
Wu Song mempertajam penglihatannya, untuk memastikan siapa saja yang sedang terbang menuju kota Wan.
Yang pertama Wu Song mengenalinya sebagai pendeta berambut riap-riapan yang pernah muncul di rumah Jendral Sie.
Orang kedua Wu Song tidak mengenalnya, tapi dari pergerakan nya Wu Song yakin kemampuannya pasti tidak rendah, dia menggandeng tangan seorang pemuda tampan yang tidak bisa silat.
Orang keempat adalah seorang pemuda gagah, terkadang tertawa, terkadang menangis.
Bila di lihat gayanya sepertinya pemuda itu mengalami gangguan jiwa, tapi pergerakan nya menunjukkan kemampuannya sangat tidak biasa.
Orang kelima Wu Song mengenalinya sebagai Zhou Wei si dewa pedang.
Yang kini terlihat lemah, kehilangan kemampuan setelah tempo hari bertarung dengan Lu Fan.
Zhou Wei terbang di gandeng oleh pemuda kurang waras itu.
Orang ke 6 adalah seorang kakek tua berjenggot putih, usia nya sulit ditebak, dari pakaian yang dikenakan olehnya, Wu Song menebak dia bukan orang China daratan.
Orang ini kemungkinan berasal dari daerah timur jauh yang terkenal sebagai negeri Tai Yang ( negeri matahari terbit)
Orang ketujuh adalah seorang pemuda tampan, bertubuh tinggi besar dan kekar mirip-mirip Lu Fan, hanya saja rambut dan alisnya berwarna kuning.
Sedangkan sepasang bola mata nya, berwarna biru laut.
Dia memakai pakaian bulu binatang yang tebal, kelihatannya adalah orang dari Utara di luar tembok besar.
Di mana sepanjang mata memandang daerah tersebut kebanyakan adalah hamparan daratan yang selalu tertutup salju.
Orang ke tujuh kelihatannya tidak menguasai ilmu terbang, dia terbang di gandeng oleh orang ke 6 kakek dari negeri Tai Yang.
Setelah melakukan penafsiran, Wu Song yang tidak ingin pertarungan nya nanti merusak atau mengganggu penduduk dan area sekitar kota Wan.
Wu Song pun melesat terbang pergi menyambut kedatangan mereka bertujuh.
Di sebuah hamparan tanah luas, yang pinggiran nya tumbuh beberapa pohon tua yang terlihat kering kerontang.
Wu Song melayang di atas tanah menunggu kedatangan mereka bertujuh dengan seruling di tangan.
Untuk menguji kekuatan musuhnya Wu Song menempelkan suling hitam di bibirnya, dan mulai meniup sulingnya.
Yang pertama kali mengalami siksaan irama suling adalah Yi Han disusul oleh Zhou Wei.
Tapi hal itu hanya sesaat, karena masing-masing dibantu oleh orang menggandeng tangan mereka.
Sehingga pengaruh suara itupun hilang.
__ADS_1
Fu San yang sangat menyayangi anaknya Dia sangat marah dengan suara suling Wu Song yang menyerang anaknya.
Dengan Chi miliknya dia mulai tertawa, awalnya suara tertawa nya pelan, semakin lama semakin kuat menekan suara irama suling Wu Song.
Suara tawa itu hanya fokus menekan suara suling Wu Song, tapi tidak berpengaruh dengan orang-orang di sekitarnya.
Orang-orang di sekitarnya kini bisa merasa lega, karena irama suling Wu Song yang menekan jantung mereka, kini sirna.
Wu Song kaget dengan suara tawa yang kini mulai menekan pendengaran dan jantungnya.
Wu Song terus menambah kekuatan, bahkan mulai mengerahkan kekuatan kekekalan Semesta.
Tapi suara itu kekuatan nya seperti tidak terbatas, dia bisa terus mengimbangi dan menekan Kekuatan Wu Song.
Sejak keluar dari neraka perut bumi, ini adalah kali kedua Wu Song berhadapan dengan musuh yang memiliki kekuatan tak berbatas.
Yang pertama adalah pria misterius di negri See Thian, yang kedua adalah musuhnya saat ini.
Wu Song mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menekan balik suara tertawa yang mulai menyerang nadi dan syaraf ditubuhnya.
Fu San sangat terkejut mendapatkan tekanan balik dari suara seruling Wu Song.
Alisnya sedikit berkerut dahinya dipenuhi keringat, Yi Han sangat cemas melihat kondisi ayah angkatnya.
"Ayah musuh terlalu kuat, kita mundur saja dulu melihat situasi."
"Jangan memaksakan diri ayah."
Yi Han tidak tahu, bila ayah angkatnya, menarik mundur tenaganya sekarang, malah akan mempercepat kematian nya.
Saat ini cuma ada dua pilihan mengalahkan Wu Song atau di kalahkan Wu Song.
Fu San tersenyum dan berkata, kepada Yi Han.
"Anak baik, jangan khawatir ayah baik-baik saja."
"Dengarkan ayah mundur jauh-jauh dari tempat ini, semakin jauh semakin baik..!"
Yi Han menggelengkan kepalanya, airmata mulai jatuh membasahi pipinya.
Dia baru saja menemukan kasih sayang orang tua lewat Fu San, apa sekarang sudah harus berakhir.?
Fu San melirik kearah Yi Han dan kembali berkata,
"Lang er, kamu tidak mau menjadi anak durhaka kan ? cepat dengarkan ayah tinggalkan tempat ini, jangan bandel..!"
__ADS_1
Yi Han menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat tiga kali, kemudian sambil menghapus airmata nya.
Dia berlari meninggalkan tempat tersebut.
Kini Fu San bisa lebih fokus dan tidak perlu mengkhawatirkan, Yi Han lagi.
Zhou Wei yang merasa dirinya tidak akan kuat menahan tekanan suara suling yang Wu Song mainkan.
Dia pun melarikan diri meninggalkan lokasi tersebut mengikuti Yi Han sambil memberi pesan pada Zhou Ba,
"Ba er kamu harus mengalahkannya, bila berhasil ayah akan belikan permen yang banyak buat mu.."
"Anak baik ayah menunggu mu di belakang sana, bersenang-senang lah dengan nya.."
Zhou Ba mengangguk kecil, tidak membantah.
Koai Lau Jen menempelkan tangannya di punggung Fu San, memberikan tenaga bantuan.
Tambahan tenaga ini membuat Fu San yang tadinya terdesak oleh tekanan Wu Song kini bisa kembali bangkit mengimbangi Wu Song.
Wu Song mengempos semangatnya, mengerahkan kekuatan Kekekalan Semesta sampai tingkat maximal yang dia kuasai.
Suara irama sulingnya perlahan-lahan kembali mendesak suara tertawa Fu San.
Kini orang Tai Yang, yang berjuluk dewa gunung Fuji, muncul di belakang Fu San, memberikan tenaga bantuan untuk mendorong mundur irama suling Wu Song.
Tiga kekuatan yang luar biasa ini, bergabung menjadi satu perlahan-lahan berhasil mendorong balik, dan menekan suara irama suling Wu Song.
Di saat bersamaan si raja tinju bintang Utara, Melesatkan dua pukulan jarak jauh kearah Wu Song.
Dari sepasang tinjunya, muncul Dua buah cahaya kuning terang berbentuk dua kepalan tinju.
Melesat secepat kilat tertuju pada Wu Song.
Wu Song yang sedang terdesak hebat, di dalam hati sangat terkejut dengan serangan yang di lancarkan oleh si raja tinju itu.
Wu Song yang berada di dalam keadaan terjepit, melihat tidak ada cara lain lagi selain segera mencabut pedang naga siluman nya.
Wu Song mengeluarkan sebatang pedang dari dalam cincinnya.
Kemudian menancapkan pedang yang masih berada dalam sarung pedang di atas tanah, baru mencabut keluar pedang yang memancarkan aura mengerikan tersebut.
Wu Song menggunakan tangan kirinya bermain suling, lalu tangan kanannya menebaskan jurus pertama Naga Semesta menggetarkan Bumi.
Menyambut sepasang tinju yang tertuju kearah nya
__ADS_1