LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
KEDIAMAN JENDRAL SIE,


__ADS_3

"Ya sebentar...!" jawab Wu Song berteriak sedikit panik, Wu Song segera menutupi tubuh istrinya dengan selimut.


Dia sendiri buru-buru membenahi pakaiannya lalu berjalan pergi membuka pintu.


Lu Ping menatap punggung suaminya dengan kecewa dan bibir cemberut.


Ingin rasanya dia menerjang keluar mengunakan cakar tengkorak putih menghabisi Pelayan yang datang tidak tepat waktu itu.


Wu Song membiarkan pelayan masuk dan menata makanan, untungnya kamar VIP yang di ambil Wu Song memiliki 3 ruangan terpisah.


Ruangan utama, kamar tidur dan kamar mandi yang terletak bersebelahan dengan kamar tidur.


Kini pelayan yang sedang menata makanan ada di ruang utama.


Pelayan tersebut menata dengan cepat dan sigap, selesai menata pelayan pun permisi dan meninggalkan kamar Wu Song.


Wu Song yang sudah kehilangan seleranya, masuk ke kamar mengajak Lu Ping untuk makan.


Lu Ping tidak membantah, karena dia sendiri juga kehilangan mood, kini dia malah merasa perutnya sedikit lapar.


Selesai makan mereka berdua memutuskan keluar dari penginapan, jalan-jalan melihat keramaian di kota Xiang Yang.


Kota Xiang Yang memang sangat ramai karena letaknya yang strategis ditambah lagi memiliki 2 pelabuhan membuat kota ini selalu ramai di singgahi oleh para pedagang maupun pelancong dan petualang.


Wu Song dan Lu Ping secara kebetulan melewati sebuah bangunan yang besar dan megah.


Di sana terlihat di jaga dengan ketat oleh beberapa prajurit penjaga, Wu Song melihat papan yang di letakkan di atas pintu.


Tertulis di sana, kediaman Jendral Sie.


Wu Song jadi teringat cerita Bun Houw dulu soal ayah Yi Yi dan mereka juga pernah bentrok saat Wu Song melindungi Bun Houw yang membawa Yi Yi kabur dari rumahnya.


Inikah kediaman Yi Yi pikir Wu Song, bila Yi Yi sudah tidak bersama Bun Houw lagi ada kemungkinan dia akan kembali tinggal bersama ayahnya.


Bagaimana kerasnya jendral Sie mereka tetap adalah ayah dan anak, sebagai ayah tak mungkin dia tega melihat anaknya terlunta-lunta di luar sendirian.


Pikir Wu Song dalam hati.

__ADS_1


"Kenapa sayang kita berhenti disin?i dan kamu terus menatap kediaman yang dijaga ketat itu?" tanya Lu Ping heran sambil menatap suaminya.


Wu Song mengalihkan perhatiannya dan berkata,


"Sayang ini kediaman Jendral Sie ayah Yi Yi, kemungkinan Yi Yi ada di dalam kediaman ini sekarang."


Lu Ping menggeleng dan berkata,


"Meskipun Yi Yi tinggal di sini kita juga tidak bisa menemuinya sayang."


"Kamu lupa kamu lah yang menolong saudara mu melarikan Yi Yi, hingga nasib Yi Yi sekarang menjadi begini."


"Kamu ada andilnya dan tidak bisa melepaskan tanggung jawab mu, bila ayah Yi Yi masih mengingat kejadian dulu."


"Dia pasti menumpahkan seluruh kekecewaan dan kemarahannya kepada mu."


"Untuk menghindari masalah lebih baik kita segera pergi dari sini, agar tidak menimbulkan kesulitan yang merepotkan."


ucap Lu Ping sambil menarik tangan Wu Song meninggalkan tempat itu.


Wu Song merasa ucapan Lu Ping ada benarnya, tapi di sisi lain dia berpikir sedikit banyak dia harusnya datang meminta maaf pada ayah Yi Yi bukannya malah melarikan diri.


Tapi Wu Song terpaksa mengikuti tarikan Lu Ping, karena dia sendiri juga tidak punya alasan memaksa masuk menemui Jendral Sie.


Baru saja ingin meninggalkan tempat tersebut, terdengar bunyi kentongan tanda bahaya di pukul bertubi-tubi.


Beberapa penjaga terburu-buru berlarian ke dalam gedung.


Wu Song sekali ini tidak bisa tinggal diam, dia menahan tangan istrinya dan berkata,


"Sayang kita harus melihat ke dalam bagaimanapun jendral Sie adalah ayah Yi Yi saudara seperguruan kita."


"Kita tidak bisa berpangku tangan, bila beliau berada dalam bahaya."


Lu Ping mengangguk tak berdaya Kemudian mengikuti Wu Song masuk kedalam gedung dengan melompati tembok.


Begitu masuk kedalam halaman mereka berdua bersembunyi di balik rerimbunan pohon.

__ADS_1


Mereka melihat di depan mereka ada 20 prang bertopeng setan dengan kemampuan tinggi dibawah pimpinan seorang yang berpakaian hitam dan mukanya juga tertutup kain hitam.


Hanya terlihat rambutnya saja yang sudah putih, mereka sedang di kepung oleh pasukan penjaga kediaman Jendral Sie.


Sedangkan di tempat yang terlindung terlihat Jendral Xie berdiri gagah di sana tanpa seragam militer, ditemani oleh beberapa jendral muda dan perwira kepercayaannya.


Di sana juga terlihat Putri Nan Yang Si Ma Ling Jendral Kam pangeran Si Ma Yan, juga ada Yi Yi yang menggendong seorang anak laki-laki berusia satu tahunan, dan Nenek Yang.


Pergerakan para penyusup sangat cepat lincah dan terlatih, para pasukan penjaga meski berjumlah banyak tapi mereka tunggang langgang tidak berdaya menghadapi para penyusup itu.


Satu persatu mulai bertumbangan, bahkan Pasukan panah yang menembakkan panah dari jarak jauh kearah para penyusup.


Juga ikut bertumbangan, terkena lontaran balik panah-panah yang di tangkap oleh para penyusup dengan tangan mereka.


Melihat situasi ini para perwira dan jendral muda yang berdiri di dekat Jendral Xie menarik pedang dan golok mereka.


Mereka mulai ikut terjun membantu pasukan mereka untuk menghadapi para penyusup.


Meski para Jendral muda dan perwira turun tangan tetap saja mereka bukan lawan para penyusup.


Tidak sampai 20 gebrakan para perwira dan beberapa jendral muda juga mulai bertumbangan satu persatu.


Melihat hal ini Putri Nan Yang Si Ma Ling yang sedang berada di sana mengeluarkan cambuknya mulai ikut terjun menghadapi para penyusup.


Jendral Kam tentu tidak tinggal diam sambil memutar tongkat bermata Goloknya dia ikut menerjang kedalam arena pertempuran.


Dengan kehadiran mereka berdua nyawa beberapa perwira dan jendral muda terselamatkan.


Kepungan kini di perketat dan Pasukan pengamanan yang datang semakin banyak.


Melihat situasi ini kakek berambut putih Pimpinan para penyusup ikut terjun kedalam arena pertempuran.


Begitu terjun dia menangkap cambuk putri Nan Yang dengan tangan kiri, dan menyambut tebasan tongkat bermata golok Jendral Kam dengan tangan kanan.


Golok dan cambuk tertahan tidak bisa bergerak, sekali sentak Cambuk terlepas dari pegangan Putri Nan Yang, sedangkan Jendral Kam yang ikut tersentak kedepan akibat goloknya di sentak.


Terkena tendangan keras yang mendarat di dadanya membuat dia terlempar mundur sambil memegang dadanya dan memuntahkan beberapa teguk darah segar dari mulutnya.

__ADS_1


Melihat situasi ini Yi Yi memberikan Putranya Thian San pada Nenek Yang, lalu dia melesat kearah pimpinan penyusup berambut putih itu mencegahnya melanjutkan serangan susulan ke Putri Nan Yang dan jendral Kam.


Serangan cakar tengkorak putih Yi Yi yang mengeluarkan sinar putih, memaksa pimpinan para penyusup melompat mundur untuk menghindar.


__ADS_2