
Sampai dipinggir danau Wu Song sedikit terpukau oleh keindahan dan ketenangan Si Hu yang terkenal indah.
Sementara Lu Ping sedang negosiasi harga sewa perahu, Wu Song berjalan kesebuah rumah makan besar dipinggir danau.
Wu Song memesan 5 guci arak Hang Zhou ukuran sedang dan 2 kg daging b*bi bakar dan 2 kg daging sapi bumbu pedas, dan meminta mereka mengantarnya ke perahu yang disewa Lu Ping.
Lalu Wu Song berjalan kearah tukang perahu yang belum menemukan kesepakatan harga dengan Lu Ping.
Wu Song menatap Lu Ping ingin tahu hasil negosiasi penyewaan perahu.
Lu Ping menggelengkan kepalanya tanda nego harga belum berhasil.
Wu Song melihat ke tukang perahu kemudian bertanya,
"Kalau dari sekarang kami menyewa perahu mu sampai sore nanti pas matahari terbenam berapa biayanya..? kami akan membawa perahu ini sendiri tidak akan merepotkan pemilik perahu."
Tanpa berpikir lagi pemilik perahu mengulurkan 5 jarinya dan berkata,
"5 tael perak tuan."
Lu Ping menarik tangan Wu Song memberi kode tidak setuju dengan harga tersebut dengan menggelengkan kepalanya.
Wu Song melihat Lu Ping kemudian dia bertanya,
"kamu tadi nawar harga berapa..?"
Lu Ping menunjukkan dua jarinya.
"Dua tael perak." tebak Wu Song.
Lu Ping mengangguk.
Wu Song kembali menatap pemilik perahu kemudian berkata,
"3 Tael perak bagaimana..?
Pemilik perahu pura-pura berpikir dan merasa keberatan.
Wu Song memandang sikap tukang perahu dia pun berkata,
"Itu tawaran terakhirku bila kamu tidak setuju kami akan mencari perahu lain."
Wu Song memegang tangan Lu Ping kemudian hendak berjalan pergi.
"Tunggu...!!" seru pemilik perahu kemudian dia berkata,
" Baiklah kita putuskan dengan harga itu saja."
Lu Ping sangat senang dengan perubahan sikap Wu Song ketika mereka tiba dipinggir ini.
__ADS_1
Disini Wu Song terlihat lebih perduli dengan keadaan sekitarnya.
Lu Ping ingin membayar biaya sewa perahu, tapi Wu Song membayar lebih dulu.
"9Wu Song berkata,
"Ini satu tael perak, setelah kami pulang kesini dengan selamat nanti kami baru akan membayar sisanya."
Makanan dan minuman pesanan Wu Song sudah datang dan diletakkan dalam perahu.
Wu Song membayar makanan pesanannya lalu menaikkan Lu Ping keatas perahu, setelah Lu Ping duduk Wu Song baru naik dan duduk diatas perahu.
Wu Song mengibaskan tangan kanannya ke pinggiran danau, perahu langsung terdorong dan meluncur dengan cepat ketengah danau.
Pemilik perahu yang melihat hal ini hanya berdiri melongo tidak percaya.
Setelah sampai di tengah danau Wu Song mendayung perahu dengan santai dan menghirup udara segar.
Setelah beberapa saat Wu Song baru berkata,
"Ping Er terimakasih beberapa hari ini telah dengan sabar menemaniku."
"Maaf... aku beberapa hari ini telah membuat suasana perjalanan kita menjadi kurang nyaman."
Lu Ping tersenyum lembut penuh pengertian kemudian berkata,
"Aku justru akan memandang rendah dirimu, bila kamu langsung berpaling kepadaku setelah Ceng Ceng meninggal." ucap Lu Ping menambahkan.
Wu Song tersenyum kemudian menggoda Lu Ping,
"Ohh benarkah aku semakin kelihatan mengagumkan bila terus larut dalam kesedihan."
"Baiklah kalau begitu aku mau bersikap seperti kemaren lagi aja, biar kamu semakin kagum.
Kalau perlu sampai kita jadi kakek-kakek dan nenek-nenek jadi kamu bisa mengagumi ku seumur hidup." ucap Wu Song menambahkan.
Lu Ping memelototi Wu Song kemudian dia memberikan cubitan gemas di tangan Wu Song sambil berkata,
"Aku tidak mau...dasar..."
"Aduh..duh..duh.duh..!" teriak Wu Song berpura-pura kesakitan.
Lu Ping tertawa bahagia melihat tingkah Wu Song yang mulai bisa bercanda dan tidak terus larut dalam kesedihan.
Wu Song mengambil seguci arak mengisinya kedalam dua buah cawan kemudian berkata,
"Ayo kita habis kan semua arak ini, setelah itu kita lupakan segala kesedihan dan memulai hidup baru mulai esok dengan gembira."
Wu Song memberikan salah satu cawan ditangannya kepada Lu Ping, kemudian membentur kan cawan nya ke cawan Lu Ping.
__ADS_1
Lalu Wu Song menegak arak Hang Zhou yang manis dan wangi sampai habis.
Arak ini sangat cocok untuk Wu Song dan Lu Ping yang tidak biasa minum arak.
Arak ini tidak membuat tenggorokan menjadi panas seperti terbakar ketika meminumnya.
Ketika arak ini diminum hanya terasa wangi dan manis setelah masuk kedalam perut baru terasa hawa hangat menyebar keseluruh tubuh.
Pikiran pun menjadi lebih tenang dan relax, Sambil minum arak Wu Song membuka dua bungkusan daging yang dipesannya tadi.
Wu Song dan Lu Ping makan dan minum bersama sambil bercerita bercanda dan tertawa-tawa.
Sesaat kemudian Lu Ping kini pindah dan duduk sambil menyandarkan kepalanya di bahu Wu Song.
Wu Song tidak menolak mereka masih terus makan dan minum sambil menikmati danau Si Hu yang tenang dan indah.
Terkadang Wu Song terlihat menyumpit daging dan menyuapi Lu Ping, kemudian nanti bergantian Lu Ping yang menyuapi Wu Song.
Danau Si Hu selain indah juga aneh tadi pagi matahari bersinar cerah sehingga air danau berkilauan indah terkena sinar matahari pagi.
Setelah menjelang siang danau mulai berkabut cuaca menjadi mendung dan dingin.
Wu Song dan Lu Ping yang berada di tengah danau tidak menyadari perubahan cuaca ini.
Perahu mereka kini tidak kelihatan lagi dari pinggir danau karena tertutup kabut.
Lagipula Wu Song dan Lu Ping sudah setengah mabuk karena kebanyakan minum.
Kini Lu Ping malah terlihat rebahan dipangkuan Wu Song, mereka saling menyuapi tidak lagi menggunakan sumpit, tapi menggunakan tangan mereka masing-masing.
Bila dalam kondisi sadar perbuatan mereka berdua akan sangat memalukan bila dilihat orang lain.
Orang-orang pasti berpikir pasangan suami istri muda ini sedang menikmati suasana bulan madu berdua.
Untungnya perahu mereka kini tertutup kabut tidak ada yang bisa melihatnya.
Tak lama kemudian dari tengah danau terdengar suara merdu suling yang membawakan irama yang sangat memilukan.
Wu Song memainkan irama lagu yang sering disenandungkan Lu Sun ketika dia masih di lembah. Lei Le Tung Le Pu Ai Le ( Sudah tidak cinta, sudah lelah dan sudah sakit ).
Irama yang begitu sedih dan pilu itu tanpa sadar membuat beberapa tukang perahu dan pengunjung rumah makan dipinggir danau ikut menitik kan airmata.
Mereka semua larut dalam kesedihan masing-masing tanpa mereka bisa mengendalikan nya.
Suara irama pilu itu terus menggema terbawa angin memenuhi seluruh area didekat danau itu.
Beberapa perahu lain yang kebanyakan berisi pasangan muda-mudi juga larut dalam irama yang memilukan itu.
Wu Song sendiri yang meniupnya juga terlihat berurai airmata, Lu Ping menangis tersedu-sedu dalam pangkuan Wu Song.
__ADS_1