LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
CERITA PUTRI UTARI,


__ADS_3

Sambil berjalan tanpa menoleh Wu Song berkata,


"Putri jalan masih panjang, dan sangat sulit sebaiknya ikuti nasehat dayang mu naik keatas kuda biarkan mereka bergantian menuntun kuda mu."


Sang putri sebenarnya ingin membantah tapi entah kenapa tidak ada kata-kata yang keluar dia malah menuruti nasehat Wu Song .


Naik keatas kuda, membiarkan dayangnya yang menuntun kuda nya bergerak menyusul Wu Song.


Semakin mendekati hulu sungai jalan semakin sulit banyak batu-batu sungai menghalangi jalan mereka.


Sehingga akhirnya kuda yang mereka gunakan tidak bisa lagi melanjutkan perjalanan.


Mereka semua harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki, berlompatan diatas batu sungai yang licin karena ditumbuhi lumut.


Melihat sang putri yang sangat kesulitan beberapa kali terpeleset, bila Wu Song tidak bergerak sigap pasti sang putri akan kembali cidera.


Karena kasihan Wu Song akhirnya menawarkan,


"Putri bagaimana bila kamu duduk di punggung ku saja, biar aku menggendong mu dipunggung ?"


Putri tersebut mengangguk senang dan berkata,


"Maaf kehadiran ku membuat kamu jadi repot."


Wu Song hanya tersenyum dan berkata,


"Tidak masalah, ayo naiklah."


Sang putri tanpa berpikir dua kali lagi, dia segera melompat ke punggung Wu Song.


Sambil merangkul leher Wu Song dengan sepasang lengannya yang indah yang juga di hiasi gelang emas cantik, seperti pergelangan kakinya.


Sang putri tersenyum senang, kemudian dia berkata,


"Tuan bolehkah aku tahu siapa namamu ? dan dari mana asal mu ? kenapa bisa ada di wilayah kerajaan Wirata kami ?"


Wu Song sambil berloncatan ringan di atas batu dan melihat kearah aliran sungai menjawab,


"Namaku Wu Song, aku datang dari daratan tengah, aku ada di sini dan terpisah dari istriku karena di kejar-kejar orang yang salah faham dengan kami."


Melihat Wu Song tidak bertanya balik tentang dirinya sang Putri Kembali bertanya,


"Fitnah apa yang di lemparkan pada mu ?"


Wu Song pun bercerita singkat,


"Bahwa dia dan istrinya dituduh telah membunuh orang padahal mereka tidak pernah berbuat."

__ADS_1


Wu Song kini bisa bergerak lebih cepat setelah sang putri ada di gendongan nya.


Dalam waktu singkat mereka telah berada di ujung hulu sungai di mana terlihat sebuah kolam berair jernih.


Yang menampung air terjun yang keluar dari sebuah tebing batu yang cukup tinggi.


Wu Song menurunkan Sang putri, dia sendiri berkeliling melihat-lihat mencari tanda keberadaan Lu Ping.


Tapi Wu Song tidak menemukan apapun tanda-tanda Lu Ping pernah ada di sini.


Wu Song kemudian berlompatan dan terbang menuju keatas tebing, di mana air terjun berasal.


Setelah melakukan pemeriksaan Wu Song tetap tidak menemukan keberadaan Lu Ping,


Wu Song berdiri di puncak tebing mengerahkan Chi nya dan berteriak sekuat tenaga,


"Ping er...Ping er...Kamu ada dimana...!!"


"Ping er...! Ping er...! Ping er....!"


Setelah memanggil berulang-ulang tanpa ada balasan, hanya ada suara gema Wu Song yang membalik saja.


Sementara itu Lu Ping ditempat lain yang sedang membantu gadis kecil yang dia tolong mendorong gerobak.


Menghentikan langkahnya, sayup-sayup dia merasa seperti mendengar suara Wu Song sedang memanggilnya.


Dia pun berpikir mungkin akibat terlalu rindu dengan suaminya jadi dia berhalusinasi.


Gadis kecil di samping nya bertanya,


"Kakak kenapa ?"


Lu Ping menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Ayo kita lanjut.."


Kemudian mereka berdua kembali mendorong gerobak berisi air dan melanjutkan perjalanan.


Wu Song duduk sedih di atas sebuah batu di depan air terjun.


Wu Song duduk termenung menatap air terjun yang seperti terjatuh dari langit.


Wajah dan rambut Wu Song sudah basah oleh uap air yang terbawa angin kearahnya.


Tapi dia sama sekali tidak perduli, di pikiran nya saat ini adalah bagaimana kondisi Lu Ping sekarang.


Tiba-tiba Wu Song tersadar dari lamunannya, saat merasa ada yang duduk disebelah nya dan menyenggolnya sambil berkata,

__ADS_1


"Kakak Song kamu duduk di sini termenung juga percuma, istri mu tidak bakalan muncul."


"Lebih baik kamu bantu kakak dan ayahku mengembalikan kekuasaan mereka yang di kudeta penghianat."


"Aku yakin mereka pasti bisa membantu mu mencari istri mu selama masih berada di wilayah kerajaan Wirata kami."


"Bagaimana ? setuju ? "


"kalau menurutku semakin cepat kamu membantu ayah dan kakak ku semakin cepat pula istrimu bisa di temukan."


"Bila kamu terus membuang-buang waktu melamun di sini, nanti bila istri mu sudah pergi dari wilayah kerajaan Wirata."


"Sekalipun ayah dan kakak ku membantu mu juga percuma."


Wu Song terdiam, sesaat kemudian dia berkata,


"Putri siapa namamu ? ceritakan apa yang terjadi bagaimana aku bisa membantu mu ?"


Putri kerajaan Wirata tersenyum senang akhirnya Wu Song yang sakti tertarik membantunya, kakak dan orang tua nya sekarang ada harapan.


Putri tersebut pun bercerita,


"Nama ku putri Utari dari kerajaan Wirata, ayah ku adalah raja dari kerajaan Wirata, kakak ku karena kurang cocok dengan ayah ku dia dibuang oleh ayah ku ke perbatasan Kerajaan Wirata."


"Karena paman ku adik dari ibu ku sangat sakti, ayah sangat percaya dengan nya dan menyerahkan kekuasaan militer tertinggi padanya."


"Berkali-kali kerajaan kami menghadapi serangan dari kerajaan magadha dan Angga, tapi berkat kesaktian dan kecerdikan paman ku Kacika, kerajaan Wirata selalu berhasil bertahan."


"Hal ini membuat pamor paman ku semakin naik di mata Pasukan kerajaan Wirata, bahkan para pasukan kerajaan Wirata bergosip, kerajaan boleh kehilangan Wirata, tapi tidak boleh pernah kehilangan kacika.'


"Kondisi seperti ini akhirnya membuat paman ku kacika menjadi sombong dan bertindak semena-mena."


"Suatu hari akibat ayah dan ibu membela kehormatan istri penasehat agung ayah yang ingin diambil paksa menjadi istri pamanku kacika."


"Akhirnya terjadi pertengkaran hebat antara ayah dan pamanku, berakhir dengan ayah ibu ku ditahan dijadikan sandera, sementara pamanku kacika mengangkat dirinya sendiri menjadi raja di kerajaan Wirata."


"Aku berhasil meloloskan diri, atas bantuan pengasuhku dari bayi yang mengorbankan dirinya agar aku bisa selamat."


"Dia menukar nyawanya demi menyelamatkan ku, saat mati tubuhnya penuh luka. sampai mati pun dia tetap menahan pintu agar Pasukan pengejar tidak bisa menangkap ku."


"Karena geram dengan tindakan nya, paman ku menghukumnya di gantung di depan gerbang pintu masuk ke kota raja agar jadi tontonan umum."


Bercerita sampai sini airmata putri Utari jatuh berlinang membasahi wajahnya yang putih.


Sesaat kemudian setelah memenangkan diri putri Utari melanjutkan ceritanya,


"Kini harapan ku ada pada kakak ku Utara, yang berada di perbatasan timur, aku ingin secepatnya menemui kakak ku mengabarkan apa yang terjadi di kota raja."

__ADS_1


__ADS_2