
Bun Houw setelah menghela nafas panjang sebanyak 3 kali amarahnya pun mereda.
Tiba di barak barat Bun Houw melihat keadaan barak sepi melompong.
Tidak terlihat ada tanda-tanda kehidupan sama sekali.
Apalagi yang berlatih, semua peralatan berlatih terbengkalai penuh debu.
Bun Houw menghela nafas panjang, sepertinya hari-hari nya kedepan tidak akan mudah pikirnya.
Bun Houw mengelilingi tenda barak, semua barak kosong tidak ada penghuninya.
Bun Houw berkeliling akhirnya sampai di dapur, di bagian ini ada seorang pemuda berusia 12 tahun kurus kering dengan wajah tirus.
Sedang sibuk membelah kayu bakar seorang diri, dari ayunan nya yang selalu tepat dan pas.
Dapat di simpulkan anak muda ini pasti sangat menguasai pekerjaan nya.
Pemuda itu mengangkat kepalanya menatap Bun Houw saat Bun Houw berjalan mendekatinya.
Pemuda itu kembali melanjutkan pekerjaannya tidak perduli dengan kedatangan Bun Houw.
Bun Houw berdiri di sebelah pemuda tersebut, kemudian bertanya,
"Anak muda siapa nama mu?"
Pemuda tersebut sambil bekerja tidak menoleh menjawab singkat,
"Alung..."
Berapa usia mu Alung ? tanya Bun Houw memulai percakapan.
"15 tahun.." jawab Alung singkat dan terus bekerja tanpa menoleh.
Bun Houw sedikit terkejut, kalau melihat bentuk tubuhnya pantasnya baru berusia 12 tahunan.
Ternyata Pemuda ini sudah berusia 15 tahun, kelihatannya penderitaan dan tekanan di tempat ini lah, yang membuat pertumbuhannya tidak bisa berkembang dengan wajar.
Bun Houw kembali bertanya,
"Alung berminat kah kamu mengikuti ku, menjadi pasukan kerajaan.?"
Alung tertawa dan menjawab sambil menatap Bun Houw,
"Aku cuma anak orang miskin tidak punya uang juga buta huruf, bagaimana aku bisa menjadi pasukan kerajaan? coba kamu jelaskan."
Kini Alung menghentikan pekerjaannya dan menatap Bun Houw sambil berkacak pinggang.
Meski kurus tapi otot ditubuh Alung menonjol dan terlihat kuat, ini karena Alung selalu rajin bekerja kasar.
Bun Houw hanya tersenyum menghentakkan kakinya keatas tanah sepotong kayu melayang ke udara tanpa melihatnya, Bun Houw menebaskan tangannya kearah kayu tersebut.
Kayu terbelah dua dengan sangat rapi seperti di potong oleh pisau tajam.
Kayu terbelah sebelum tersentuh tangan Bun Houw.
__ADS_1
Pemuda itu terkejut melihatnya, dia melongo seperti sedang melihat pertunjukan sulap.
"Bagaimana kamu berminat ikut denganku?" tanya Bun Houw Kembali dengan santai.
"Kalau kamu berminat ikut denganku ke bagian seragam prajurit," ucap Bun Houw sambil berlalu dari sana.
Pemuda itu segera berlari mengikuti Bun Houw dari belakang.
Bun Houw menuju barak penyimpanan seragam yang sepi tanpa pengurus dan penjaga.
Bun Houw membuka lemari mengambil sebuah seragam militer memberikan pada Alung sambil berkata,
"Gantilah dengan seragam ini, buang celana mu yang sudah lusuh itu."
"Mulai hari ini giat lah berlatih, kalau ada waktu rawat lah barak-barak dan peralatan di sini dengan baik."
"Kamu cukup masak untuk makan kamu sendiri saja, kalau ada yang protes suruh mereka temui aku di barak utama."
"Baik..." jawab Alung singkat
Bun Houw melatih fisik Alung dengan berlari sambil mengangkat beban.
Bun Houw mengawasi sambil duduk dibawah sebuah pohon rindang.
Bun Houw sendiri tidak berdiam diri, dia juga melakukan latihan olah pernafasan Im Yang Sen Kung.
Untuk meningkatkan kekuatan tenaga saktinya.
Melihat Alung terlihat tidak kuat berlari lagi, Bun Houw memanggilnya mendekat.
Sambil memberikan kantong air kulit kepada Alung Bun Houw berkata,
Alung mengangguk patuh mengikuti semua yang di ajarkan Bun Houw tanpa banyak bertanya.
Saat jam makan siang tiba para prajurit mulai berdatangan satu persatu.
Saat mendapati makan siang kosong, mereka segera menghampiri Alung yang sedang asyik berlatih tehnik pernapasan ajaran Bun Houw.
"Hei.. Alung mana makanan buat makan siang kami, kenapa kamu malah duduk bermalas-malasan di sini.?" tanya salah satu prajurit dengan marah.
Alung tidak menjawab hanya menunjuk ke arah barak utama tempat Bun Houw berada.
Para prajurit itu mengerti, sambil menendang Alung hingga terjatuh, merek segera beramai-ramai bergerak menuju barak utama.
Pergerakan diikuti oleh yang lainnya semakin lama semakin ramai, mereka semua berkumpul di depan barak sambil berteriak-teriak.
Lima dari mereka terlihat masuk kedalam barak utama.
Beberapa detik kemudian mereka terlempar keluar dari dalam barak dan merintih-rintih kesakitan.
Yang lainnya terkejut tanpa sadar mereka bergerak mundur.
Bun Houw dengan santai keluar dari dalam barak, berdiri dengan tangan di pinggang dia bertanya,
"Di mana komandan tertinggi kalian suruh dia keluar menghadap ku."
__ADS_1
Dari bagian paling belakang berjalan keluar 5 orang pria berseragam komandan pasukan, mereka berteriak sambil menunjuk Bun Houw,
"Bocah siapa kamu? berani menghentikan juru masak, agar tidak menyiapkan makan siang buat kami."
Bun Houw sambil tersenyum dingin bertanya,
"Jadi kalian berlima ini yang paling berkuasa ditempat ini.?"
Mereka berlima tertawa terbahak bahak kemudian salah satu menjawab,
"Ku beritahu pada mu sebelumnya, ada beberapa perwira yang di tugaskan kemari semua nya telah dikubur di belakang sana."
"Kelihatannya hari ini kamu akan segera pergi menemui mereka." ucapnya sambil tertawa-tawa dan kemudian mencabut goloknya.
Di ikuti ke 4 rekannya yang tersenyum sinis.
Tapi sebelum mereka sempat bergerak Bun Houw mengibaskan tangannya kearah leher ke lima orang itu.
Seketika suara tawa terhenti, 5 buah kepala menggelinding di atas tanah dengan mata melotot tak percaya.
Bun Houw tersenyum dingin menatap kerumunan kemudian bertanya,
"Mana petugas bagian hukum?"
Seorang pria muda maju dengan takut-takut kepala tertunduk tubuhnya gemetar.
Melihat orang tersebut Bun Houw kembali bertanya,
"Apa hukumannya bagi yang berani melawan atasan?"
Dengan gugup orang tersebut menjawab,
"Mati..."
Bagus ternyata otak mu masih berfungsi dengan baik, segera cari orang bereskan mayat ini. ucap Bun Houw dingin.
"Kalian semua dengar, ingin makan siang boleh.
Jalankan latihan kalian, karena tadi pagi tidak berlatih siang ini menjadi dobel."
"Angkat beban di sana berlatihlah 20 putaran, yang berhasil boleh makan."
"Yang tidak dan tidak sanggup silahkan makan angin."
"Yang berani curang akan bernasib seperti mereka," ucap Bun Houw sambil menunjuk mayat ke 5 komandan tadi.
Bun Houw memanggil Alung agar mengawasi mereka, dia sendiri berjalan menuju dapur menyiapkan makan siang untuk pasukannya.
Sejam kemudian Bun Houw membawa dua tong besar berisi bakpao yang dia buat.
Wangi aroma BakPao menyebar kemana-mana membuat para prajurit yang kelaparan menelan ludah.
Tapi mereka hanya menatap dari jauh tidak berani mendekat.
Bun Houw melambaikan tangannya kearah Alung dan memanggil,
__ADS_1
"Alung kemarilah...!!"
"Bagikan BakPau ini kepada prajurit yang telah berhasil menyelesaikan lari 20 putaran keliling lapangan."