
Lu Sun tersenyum menatap istrinya dan berkata,
"Biarkan saja sayang, dia sudah besar sebentar lagi juga akan jadi ayah."
"Kelak dia juga akan mencicipi kesopanan dari anaknya sendiri."
"Ayo kita mulai makan.. jangan sungkan-sungkan..!"
ucap Lu Sun sambil mengawali dengan mengambil nasi dari baskom yang ada di depan nya.
Yang lain pun sambil tersenyum mulai mengambil lauk dan mulai makan.
Lu Sun sambil makan dengan lahap berkata,
"Song er , masakan mu semakin enak dan sempurna, kamu sering berlatih masak ya ? sepanjang perjalanan kali ini."
Lu Ping memotong jawaban Wu Song dan berkata dengan bibir cemberut,
"Tentu saja, ayah tidak tahu selama dia di negeri Thian Tok sana, dia tiap hari bekerja sebagai juru masak untuk putri kerajaan Thian Tok."
"Dan putri itu hampir saja ikut dia kemari."
"Siapa itu namanya sayang kalau gak salah namanya U..U..apa gitu ?"
Wu Song batuk-batuk kecil, Se Se dengan lembut menepuk-nepuk punggung Wu Song dan berkata,
"Aku kurang percaya kalau Kakak Song cuma masak buat putri Thian Tok saja."
"Karena aku tahu persis Song ke ke selalu masak untuk kakak Ping duluan setiap kali turun tangan masak, seperti waktu kita di lembah obat dulu."
Wu Song mengangguk-angguk senang mendapatkan pembelaan dari Se Se, Wu Song tersenyum lembut menatap Se Se.
Lu Ping melirik Se Se kemudian berkata,
"Oh gitu, dulu sebelum diterima selalu membela ku dan mendekati ku, sekarang sudah diterima langsung berbalik membelanya."
Se Se terlihat panik, dia cepat-cepat menjelaskan dengan gugup.
"Eh jangan salah paham kak, bukan gitu... aku...aku... hanya..."
Melihat hal ini, Lu Ping semakin sengaja ingin mempermainkan Se Se, dia menambahkan.
"Kelihatannya aku harus cari sekutu baru, bagaimana adik Ling kamu mau kan jadi sekutu baru ku ?"
"Biar kamu nanti jadi yang pertama deh, biar aku jadi yang kedua gimana ?"
Wajah Shi Ma Ling langsung merah seperti kepiting rebus, tentu saja dia mau.
__ADS_1
Dan dia mau sekali malah, biar jadi ketiga atau keberapapun bukan masalah, asal bisa selalu berada di sisi pria yang sangat dia kagumi itu.
Shi Ma Ling tidak berani menjawab ya, ataupun tidak, dia hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam tidak berani menatap Wu Song yang duduk di dekatnya.
Jantungnya berdebar-debar dengan sangat kencang seperti mau copot dari tempatnya.
Melihat suasana jadi kacau, Wu Song terlihat canggung dan tidak bisa berkata-kata lagi.
Siau Ching yang merasa kasihan akhirnya kembali angkat bicara,
"Ping er sudah jangan menggoda suami mu lagi kasihan dia, kalian tumbuh besar bersama, mengenai perasaan Wu Song, kamu jelas lebih tahu dari siapapun."
Lu Ping sambil tertawa berkata,
"Maaf Song ke ke aku cuma bercanda jangan di ambil serius."
"Se Se dan adik Ling maaf ya."
ucap Lu Ping sambil tersenyum.
Se Se dan Shi Ma Ling kompak menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak apa-apa kami ngerti.."
Kini Xue Yen yang jarang bicara akhirnya angkat suara,
"Yang perlu kita khawatirkan bukan Wu Song kakak Ching, lebih baik kita khawatirkan tua Bangka disebelah kita ini."
Lu Sun yang sedang asyik makan langsung tersedak dan batuk-batuk mendengar ucapan Xue Yen.
Siau Ching yang kasihan dengan suaminya segera memberikan minum sambil mengurut-urut dengan lembut punggung suaminya.
Semua pun akhirnya larut dalam canda tawa sambil makan.
Wu Song terlihat paling sibuk, dia selain mengambilkan lauk untuk Lu Ping dan Se Se, dia juga mengambilkan berbagai lauk untuk Shi Ma Ling yang ikut makan di acara kumpul-kumpul ini dengan agak sungkan.
Tapi Shi Ma Ling sangat menikmati suasana kekeluargaan yang bebas dan tidak ada peraturan dan tekanan.
Berbeda jauh dengan suasana kumpul keluarga di rumahnya.
Berpikir sampai disitu tanpa terasa air mata menetes dari sepasang matanya yang indah.
Karena dia tiba-tiba jadi teringat dengan ayah dan saudara-saudara nya, entah bagaimana nasib mereka sekarang.
Dia juga teringat dengan Shi Ma Yen putri Gao Liu yang menikah dengan Bun Houw entah bagaimana nasib nya kini .
Wu Song yang kebetulan duduk di dekatnya menyadari hal ini.
__ADS_1
Wu Song menghentikan makannya dan berkata,
"Adik Ling... kamu kenapa ? ada masalah apa ? coba kamu ceritakan siapa tahu kita bisa bantu."
Lu Fan dan Lu Sun juga menghentikan makan mereka ikut memperhatikan Shi Ma Ling.
Begitu juga Se Se, Lu Ping, Siau Ching, Xue Yen dan Lin Lin, kini semua orang menatap ke Shi Ma Ling dengan penuh rasa ingin tahu.
"Maaf aku merusak suasana bahagia kalian semuanya..."
ucap Shi Ma Ling yang merasa tidak enak.
Lu Sun sebagai kepala keluarga ikut bicara dan berkata,
"Tidak apa-apa, ceritakan saja Ling er tidak perlu sungkan-sungkan."
Shi Ma Ling dengan perlahan-lahan menceritakan, mulai dari kudeta Shi Ma Ong, keluarganya di tahan di Chang An.
Juga rencana Shi Ma Ong yang mungkin tidak lama lagi akan menyerang Luo Yang, sekarang pun sedang menyerang Pu Yang.
Shi Ma Ling juga menceritakan Shi Ma Ong selain banyak di bantu oleh orang sakti juga di bantu oleh pasukan Rajawali Merah yang sangat kuat bentukan Bun Houw.
Selain itu Shi Ma Ong juga mendapatkan bantuan dari kerajaan Liau sekutunya, dan Bun Houw mendapatkan bantuan dari kerajaan Goguryeo.
Shi Ma Ling juga menceritakan kekhawatirannya akan nasib adiknya Shi Ma Yen yang kini menjadi istri Bun Houw.
Mereka sudah lama kehilangan kontak, sejak Shi Ma Ong melakukan kudeta.
Mendengar Bun Houw menikahi Shi Ma Yen, sepasang alis Lu Fan yang tebal berkerut.
Matanya menyorotkan api yang berkilat.
Wu Song dapat menangkap hal ini, dia mengerti karena Lu Fan paling dekat dengan Yi Yi.
Lu Fan dengan suara serius bertanya,
"Bun Houw menikahi Shi Ma Yen, lalu bagaimana dengan nasib Yi Yi ?"
Shi Ma Ling tidak menyadari perubahan Lu Fan, dengan polos dia bertanya,
"Apakah yang dimaksud adik Fan, gadis cantik putri Jendral Sie Jin Kui.?"
Lu Fan mengangguk dan menatap Shi Ma Ling dengan penasaran.
Shi Ma Ling pun menceritakan pertemuannya dengan Yi Yi di kediaman Jendral Sie, di mana saat ini Yi Yi tinggal bersama ayahnya.
Yi Yi juga bersama seorang anak kecil bernama Thian San dan seorang pembantu yang di panggil nenek Yang.
__ADS_1
Mendengar hal ini sepasang mata Lu Fan berkilat penuh kemarahan.