
Seperti yang dikatakan banyak orang Jiang Nan adalah pusat wanita cantik rumor itu tidak palsu.
Begitu Wu Song dan Lu Ping memasuki gerbang kota, mereka telah bertemu puluhan gadis cantik berpakaian indah.
Berlalu lalang ada yang jalan ber3 ada yang ber2 ada juga yang ber4.
Setiap berpapasan dengan Wu Song, rata-rata mereka menolehkan kepalanya menatap Wu Song tanpa berkedip.
Karena wajah Wu Song yang sebagian besar mewarisi wajah ibunya Dian Sin Lan sehingga membuatnya terlihat sangat tampan.
Bahkan cenderung cantik dan halus kulit wajahnya, berbeda dengan Lu Sun dan Lu Fan yang mewarisi wajah ayah dan kakeknya Lu Bu yang perkasa dan cenderung menyeramkan bagi lawannya.
Banyak diantara gadis itu yang sehabis melihat Wu Song, mereka akan menutupi wajahnya dengan sapu tangan dan berbisik-bisik sambil tertawa-tawa.
Ada juga yang melemparkan sapu tangannya buat Wu Song.
Ada juga yang terlalu asik melihat Wu Song sampai terjatuh atau menabrak sesuatu.
Tapi semua ini bagi Wu Song seperti angin lalu, tidak membuatnya bergeming sama sekali.
Seakan-akan di dunia ini yang terlihat di matanya hanya Lu Ping,.
Terkadang kalau melihat gadis yang sangat cantik, Lu Ping sengaja menarik tangan Wu Song.
Meminta Wu Song melihat kearah gadis cantik itu.
Tapi Wu Song hanya melirik sekilas dan responnya sangat datar.
Di mata dan hati Wu Song memang seperti itu, bahkan dulu Ceng Ceng bukan karena memiliki wajah mirip Lu Ping.
Wu Song tidak bakalan tergerak, untuk berdekatan dan akhirnya menikahinya.
Bagi Wu Song seorang Lu Ping saja cukup mewakili semua gadis cantik yang ada di dunia ini.
Wu Song selalu memegang tangan Lu Ping dengan erat, kemanapun dia melangkah.
Lu Ping yang tertarik dengan berbagai pernak-pernik yang di jual disepanjang jalan.
Selalu singgah memilih-milih bila cocok Wu Song akan membayar.
Setelah itu Wu Song akan ikut pindah ke stand lain dimana Lu Ping sedang melihat-lihat.
Setelah hari sudah agak siang Wu Song baru berbisik di telinga istrinya,
"Sayang hari sudah mulai siang, aku sedikit lapar.
Bagaimana bila kita cari tempat makan dan penginapanl dulu.?"
Lu Ping seperti baru tersadar, sambil tersenyum mesra, yang akan selalu membuat Wu Song mematung dan jantungnya berdebar-debar.
Lu Ping membelai wajah Wu Song sambil berkata,
"Maaf ya, aku terlalu asyik sendiri.
__ADS_1
Sampai melupakan mu, baiklah ayo kita cari tempat makan dan penginapan sekarang."
Wu Song dan Lu Ping menemukan sebuah rumah makan besar yang terdiri dari 3 lantai.
Karena bau masakan dari restoran tersebut sangat wangi, Wu Song pun mengajak Lu Ping memasukinya.
Mereka mencari sebuah meja kosong di lantai dua karena lantai 1 telah penuh semua bangku dan meja telah diisi orang.
Di lantai dua tidak seramai lantai satu, lWu Song mengedarkan pandangannya dan dia menemukan sebuah tempat yang membelakangi tembok.
Tempat itu cukup nyaman menurut Wu Song, maka dia menggandeng tangan Lu Ping menuju tempat tersebut.
Begitu mereka duduk, seorang pelayan dengan sigap menghampiri mereka berdua dan bertanya,
"Maaf mengganggu tuan, tuan dan nyonya ingin pesan apa.?"
Wu Song pun bertanya
"Kepiting ada? udang?"
Ada, semua ada tuan ingin dimasak dengan bumbu apa? mau dibakar juga bisa." jawab Pelayan tersebut cepat.
Wu Song melihat kearah Lu Ping dan bertanya,
"Pengen di masak apa sayang? "
Lu Ping sambil tersenyum berkata,
Lu Sun mengangkat kepalanya melihat kearah Pelayan tersebut yang dengan sabar menunggu.
"Datang kan dua porsi kepiting Shi Cuan harus besar ya, kepitingnya kalau kecil saya tidak mau." ucap Wu Song mengingatkan.
"Udang juga sama harus besar, berikan satu porsi masak saos pedas."
"Semangkok Sup usus bab* dan bakso ikan campur baso sapi."
"Seekor bebek panggang, dan seporsi mie goreng."
Melihat Wu Song diam, pelayan itu bertanya untuk memastikan,
"Ada yang lain tuan?"
"Sudah itu saja," ucap Wu Song.
Pelayan tersebut setelah membacakan pesanan Wu Song dia langsung meninggalkan meja Wu Song dan Lu Ping. pergi menyiapkan pesanan mereka berdua.
Lu Ping mengambil sumpit dan sendok SOP mangkuk mengelapnya kemudian menaruhnya di depan Wu Song sambil bertanya,
"Kenapa yang kamu pesan semuanya masakan kesukaan ku?"
Wu Song sambil tersenyum berkata,
"Asal kamu senang aku juga ikut senang makannya.
__ADS_1
Lu Ping memegang tangan Wu Song dan berkata,
"Aku adalah wanita yang sangat beruntung, bisa memiliki suami sebaik kamu."
Tiba-tiba Wu Song dan Lu Ping mencium bau yang sangat wangi berasal dari tangga naik.
Tidak lama kemudian dari arah tangga muncul seorang pemuda yang sangat tampan, yang tidak kalah tampan dibanding Wu Song.
Wajahnya selalu di hiasi senyum menawan, gayanya sedikit feminim.
Dia membawa sebuah kipas sebatang seruling hijau giok terselip di pinggangnya.
Dibelakangnya berjalan 4 orang gadis berbaju putih wajah mereka tertutup cadar tipis, masing-masing membawa sebatang pedang ditangan kiri mereka.
Begitu naik kelantai dua pria yang tampan dan wangi itu tersenyum hangat kearah Lu Ping sambil sedikit menganggukkan kepalanya.
Matanya menatap Lu Ping lekat-lekat seakan-akan ingin mengukir wajah Lu Ping kedalam ingatannya.
Lu Ping tidak terlalu memperhatikannya, dia juga tidak membalas anggukan dari senyum pria yang tidak dia kenal itu.
Dia menyibukkan diri mengambil teko teh dan menuangnya mengisi cawan Wu Song.
Pria itu semakin penasaran begitu mendapatkan respon Lu Ping yang cuek dan dingin.
Dia sengaja mencari tempat duduk yang berhadapan dengan tempat duduk lu Ping.
ke empat wanita yang mengiringinya seakan-akan mengerti mereka duduk di kiri kanan pria feminim tersebut.
Agar tidak menghalangi pria itu menatap wajah Lu Ping.
Wu Song awalnya duduk berdampingan dengan Lu Ping sehingga dia dapat melihat tingkah ceriwis pemuda tidak punya sopan santun itu.
Wu Song kemudian menggeser tempat duduknya ke hadapan Lu Ping sehingga pemuda ceriwis itu kini telah bisa melihat Lu Ping lagi.
Tertutup oleh punggung Wu Song yang menghadap kearahnya.
Lu Ping hanya tersenyum melihat tingkah Wu Song yang tidak biasa ini.
Lu Ping menyentuh tangan Wu Song seakan-akan ingin memberitahu Wu Song lewat tatapan matanya.
Bahwa dihatinya hanya ada Wu Song suaminya seorang, Wu Song tak perlu khawatir dan cemburu.
Tak lama kemudian dari arah tangga kini kembali muncul tiga orang gadis muda yang cantik.
Orang pertama yang memiliki tahi lalat di dagunya yang lancip berusia 20 tahun memakai baju merah sepatu merah dan sarung pedang juga berwarna merah.
Orang kedua berusia 19 tahun berbaju hijau sepatu hijau, sarung pedagnya juga berwarna hijau, wajahnya sedikit bulat cantik terutama sepasang matanya sangatlah indah.
Orang ketiga berusia 17 tahun mengenakan baju berwarna kuning sepatu kuning sarung pedang juga kuning.
Meski usianya paling muda bentuk tubuh juga tidak sematang kedua gadis pertama dan kedua.
Tapi wajahnya adalah wajah yang paling imut dan cantik diantara mereka bertiga.
__ADS_1