LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
RAMALAN BINTANG KETUA XU SAN,


__ADS_3

di bawah patung terdapat sebuah meja altar yang bagian tengah terisi tempat menancapkan dupa dan dua batang lilin merah besar di kiri kanan meja.


Serta berbagai macam buah-buahan persembahan.


Di depan meja altar terlihat seorang kakek berusia 70 tahun berbadan gemuk, dengan sepasang alis putih yang panjang sampai menyatu dengan jenggot nya.


Dialah Pai Mei Lau Jen ketua Xu San Pai saat ini, mendengar langkah kaki rombongan Wu Song dan ketiga tetua Xu San.


Kakek beralis panjang itupun membuka matanya menatap kearah orang- orang yang datang ketempat nya.


Saat melihat murid wanita nya yang telah lama hilang kini hadir diantara orang-orang yang datang.


Pai Mei Lau Jen sangat senang, dia pun melambaikan tangannya dan berkata,


"Su Nio murid ku kemarilah, kamu kemana saja selama ini menghilang ? kenapa baru muncul sekarang ?"


Su Nio cepat-cepat berlari Kemudian berlutut di depan gurunya sambil bersujud berkata,


"Maafkan Su Nio yang tidak berbakti dan telah membuat guru khawatir."


"Murid selama ini tinggal di Xiong San di lereng gunung Siauw Lim Si, mengikuti pria yang telah merebut hati murid."


ucap Su Nio yang awalnya berlinang air mata menatap gurunya merasa bersalah dan bersalah.


Tapi saat mengucapkan soal kekasihnya wajahnya sedikit merah dan malu-malu.


Pai Mei Lau Jen tersenyum dan berkata,


"Siapa pria beruntung tersebut coba perkenalkan pada guru,? guru jadi ingin tahu pria seperti apa yang begitu beruntung bisa mendapatkan perhatian dari mu."


Su Nio tersenyum malu-malu menoleh kearah Hong San, memberinya kode agar mendekat.


Hong San mengangguk segera ikut maju berlutut di samping Su Nio memberikan hormat ke Pai Mei Lau Jen sambil berkata,


"Guru, Hong San menghaturkan hormat kepada guru, semoga guru panjang umur dan sehat selalu.'


Begitu melihat wajah Hong San Pai Mei Lau Jen sangat terkejut, meski dia jarang meninggalkan Xu San.


Tapi dia tidak mungkin bisa tidak mengenali murid dari temannya biksu Wu Yi yang telah meninggal.


Apalagi Hong San adalah ketua kuil Siauw Lim Si saat ini.


Pai Mei Lau Jen buru-buru mengangkat nya berdiri dan berkata,

__ADS_1


"Tidak boleh... tidak boleh... tingkatan kita sama mana boleh aku menerima penghormatan seperti ini."


Tapi Pai Mei Lau Jen Kembali terkejut saat merasakan Hong San kini sudah tidak memiliki tenaga sakti sama sekali.


Dan menjadi manusia biasa yang tidak pernah berlatih ilmu beladiri sama sekali


Pai Mei Lau Jen menatap bingung ke biksu Hong San dan Su Nio kemudian bertanya,


"Su Nio sebenarnya apa yang terjadi mengapa Hong San Fang Cang bisa bersama mu dan sekarang menjadi seperti ini ?"


Su Nio menatap sedih kearah gurunya dan berkata,


"Semua ini masih harus berterimakasih kepada kakak seperguruan ke 2 dan ke 4 Thie Sin Cin Jin dan Im Yang Cin Jin.


"Bila bukan karena mereka berdua aku dan Hong San ke ke takutnya sampai matipun tidak bisa bersama."


"Sayang nya dalam hal ini malah membuat Susiok ke 5 jadi kehilangan nyawa."


Pai Mei Lau Jen menatap heran kearah Su Nio dan berkata,


"Su Nio coba kamu ceritakan lebih jelas lagi."


Su Nio kemudian mulai bercerita dari awal sampai akhir dan kedatangan Susiok ke 5 nya ketempat tinggalnya serta kecurigaannya atas kematian Susiok ke 5 nya.


Tapi dia bisa mengendalikan perasaan dan emosi nya, sehingga tidak terlihat di wajahnya.


Setelah Su Nio menutup ceritanya Pai Mei Lau Jen pun berkata,


"Hong San kunci permasalahan ini ada di Beng San adik mu, apabila kamu bisa menghadirkan nya masalah kematian Susiok Ke 5 akan menjadi terang."


Hong San mengangguk dan berkata,


"Pendapat guru sama dengan pendapat Wu Ta Sia, sehingga aku tidak punya alasan lagi untuk menolak membawanya kemari."


"Tapi aku harap kalian semua tidak melukai adik kembar ku itu, karena dia ikut terlibat karena ingin melindungi nama baik ku."


"Biarlah aku yang akan menanggung semua dosanya."


Pai Mei Lau Jen mengangguk dan berkata,


"Baiklah Hong San, asal kamu dapat membawanya kemari, aku lah yang akan menjamin keselamatan nya."


Lalu Pai Mei Lau Jen menatap.kearah Wu Song dan berkata,

__ADS_1


"Wu Ta Sia maaf telah merepotkan mu dalam urusan internal Xu San ini."


Wu Song pun maju dan memberi hormat kepada Pai Mei Lau Jen dan berkata,


"Terimakasih atas pengertian dari ketua Pai Mei, dalam hal ini istriku memang secara tidak sengaja telah melukai tetua ke 5."


"Jadi mau tidak mau kami harus kemari meminta maaf dan membantu membuat terang masalah ini."


Ucap Wu Song hormat.


Setelah Wu Song berbicara, Tetua kedua maju mendekati Pai Mei setelah dia membisikkan sesuatu Pai Mei keningnya langsung berkerut.


Kemudian dia kembali berkata,


"Adik Ketiga tolong kamu atur kan tempat tinggal sementara untuk tamu-tamu kita, kemudian bantu Hong San menemukan adiknya untuk di bawa kemari."


"Baik ketua, " ucap tetua Ketiga singkat.


Lalu Wu Song dan rombongannya yang di pimpin oleh tetua Ketiga, meninggalkan tempat tinggal ketua Xu San.


Sementara itu terlihat tetua kedua dan keempat terlibat pembicaraan serius dengan Pai Mei Lau Jen.


Tetua kedua dengan serius berkata,


"Kakak pertama, menurut cerita dari Wu Ta Sia penyebab utama nya adalah terkena pukulan Cui Sin Cang dan terkena racun Hua Kung San."


"Kami memang belum sempat menyelidiki langsung mayat adik ke 5, tapi aku cukup percaya dengan ulasan Wu Ta Sia."


Pai Mei Lau Jen kemudian melirik kearah saudara ke 4 nya dan berkata,


"Adik ke 4 sebaiknya kamu mampir sebentar ke kuil tua di Jiang Ling, kamu coba periksa dan bawalah kembali kalau bisa mayat adik ke 5 untuk di makamkan di Xu San."


Tetua ke 4 menganggukkan kepalanya kemudian memberi hormat lalu pergi meninggalkan tempat kediaman Pai Mei Lau Jen.


Kini di ruangan yang besar dan megah hanya tersisa Pai Mei Lau Jen dan tetua ke 2.


Pai Mei Lau Jen menatap tetua kedua dan berkata,


"Adik aku semalam mengamati bintang ku di langit, dalam waktu tidak lama ini ada kemungkinan besar aku akan menghadapi bahaya besar."


"Bila hal itu terjadi kamu harus menggantikan posisi ku melindungi dan membangun Xu San."


"Kakak jangan berkata seperti itu, kakak pasti baik-baik saja dan akan bisa melaluinya semua." ucap tetua kedua penuh keyakinan.

__ADS_1


__ADS_2