LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
GUA TERLARANG,


__ADS_3

Pria itu tersenyum dan berkata,


"Biksu tua tidak perlu sombong lagi, baru mendengar suara tawa ku saja kamu sudah gemetaran."


"Lebih baik anda menyerahkan benda itu kepada ku saja, tidak perlu menggertak ku dengan ilmu tapak Budha mu itu."


"Saat ini jangankan tapak Budha, tapak kucing sekalipun belum tentu dapat kau keluarkan."


"Mau menipu anak kecil, mimpi siang bolong kamu."


Biksu Hui Neng berusaha menenangkan dirinya agar tidak terpancing emosi nya,


kemudian dengan tenang berkata,


"San Chai...San Chai...San Chai...!!"


"Susiok Couw jangan khawatir mari kita hadapi manusia rendah ini bersama-sama." ucap biksu Wu Ming sambil melangkah keluar dari dalam gua diikuti oleh biksu Wu Sin dan Wu Se.


Pria tersebut tertawa keras,


"Ha...ha...ha...ha...hahaha...!"


"Bagus..bagus...sangat bagus...!"


"Mau main keroyokan, partai kebenaran partai yang di agung-agungkan sebagai partai no 1 dunia persilatan ternyata hanya begini saja.."


Wu Ming wajahnya berubah menjadi merah mendengar sindiran pria tersebut.


"Susiok Couw jangan terpancing dengan ucapan manusia licik ini, menjaga keselamatan dunia lebih utama."


Biksu Hui Neng mengangguk mereka berempat menyatukan kekuatan berdiri gagah.


Biksu Hui Neng paling depan di belakangnya berjejer tiga biksu tingkatan Wu menempelkan telapak tangannya di punggung dan pundak kiri-kanan biksu Hui Neng.


Maka sesaat kemudian terbentuklah sebuah lonceng emas dan 20 matahari yang mengelilingi tubuh mereka.


Pria itu sambil tersenyum berkata,


"Bagus, sekali tepuk dapat 4 lalat daripada aku harus membuang tenaga dan waktu mencari kalian satu persatu."


Pria itu melesat kedepan tubuhnya dikelilingi oleh cahaya putih, dengan posisi terbang seperti mata bor, kedua tangannya dirapatkan membentuk mudra dan diluruskan kedepan diatas Kepalanya.


Udara tajam yang dibuatnya menggores seluruh dinding gua dengan ganas, hantaman pertama menimbulkan getaran dahsyat.


Tubuh pria itu terlempar keluar dari dalam gua, tapi dia tidak menyerah mengerahkan tenaga lebih banyak .

__ADS_1


Dia kembali meluncur kedalam seperti posisi tadi, lalu kembali menabrak Lonceng emas dengan lebih dahsyat.


Sekali ini Lonceng emas mengalami retakan,


meski pria itu kembali terlempar mundur, tapi mulutnya menyunggingkan senyum sinis.


Sedangkan Ketiga biksu tingkatan Wu di belakang biksu Hui Neng dari tepi mulut mereka mengalirkan darah, wajah mereka pucat dan penuh dengan keringat sebesar-besar biji jagung.


Dari kepala mereka yang mengkilap dipenuhi butiran keringat dan mengeluarkan uap tipis.


Sementara biksu Hui Neng hanya terlihat pucat dan sedikit batuk-batuk saja.


Pria itu kembali melesat kedepan dan terjadi tabrakan dahsyat kali ini perisai lonceng emas pecah berkeping-keping


Ketiga biksu tingkatan Wu terpental jatuh terlentang merintih sambil memegang dada mereka dan menyemburkan darah segar dari mulut mereka.


Mereka berusaha bangkit duduk bersila sambil memejamkan mata mereka.


Sementara Biksu Hui Neng dari sudut bibirnya mengalirkan darah uap tipis mengepul di ubun-ubun kepala nya.


Pria itu tidak berhenti sampai di sana, dia menyerang biksu Hui Neng dengan ganas dan cepat sebentar saja tubuhnya menghilang dalam bentuk bayangan yang melesat kesana kemari.


Biksu Hui Ming berusaha menghadapinya dengan Shaolin Lo Han Cuan, dipadu dengan Shaolin Cing Kang Quan.


Adu pukulan dan tendangan terjadi dengan dahsyat, pria itu terus berkelebatan mengelilingi biksu Hui Neng dengan berbagai macam serangan tebasan cakar sampai tendangan berputar-putar dengan kepala di bawah kaki diatas.


Tapi tetap tidak dapat menembus pertahanan biksu Hui Neng yang kokoh.


Akhirnya pria itu kehilangan kesabaran dia tidak punya banyak waktu bermain-main seperti ini.


"Biksu Tua kamu hebat juga.." ucap pria itu kemudian dia kini menggunakan jurus cakar aneh yang mengeluarkan sinar putih.


Biksu Hui Neng mulai terdesak hebat dan main mundur, pada satu kesempatan pria tersebut secara tiba-tiba mengait kaki biksu Hui Neng yang sibuk menangkis sepasang cakarnya yang bergerak aneh.


Biksu Hui Neng yang tidak menyangka kakinya tiba-tiba disapu dengan keras,.dibagian belakang lututnya.


Sehingga dia terjatuh dalam posisi berlutut, dengan tanpa ampun kelima jari pria itu menembus batok kepala biksu Hui Neng kemudian menendang punggung biksu Hui Neng.


Sampai tubuhnya jatuh terjerembab kedepan dalam posisi tengkurap tidak bergerak lagi,


Dengan bagian tengkorak kepala mengalirkan darah terus menerus membasahi tanah disekitar kepalanya.


Demikianlah akhir dari hidup biksu sakti yang berusia 200 tahun lebih dan memiliki kesaktian seperti dewa.


Harus tewas mengenaskan ditangan manusia rendah dan licik itu.

__ADS_1


Sambil tertawa dingin dia melangkah mendekati ketiga biksu tingkatan Wu, yang masih memejamkan mata berusaha memulihkan kondisi tubuh mereka.


Tanpa menyadari Susiok Couw mereka yang sakti telah tewas mengenaskan ditangan pria licik itu.


Kini bahaya besar sedang mendekati mereka,


Biksu Wu Ming yang pertama kali membuka matanya sangat terkejut melihat sebuah cakar yang mengeluarkan sinar putih.


Sedang diarahkan Kepalanya dan kepala sutenya biksu Wu Sin, sedangkan biksu Wu Se mendapatkan sebuah tendangan kearah jantungnya.


Biksu Wu Ming hanya sempat berteriak


"Sute awas...!!"


Sambil mengangkat tangannya menangkis cengkraman yang tertuju ke kepala nya.


Tapi tangkisan dengan sepasang tangan di silangkan keatas tidak cukup kuat menahan serangan cakar dahsyat tersebut.


Cakar tetap meluncur deras menembus tengkorak kepala nya,. sehingga biksu Wu Ming pun langsung tewas dengan mata mendelik keatas.


Sedangkan biksu Wu Sin disaat bersamaan juga tewas oleh cakar yang menembus Kepalanya seperti biksu Wu Ming.


Bahkan dia lebih parah belum sempat menangkis maupun menghindar, sehingga dia mati dengan mata terbelalak mulut menganga tak percaya.


Biksu Wu Se seperti biksu Wu Sin tidak sempat menyadari apa-ap,a jantungnya telah pecah terkena tendangan dari pria sadis itu.


Tubuhnya membujur kaku dengan kelima panca indera mengeluarkan darah.


Pria itu dengan langkah ringan dan santai seolah-olah tidak terjadi apa-apa, dia melewati ketiga mayat didepan nya tanpa rasa bersalah maupun menyesal sedikitpun.


Dia berjalan masuk kedalam gua, di dalam gua bagian dalam dipojok kanan terlihat deretan papan nisan leluhur biksu Shaolin yang telah meninggal.


Di bagian paling atas terlihat sebuah mayat yang duduk bersila memejamkan matanya.


Dibawah batu tempat duduknya tertulis


Tat Mo Couw Su.


Di pangkuannya terdapat sebuah kitab usang, pria itu sambil tersenyum licik maju kedepan tanpa permisi maupun memberi hormat.


Dengan santai dia mengambil kitab di pangkuan mayat tersebut, melihat judulnya Ju Lai Sin Ciang ( Tapak Budha Ju Lai )


Sambil tersenyum senang dia mengantongi kitab tersebut kedalam saku bajunya.


Lalu dia beralih melihat ke bagian tengah ruangan

__ADS_1


__ADS_2