
Kepada Putri Kim So soo yang sangat saya kagumi dan cintai.
Saat kamu membaca surat ini, berarti aku sudah tiada lagi di dunia ini.
Sehingga pengakuan cinta ku di atas, tidak akan menjadi beban bagi mu, tidak akan membuat mu menjadi serba salah, tidak akan membuat mu bersusah hati, merasa tidak enak hati apalagi bersedih.
So so apapun yang terjadi, hanya satu harapan ku, tersenyum lah dan terus tersenyum..
Jangan pernah bersedih apalagi menangis.
Jangan pernah lagi pernah meneteskan air mata mu yang berharga untuk siapapun juga.
Hiduplah dengan bahagia dan selalu tersenyum ceria, meski tidak bisa berada disisi mu lagi.
Tapi asal bisa melihat senyum mu dari atas sana, aku akan sangat bahagia dan pergi tanpa penyesalan lagi.
Senyum mu adalah kebahagiaan ku, anggap saja ini kado perpisahan buat ku yang terakhir.
Ingat harus selalu tersenyum sayang ku jangan pernah menangis lagi
Salam bahagia, Lee Yong..
Jisso memeluk surat itu erat-erat sambil berusaha tersenyum dengan memejamkan matanya.
Di mana airmata bercucuran tiada henti seperti kran bocor membasahi wajahnya.
Tapi tak lama kemudian So sso berhasil memberikan sebuah senyuman yang sangat manis sambil menatap langit biru, dimana awan putih berarak-arak perlahan-lahan membentuk sebentuk wajah Lee Yong yang sedang tersenyum lembut kearah So sso.
So sso kemudian melihat Lee Yong sedang melambaikan tangan kearahnya.
Lalu perlahan-lahan bayang itu memudar dan akhirnya menghilang dari pandangan nya, berubah kembali ke semula, dimana langit biru di hiasi awan putih yang berarak-arak tertiup angin.
So so menghela nafas panjang sambil tersenyum dia berjalan meninggalkan anjungan kapal dan bergumam kecil,
"Terimakasih Lee Yong, saat hidup aku tidak tahu menghargai perasaan mu."
"Setelah kini kamu tiada, aku Kim So soo bersumpah mulai saat ini hingga akhir hayat ku selamanya hati ku adalah milik Lee Yong seorang."
"Kamu adalah suami ku yang tercinta dan terbaik, semoga kita bisa berkumpul bersama lagi di kehidupan berikutnya."
Sementara itu ditempat pertarungan Rombongan Lu Sun.
Lu Fan kini bersilat dengan cara jungkir balik sama dengan Juseon.
Juseon terdesak hebat oleh serangan Lu Fan yang kini semakin ganas dan menggila.
__ADS_1
Lu Fan bersilat dengan cara terbalik malah mengaktifkan kekuatan 9 mataharinya menjadi dua kali lipat lebih dahsyat.
Sementara itu Liu Mai Sen Cien yang di mainkan secara jungkir balik juga menjadi serangan bercuitan yang mengerikan.
Sekujur tubuh Juseon kini telah terluka, ikatan rambut di kepalanya juga terlepas.
Kondisinya kini sangat menggemaskan, semua tendangannya hanya membentur kaki Lu Sun yang keras seperti baja.
Sedangkan serangan tangan dan kepalanya, selalu berhasil ditangkis dengan tenaga sangat dahsyat sehingga dia sering terpental berguling-guling.
Lu Fan masih terlihat belum cukup puas mempermainkan nya, sambil tertawa-tawa Lu Fan terus meningkatkan kekuatan serangannya.
Lu Fan kini terlihat mencoba memainkan cakar tengkorak putih dengan cara terbalik.
Ternyata ilmu ini yang didukung tenaga 9 bulan juga sangat cocok dimainkan secara terbalik.
Kedua pundak Juseon yang tercengkram oleh Lu Fan telah remuk seluruh tulang nya menjadi tepung
"Arghhh..!!"
teriak Juseon histeris sebelum berguling-guling diatas tanah kemudian pingsan tidak sadarkan diri.
Lu Gan sambil tersenyum puas kini melompat berdiri melipat kedua tangannya didepan dada menonton pertandingan yang lainnya yang masih sedang berlangsung dengan sengit.
Sedangkan Phoenix Api dan Naga Biru kedua mahluk itu sudah menyusul harimau putih kealam baka.
Di dekat area pertempuran Naga Hitam terlihat tiga sosok mayat hewan raksasa teronggok tak bergerak lagi di sana.
Naga Hitam yang berulang kali tidak berhasil menyerang Kura-kura Xuan Wu yang berlindung di dalam cangkangnya yang sangat keras.
Membuat nya sangat marah dan meraung dengan dahsyat berulang-ulang kemudian menubruk dan mencakar dan mengigit cangkang yang keras itu.
Lu Fan yang merasa kasihan dengan Naga Hitam segera melayang kearahnya dan berkata,
"Kamu mundur dulu biar ku bantu belah cangkangnya untuk mu."
Naga Hitam tidak berani membantah meski hatinya masih penasaran dan menolaknya.
Dia memang sangat takut dengan Lu Fan, sejak Lu Fan lahir, dia selalu memilih menjauhi anak ini.
Aura yang dipancarkan oleh tubuh Lu Fan, membuat perasaanya sangat tidak nyaman, aura intimidasi itu membuatnya sangat jerih terhadap Lu Fan.
Bukan karena Lu Fan adalah anak tuannya Lu Sun, tapi karena Lu Fan mewarisi garis darah Naga Siluman Semesta yang memiliki kekuatan di luar nalar para dewa sekalipun.
Lu Fan melayang di udara menatap kura-kura Xuan Wu dengan tajam.
__ADS_1
Kura-kura Xuan Wu yang merasakan aura intimidasi yang sangat mengerikan terpancar dari tubuh Lu Fan.
Dia mempunyai firasat jelek, kura-kura itu setelah mengeluarkan bunyinya yang lucu mirip terompet pecah ditiup.
Dia segera memutar badannya ingin pergi melarikan diri.
"Hei mau kemana kamu..!?"
teriak Lu Fan, kemudian seberkas Cahaya merah keemasan melesat kearah cangkang kura-kura itu menimbulkan ledakan dahsyat.
"Braakkk...!!"
Cangkang kura-kura Xuan Wu mengeluarkan retakan cahaya kebiruan , kemudian meledak pecah berantakan.
Kini hanya terlihat tubuh kura-kura yang lunak tanpa cangkang pelindung, kondisinya terlihat menyedihkan.
Sambil tertawa sadis Lu Fan berkata,
"Ayo Naga Hitam bereskan dia tunggu apalagi kamu...! cepat...!"
Naga hitam sedikit tidak tega melihat kondisi Kura-kura itu yang mengenaskan, tapi dia juga tidak berani membantah Lu Fan.
Kura-kura Xuan Wu hanya bisa menatap kearah naga hitam dengan tatapan menyedihkan.
Naga Hitam memejamkan matanya, dengan kedua cakarnya yang tajam dia memotong leher Kura-kura agar kematiannya lebih cepat dan tidak menyakitkan.
Sementara itu ditempat lain Park Won yang sakit hati melihat hewan dewa andalan nya, di bantai oleh Naga Hitam, Dia meraung dengan sangat marah dan memperkuat serangannya kearah Xue Yen.
"Arrghhh...!!"
Tapi pedang ular hitam nya tidak bisa membongkar pertahanan Tarian Pedang Badai Salju dan Es milik Xue Yen yang mengelilingi seluruh tubuhnya dengan rapat.
Semua serangannya yang bertubi-tubi selalu terpental oleh gulungan cahaya biru putih yang menutupi seluruh tubuh Xue Yen.
Gulungan sinar putih biru itu terus membesar dan menekan gulungan sinar hitam yang semakin lama semakin mengecil.
Dalam suatu kesempatan terjadi beberapa kali benturan dahsyat kedua pedang biru dan hitam.
"Trang...Trang...Trang..Cep...cep...cep...!"
Kemudian gulungan cahaya menutupi tubuh mereka menghilang.
Kini terlihat tubuh kedua orang itu terpisah puluhan meter berdiri mematung.
Tubuh Xue Yen yang terlebih dahulu terhuyung-huyung kebelakang, kemudian jatuh berlutut dengan sebelah kaki.
__ADS_1