
Tiba-tiba terdengar bunyi petir di langit yang sangat keras lalu hujan deras pun turun, sebuah payung muncul meneduhi Yi Yi dari hujan deras.
Saat Yi Yi menoleh yang memayunginya dari hujan deras adalah Nenek Yang.
Nenek Yang tersenyum lembut dan berkata,
"Ayo kita pulang, meski seluruh dunia meninggalkan mu, aku tidak akan pernah meninggalkan mu dan membiarkan mu kedinginan seorang diri."
Yi Yi memeluk Nenek Yang dan melepaskan semua kesedihannya yang dia tahan-tahan dari tadi.
Bagaikan bendungan yang jebol Yi Yi menangis tersedu-sedu entah berapa lama Yi Yi menangis di bawah guyuran hujan lebat.
Baju Nenek Yang basah kuyup terkena hujan, karena payung yang tidak terlalu besar itu sepenuhnya dia gunakan untuk memayungi Yi Yi.
Nenek Yang tidak perduli dengan pakaian dan rambutnya yang basah kuyup dia hanya fokus menghibur Yi Yi sebisanya dengan tetap merangkul Yi Yi sambil membelai kepala Yi Yi dengan penuh kasih sayang.
Setelah hujan mulai reda dan tangisan Yi Yi pun mulai mereda, nenek Yang melepaskan pelukannya danmemberikan sebuah sapu tangan kepada Yi Yi dia berkata,
"Hapus lah semua air mata dan hidung mu yang basah seperti kamu menghapus perasaan mu pada pria yang tidak pantas menerima cinta mu."
Yi Yi menerima sapu tangan dari Nenek Yang menghapus airmata dan ingusnya, kemudian mengembalikannya pada Nenek Yang dan berkata,
"Tidak semudah itu nek, ada begitu banyak kenangan diantara kami. Tidak bisa bilang hapus langsung terhapus."
"Dalam hidupku bahkan seumur hidup ada beberapa hal yang meski aku ingin juga selama nya tidak bisa menghapusnya."
"Contohnya anak dalam kandungan ku ini." ucap Ying Ying tertunduk sedih.
Nenek Yang membelai rambut Ying Ying dan berkata,
"Kalau tidak bisa dihapus simpan saja di hati mu yang terdalam, tidak mudah bukan berarti tidak bisa. Biarkan waktu yang mengobati lukamu."
"Belajar merelakan dan melepaskan kepergian nya mungkin itu jauh lebih mudah untuk mu daripada berusaha melupakannya."
Yi Yi mengangguk dan berkata,
"Ayo kita pulang nek, lihat baju nenek jadi basah karena saya."
Nenek Yang tersenyum dan berkata,
"Tidak apa-apa cuma basah karena air saja, bentar juga kering."
__ADS_1
Di dalam hati Nenek Yang berkata,
"Apalah artinya sedikit basah karena air ini, bahkan bila basah oleh darah sekalipun, aku tidak akan mundur dalam melindungi mu, dasar gadis bodoh."
Bun Houw sendiri 3 hari setelah menikah, dia langsung berangkat ke Shouchun menjalankan misi dari Si Ma Ong melatih ratusan ribu pasukan rahasia yang dia tempatkan di wilayah itu.
Si Ma Yen tidak bisa ikut meski ingin, sebagai putri kerajaan dia tidak bisa bergerak bebas seperti orang biasa walau sudah menikah sekalipun.
Hari hari terus berlalu dengan cepat, Tak terasa usia kandungan Yi Yi sudah memasuki bulan ke 9.
Malam itu di pondok di atas bukit terjadi kesibukan, terdengar suara jeritan kesakitan dari dalam pondok.
Yi Yi terlihat tidur dengan sepasang kaki terbuka dengan nafas tersengal-sengal keringat membasahi wajahnya yang sedang menahan rasa sakit.
Nenek Yang yang seluruh badannya basah kuyup duduk disamping Yi Yi sambil menggenggam tangan Yi Yi .
Memberikan semangat dan ketenangan buat Yi Yi, yang terlihat sedikit kesulitan dalam melahirkan anak pertamanya ini.
Seorang nenek lain yang merupakan dukun beranak di desa yang di panggil oleh Nenek Yang ke pondok mereka untuk membantu Yi Yi.
Terlihat sibuk bersama dua orang asistennya yang bolak-balik membawa air hangat dan handuk yang basah oleh darah Yi Yi.
Setelah melalui perjuangan keras, akhirnya Yi Yi dapat melahirkan anak nya dengan selamat.
Nenek Yang membayar Nenek dukun beranak sambil mengucapkan terimakasih banyak.
Setelah berbasa-basi sejenak dan memberikan pesan-pesan cara merawat ibu dan bayinya, dukun beranak dan kedua asistennya pun pergi
Bayi yang tadinya menangis keras, berada dalam gendongan Nenek Yang menjadi diam kemudian tertidur pulas.
Setelah bayi sudah tenang dan kondisi Yi Yi sudah mulai membaik, Nenek Yang dengan hati-hati meletakkan bayi tersebut di sebelah Yi Yi .
Agar Yi Yi bisa melihat dengan jelas anak yang dia lahirkan dengan susah payah dan taruhan nyawa itu.
Yi Yi tersenyum bahagia melihat bayinya, Kemudian mengangkat kepalanya menatap Nenek Yang dan berkata,
"Terimakasih banyak nek, bila tidak ada nenek entah bagaimana nasib ku dan anak ini."
Nenek Yang tersenyum lembut dan membelai kepala Ying Ying sambil berkata,
"Tidak perlu, bisa melihat mu dan bayi mu selamat itu adalah hadiah terbesar dalam hidupku."
__ADS_1
Yi Yi menyentuh tangan nenek Yang dengan lembut, hatinya sangat terharu oleh kasih sayang Nenek Yang kepadanya.
Yi Yi sangat bersyukur bisa bertemu dan hidup bersama Nenek Yang, yang sangat perduli dan menyayanginya dengan setulus hati.
Yi Yi teringat saat dia mules pertama tadi, Nenek Yang dengan panik berlari menerobos hujan lebat pergi mencari dukun beranak untuknya.
Sampai sekarang pun Nenek Yang hanya sibuk mengurusnya, dari basah kuyup sampai kini seluruh pakaiannya telah kering Nenek Yang tidak pernah sekalipun meninggalkan dirinya.
Yi Yi sudah tidak tahu lagi bagaimana dia akan bisa membalas Budi kebaikan Nenek Yang padanya.
Yi Yi menatap Nenek Yang dengan haru, berkata.
"Nek tolong bantu aku beri nama pada anak ini."
Nenek Yang termenung berpikir cukup lama dan berkata,
"Bagaimana bila di beri nama Xie Thian San, agar hati anak ini seluas langit jiwanya se kokoh gunung."
Yi Yi mengangguk dengan semangat dan berkata,
"Nama yang sangat bagus, makasih nek.
Nenek Yang mengangguk sambil tersenyum berkata,
"Kamu pasti lelah istirahatlah, aku pergi siapkan makanan bergizi untuk mu."
Di bawah perawatan nenek Yang, yang telaten.
Tubuh dan kesehatan Yi Yi pulih dengan cepat begitu juga dengan Thian San dia tumbuh dengan sehat.
Sudah lama kita meninggalkan Lu Fan yang mengalami patah hati.
Mari kita ikuti perjalanan hidup Lu Fan,
Lu Fan hampir tidak pernah meninggalkan Puncak tebing tinggi, di mana Pohon Bodhi tumbuh.
Hari-hari dia lewatkan dengan berlatih dan berlatih, bila sore hari tiba, dia akan duduk termenung menatap langit penuh kesepian.
Setiap terbayang wajah Lin Lin yang muncul diantara kumpulan awan di langit, menatap kearahnya sambil tersenyum, tanpa sadar Lu Fan akan tersenyum sendiri.
Saat matahari hampir tenggelam, Lu Fan selalu tersadar bahwa Lin Lin tidak menyukainya.
__ADS_1
Perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan.