matanya jatuh ke wajah Se Se yang berada dalam pelukan nya.
Se Se perlahan-lahan membuka matanya dan tersenyum lemah ke Wu Song.
Se Se mengangkat tangannya membelai wajah Wu Song, kemudian berkata.
"Wu Song Ke ke jangan bersedih lagi, aku -tidak apa-apa tenang saja."
__ADS_1
Mendengar suara Se Se Wu Song membuka kembali matanya yang agak basah.