
30 tahun yang lalu nama Si Tangan Geledek Lian Hui sangat terkenal di daerah Selatan.
Tapi kemudian dia menghilang baru hari ini tiba-tiba dia kembali muncul di arena ini.
Si Tangan Geledek sudah menyaksikan beberapa pertandingan Wu Song sebelumnya, dia tidak berani main-main.
Dia langsung mengerahkan Ilmu andalan nya yang membuat dia di kenal orang-orang sebagai Si Tangan Geledek.
Dari kedua tangan nya tampak mengeluarkan sambaran-sambaran kilat kecil mengelilingi seluruh lengannya.
Ketika dia menyatukan kedua tangannya mulai terdengar suara geledek yang bergemuruh disusul munculnya asap tipis yang menyelubungi tangannya bercampur dengan kilat-kilat kecil.
Tiba-tiba tubuhnya berubah menjadi sepuluh, lalu mulai menyerang Wu Song dari berbagai arah.
Wu Song pun berubah menjadi 8 untuk menangkis dan menyerang balik dengan tulisan kaligrafi indah diudara.
Kedua orang itu mulai berkelebatan saling menyerang dan bertahan.
Gerakan mereka sangat cepat sehingga para penonton biasa hanya bisa melihat bayangan baju mereka saja Wu Song mengenakan baju biru sedangkan Lian Hui mengenakan baju putih.
Mereka tidak dapat melihat jelas pergerakan saling serang dan menangkis dua orang itu.
Mereka hanya melihat bayangan biru dan putih, bergerak kesana-kemari berbenturan lalu berpisah kemudian berbenturan lagi.
Begitu terus berulang-ulang, tanpa jeda.
Setelah berjalan hampir 200 jurus, Wu Song menyadari bila begini terus, mereka hanya dapat beradu ketahanan fisik.
Siapa yang bisa bertahan paling lama dialah pemenangnya.
Wu Song Akhirnya melompat mundur dan menempelkan suling di bibirnya dan mulai meniupnya.
Terdengar alunan nada yang lembut merdu dan diliputi kesedihan mendalam.
Bayangan sepuluh tubuh Lian Hui menghilang satu persatu, berubah menjadi satu orang.
Wu Song terus meniup suling nya, Lian Hui terlihat terpengaruh dan beberapa kali berusaha menutup kedua telinganya.
Tubuhnya terhuyung-huyung mundur, dia terlihat sangat terganggu dengan suara irama suling yang dimainkan Wu Song.
Dengan mati-matian dia mengerahkan semua kekuatan nya melompat kearah Wu Song dan memberikan Pukulan Geledek yang mematikan.
Tapi pukulan itu tertahan oleh gelombang suara yang berasal dari suling yang dimainkan Wu Song.
Pukulan Geledek bertemu dengan perisai gelombang suara terdengar ledakan dahsyat.
Sampai seputar arena menjadi bergetar hebat.
__ADS_1
Seakan-akan arena akan roboh, dipinggir arena banyak pendekar tingkat rendah bergulingan di atas arena, tidak kuat menahan suara alunan suling .
Setelah beberapa kali mencoba menembus perisai gelombang suara dan selalu gagal, Lian Hui akhirnya menyerah dalam posisi berlutut dan kedua tangannya menutupi telinganya.
Sambil menengadah kan wajahnya yang basah airmata karena terpengaruh suara lembut irama suling.
Lian Hui bergumam sendiri,
"Istriku maaf kan suamimu yang tidak bisa membawa penawar untukmu."
Setelah itu dia mengangkat tangannya memberi tanda menyerah.
Wu Song menyimpan sulungnya di pinggang , lalu berkelebat kedepan Lian Hui dan berkata,
"Bila bisa mendapatkan penawar yang kamu butuhkan saya akan berikan padamu.
"Harap anda dapat menunggu dengan sabar sampai saya berhasil menebus rintangan yang diberikan oleh panitia ini."
Wu Song mengulurkan kedua tangannya mengangkat bahu Lian Hui membantunya berdiri.
Sambil memberi hormat dan mengucapkan terima kasih Si tangan Geledek kembali ketempat duduknya.
Setelah Si Tangan Geledek berlalu dari arena.
Tampak tujuh orang paruh baya berjalan menuju arena pertandingan.
7 Pendekar dari Thian San.
Mereka terdiri dari 5 orang pria dan 2 orang wanita.
Setelah itu mereka mencabut pedang dan mengepung Wu Song dalam Formasi bintang Utara.
Wu Song tidak berani meremehkan mereka dia bersikap waspada dan mengeluarkan sulungnya.
Ketujuh orang itu mulai menyerang Wu Song secara bergantian dan mencegah Wu Song meloloskan diri dari kepungan formasi mereka.
Pedang mereka berkelebat sangat lincah dan sulit ditebak.
Bila Wu Song menyerang salah satu dari mereka serentak mereka akan menangkisnya secara bersamaan.
Wu Song kembali membelah diri menjadi 8 dan melayani serangan mereka dari 7 arah.
Meski harus menghadapi 8 orang Wu Song mereka tetap bekerjasama dengan sangat teratur.
Tidak pernah meninggalkan posisi dan formasi mereka.
Mereka tatap memberikan pengepungan ketat, mereka mulai melakukan serangan kesatu titik dengan menggabungkan kekuatan mereka.
__ADS_1
Satu titik yang mereka serang tidak terlihat panik dia bergerak tenang menghindar dan.menangkis serangan mereka.
Sedangkan ke tujuh Wu Song lainnya melakukan serangan serentak ke tujuh orang tersebut, untuk membantu titik yang mereka jadikan target sasaran.
Ketujuh Pendekar Thian San kini mengeluarkan senjata kebutan mereka menangkis serangan ke 7 Wu Song lainnya.
Sambil melepaskan pedang mereka mengincar titik yang mereka serang, mereka menggunakan kebutan mengontrol pedang mereka yang ditangkis titik itu.
Lalu melontarnya serentak kearah titik Wu Song yang menjadi incaran mereka, sehabis melempar pedang mereka akan kembali saling membantu menangkis serangan ke tujuh Wu Song yang mengincar mereka.
Pertarungan terlihat kusut dan sembrawut, terlihat meski Wu Song terdiri dari 8 orang dan mereka bertujuh tapi mereka tetap mengontrol situasi dan menekan Wu Song dalam formasi mereka.
Wu Song melihat situasi dirinya kurang baik, dia mulai mengimbangi dengan serangan tapak yang mengeluarkan hawa panas membakar.
Setiap tempat yang dilewati hawa pukulan nya selalu terbakar.
Kebutan ke 7 Pendekar Thian San bulunya sering terbakar terkena serangan tapak Wu Song lama-lama kebutan mereka pun botak dan tidak bisa digunakan untuk mengontrol pedang yang terbang seliweran menyerang Wu Song.
Setelah berhasil memecahkan formasi pedang terbang mereka Wu Song dapat sedikit bernapas lega.
Tapi bukan berarti Wu Song sudah memenangkan pertarungan tersebut.
Ke 7 Pendekar Thian San itu masih dapat bekerja sama dengan rapi dan menutup jalan keluar Wu Song.
Setiap serangan pedang mereka masih dahsyat dan teratur.
"Formasi Api,!" salah satu dari 7 Pendekar Thian San yang kelihatan nya adalah pimpinan kelompok tersebut.
Kini tujuh pedang ditangan mereka masing-masing diselimuti api, mereka kembali bergerak menyerang satu titik yang mereka pilih.
Mereka kini tidak mengontrol pedang dengan kebutan tapi dengan ujung lengan baju mereka yang panjang dan berseliweran.
Pedang terbang kembali berseliweran, mengincar satu titik, untuk menghentikan serangan mereka Wu Song meniru mereka menyerang 1 titik yaitu pimpinan mereka itu.
Orang itu langsung jatuh dalam kerepotan meski saudara-saudara telah berusaha membantunya.
Janggut dan rambutnya sampai terbakar terkena angin pukulan Wu Song sedangkan suara seruling Wu Song yang berkelebatan kini melengking nyaring mengacaukan konsentrasi mereka.
Akhirnya pimpinan itu terkena tendangan Wu Song sampai terpental tapi dia masih bisa bertahan karena sempat menggunakan pedangnya menahan tendangan Wu Song.
Cuma karena tenaga tendangan sangat kuat dia masih tetap terpental meski berhasil menahannya.
Begitu melihat dia terpental ke 6 saudaranya menutup untuk melindunginya dari serangan lanjutan Wu Song.
Pertandingan kali ini berjalan alot, kelihatannya bila Wu Song tidak mengeluarkan jurus irama suling seperti yang dia gunakan untuk menghadapi Tangan Geledek.
Dia akan kesulitan mengalahkan kerjasama yang sangat apik dari ketujuh orang ini.
__ADS_1