
Tapi kemanapun cakar Alung bergerak kilatan cahaya dari sepasang telapak tangan yang dirapatkan oleh Shi Ma Liang tetap menyambut cakar Alung.
Akhirnya bentrokan cakar dan kilatan cahaya tak terhindarkan lagi.
Alung terpental mundur menabrak pagar tembok pembatas dan terjatuh kebawah benteng pertahanan kota Pu Yang.
Anak buah Alung yang melihat hal itu terjun ke bawah benteng, menarik tangan Alung dan melemparnya Kembali keatas benteng.
Sedangkan kedua prajurit tersebut menggantikan Alung terjatuh lebih cepat kebawah.
Kedua prajurit tersebut dengan sigap, saat membentur tanah mereka menggulingkan tubuh mereka menghindari benturan yang bisa mencederai mereka.
Lalu mereka berdua kembali berdiri mengambil ancang-ancang lalu kembali meloncat keatas benteng.
Alung yang kembali melesat kearah bagian atas benteng, mendarat ringan diatas benteng.
Kembali terlibat pertempuran dengan Shi Ma Liang, pertempuran Alung melawan Shi Ma Liang sedikit berbanding terbalik dengan kondisi pasukannya.
Di sini Alung selalu terdesak oleh jurus-jurus Tapak Buddha yang dahsyat, hanya dengan mengandalkan Wu Ying 72 Pian Pu .
Dia selalu berhasil menyelamatkan diri, dengan berpindah-pindah tempat ketika di serang.
Shi Ma Liang menjadi sedikit ragu dalam melontarkan serangannya,
Pertama setiap jurus dari Tapak Buddha sangat menguras tenaga.
Kedua setiap tidak mengenai sasaran, jurus itu malah mengenai pasukan Shi Ma e sendiri.
Karena Alung selalu memilih muncul dan menghilang didekat pasukannya.
Ketiga efek samping dari jurus tersebut sangat besar dampaknya bagi lingkungan sekitarnya, setiap kali di kerahkan.
Shi Ma Liang khawatir sebelum berhasil merobohkan Alung nanti malah tembok benteng ini yang roboh duluan.
Kini Shi Ma Liang memilih menyimpan kekuatan nya, menunggu serangan dari Alung.
Bila ada kesempatan dia baru akan membalasnya, bila tidak dia lebih memilih bertahan.
Melihat hal ini dengan cerdiknya Alung memilih menyerang menghilang, menyerang menghilang.
Dengan demikian selain bisa mengulur waktu, agar Pasukan nya bisa menyelesaikan pertempuran dengan baik.
Alung juga bisa menjaga posisi aman agar, dirinya tidak sampai terkena oleh tapak yang sangat dahsyat tersebut.
Maka pertarungan sengit bercampur adu otak pun terjadi.
__ADS_1
Shi Ma Liang juga bukan orang bodoh, dia adalah ahli strategi, Kini dia malah tidak memfokuskan diri menyerang Alung.
Tapi lebih mengarahkan serangannya kearah Pasukan Rajawali Merah yang sedang berada di atas angin melawan pasukan nya.
Ternyata taktik ini cukup jitu, Setiap dia melepaskan pukulannya ratusan prajurit rajawali merah akan terpental jatuh dari atas tembok.
Meski tidak sampai cedera parah, tapi sudah bisa menghambat mereka dalam melakukan pembantaian terhadap pasukan Macan Hitam.
Yang didik dengan susah payah oleh Shi Ma Liang selama bertahun-tahun.
Mungkin ini yang di katakan oleh orang-orang dalam strategi militer, melatih pasukan seumur hidup, menggunakan Pasukan hanya sesaat saja.
Tapi Shi Ma Liang mana mau, menerima hal ini.
Bila hal ini terjadi, ini adalah kerugian yang sangat besar baginya.
Dia harus sebisa mungkin menghindari hal ini, makanya dia mulai membantu pasukan nya menghajar Pasukan Rajawali Merah.
Alung yang menyadari bila hal ini terus di lanjutkan, meskipun ada kemungkinan Shi Ma Liang kehabisan tenaga, Alung dan pasukannya akhirnya akan memenangkan pertempuran ini.
Tapi pengorbanan dipihaknya terlalu besar, Alung tidak menginginkan kemenangan seperti ini.
Alung kemudian memberikan kode agar beberapa komandan pasukan nya, ikut membantunya mengepung Shi Ma Liang.
Yang terus bergerak maju menekan Pasukan Macan Hitam, yang berusaha mati-matian bertahan dari serangannya.
Shi Ma Liang yang mendapatkan serangan api dan es abadi dari berbagai arah menuju ke dirinya.
Dia terlihat sibuk menangkis berbagai serangan tersebut, sehingga tidak bisa lagi melancarkan serangannya.
Shi Ma Liang terlihat bagai seekor Banteng gagah yang pantang menyerah.
Menghadapi sekumpulan serigala yang dengan cerdik terus mengepung, menunggu kesempatan saat dia kehabisan tenaga, ataupun saat dia lengah.
Mereka akan membantah nya beramai-ramai, para bawahan Shi Ma Liang, tidak ada yang sanggup membantunya.
Seperti beberapa jendral dan komandan pasukan, karena mereka harus sibuk membantu para pasukan menghadapi terjangan Pasukan Rajawali Merah yang sangat kuat.
Berbagai formasi telah di bentuk untuk menghadapi terjangan Pasukan Rajawali Merah.
Tapi selalu berhasil mereka patahkan dan terus maju menekan.
Pasukan yang berjumlah besar seperti tidak ada artinya sama sekali.
Shi Ma Liang yang melihat kondisi ini, dia pun berteriak,
__ADS_1
"Mundur kebelakang ku.... semuanya...!!"
Tanpa di komando dua kali, para pasukan Macan Hitam bergerak secepatnya untuk mundur.
Sedangkan Shi Ma Liang sendiri setelah mementalkan para pengepungnya.
Dia melompat tinggi di udara, melampaui para pasukannya, Tubuhnya melayang di udara.
Jutaan bayangan Buddha muncul di belakangnya.
Saat dia mendorong kedua telapak tangannya kedepan, jutaan bayangan Buddha, ikut meluncur turun dengan sepasang telapak tangan terbuka.
Terarah ke seluruh pasukan Rajawali Merah termasuk Alung dan para komandan nya.
Sekali ini mereka semua menatap dengan sepasang mata terbelalak keatas langit tidak bisa menggerakkan tubuh mereka.
Karena terkunci oleh cahaya lembut yang menyinari tubuh mereka.
Dentuman dahsyat terjadi, Tembok kota yang tinggi lebar dan kokoh runtuh, sebagian Pasukan Rajawali Merah ikut jatuh ke bawah.
Mengikuti reruntuhan yang roboh, sebagian lagi terpental jauh ke segala arah menyambut kekuatan yang sangat dahsyat tersebut.
Tubuh Shi Ma Liang sendiri sehabis mengerahkan kekuatan tersebut, perlahan-lahan melayang turun berdiri di puncak sebuah menara.
Dengan rambut berkibar-kibar tertiup angin musim dingin, seluruh pakaian dan perisai yang menempel ditubuhnya kini tidak terlihat lagi.
Hanya terlihat sepotong celana selutut yang compang camping melingkari bagian bawah tubuhnya.
Alung terpaksa mengeluarkan lengkingan untuk menarik mundur sisa pasukan nya yang selamat.
Alung tidak menyangka hari ini di kota pinggiran ini, dia akan menemukan rival sekuat ini.
Dari sisa pasukan yang bergerak mundur, Alung memperkirakan kini Pasukan nya tinggal 10.000 orang.
Setengah dari pasukannya terkubur di bawah reruntuhan tembok yang roboh itu.
Alung tidak melihat kejadian Setelah dia menarik mundur pasukannya, bila tidak dia tentu akan sangat menyesalinya.
Dari tempat tinggi setelah menyaksikan panji-panji Pasukan Rajawali Merah menghilang kedalam hutan lenyap dari pandangan nya.
Tubuh Shi Ma Liang, tidak sanggup mempertahankan diri untuk berdiri tegak lagi, sambil memegang dadanya dan terbatuk-batuk beberapa kali.
Memuntahkan darah segar, tubuhnya akhirnya melayang dari ketinggian menara jatuh ke bawah menuju kearah reruntuhan.
Melihat ketidakberesan yang terjadi pada Raja mereka, 4 Jendral dan 5 komandan buru-buru memberi kode kepada Pasukan Jala, agar merentangkan jala menyambut tubuh raja mereka.
__ADS_1